Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Cahaya lilin aromatik menari di dinding marmer kamar pribadi Putri Bungsu Kerajaan Valley. Di sana, Celestine Jour’ Vallery berdiri di depan cermin setinggi langit-langit, membiarkan enam pelayan sibuk mengencangkan korset dan merapikan lipatan gaun sutra birunya yang seharga satu desa kecil.
Celestine tidak pernah tahu rasanya berat sebuah pedang, atau bagaimana kasarnya jemari yang menarik busur panah.
Baginya, dunia adalah tentang simfoni petikan harpa dan lantai dansa yang dipoles licin. Namun, di balik wajahnya yang secantik porselen, ada rasa haus yang aneh.
"Pangeran Julian dari negeri Selatan mengirimkan surat lamaran lagi, Tuan Putri," bisik salah satu pelayan.
Celestine hanya melirik sekilas ke arah tumpukan surat ber parfum mawar di mejanya. "Dia terlalu lembut. Tangannya hanya tahu cara memegang pena dan gelas anggur. Aku tidak butuh pria yang akan bersembunyi di balik punggungku saat monster menyerang."
Di ujung aula, langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar. Theodore Jour Valley, sang Putra Mahkota, masuk dengan jubah kebesarannya. Wajahnya yang tegas melunak saat menatap adik bungsunya.
"Kau masih menolak mereka semua, Celestine?" tanya Theodore sambil tersenyum tipis. "Aku sudah memberimu kebebasan untuk memilih, tapi sepertinya standarmu lebih tinggi dari menara kastil ini."
"Aku ingin pria yang diceritakan dalam buku sejarah, Kak," jawab Celestine tanpa ragu. "Pria yang bisa membelah badai dengan sihir dan memenggal kegelapan dengan pedangnya. Pria yang membuat musuh gemetar hanya dengan menyebut namanya."
Theodore terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Jika itu yang kau cari, maka kau tidak akan menemukannya di pesta dansa ibu kota. Kau harus pergi ke tempat di mana matahari jarang bersinar dan bau darah lebih tajam daripada parfum."
Theodore menyerahkan sebuah gulungan segel lilin berwarna hitam dengan lambang keluarga La’ Mortine.
"Pergilah ke perbatasan Heavenorth sebagai utusan diplomatikku. Di sana, kau akan bertemu dengan putra sang Marquess dan namanya George Augustine de La’ Mortine. Rakyat menyebutnya 'Malaikat Maut Perbatasan'. Dia adalah seorang Swordsman yang tak terkalahkan dan penyihir yang menguasai elemen es dan petir."
Mata Celestine berkilat. Nama itu terdengar seperti melodi yang berbahaya.
"Tapi ingat, Celestine," Theodore memperingatkan dengan nada rendah, "George bukan pria yang akan memberikanmu bunga. Dia adalah pria yang akan membiarkanmu berdiri di tengah badai jika kau tak bisa menjaga dirimu sendiri."
"Justru itu yang aku inginkan," bisik Celestine, jemarinya menyentuh lambang segel hitam itu dengan penuh rasa ingin tahu.
Tiga minggu kemudian, kereta kuda kencana yang megah itu menembus kabut tebal wilayah perbatasan Heavenorth. Suhu udara turun drastis, membuat kaca jendela kereta berembun. Saat pintu kereta dibuka di depan gerbang kastil batu yang menjulang tinggi, angin dingin menyambut Celestine.
Celestine melangkah turun dengan keanggunan seorang dewi, tak menyadari bahwa salju yang licin telah menanti di bawah sana. Dan di saat sepatunya tertinggal di tangga kereta, dunia seolah melambat.
Tubuhnya limbung.
Napasnya tercekat.
Namun, sebelum dinginnya salju menyentuh kulitnya, sebuah lengan yang sekeras baja dan sedingin es menangkap pinggangnya dengan presisi yang mematikan. Celestine mendongak, dan untuk pertama kalinya, dia menatap mata seorang pria yang tidak memiliki ketakutan di dalamnya.
Di sana, di bawah remang lampu kastil yang tertutup salju, George Augustine de La’ Mortine menatapnya dengan tatapan yang bisa membekukan jantung siapa pun.
"Selamat datang di neraka, wahai Bangsawan dari negeri seberang," suara George rendah, parau, dan sangat berwibawa.