NovelToon NovelToon
Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: premier MT

Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Kejadian Alam Misterius yang Menggemparkan Sekte

Di dalam perpustakaan, Mu Chen masih duduk bersila dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja mengetahui rahasia besar tentang tubuhnya — bahwa ia sebenarnya memiliki Dantian, hanya tersembunyi di dalam tulang belakangnya dan berisi lautan Air Timah Surgawi yang sangat padat.

Namun yang tidak ia sadari: saat ia perlahan membuka segel Dantiannya sedikit saja, dampaknya tidak hanya terasa di dalam tubuhnya.

 

Di luar perpustakaan, langit yang tadinya cerah dan berawan perlahan berubah warna. Awan putih berubah menjadi abu-abu gelap, berputar-putar dengan cepat seolah sedang membentuk pusaran raksasa. Angin yang tadinya sepoi-sepoi berubah menjadi kencang, menerbangkan daun-daun dan debu di seluruh halaman sekte.

"Apa yang terjadi?!" teriak seorang murid yang sedang berlatih, hampir terlempar oleh hembusan angin.

Tidak hanya angin — energi langit dan bumi di seluruh wilayah Sekte Angin Hijau mulai bergerak liar. Biasanya energi mengalir perlahan dan teratur, tapi kali ini ia berputar dengan kecepatan luar biasa, bergerak menuju satu titik yang tidak diketahui asalnya.

Di kejauhan, petir mulai menyambar di langit, disertai suara gemuruh yang membuat tanah sedikit bergetar. Suhu udara pun berubah drastis — tiba-tiba terasa sangat panas, lalu sekejap kemudian menjadi dingin menusuk tulang.

"Ini... ini Gelombang Perubahan Alam! Biasanya hanya muncul ketika ada seseorang yang akan naik tingkat menjadi Dewa, atau ketika benda pusaka tingkat langit terbangun!" seru Tetua Chang yang segera terbang ke udara untuk memeriksa situasi.

Semua tetua sekte segera berkumpul di halaman utama, wajah mereka penuh kewaspadaan dan keheranan.

"Energinya sangat murni dan kuat, bahkan melampaui yang pernah saya rasakan sebelumnya," gumam Tetua Agung Mo Feng sambil menatap langit yang berputar. "Tapi... rasanya berbeda. Tidak ada tekanan yang menindih, tidak ada niat jahat — hanya energi yang berputar dan menarik segala sesuatu di sekitarnya."

Para murid berlarian mencari tempat aman, saling berbisik dengan ketakutan sekaligus penasaran.

"Apakah ada orang hebat yang datang ke sekte kita?"

"Mungkinkah harta karun kuno yang terpendam di bawah tanah akhirnya muncul?"

"Lihat pusaran awan itu! Warnanya berubah menjadi perak kebiruan seperti debu bintang!"

Semua mata tertuju pada pusat pusaran energi — yang tanpa mereka sadari, persis berada tepat di atas Perpustakaan Besar Sekte.

 

Di dalam perpustakaan, suasana justru terasa tenang dan nyaman. Dinding tebal perpustakaan menahan sebagian besar gejolak di luar, dan karena tubuh Mu Chen sendiri adalah sumber energi itu, ia justru tidak merasakan ada yang aneh.

Ia berdiri dan meregangkan tubuhnya, lalu menepuk debu di bajunya.

"Baiklah, sekarang aku tahu rahasianya. Jadi begini rasanya punya Dantian, meski isinya berat sekali. Sepertinya aku harus berhati-hati, jangan sampai menggerakkannya terlalu banyak nanti tubuhku sendiri yang rusak," gumamnya santai.

Ia menatap jendela perpustakaan, melihat langit yang berputar-putar dan awan yang berwarna aneh. Namun karena ia tidak tahu apa dampak membuka sedikit saja segel Dantiannya, ia hanya mengangkat bahu dan berkomentar polos:

"Wah, langitnya berubah warna ya? Sepertinya akan hujan lebat. Cuaca di sini memang tidak bisa ditebak. Kalau begini, lebih baik aku cepat pulang sebelum basah kuyup," katanya sambil berjalan menuju pintu keluar.

Begitu ia membuka pintu perpustakaan — angin kencang langsung menerpa wajahnya, dan suara gemuruh langit terdengar jelas. Ia tertegun sejenak, lalu menatap sekeliling dengan mata terbelalak.

"Lho? Kenapa semua orang berlarian seperti ini? Apakah ada serangan musuh? Atau ada binatang roh besar yang masuk?" tanyanya pada seorang murid yang lewat dengan wajah panik.

Murid itu berhenti sejenak, menatap Mu Chen dengan pandangan bingung, lalu menjawab tergesa-gesa:

"Tidak tahu! Tiba-tiba langit berubah dan energi menjadi kacau! Semua orang bilang ini pertanda ada orang yang naik tingkat dewa atau benda pusaka hebat yang muncul! Kita harus mencari sumbernya!"

Ia segera berlari pergi meninggalkan Mu Chen yang masih berdiri di depan pintu perpustakaan, menggaruk kepalanya dengan ekspresi semakin bingung.

