NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

"Siang, Pak," sapa Arnold begitu membuka pintu ruangan Pak Mano. Kepala produser sekaligus CEO MDB Pictures.

"Siang, Nold. Masuk. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," ujar Pak Mano yang duduk di sofa kulit berwarna hitamnya. Beliau memang lebih nyaman duduk di sana, ketimbang duduk di kursi kerja.

Arnold duduk di sofa panjang.

"Kamu udah tahu kalau Hana mengundurkan diri dari film 10 cm?" tanya Pak Mano langsung.

Arnold tertegun.

"Hana mengundurkan diri?!" pekik Arnold tidak percaya.

Pak Mano berdehem dengan raut dingin.

"Alasannya, Pak?"

Arnold kehilangan ketenangannya seketika.

"Itu yang saya mau tanyakan pada kamu," jawab Pak Mano.

Arnold lantas mengingat tingkah konyolnya di premiere kemarin malam. Semarah itukah, Hana?

Bisiknya. Atau ini suruhan Reiga? lantas Hana mengikutinya.

"Saya benar-benar nggak tahu apa-apa, Pak," ucap Arnold.

Raut wajah Pak Mano kian buruk. Seakan ia tahu Arnold telah berbohong.

"Tapi bukannya posisi kita kuat, Pak. Secara hukum, pelanggaran kontrak seperti ini bisa membuat reputasi artis menja..."

"Arnoldddddd," lengkingan suara Pak Mano menghentikan argumen dangkal Arnold.

"Kamu bukan anak baru di industri ini. Kamu jelas tahu pengaruh nama besar dalam sebuah film itu bagaimana kan?! Dan lagi tadi kamu bilang apa? Posisi kita kuat? Dari sudut pandang saya, film 10 cm yang sudah kita siapkan 1,5 tahun lebih ini sedang ada dipinggir jurang!" tandas Pak Mano.

Ya.

Arnold pun setuju.

Kehilangan Adrianne Hana, berarti kehilangan sejuta penonton. Sebuah judi yang besar. Tentu Pak Mano tidak ingin uang modal yang dia taruh berakhir sia-sia.

"Asal kamu tahu, Nold. Hana siap membayar semua ganti rugi kapanpun kita memintanya," tambah Pak Mano serius.

Ini jelas kiamat kecil.

"Shit!"

"Ini film besar, Nold. Satu dari 3 film utama yang kita prediksi akan jadi jagoan perusahaan di akhir tahun ini. Uang yang saya keluarkan untuk persiapan tidak sedikit. Ini tinggal dua bulan lagi syuting malah hancur!"

Sudah sewajarnya Pak Mano marah.

"Kamu tahu sendiri si Anggi gimana. Mana mau dia gonta ganti pemeran. Dari awal, dia terima tawaran jadi sutradara film ini karena dia mau Hana ada di barisan pemain. Bisa kamu bayangkan apa yang terjadi kalau sampai berita ini didengar Anggi!? Kacau kita, Nold!"

Pak Mano semakin marah. Arnold diam. Tidak tahu harus berkata apa. Hanya helaan napas dan kepala menunduk yang bisa dilakukannya.

"Apa Hana juga mengundurkan diri di film yang satunya, Pak?"

Arnold bertanya takut-takut.

"Syukurnya enggak," tukas Pak Mano seraya mengusap wajahnya. Rasa marah, cemas, takut, dan bingung terlihat diwajahnya.

Arnold menghela napas lega. Film komedi romantis yang dibintangi Hana dan Dion akan mulai syuting tiga hari lagi. Sungguh kiamat besar jika Hana pun mundur dari produksi tersebut.

"Are you okay with her?"

"Maksudnya, Pak?"

"Saya dengar desas-desus kamu punya pacar baru dan semenjak itu kamu dan Hana tidak seakrab biasanya," jawab Pak Mano.

Arnold terhenyak.

"Sedikitpun saya tidak mau ikut campur urusan pribadi kalian. Tapi film dan uang saya dipertaruhkan di sini, Nold! Kamu paham kan mau saya apa?"

