NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Batas yang Mulai Goyah

Cahaya pagi menyelinap lewat celah gorden di kamar utama, tetapi kehangatannya sama sekali tidak menyentuh Alika. Wanita itu terbangun dengan seluruh persendian yang terasa kaku luar biasa. Butuh perjuangan hampir sepuluh menit hanya untuk sekadar menggerakkan kaki agar bisa turun dari ranjang. Sisa obat pereda nyeri dosis tinggi yang ia minum semalam meninggalkan rasa mual yang terus bergejolak di ulu hatinya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Alika memaksakan diri untuk mandi. Ia menutupi wajah pucatnya dengan riasan make-up yang dipulas sedikit lebih tebal sebelum mengenakan setelan blazer formal. Hari ini ada agenda penting, sebuah konferensi pers besar di kantornya. Sebagai seorang Head of Public Relations, dia tidak boleh membiarkan celah kelemahan sedikit pun terlihat di depan publik.

Langkah Alika tertahan saat ia tiba di ruang makan. Narendra sudah duduk di sana, menyesap kopi hitamnya sambil menekuni tumpukan berkas di layar iPad. Pria itu tampak sangat rapi dengan kemeja kerjanya, terlihat segar seolah tidak menghabiskan waktu di luar rumah hingga menjelang subuh.

Menyadari suara langkah kaki, Narendra mendongak. Sepasang mata tajam sang CEO itu langsung memindai penampilan istrinya dari ujung kepala hingga kaki. "Sudah baikan?" tanya Narendra dengan nada datar. Namun, sorot matanya tidak lepas dari jemari Alika yang mencengkeram pinggiran meja makan dengan sangat kuat.

"Sudah, Mas. Hanya kelelahan biasa," jawab Alika tenang seraya mengambil tempat duduk di seberang Narendra. Dia hanya mengambil sepotong roti tawar, lalu memotongnya menjadi bagian kecil-kecil tanpa benar-benar berniat memakannya. Rasa mual itu masih terlalu dominan di perutnya.

Narendra meletakkan iPad-nya ke meja. Ego tingginya terusik karena merasa Alika mengabaikan pertanyaannya semalam. "Lain kali, kalau sakit itu langsung ke dokter. Jangan sampai pingsan di acara publik dan memicu media membuat berita yang aneh-aneh soal hubungan kita."

Gerakan tangan Alika terhenti. Dia menatap Narendra, pria yang dahulu selalu memeluknya erat tiap kali dia mengeluh pusing karena tugas kuliah. Kini, sosok yang sama justru lebih mencemaskan citra publik dibandingkan kondisi kesehatannya.

"Kamu tidak perlu khawatir, Mas," ucap Alika lirih, suaranya terdengar sangat lembut namun penuh dengan nada mati rasa. "Aku mengerti batasan kita. Selama kontrak open marriage ini berlaku, aku pastikan tidak akan ada satu pun urusan pribadiku—termasuk masalah kesehatan—yang akan mengganggu reputasimu."

Kalimat itu diucapkan tanpa amarah sedikit pun, tapi entah mengapa justru terasa seperti hantaman benda tak kasatmata bagi Narendra. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Sisi kepeduliannya yang selama ini tertimbun ego ingin sekali membalas, ingin bertanya mengapa Alika harus bicara seformal itu padanya. Namun, gengsi yang besar justru membungkam lidahnya rapat-rapat.

"Bagus kalau kamu paham," sahut Narendra dingin. Pria itu berdiri, merapikan jasnya, lalu melangkah pergi begitu saja tanpa berpamitan.

Begitu punggung Narendra menghilang di balik pintu, Alika meletakkan rotinya. Tangannya kembali bergetar hebat, dan kali ini, sebuah sekat di dalam dadanya terasa benar-benar telah patah.

Siang harinya, suasana di kantor Alika berjalan sangat padat. Krisis komunikasi tengah melanda salah satu anak perusahaan, memaksa Alika harus berdiri selama hampir dua jam untuk memimpin konferensi pers dan menjawab rentetan pertanyaan tajam dari para jurnalis.

Di bawah sorotan lampu yang panas dan jepretan kamera, Alika tampil memukau. Dia menjawab setiap pertanyaan dengan lugas, tenang, dan sangat profesional. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa di balik senyum tenangnya, lutut Alika sudah bergetar hebat. Sendi-sendi kakinya terasa panas seperti terbakar. Tekanan kerja dan batin yang bertubi-tubi memicu serangan flare-up autoimunnya secara brutal.

Begitu konferensi pers berakhir dan para wartawan mulai bubar, Alika bergegas berjalan menuju ruang kerjanya. Baru saja dia menutup pintu ruangan, pandangannya mendadak buram. Kegelapan menyergap dunianya dalam sekejap.

Bruk!

Tubuh ramping Alika ambruk di atas lantai karpet ruang kerjanya, tak sadarkan diri.

Di tempat lain, Narendra baru saja menyudahi rapat dewan direksi saat ponsel pribadinya bergetar kencang. Nama asisten Alika, seorang sekretaris PR yang biasanya sangat sopan, tertera di layar. Narendra mengernyitkan dahi sebelum menggeser tombol hijau. "Halo?"

"Pak Narendra! Maaf mengganggu waktu Bapak," suara di seberang telepon terdengar panik dan bergetar hebat. "Ibu Alika... Ibu pingsan di ruangannya setelah konferensi pers tadi. Sekarang kami sedang membawanya ke Rumah Sakit Medika Utama. Kondisinya sangat mengkhawatirkan, Pak, badannya panas tinggi dan..."

Narendra tidak lagi menyimak kalimat selanjutnya. Jantungnya mendadak berdegup kencang dengan cara yang tidak wajar. Rasa panik yang asing tiba-tiba menjalar ke seluruh rongga dadanya.

"Saya ke sana sekarang," potong Narendra cepat.

Egonya yang biasa mendominasi kini mendadak lumpuh, digantikan oleh ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia menyambar jas dan kunci mobilnya, lalu berlari mengabaikan tatapan heran dari para staf di koridor kantor Artha Group. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, tangan Narendra yang mencengkeram setir mobil bergetar hebat. Pria itu terus merapalkan doa di dalam hati, menyadari satu hal yang selama ini tertutup rapat oleh egonya: dia tidak pernah siap jika harus kehilangan Alika.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!