NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Malam harinya, tepat pukul delapan, kamar tidur Jasmine kembali berubah menjadi pusat kendali yang sibuk. Sesuai dengan instruksi ketat dari Kak Axel, Jasmine sudah duduk rapi di depan meja komputer PCnya. Tiga monitor LED berukuran besar menyala serentak, menampilkan antarmuka perangkat lunak Discord dan lobi utama game taktis turnamen esport. Setelah sempat tertidur pulas pasca insiden di tepi danau siang tadi, tubuh Jasmine kini terasa jauh lebih segar, meski kepalanya masih sedikit memikirkan lambaian tangan iseng dari Kak Liam yang dia lihat dari balik tirai jendela sore tadi. Jasmine memakai headphone hitam andalannya, membetulkan posisi mikrofon, lalu mengeklik tombol untuk bergabung ke dalam room obrolan suara tim mereka. Begitu indikator akunnya berubah menjadi hijau, telinga Jasmine langsung disambut oleh suara heboh dan super bising yang sangat familier.

"Hei, Jasmine! Akhirnya kamu log in juga! Kamu utang cerita banyak ya sama aku!" suara Kak Bryan langsung menggelegar melalui mikrofon komputer PCnya, memecah kesunyian kamar Jasmine dalam sekejap. "Gila ya, tadi sore aku sengaja lewat depan danau pas mau beli seblak, terus aku lihat cowok tinggi putih yang punya kafe itu lagi rapihin pot bunga. Gantengnya kelewatan, Jasmine! Saingan Kak Axel fix berat banget ini mah!"

Jasmine refleks menjauhkan sedikit earcup headphonenya dari telinga karena pekikan Kak Bryan yang terlalu bersemangat. Wajah Jasmine mendadak terasa agak panas mendengarnya. "Aku cuma mampir sebentar kok, Kak Bryan. Gak ada apa-apa, tadi pagi cuma gak sengaja terpeleset aja di dekat sana," jawab Jasmine dengan nada suara sekaku dan sedatar mungkin melalui mikrofon komputer PCnya.

"Bryan, bisa diam gak? Kita ini berkumpul di Discord mau latihan taktik buat turnamen London, bukan mau bahas gosip kompleks perumahan Jasmine," tegur Kenzie dengan nadanya yang selalu sopan, berwibawa, dan gentleman. Cowok berusia 25 tahun itu selalu menjadi orang pertama yang berusaha menengahi situasi sebelum atmosfer tim berubah menjadi canggung.

"Tahu nih Bryan, sukanya mancing-mancing masalah terus dari sore di grup chat. Jasmine kan cuma tetanggaan sama pemilik kafe itu, wajar kalau mereka bertegur sapa. Jangan digoda terus adek kita ini," timpal Ilias ikut membela Jasmine. Suara Ilias yang dewasa dan penuh kesabaran khas seorang abang selalu berhasil membuat Jasmine merasa dilindungi di dalam tim ini. Bagi Jasmine, Kak Ilias dan Kak Kenzie adalah sosok keluarga sejati yang tidak pernah dia miliki sejak bayi di panti asuhan.

"Tapi kan gue cuma penasaran, Ilias! Masa seorang Jasmine Elvira yang biasanya dingin kayak kulkas dua pintu bisa mendadak ramah sama cowok asing sampai mampir ke kafenya? Pasti ada udang di balik bakwan ini!" Bryan masih saja mengoceh random, merusak atmosfer serius malam itu dengan kelakuan lucunya yang tidak pernah habis.

"Sudah, cukup bahas kafenya. Semua fokus ke layar masing-masing. Pertandingan simulasi mau dimulai," suara dingin dan berat milik Axel akhirnya menginterupsi seluruh obrolan di dalam room.

Seketika itu juga, seperti ada tombol yang ditekan, Bryan langsung bungkam. Suasana di dalam panggilan discord yang tadinya riuh berisik berubah drastis menjadi sangat serius, sunyi, dan penuh ketegangan kompetitif. Axel sang kapten berumur 27 tahun yang terkenal dengan karakternya yang dingin dan irit bicara, selalu memiliki otoritas penuh mutlak yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di dalam tim. Di layar monitor PC utama Jasmine, karakter game mereka masing-masing mulai bergerak masuk ke dalam area permainan map digital. Malam ini, tim mereka dijadwalkan melakukan simulasi pertandingan melawan salah satu tim pro player terkuat dari negara tetangga sebagai bagian dari persiapan intensif mereka menuju London. Latihan malam itu berlangsung sangat intens dan melelahkan selama empat jam penuh tanpa henti. Di bawah komando taktis dari Axel yang luar biasa tegas dan jeli, mereka berlima bertempur habis-habisan di dunia virtual. Jasmine mengerahkan seluruh fokus dan kemampuan mikronya. Jarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas tombol-tombol keyboard mekanik, memindahkan karakter Kira Permafrost elemen es miliknya untuk membekukan pergerakan musuh dari lini belakang, membuka jalan bagi Axel yang bertindak sebagai Assassin utama untuk mengeksekusi lawan. Kombinasi permainan antara Jasmine dan Axel malam itu benar-benar rapi dan tanpa celah, menghasilkan lima kemenangan beruntun yang mutlak untuk tim mereka. Begitu permainan selesai dan jam digital di komputer PC menunjukkan pukul satu malam, helaan napas lega terdengar serentak dari seluruh anggota tim.

"Gila, capek banget tangan gue sampai mau copot," keluh Bryan sambil tertawa renyah. "Gue off duluan ya semuanya, mau tidur. Jangan lupa besok siang kita ada evaluasi lagi."