Arnold menatap Pak Mano. Tentu saja ia tahu apa yang diinginkan Pak Mano.

"Saya mau Adrianne Hana tetap ada di film 10 cm. Itu tugas kamu untuk membawa Hana kembali, Nold. Atau lupakan promosi jabatan yang saya tawarkan waktu itu," tukas Pak Mano serius.

Arnold terpekur diam.

Ah, shit!

Lana celingukkan di depan pintu ruang auditorium rumah sakit. Sudah banyak dokter yang hadir. Hari ini ada pengenalan lima dokter baru dan pelantikan untuk kepala baru di setiap poli yang ada di rumah sakit ini. Lana sebenarnya tadi tidak mau datang. Mau pura-pura sakit perut terus pulang. Namun berita bahwa dari salah satu dokter baru yang akan dikenalkan adalah mantan pacar Reiga.

Membuat Lana merasa wajib hadir. Ia ingin tahu seperti apa sosok Cyila yang legendaris itu.

"Lan, sini!" ajak Tristan tersenyum begitu lebar dengan tangan kiri terangkat.

Zidane menatap Tristan heran.

"Ngapain lu ajakin Lana duduk bareng, Nyet?" bisik Zidane.

"Liat aja nanti. Balasan yang pantas buat Arnold," jawab Tristan.

Zidane mendengus. "Gue nggak ikutan ya," ujar Zidane yang tahu banget Tristan akan bagaimana nanti.

Lana tersenyum kearah Tristan dan Zidane yang balas tersenyum padanya. Ia menaiki tangga. Duduk tepat di samping kiri Tristan. MC memulai acara yang lantas membuat ruangan hening dan khidmat.

Prosesi terus berlanjut sampai pada momen perkenalan dokter baru. Kelima dokter yang masih muda. Satu diantaranya seorang gadis cantik, penuh percaya diri, dan terlihat pintar dari speech singkat yang dilakukannya sebagai bagian dari perkenalan. Dia lah Cyila Adigunawan. Perempuan bergelar cinta pertama Reiga. Satu-satunya mantan. Orang yang katanya membuat Reiga gagal move on. Sebuah legenda tak tersentuh dalam cerita banyak wanita yang mengejar Reiga Reishard.

"Makin cantik aja tuh orang," celetuk Tristan.

"Inget Sella," sahut Zidane.

"Gue juga ogah, Dane."

"Ogah ... Ogah... Tau-tau makan bareng di kantin," tuduh Zidane sepihak.

Tristan tertawa.

"Ya enggaklah, Nyet!" ujar Tristan.

"Cyila mantannya Reiga kan?" tanya Lana.

"Iya," jawab Tristan.

"Hebat ya, Reiga. Bisa membiarkan mantan pacar kerja di rumah sakitnya," ucap Lana asal seakan ia serius kagum.

"Mungkin karena dia udah punya Hana," sahut Tristan.

Zidane nyaris tersedak air minum yang baru ditelannya. Yah, mulai deh si Tristan! ucap Zidane.

Wajah Lana berubah masam. "Kemarin malam lo datang ke acaranya Hana nggak sih, Lan?"

"Datang. Sama cowok gue. Arnold," jawab Lana.

"Berarti lo tahu dong kalo cowok lo bersikap nggak pantas ke Hana."

"Nah tuh kan! Gila juga si Tristan!" ujar Zidane yang memperhatikan airmuka Lana menunjukkan kekagetan yang sempurna.

"Maksud lo gimana, Tan?" tanya Lana.

"Lo tanya sendiri aja sama cowok lo, Lan," jawab Tristan menggantungkan jawaban atas pertanyaan Lana.

Lana mendengus. Asam lambungnya tiba-tiba naik. Berbagai spekulasi muncul dikepalanya. Memangnya apa yang dilakukan Arnold? Selingkuhkah? Tidak ada sejarahnya seorang Alana Soediro diselingkuhi.

