NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawanan dante

Gaun pelayan hitam yang dipaksakan padanya malam ini terasa begitu mencekik harga dirinya. Kainnya sangat tipis dan pendek, melekat ketat mencetak setiap lekuk tubuhnya yang ramping, dengan potongan dada yang begitu rendah hingga membuatnya merasa telanjang, dingin, dan rapuh.

' Hiks... kurangajar... Psikopat itu," maki Nayara lirih dengan suara yang serak dan bergetar.

Jemarinya yang gemetar meraba kain pakaian yang terasa menghina harga dirinya tersebut. Mengapa dia harus mengalami nasib semalang ini? Hanya karena berada di tempat dan waktu yang salah saat pulang bekerja, hidupnya berbalik menjadi neraka dalam sekejap.

"Hiks... Ayah... Naya takut..." isaknya pelan, memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan karena embusan angin pendingin ruangan.

Cklek.

Suara pintu yang terbuka dari luar membuat jantung Nayara mencelos. Ia langsung berbalik dengan cepat, menyilangkan kedua tangan erat-erat di depan dada untuk melindungi sisa-sisa harga diri yang ia miliki.

Dante menyunggingkan senyum miring yang sarat akan kepuasan tirani. Ia menyandarkan bahunya di kosen pintu, melipat tangan di dada tanpa ada niat sedikit pun untuk mengalihkan pandangannya yang mengintimidasi.

"Ternyata selera desainerku tidak buruk," suara bariton Dante mengalun rendah, memecah keheningan kamar dengan nada sinis yang sangat kental. "Pakaian itu membungkus tubuhmu dengan sangat sempurna, Signorina."

"Lepaskan tatapan menjijikkan itu dari tubuhku!" seru Nayara dengan napas yang mulai memburu karena amarah yang memuncak. Rasa takutnya sesaat terkalahkan oleh rasa hina yang membakar dada. "Kamu sengaja, kan? Sengaja memakai cara murahan ini untuk melecehkanku?!"

Dante tidak terprovokasi oleh bentakan tersebut. Ia justru berjalan santai memasuki kamar, lalu duduk bersandar dengan angkuh di sofa kulit hitam yang terletak di sudut ruangan, menyilangkan satu kakinya dengan elegan.

"Melecehkanmu?" Dante terkekeh sinis, sebuah tawa meremehkan yang membuat bulu kuduk meremang. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya memberikan seragam yang pas untuk status barumu di rumah ini."

"tapi aku bukan pelayanmu!" tolak Nayara dengan tegas. Dagunya terangkat menantang, mencoba menunjukkan bahwa jiwanya belum patah meski seluruh tubuhnya sebenarnya bergetar hebat.

" Ck Ck Ck... Sayangnya kamu sekarang pelayan ku " " lebih baik sekarang kamu tuangkan kopi untuk ku dari teko itu ke dalam cangkir. Ingat jangan sampai ada yang tumpah setetes pun."

Nayara menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam dadanya yang bergemuruh hebat. Ia melangkah ke meja sudut tempat set teko kopi porselen diletakkan. Tangannya gemetar begitu hebat saat mengangkat teko yang berat, membuat lentingan cangkir dan tatakan porselen terdengar nyaring dan berdenting berisik di dalam kamar yang sunyi.

Ketika ia melangkah mendekati sofa dan menyodorkan cangkir berisi cairan hitam pekat yang masih mengepulkan uap panas itu, Dante tidak langsung menerimanya. Pria itu sengaja mengulurkan tangannya terlalu lambat, membuat ujung cangkir tersenggol oleh jemarinya. Gerakan sengaja itu menyebabkan kopi yang masih mendidih meluber dan mengenai jari-jari tangan Nayara.

"Aw! kamu sengaja ya?!" pekik Nayara spontan. Ia menarik tangannya dengan cepat hingga beberapa tetes kopi kembali tumpah ke lantai marmer. Ia meniup-niup jari-jarinya yang seketika memerah dan terasa perih membakar.

Dante hanya menatap ujung cangkir kopinya yang sedikit basah dengan ekspresi sedatar papan. Tanpa rasa bersalah atau belas kasihan sedikit pun, ia mengangkat cangkir itu dengan tenang dan menyesap kopinya perlahan, seolah jeritan kesakitan Nayara hanyalah musik latar yang menghibur pendengarannya.

"Lain kali, pakai matamu saat melayaniku," sahut Dante dingin, melirik sekilas ke arah jari Nayara yang mulai melepuh kecil. "Lagipula, itu baru sengatan kecil. Kulitmu saja yang terlalu tipis."

