Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Quan Yubin terpaku diam. Ia benar-benar tidak mengerti.
Kenapa aku diusir? Apa aku melakukan kesalahan?Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya membuatnya bingung dan sedikit terluka.
Ia sudah begadang semalaman, memeluk gadis itu demi menghangatkan tubuhnya yang demam, tapi kini malah disuruh pulang seenaknya.
Sementara itu, Xin Yi seolah sengaja mengabaikan keberadaannya dan malah menoleh ke arah kakaknya.
"Kakak... kapan kamu akan menelpon orang tua kita?" tanyanya pelan.
Xin Yuning menyimak situasi di depannya. Ia melihat adiknya yang terus mengabaikan Quan Yubin, dan melihat temannya yang terlihat bingung serta tersinggung.
Ia paham, suasana di sini pasti terasa sangat canggung dan tidak nyaman bagi keduanya. Mungkin mereka butuh waktu berdua untuk menyelesaikan masalah ini.
"Baiklah, Kakak mau keluar sebentar. Juga mau tanya ke dokter soal jadwal makan dan perkembangan terbaru," ucap Xin Yuning tiba-tiba sambil berdiri.
Sebelum pergi, dia tidak lupa menatap tajam ke arah pintu kamar mandi tempat dua ekor 'tikus' sedang sibuk menguping.
"Heh! Kalian berdua juga keluar!!" serunya pelan namun tegas.
Dengan terpaksa dan cekikikan, Zhao Yun dan Rong Yuan diseret keluar oleh Xin Yuning. Pintu kamar ditutup rapat.
Kini, ruangan itu sunyi senyap.
Hanya tersisa Xin Yi dan Quan Yubin.
Xin Yi yang perutnya masih keroncongan dan kepalanya terasa berat karena kurang tidur, mulai merasa mengantuk. Ia memejamkan matanya, berniat mencoba tidur kembali sambil menunggu waktu makan tiba, berharap pria itu akan mengerti dan pergi sendiri.
Namun...
"Apa salahku?"
Suara berat dan rendah Quan Yubin terdengar jelas, memecah keheningan dan menghentikan niat Xin Yi untuk tidur.
Xin Yi membuka matanya sedikit, menatap langit-langit kamar tanpa menoleh ke arahnya.
"Kamu tidak salah apa-apa," jawabnya datar."Aku cuma... berterima kasih karena sudah mau menjagaku..."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang mencoba terlihat tegas,
"...kamu juga pasti sangat lelah. Sebaiknya kamu pulang ke rumah dan istirahat yang benar. Bawa saudara Yun dan kakak Yuan juga pergi bersamamu. Di sini masih ada Kakak, tidak masalah."
Setelah mengucapkan itu, Xin Yi kembali memejamkan matanya rapat-rapat, memalingkan wajahnya sedikit ke samping, memberikan punggung dan sikap dinginnya kembali pada pria itu.
Quan Yubin terdiam mendengar jawaban datar itu.
Hati dan pikirannya campur aduk menjadi satu. Ia merasa sangat kesal, bingung, dan terluka diperlakukan sedingin ini setelah apa yang ia lakukan semalam.
Wajahnya tampak tegang dan penuh kesusahan, rahangnya mengeras menahan emosi yang meledak-ledak.
Namun... saat ia melirik sekilas ke arah gadis itu...
Melihat wajah pucat, mata yang masih sayu, dan tubuh kecil yang terbaring lemah itu... segalanya amarah dan kekesalannya langsung menguap tak bersisa.
Dia baru saja melewati masa kritis... baru saja sadar... aku tidak bisa marah padanya. batinnya berjuang menahan diri.
Ia tidak tega. Tidak sanggup.
Dengan napas panjang yang terdengar berat, Quan Yubin akhirnya berdiri dari kursinya. Ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya menatap punggung Xin Yi dengan tatapan yang sulit diartikan—penuh cinta, rasa bersalah, dan juga sedikit kecewa.
"Baiklah..." ucapnya pelan, suaranya terdengar serak dan berat.
"Aku pergi dulu."
Ia berbalik badan dan berjalan perlahan menuju pintu keluar, meninggalkan ruangan itu dengan hati yang terasa begitu berat namun tetap berusaha menghormati keinginan gadis itu.
Suara pintu tertutup terdengar pelan namun jelas, memisahkan ruangan itu menjadi sunyi kembali.
Xin Yi perlahan membuka matanya yang tadi ia paksa terpejam rapat.
Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Tidak ada kemarahan, tidak ada kekesalan, hanya ada kekosongan yang bercampur dengan perasaan aneh yang mulai menjalar di dadanya.
Kenapa rasanya jadi begini?
Entah kenapa, saat berada terlalu dekat dengan Quan Yubin barusan, ia merasa sangat canggung, kaku, dan... takut.
Seolah-olah ada alarm bahaya yang berbunyi nyaring di kepalanya, berteriak memerintahkannya untuk menjaga jarak! Menjaga jarak!
Ia tidak mengerti mengapa segalanya berubah menjadi secepat ini. Dulu mereka bisa bercanda dan bertengkar biasa saja seperti teman akrab.
Tapi sekarang... setiap kali pria itu menatapnya, jantungnya berdegup bukan karena senang, melainkan karena gugup dan waspada berlebihan.
Xin Yi menyadari satu hal yang membuat bulu kuduknya merinding.
Sikap Quan Yubin... berbeda.
Cara pria itu menatapnya, cara dia memperlakukannya... ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang lebih intens dan serius dibandingkan sebelumnya.
Itu bukan lagi sekadar perhatian teman atau kakak pada adik temannya.