Lana sontak berdiri. "Mau kemana, Lan?"

"Toilet," jawab Lana langsung menuruni tangga dan keluar ruangan. Lana mengacuhkan belasan pasang mata yang menatapnya.

Zidane menyenggol lengan kanan Tristan.

"Jahat lu! Anak orang sampai keluar," ujar Zidane.

"Mending dia tahu sekarang daripada kelamaan," bela diri Tristan.

"Tapi nggak gitu caranya, Jir! Kasian Lana.

Pacarnya yang sableng! Kenapa dia yang kena julidnya tante berkedok om kayak lu," tukas Zidane.

"Sialan! Tante berkedok Om!"

Zidane cuma nyengir.

"Gue care sama Lana. Karena itulah gue berkata begitu agar Lana sesegera mungkin terbebas dari pemuda sableng itu!" ucap Tristan tidak merasa bersalah sama sekali.

Zidane berdecak dan cuma bisa geleng-geleng kepala.

"Hai, Dane, Tan! Gue duduk di sini ya," sapa Cyila begitu ramah.

Ia sudah berdiri di samping meja Tristan dan Zidane. Tersenyum cantik dan menawan seperti terakhir kali mereka bertemu perempuan ini.

"Duduk, Cyil. Selamat datang di rumah sakit ini," ramah Zidane.

Cyila tersenyum.

"Lo belum berubah ya, Dane," sahut Cyila.

"Tetap cupu ya, Cyil?" ledek Tristan.

Cyila tertawa dengan mulut ditutupi tangan kiri.

"Sialan lu, Tan!" protes Zidane.

Tristan dan Cyila malah tertawa.

"Udah lama banget nggak ketemu. Nanti ngopi bareng yuk. Eh, Reiga gimana kabarnya?" tanya Cyila dengan mata berbinar.

Ah, tentu saja Cyila akan menanyakan Reiga.

Alasan mendasarnya mengapa masuk rumah sakit yang sama dengan dua sahabat Reiga praktek.

Keputusannya dirasa kian tepat lantaran ia mendengar Reiga punya pacar baru dari grup SMA.

Berita yang entah bagaimana membuatnya tak rela.

Cyila kenal Reiga. Si anti cinta sejati yang ditaklukkannya sampai titik darah penghabisan itu.

Ada percaya diri yang ternodai atas berita dan foto pelukan Reiga yang sempat disimpan salah satu teman SMA mereka lalu disebar di grup.

Bukankah Reiga harusnya sulit jatuh cinta?

Tapi mengapa semudah itu memeluk seorang perempuan bernama Adrianne Hana?

Cyila tentu tidak terima. Legenda penyebab gagal move on seorang Reiga Reishard tidak boleh hanya tinggal cerita.

Handphone Dimas yang berada di atas meja berdering. Reiga melirik nama penelepon. Kedua matanya mengerucut melihat nama 'Bu Hana' yang tampak. Ada rasa nelangsa dihatinya. Hana menelepon Dimas dan bukan dirinya. Reiga mengambil handphone itu dan mengangkatnya. Sebuah perkara mudah baginya membuka password Dimas.

"Hai, Dim," suara Hana menggaung.

Suara yang dirindukan Reiga. Intonasi riang dan ramah milik Hana. Reiga rindu.

"Pak Reiga gimana?"

Reiga terhenyak. Bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. Ada pendar kesenangan dalam hatinya.

"Kamu udah pastiin dia nggak telat makan dan minum minuman yang udah saya sarankan sama kamu kan, Dim? Udah dibeli belum? Ada kok di China Town."

Reiga sekarang paham, mengapa Dimas begitu ngotot menyuruhnya minum semacam infused water semalam. Dan untuk menghindari keributan juga malas berdebat karena hati yang tengah tak enak, Reiga menuruti mau-nya Dimas.

"Dim?" panggil Hana.

Tersadar bahwa sejak tadi ia bicara sendiri. Tanpa sahutan.