"Naik tingkat dewa? Benda pusaka? Tapi aku tidak melihat apa-apa yang bersinar terang. Langitnya memang aneh, tapi tidak ada makhluk aneh yang terlihat. Apakah mereka melihat halusinasi?" gumamnya pelan.

 

Sementara itu, para tetua sudah mulai memeriksa seluruh wilayah sekte satu per satu. Mereka bisa merasakan bahwa pusat gejolak energi itu ada di dekat sini, tapi entah kenapa saat mereka mendekat, rasanya energi itu justru menyebar dan sulit ditentukan titik pastinya.

"Aneh sekali. Energinya ada di sini, tapi seolah-olah tersebar di udara, tanah, pepohonan — bahkan sulit untuk disentuh," kata Tetua Qingyun sambil mengerutkan kening.

Mereka berjalan berkeliling, akhirnya sampai di depan perpustakaan, dan melihat Mu Chen yang sedang berdiri santai sambil memandangi langit.

"Mu Chen! Apakah kau melihat sesuatu yang aneh di sekitar sini?" tanya Tetua Agung Mo Feng.

Mu Chen menoleh dan menjawab dengan wajah polos:

"Tidak ada apa-apa, Tetua. Saya baru saja selesai membaca kitab dan mau pulang. Langitnya memang aneh, tapi tidak ada orang asing atau benda aneh yang saya lihat. Apakah memang ada bahaya?"

Para tetua saling pandang. Mereka bisa merasakan bahwa energi misterius itu sangat dekat, tapi saat melihat Mu Chen yang berdiri biasa saja tanpa ada tanda-tanda berkultivasi, mereka tidak menyangka sedikit pun bahwa sumbernya justru ada di dalam tubuh pemuda itu.

"Tidak ada bahaya langsung. Hanya saja gejolak energi ini tidak biasa. Biasanya hanya terjadi ketika ada peristiwa besar," jelas Tetua Qingyun sambil terus mengamati sekitar.

Mu Chen mendengarkan penjelasan itu, lalu tiba-tiba teringat sedikit — ia baru saja membuka segel Dantiannya tadi. Namun ia tidak mengira hal kecil itu bisa menyebabkan kekacauan sebesar ini.

"Apakah... mungkin karena saya membuka sedikit segel di dalam tubuh saya tadi? Tapi rasanya tidak ada bedanya, hanya sedikit terasa hangat saja," gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Namun ia segera menggelengkan kepala dan menertawakan dirinya sendiri:

"Tidak mungkin. Hanya membuka sedikit saja, mana bisa membuat langit berubah. Pasti kebetulan saja. Di duniaku pun kadang ada badai petir tiba-tiba tanpa alasan yang jelas," pikirnya.

 

Beberapa saat kemudian, saat gejolak di langit perlahan mulai mereda — tepat bersamaan dengan saat Mu Chen tanpa sadar menutup kembali segel Dantiannya secara perlahan. Pusaran awan perlahan hilang, angin menjadi sepoi-sepoi lagi, dan energi langit dan bumi kembali mengalir seperti biasa.

Semua orang terdiam, menatap langit yang kembali cerah seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

"Sudah berhenti... apa maksud semua ini?" gumam Tetua Chang bingung.

Para tetua berdiskusi panjang lebar, tapi tidak menemukan jawaban yang jelas. Mereka menduga bahwa mungkin ada benda pusaka kuno yang lewat di atas sekte, atau perubahan alami langit yang jarang terjadi. Tidak ada yang menyangka bahwa penyebabnya hanyalah pemuda sederhana yang berdiri tidak jauh dari mereka, yang bahkan tidak menyadari bahwa dialah sumber semua kekacauan itu.

Mu Chen hanya menghela napas lega dan tersenyum:

"Syukurlah sudah berhenti. Tadi saya sempat khawatir langit akan runtuh. Kalau begini, saya bisa pulang dan memikirkan apa yang akan saya masak nanti sore. Apakah telur masih tersisa di dapur ya?"

Ia berjalan pergi santai menuju asrama, meninggalkan para tetua yang masih bingung dan para murid yang saling bercerita tentang kejadian misterius yang baru saja mereka alami.

 

Di sepanjang perjalanan pulang, Mu Chen sesekali menepuk dadanya sambil bergumam sendiri:

"Ternyata Dantian saya ini cukup 'riuh' ya. Hanya dibuka sedikit saja, langitnya sudah berubah. Kalau dibuka sepenuhnya, bisa-bisa bumi ini ikut berguncang. Lebih baik saya simpan rapat-rapat saja untuk saat ini. Yang penting makan tetap teratur dan hidup tenang."

Dan begitulah — peristiwa yang dianggap sebagai pertanda besar oleh seluruh Sekte Angin Hijau ternyata hanyalah akibat ketidaksengajaan seorang pemuda yang bahkan tidak menyadari apa yang baru saja dilakukannya 😄

1
premier MT
mantap
Riekcy Rachmat
lanjut trus🙏
Riekcy Rachmat
menarik sekali, semoga updatenya banyak nnti
Riekcy Rachmat
😄😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!