NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Percakapan mereka tidak berhenti di situ. Langkah kaki masih beriringan menuju café, ritmenya pelan, seolah tanpa sadar keduanya sama-sama menahan agar perjalanan itu tidak cepat selesai.

Beberapa detik berlalu tanpa kata. Hanya suara sepatu yang bersentuhan dengan trotoar dan angin pagi yang sesekali lewat.

Clay melirik sekilas ke arah Nindi.

“Kamu nanti setelah pulang,” katanya akhirnya, suaranya lebih tenang dari sebelumnya, “Mau ngapain?”

Nindi menoleh sedikit. Tidak kaget, tapi jelas tidak menyangka arah pertanyaannya akan sampai ke sana. “Ngapain?”

“Iya,” jawab Clay singkat. “Hidupmu di sana.”

Ada jeda kecil.

Nindi mengalihkan pandangan ke depan lagi. Kali ini ia tidak langsung menjawab, seperti sedang memilih mana yang ingin ia katakan dan mana yang tidak perlu.

“Ya… kembali ke hidupku,” katanya akhirnya.

“Detailnya?” Clay tidak berhenti.

Nindi mendecah kecil. “Kamu ini ya, bertanyanya makin lama makin dalam.”

“Tergantung kamu mau jawab atau tidak,” balas Clay santai.

Nindi menghela napas pelan, tapi kali ini tidak menolak.

“Aku kerja,” katanya. “Melanjutkan yang sudah aku mulai sebelum ke sini.”

Clay mengangguk sedikit. “Kerja apa?”

“Masih di bidang yang sama,” jawab Nindi. “Aku sudah punya rencana dari dulu. Ke sini juga sebenarnya cuma sementara. Bukan untuk menetap.”

Clay menangkap kalimat itu. Jelas. Tegas. Tidak ambigu.

“Berarti semua sudah kamu susun dari awal?” tanyanya lagi.

“Iya,” jawab Nindi tanpa ragu. “Aku bukan tipe orang yang jalan tanpa arah.”

Ada sedikit nada bangga di sana. Bukan sombong. Tapi yakin.

Clay menatapnya beberapa detik. “Dan tidak ada yang berubah?”

Nindi mengernyit tipis. “Maksudnya?”

“Selama kamu di sini,” lanjut Clay. “Tidak ada yang membuatmu, ingin mengubah rencana itu?”

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti basa-basi lagi. Lebih seperti sesuatu yang sengaja diarahkan. Nindi terdiam. Langkahnya tetap berjalan, tapi pikirannya jelas berhenti sebentar. Nindi tahu pertanyaan itu tidak sesederhana yang terdengar. Dan ia juga tahu jawaban jujur tidak akan sesederhana itu.

“Sejauh ini, tidak,” jawabnya akhirnya. Tidak cepat. Tidak lambat. Tapi cukup untuk terdengar pasti.

Clay tidak langsung merespon. Ia hanya mengangguk kecil, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan.

“Bagus,” katanya singkat.

Namun kali ini, nada itu tidak sepenuhnya ringan. Ada sesuatu yang tertahan. Seolah ia baru saja memastikan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia dengar.

“Waktu itu kamu bilang…” Clay mulai berbicara lagi, suaranya lebih pelan dari sebelumnya, “kamu ingin jadi istri yang baik.”

Nindi melirik sekilas. Alisnya sedikit terangkat, jelas tidak menyangka arah pembicaraan akan sampai ke sana. “Sekarang kamu bahas itu?” tanyanya, setengah heran.

Clay mengangkat bahu ringan. “Kenapa? Tidak boleh?”

“Boleh sih…” Nindi menghela napas kecil. “Cuma aneh saja.”

“Katanya aku memang sering aneh,” balas Clay santai.

Nindi mendecah pelan, tapi tidak melanjutkan bantahannya.

Ada jeda kecil.

“Kamu serius dengan itu?” tanya Clay lagi. “Soal jadi istri yang baik.”

Nindi menatap ke depan. Kali ini jawabannya tidak langsung keluar. “Iya,” katanya akhirnya. “Aku tidak asal ngomong.”

Clay mengangguk kecil. “Berarti kamu memang ingin menikah.”

Nindi meliriknya lagi. “Suatu saat.”

“Seberapa ‘suatu saat’ itu?” tanya Clay.

Nindi tersenyum tipis. “Tidak ada deadline.”

“Tapi tetap akan,” lanjut Clay.

“Iya,” jawab Nindi singkat.

Hening.

Langkah mereka tetap seirama, tapi pembicaraan itu jelas mulai masuk ke wilayah yang lebih pribadi.

“Kalau sudah ketemu orang yang tepat?” Clay melanjutkan, kali ini lebih langsung.

Nindi mengangguk kecil. “Iya.”

“Dan kalau kamu sudah merasa dia orangnya…” Clay berhenti sebentar, lalu menoleh, “kamu akan menikah?”

Nindi tidak langsung menjawab. Ia menunduk sedikit, lalu menghela napas pelan. “Kalau memang benar orangnya,” katanya akhirnya, “kenapa tidak?”

Jawaban itu sederhana. Tapi cukup jelas. Clay terdiam beberapa detik.

“Seperti apa orang yang kamu anggap ‘benar’ itu?” tanyanya lagi.