Ledakan emosi yang sejak tadi ditahan Nayara akhirnya pecah total. Air matanya luruh deras, bukan hanya karena rasa perih di jarinya, melainkan karena rasa muak, lelah, dan terhina yang sudah tidak tertahankan lagi pada kekejaman pria di hadapannya.

"Kulitku yang tipis atau kamu yang memang iblis tidak punya hati?!" teririk Nayara histeris. Ia melangkah maju dua langkah, berdiri menantang tepat di depan wajah Dante yang sedang duduk di sofa dengan pandangan penuh kebencian yang menyala. "Kalau menyiksaku sedikit demi sedikit bikin kamu puas, kenapa nggak sekalian kamu tembak mati aku sekarang juga?! Habisi aku seperti pria di gang itu! Aku lebih baik mati daripada harus terus dihina jadi mainan konyolmu!"

Belum sempat Dante membalas tantangan berani tersebut, pintu kamar mendadak diketuk dari luar.

Tok! Tok!

Pintu kamar terbuka. Lucas, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Dante di dunia bawah, melangkah masuk dengan beberapa dokumen laporan keuangan di tangannya. Namun, langkah pria itu langsung terhenti kaku di dekat pintu. Wajah Lucas seketika pias dan matanya membelalak melihat seorang wanita pelayan sedang berteriak histeris, menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah sang Tuan Muda yang paling ditakuti.

"T-Tuan Muda... ini laporan yang Anda minta," ucap Lucas terbata-bata, merutuki nasibnya yang masuk di waktu yang salah. Ia menatap Nayara dengan pandangan ngeri, seolah-olah gadis itu sudah menjelma menjadi mayat dalam hitungan detik.

Anehnya, Dante tidak mengamuk. Pria itu justru menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu terkekeh rendah. Suara tawa baritonnya yang berat menggema santai, memecah ketegangan yang ada, namun justru membuat atmosfer di dalam kamar terasa berkali-kali lipat lebih mengerikan dan mencekam.

"Letakkan saja di sana, Lucas. Ternyata kucing liar ini punya taring yang lumayan tajam," ujar Dante sambil melirik Nayara dengan senyum miring yang penuh arti jahat.

Lucas mengerjapkan matanya beberapa kali, benar-benar bingung dan tidak percaya melihat tuannya yang biasanya tanpa ampun dan kejam, kini justru terlihat sangat terhibur oleh kelancangan seorang tawanan.

"Anda... tidak ingin saya 'memberesikannya', Tuan?" tanya Lucas hati-hati, memberikan kode halus tentang eksekusi atau pembuangan yang biasa mereka lakukan pada orang yang berani tidak sopan.

"Tidak perlu."

Dante bangkit berdiri dari sofanya. Postur tubuhnya yang tinggi besar seketika memberikan tekanan magis yang membuat pasokan oksigen di dalam kamar terasa menyusut dan menyesakkan bagi siapa saja yang ada di sana. Dante melangkah lambat, mengikis jarak di antara mereka. Ia mengunci tatapan mata Nayara yang kini mulai goyah dan dirayapi ketakutan, lalu menundukkan kepalanya hingga napas hangatnya yang berbau kopi menerpa langsung di wajah gadis itu.

"Kematian itu terlalu mudah dan instan untukmu, Nayara," bisik Dante dengan nada suara yang begitu rendah dan dingin hingga terasa menusuk ke dalam tulang. "Kalau kamu punya nyali untuk menantangku, pastikan kamu juga punya nyali untuk menanggung cara bermain yang lebih menyakitkan dari sekadar sebutir peluru."

Seluruh pasokan oksigen di paru-paru Nayara seolah tersedot habis seketika. Namun, bukan ancaman rasa sakit fisik itu yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat, melainkan satu kata yang keluar dari bibir pria di hadapannya.

' NAYARA'

Kedua bola mata gadis itu melebar sempurna. Rasa syok yang masif seketika melumpuhkan lidahnya, memadamkan seluruh amarah yang baru saja meledak-ledak. Tubuhnya mendadak kaku, sedingin es yang membeku di bawah tatapan Dante.

"Ka-kamu..." Suara Nayara tercekat di tenggorokan, keluar dengan sangat parau dan nyaris tidak terdengar.

1
Muhamad Nazril
lanjutt
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: siap💪
total 1 replies
Muhamad Nazril
👍👍👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih🤗
total 1 replies
HamdanR M
Makin kesini semakin seru😍
Lanjutt min, Semangat 💪💪💪
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih kak🤗
total 1 replies
Padil
👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
siap
Nazwan Nazwan
Bagus😍😍😍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!