"Iya, gue juga pamit tidur dulu. Kenzie, Jasmine, Axel, duluan ya," sahut Ilias yang disusul oleh Kenzie. Satu per satu ikon lingkaran di Discord mereka berubah menjadi abu-abu tanda telah meninggalkan panggilan suara.

Suasana di dalam kamar Jasmine perlahan kembali ke setelan awal: sunyi dan dingin. Namun, indikator panggilan suara menunjukkan bahwa Axel masih bertahan di dalam room bersama Jasmine, persis seperti kebiasaan mereka selama bertahun-tahun ini.

Jasmine melepas headphonenya, membiarkan benda itu menggantung di lehernya, lalu menyandarkan punggungnya yang terasa kaku ke kursi gaming. "Permainan Kak Axel bagus banget malam ini," puji Jasmine tulus, memecah keheningan melalui loudspeaker komputernya.

"Permainan kamu juga bagus banget malam ini, Jasmine. Refleks es kamu makin tajam, aku suka," balas Axel dari seberang perangkat. Sifat dingin dan irit bicara cowok itu mendadak meruntuh, digantikan oleh nada suara yang jauh lebih lembut dan penuh perhatian yang mendalam, sebuah pengecualian yang hanya pernah dia berikan khusus untuk Jasmine selama lima tahun ini. Perasaan sepi Jasmine yang selalu dia temani di malam-malam sepi pasca keluar dari panti asuhan, perlahan-lahan telah membuat hati Axel luluh seutuhnya pada gadis itu.

"Terima kasih, Kak Axel. Ini semua juga karena arahan dari Kak Axel yang jelas di dalam game," jawab Jasmine dengan senyuman tipis.

Sejenak, terjadi jeda keheningan yang cukup panjang di antara mereka melalui sambungan komputer PC. Jasmine bisa mendengar suara ketukan jari Axel yang lambat di atas mejanya di seberang sana, menandakan cowok itu sedang memikirkan sesuatu dengan serius.

"Jasmine," panggil Axel akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. "Besok siang aku mau main ke rumah kamu. Aku mau mengantar beberapa vitamin tambahan dan camilan yang dititipkan oleh mama aku untuk kamu. Kamu besok gak ada acara keluar rumah, kan?"

Jasmine sempat tertegun sejenak mendengarnya. Dia melirik ke arah jendela kamar yang menghadap langsung ke arah danau dan bangunan kaca di seberang jalan. "Besok... kafe bunga di seberang rumah baru mau resmi dibuka untuk umum, Kak Axel. Aku sebenarnya sempat berjanji pada pemiliknya untuk mampir sebentar melihat-lihat."

Hening kembali merayap di antara mereka melalui sambungan panggilan suara tersebut. Kali ini, atmosfer di sekitar meja komputer Jasmine mendadak berubah menjadi agak berat dan canggung. Jasmine bisa merasakan ada perubahan emosi yang drastis dari sang kapten.

"Kamu sedekat itu dengan pemilik kafenya sampai harus meluangkan waktu datang ke acara pembukaannya?" tanya Axel, suaranya kembali berubah menjadi sangat dingin, datar, dan menusuk, menyiratkan rasa cemburu serta sikap protektif yang tidak bisa dia sembunyikan lagi.

"Bukan begitu, Kak Axel. Kak Liam maksud aku pemilik kafe itu hanya bilang kalau aku boleh datang sebagai tetangga terdekat karena rumah kami berhadapan. Aku juga merasa enggak enak hati kalau harus menolak niat baik orang lain yang sudah menolong aku tadi pagi," jelas Jasmine dengan nada sehalus mungkin, berusaha meredam ketegangan agar tidak menyinggung perasaan pelindung utamanya itu.

"Ya udah. Besok siang aku tetap akan datang ke rumah kamu lebih awal. Kita bisa pergi ke kafe itu bareng-bareng kalau kamu memang bersikeras ingin mampir ke sana," putus Axel mutlak dengan nada suara yang tidak menerima bantahan apa pun. "Sekarang kamu matikan komputer PC kamu, lalu langsung tidur. Jangan begadang lagi untuk hal tidak penting. Selamat malam, Jasmine."

"Selamat malam, Kak Axel," jawab Jasmine pelan sebelum akhirnya ikon akun Kak Axel menghilang dari layar, menandakan panggilan telah berakhir seutuhnya.

Jasmine menghela napas panjang, mematikan daya komputer PCnya hingga ketiga layar monitor besar itu berubah menjadi hitam pekat. Kamarnya kini benar-benar gelap, hanya menyisakan sorot lampu jalanan yang menembus tirai jendela. Jasmine beranjak dari kursi, berjalan gontai menuju tempat tidurnya dan merebahkan diri di sana. Dia menarik selimut tebal sampai sebatas dada, menatap langit-langit kamar yang sunyi dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, dia sangat menghargai dan merasa aman dengan sikap protektif Kak Axel yang selalu menjaganya sejak dia masih bukan siapa-siapa di dunia game. Namun di sisi lain, bayangan senyuman jahil Kak Liam, kehadiran bebek konyol bernama Donald, dan aroma manis bunga chamomile dari kafe seberang jalan mendadak kembali melintas dengan begitu hidup di dalam pikirannya. Jasmine memejamkan mata, merapatkan selimutnya dengan dahi berkerut sebal, menyadari bahwa ketenangan hidupnya yang monoton kini telah terusik sepenuhnya oleh kehadiran tetangga barunya itu.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!