"Dimas? Are you there?" Hana memanggil Dimas lagi. Hana sampai melihat kembali layar handphone-nya. Masih tersambung.

"Dim..."

"Ini aku," ucap Reiga.

Hana terkesiap.

"Ah, shit!" ucap Hana dalam hatinya.

Hana tidak pernah menyangka bahwa Reiga yang mengangkat telepon ini dan sejak tadi mendengar ocehannya.

Hana menghela napas lalu mencoba bersikap cool dengan menggunakan bakat aktingnya.

"Yaudah, kasih tahu aja sama Dimas kalau tadi aku telepon," ucap Hana.

Hening.

"Aku tutup ya teleponnya," ucap Hana yang canggung. Sejujurnya pulang dari Taman Safari, Hana sudah merancang skenario berbaikkan dengan Reiga. Sialnya, kebetulan ini membuat semua alur cerita berbaikkan yang disusunnya menjadi amburadul.

"Aku kangen," ucap Reiga lirih.

Hana terhenyak mendengarnya. Namun bibirnya refleks tersenyum.

"Cieeee...."

"Kok Ciee sih, Sayang?"

Suara Reiga masih lirih. Ah, dia sungguh kangen manusia satu ini. Sungguh takut kehilangan Hana.

"Tahu nggak? Aku tersiksa di sini, memikirkan kamu marah sama aku. Aku hampir berpikir kalau aku udah berubah jadi zombie," aku Reiga yang merasa hidupnya tidak jelas semenjak berantem sama Hana. Menggantung.

Hana sekuat tenaga menahan diri untuk tidak tertawa.

"Kenapa nggak telepon aku?"

"Takut nggak diangkat."

"Reiga Reishard punya rasa takut juga?"

"Banyak, Han."

Hana diam.

"Salah satunya, telepon yang nggak diangkat."

"Serius?"

"Serius."

"Berlaku buat semua orang?"

"Enggak. Hanya buat orang-orang kesayangan aku aja."

Kesayangan Hana mencaci dirinya yang berbunga hanya karena kata kesayangan.

"Aku termasuk kesayangan?"

"Harus ditanya?"

Bibir Reiga tersenyum tipis.

"Maunya dibuktiin."

"Mau bukti apa?"

"Serius nih?"

"Just answer my question, Reishard."

Reiga menebak, Hana pasti akan menanyakan hal yang sama. Yang membuat mereka bertengkar.

"Di penglihatan masa depan kamu, apa akhir percakapan ini? Apa kita baikkan?" tanya Hana

"Enggak," jawab Reiga tercekat. Karena itu yang memang dilihatnya.

Hana terkesiap. Seperti baru diberikan suntikan

motivasi oleh Tuhan. Bukti bahwa jaminan keberhasilan perjuangan itu sejatinya ada. Karena sesungguhnya ia sudah tidak marah sejak pertama kali mendengar suara Reiga bergaung dari

handphone-nya.

"Kok??"

"Kok... Kok?"

Hana tidak kuat menahan tawa berkat cara Reiga yang mempertanyakan Kok-nya namun malah terdengar seperti menirukan ayam yang tengah berkokok.

Reiga menghela napas.

"Tuh, dengar sendiri kan? Susunan kalimat aku aja jadi kacau," malu Reiga sudah tersenyum.

Hana masih tertawa. Ia terlanjur membayangkan Reiga ber-kok-kok.

"I love the way you laugh, Adrianne Hana," ucap Reiga begitu saja meluncur dari mulutnya.

"Cuma cara ketawanya aja? Orangnya enggak?" ujar Hana sok ngambek. Padahal kini ia tengah tersenyum sampai lesung pipinya terbentuk.

"Aku gigit juga nih ya," gemas Reiga ikut tersenyum.

"Nggak bisa! Kan jauh! Wee..." ledek Hana dengan memeletkan lidah meski ia tahu Reiga tidak akan bisa melihatnya.

"I bite you when i'm home," ujar Reiga.