Nindi tersenyum tipis, kali ini sedikit lebih lembut. “Yang tahu batasan,” jawabnya. “Yang bisa tanggung jawab. Yang tidak main-main.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan: “Yang diterima orangtuaku.”

Kalimat itu ringan. Tapi entah kenapa terasa seperti menyentil. Clay tersenyum miring. “Standarmu tinggi juga.”

“Normal,” balas Nindi cepat.

Clay tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap ke depan. “Kalau begitu…” gumamnya pelan, “Kamu tidak akan lama menunggu.”

Nindi mengernyit. “Maksudnya?”

Clay melirik sekilas, lalu mengangkat bahu seolah itu bukan hal besar. “Kamu sudah tahu maunya apa. Biasanya orang seperti itu, tidak lama.”

“Tidak lama apa?” Nindi masih belum menangkap.

“Menemukan,” jawab Clay singkat.

Nindi terdiam sebentar. Lalu mendecah kecil. “Kamu ini ya, seperti sedang meramal.”

“Bukan meramal,” balas Clay santai. “Logika saja.”

Nindi menggeleng pelan, setengah tidak setuju. “Tidak sesederhana itu.”

“Kenapa tidak?” Clay menoleh.

“Karena hidup bukan daftar checklist,” jawab Nindi. “Bukan berarti aku tahu yang aku mau, terus langsung dapat.”

Clay mengangguk pelan. “Tapi setidaknya kamu tidak akan salah jalan.”

Nindi tidak langsung menjawab.

Ada jeda kecil.

“Belum tentu juga,” gumamnya.

Clay menatapnya beberapa detik. “Kamu ragu?”

Nindi menggeleng. “Bukan ragu. Cuma… realistis.”

“Bedanya?” tanya Clay.

Nindi menghela napas kecil. “Kadang kita sudah tahu yang benar, tapi tetap saja bisa ketemu yang salah dulu.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Clay diam lebih lama dari sebelumnya. Seolah tanpa sadar, pembicaraan itu tidak lagi umum tapi mulai terasa personal.

“Kalau begitu…” Clay kembali bersuara, lebih pelan, “kamu siap menunggu?”

Nindi meliriknya. Kali ini tatapannya sedikit berbeda.

“Untuk hal seperti itu?” jawabnya. “Harus.”

Setelah pembicaraan itu mereda, langkah mereka kembali diisi keheningan. Tidak ada yang langsung berbicara. Tapi justru di situlah, sesuatu mulai terasa. Nindi melirik sekilas ke arah Clay. Lalu sekali lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ia benar-benar memutar ulang percakapan mereka di kepalanya.

Tentang Indonesia.

Tentang pulang.

Tentang rencana hidup.

Tentang menikah.

Satu per satu. Pertanyaannya runtut. Terarah. Tidak acak. Dan tiba-tiba saja, Nindi berhenti berjalan. Clay yang menyadarinya ikut berhenti, menoleh.

“Kenapa?” tanya Clay singkat.

Nindi menatapnya. Kali ini bukan sekadar heran. Tapi menyelidik. “Kamu sadar kan?,”

“Sadar apa?”

Nindi menyipitkan sedikit matanya. “Dari tadi kamu seperti sedang mengintrogasi aku.”

Hening.

Clay tidak langsung menjawab. Tatapannya bertahan beberapa detik, seolah sedang menimbang apakah ia perlu membantah atau tidak. “Masa?”

“Iya,” jawab Nindi cepat. “Pertanyaannya berurutan. Dalam. Terarah.”

Ia melipat tangan di depan dada, masih menatap Clay. “Seolah kamu sedang mengumpulkan data.”

Clay menghembuskan napas kecil, lalu tersenyum tipis. “Parah juga kedengarannya.”

“Memang,” balas Nindi.

Ada jeda.

“Lalu?” tanya Clay. “Salah?”

Nindi tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Clay beberapa detik. Mencari sesuatu. Alasan. Tujuan. Atau mungkin kejujuran.

“Bukan salah,” katanya akhirnya. “Cuma… aneh.”

Clay mengangguk kecil. “Kamu kan bilang aku memang sering aneh.”

“Jangan dialihkan,” potong Nindi cepat.

Clay tersenyum lagi. Tapi kali ini lebih samar. “Kalau aku bilang aku cuma penasaran?”

Nindi tidak langsung percaya. “Penasaran sampai segitunya?”

“Kalau soal kamu…” Clay berhenti sebentar. “Iya. Aku memang ingin tahu.”

Hening.

Jawaban itu tidak dibungkus. Tidak dibuat ringan. Dan justru karena itu terasa lebih sulit untuk diabaikan. Nindi sedikit terdiam. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus merespon apa.

Karena ada sesuatu di nada suara Clay tadi yang tidak terdengar seperti bercanda. Ia mengalihkan pandangannya lebih dulu.

“…tetap aneh,” gumamnya.

Clay tidak membantah. Ia hanya kembali berjalan. Beberapa detik kemudian, Nindi ikut melangkah lagi di sampingnya. Namun kali ini, suasananya berbeda. Bukan lagi sekadar dua orang yang kebetulan searah melainkan dua orang yang mulai sadar, bahwa percakapan mereka tidak lagi biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!