"Aku mungkin lagi sibuk wara-wiri promosi film saat kamu pulang," ujar Hana.

"Aku samperin."

"Idih! Obses amat!" tukas Hana.

"Baru sadar, aku obses banget sama kamu?"

Hana malah tertawa.

"Kamu mirip banget sama ayah aku," ujar Hana.

"Hmm Berarti kamu cinta banget juga ya sama aku?" Sebuah manuver dari Reiga yang membuat dua bola mata Hana mencuat.

"Dih!" serunya.

Reiga terkekeh pelan.

"Emangnya nggak terasa kalau aku cinta banget?" gumam Hana membuang harga dirinya.

"Terasa, makanya takut."

Hana menyipitkan mata dengan kening mengerut dalam.

"Takut apa?"

"Takut kalau kamu nggak akan mau bicara lagi sama aku dan memilih terus marah," ucap Reiga menumpahkan kegelisahannya.

Hana mendengus dengan senyum dibibirnya.

"Aku terlalu sayang untuk terus-terusan marah sama kamu, Reishard," jujur Hana.

Reiga tertegun.

"Serius?"

"Bercanda."

"Hanaaaa..." Reiga gemas dengan perempuan ini.

Hana terkekeh.

"Nggak enak kan kalau lagi serius terus dibecandain?"

"Aku nggak pernah bercanda sama kamu," ucap Reiga yang memang benar adanya.

Kalimat yang membuat Hana tersipu malu sampai menggigit bibir bawahnya.

"Iya. Cuma hobi gombal aja," tukas Hana.

"Suka kan digombalin?" ledek Reiga.

"Udah bisa ngeledek aku ya?"

Ganti Reiga yang tertawa.

"I wanna hold you so fucking tight now," aku Reiga.

"Cuma dipeluk?" goda Hana.

Bibir Reiga tersenyum lebar.

"Mulai nakal ya," sahut Reiga.

"I love to give you a hug and kisses, Mr. Reishard," ucap Hana malu, karena itulah intonasi suaranya tidak jelas.

"Aku dengan senang hati menerimanya, sambil mangku kamu boleh?"

"Heh!" pekik Hana dan mereka tertawa ini.

Hana terkekeh.

"Nggak enak kan kalau lagi serius terus dibecandain?"

"Aku nggak pernah bercanda sama kamu," ucap Reiga yang memang benar adanya.

Kalimat yang membuat Hana tersipu malu sampai menggigit bibir bawahnya.

"Iya. Cuma hobi gombal aja," tukas Hana.

"Suka kan digombalin?" ledek Reiga.

"Udah bisa ngeledek aku ya?"

Ganti Reiga yang tertawa.

"I wanna hold you so fucking tight now," aku Reiga.

"Cuma dipeluk?" goda Hana.

Bibir Reiga tersenyum lebar.

"Mulai nakal ya," sahut Reiga.

"I love to give you a hug and kisses, Mr. Reishard," ucap Hana malu, karena itulah intonasi suaranya tidak jelas.

"Aku dengan senang hati menerimanya, sambil mangku kamu boleh?"

"Heh!" pekik Hana dan mereka tertawa bersama.

"Ini aku beneran udah dimaafin?"

"Maunya gimana?"

"Hanaaaa..."

Hana terkekeh.

"Aku ketularan kamu nih," ujar Hana.

"Sembarangan. Kamu itu orangnya emang jahil," ucap Reiga tidak terima.

"Harusnya nggak semudah ini," keluh Hana.

"Apanya?"

"Skenario baikkan-nya."

Reiga bengong lalu tawanya pecah.

"Astaga, Adrianne Hana!"

"Jangan ketawa! Susah tahu menyusun alurnya," sebal Hana.

Reiga masih tertawa.

"Ada ya yang namanya skenario baikkan?"

"Ada dong! Tadi aku buat bareng Syein, Na, dan Krisa," jujur Hana.

"Syein?"

"Iya, tadi, kita berempat jalan bareng ke Taman Safari. Cemburu?"

"Sedikit," ucap Reiga asal.

Kedua mata Hana membulat kaget.

"Bercanda," tukas Reiga.

"Ih!" sebal Hana.

Reiga terkekeh.

"Gimana alurnya?" tanya Reiga.

"Aku mau siksa kamu pelan-pelan," jawab Hana.

"Ciri khas Syein banget ya," komen Reiga.

"Emang iya?"

"Tanya aja Na kalau nggak percaya," jawab Reiga.

"Kamu kenal Na, Rei?"

"Belum. Nanti tolong kenalin ya. I just see it from your memories, Hana."

"Curang!" ujar Hana sebal.

Reiga kembali terkekeh.

"Ini serius?"

"Apanya?"

"Mau nyiksa aku?"

"Apa aku terdengar bercanda?"

"Astaga! Udah nakal, jahat juga ya kamu," ledek Reiga.

Hana tertawa.

"Terus gimana dong? Udah baikkan nih," canda Reiga.

"Salahkan hati aku yang terlalu lemah," gerutu Hana.

Reiga tertawa mendengar kalimat Hana barusan.

Dering penanda telepon lain masuk membuat

Reiga menengok layar handphone. Pacarnya Dimas.

"Sayang, lanjut telepon pakai handphone aku aja ya," ucap Reiga.

"Kenapa?"

"Pacarnya Dimas telepon," jawab Reiga lalu berdiri, berjalan menuju sebuah ruangan tempat di mana Dimas tengah mengerjakan laporan meeting tadi pagi.

"Dimas punya pacar?" kaget Hana.

"Hmm, udah tiga tahun."

"Yaudah, matiin aja," ujar Hana.

"Jangan kemana-mana loh. Langsung angkat telepon aku," ujar Reiga ingin menuntaskan rindunya.

"Iyaaaa, bawel ih!"

Reiga terkekeh.

"I love you," ucap Reiga tulus dari hatinya.

"Once more, pakai bahasa Indonesia," ujar Hana nyeleneh.

Senyum Reiga terbentuk.

"Aku cinta kamu, Adrianne Hana," ucap Reiga menuruti mau Hana.

Hana diam tak menjawab.

"Kok nggak dijawab?"

"Biar kamu penasaran, terus bilang sekali lagi," jahil Hana.

Tawa Reiga pecah.

"I will tell you a rest of my life, Sayangku," ujar Reiga serius dengan intonasi bercanda.

"Can't wait to hear that a rest of my life too," sahut Hana.

Reiga tersenyum.

"Udah ah. Buruan kasih handphone-nya ke Dimas. Nanti ceweknya pikir, si Dimas selingkuh," ujar Hana lalu mematikan sambungan teleponnya sepihak.

Reiga menatap layar handphone Dimas.

"Dasar! Dimatiin duluan," ujar Reiga tersenyum.

TOK! TOK!

Reiga mengetuk pintu, lalu membukanya.

"Iya, Pak?" Dimas berdiri dari duduknya untuk menyambut Reiga.

Pemuda itu agak terhenyak dengan perubahan raut wajah Reiga yang signifikan. Dari muram kini sumringah seperti biasanya.

"Pacar kamu telepon, Dim?" ujar Reiga seraya mengulurkan handphone milik Dimas.

"Ha, oh iya, Pak," sahut Dimas seraya meraih uluran handphone dari Reiga.

Reiga tersenyum.

"Tadi saya pinjam handphone kamu, Dim."

Kening Dimas berkerut.

"Bu... Buat apa, Pak??"

Bukan menjawab. Reiga malah ngeloyor pergi.

"Thanks ya, Dim," ujar Reiga lalu menutup pintu ruangan.

Dimas bengong. Ia menatap handphone miliknya, memeriksa panggilan, sesuai intuisinya.

Bibirnya tersenyum.

"Pantesan udah senyam-senyum. Ternyata udah teleponan sama Ayang," gumam Dimas senang.

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!