Dan ketidakpastian serta perubahan sikap itulah... yang justru membuat Xin Yi merasa sangat takut dan ingin lari menjauh.
Pukul 08.00 pagi, pintu kamar terbuka lebar. Huo Feilin dan Xing Fuyang akhirnya datang kembali. Wajah mereka sudah terlihat jauh lebih segar setelah beristirahat, namun tatapan khawatir masih tak lepas dari mata mereka.
Saat itu, Xin Yi baru saja selesai menghabiskan seporsi bubur ayam hangat. Ia sedang duduk bersandar nyaman, meminjam laptop milik Xin Yuning untuk menonton video guna mengusir bosan.
Melihat orang tuanya masuk, Xin Yi segera menutup laptopnya pelan dan menatap mereka.
"Ayah... Ibu..." sapanya pelan.
Walaupun ekspresi wajahnya tetap datar dan tak banyak berubah seperti biasa, namun kedua orang tuanya bisa membaca dengan jelas—ada rasa bersalah yang terpancar dari sorot mata gadis itu. Ia tahu ia sudah membuat mereka sangat khawatir dan ketakutan.
Xing Fuyang mendekati ranjang, duduk di sisi gadis itu. Ia tidak langsung marah, melainkan menatap putrinya dengan tatapan tegas namun penuh kasih sayang.
"Yi Yi... dengarkan Ayah," ucapnya lembut namun serius.
"Mulai sekarang, kamu harus berjanji untuk jujur pada kami. Jangan pernah menyembunyikan apa pun, apalagi jika kamu sedang terluka atau sakit. Tubuhmu bukan baja, sayang. Kalau kamu diam saja, bagaimana kami bisa menolongmu?"
Xin Yi menunduk sedikit, lalu mengangguk patuh.
"Maaf, aku tidak akan menyembunyikan apa-apa lagi," ucapnya tulus meminta maaf.
Ia lalu mendongak menatap ibunya. Huo Feilin tersenyum tipis, lalu tangan lembutnya terulur mengusap kepala dan rambut putrinya dengan penuh kelembutan.
"Iya sudah, yang penting sekarang kamu sudah sembuh. Tapi..."
Huo Feilin berhenti sejenak, wajahnya berubah menjadi senyum yang menyeramkan.
"...sebagai hukumannya karena sudah nakal dan membahayakan diri sendiri, sepeda motormu akan Ibu sita! Sampai kamu benar-benar sembuh dan Ibu rasa kamu sudah cukup bijak, kamu tidak boleh memegangnya dulu!"
"......" Sepeda motor kesayanganku... disita?! Hidupku akan hampa!
Ia membuka mulutnya hendak memohon atau menangis memelas, tapi melihat wajah kedua orang tuanya... ia tak sanggup berkata apa-apa.
Hukuman ini... sungguh lebih menyakitkan daripada rasa sakit di punggungnya!
Xin Yi hanya bisa menatap kosong ke depan, hatinya menjerit keputusasaan namun mulutnya terkunci rapat.
Selama masa perawatan di rumah sakit, suasana tidak pernah sepi.
Zhao Yun dan Rong Yuan selalu menyempatkan diri mampir, walau hanya sebentar untuk membawakan buah atau sekadar bercanda agar Xin Yi tidak bosan.
Namun yang paling ulet adalah Quan Yubin.
Walaupun sikap Xin Yi masih dingin, acuh tak acuh, dan sering kali mengabaikannya, pria itu seolah memiliki kulit baja. Ia tetap datang setiap hari, tetap duduk di dekat ranjang, tetap memperhatikan gadis itu dengan tatapan lembut, dan tidak pernah pergi meskipun diacuhkan.
Saking risih dan canggungnya, Xin Yi sering kali harus memaksakan diri memejamkan mata dan berpura-pura tidur pulas hanya untuk menghindari percakapan dengannya.
Tapi anehnya, setiap kali ia "terbangun", pria itu masih ada di tempat yang sama, menatapnya dengan sabar.
Hari keempat akhirnya tiba.
Dokter memberikan izin untuk pulang! Kondisinya sudah jauh lebih baik, infeksi sudah bersih, dan lukanya mulai menutup.
Saat mobil memasuki halaman rumah besar itu, hati Xin Yi melonjak kegirangan. Akhirnya... bebas dari ranjang rumah sakit!
Begitu kaki menyentuh lantai rumah, hal pertama yang ia cari adalah Bibi Ming.
"Bibi Ming! Aku ingin pai stroberi yang banyak krimnya!" pinta Xin Yi dengan wajah memelas yang jarang ia tunjukkan saat ia masuk ke dalam rumah.
Bibi Ming tertawa gemas melihat tingkah nona mudanya yang sudah kembali ceria. "Iya-iya, Nona kecil. Sekarang juga Bibi buatkan. Makan yang banyak biar cepat gemuk dan sembuh total."
Namun, kabar tentang Xin Yi yang terluka parah dan dirawat di rumah sakit ternyata tidak bisa ditutup-tutupi sepenuhnya. Berita itu sampai juga ke telinga keluarga besar Xin.
Tidak butuh waktu lama, Kakek Xin dan Nenek Xin langsung memutuskan pulang ke rumah utama dari vila mereka di pegunungan. Mereka ingin melihat langsung kondisi cucu perempuan kesayangan mereka yang baru saja selamat dari maut.
Pikiran Xin Yi lalu melayang ke arah lain.
Ia teringat tentang keluarga Huo—keluarga dari ibu tirinya.
Sejak pertama kali datang ke kota besar ini dan tinggal bersama ayahnya, Xin Yi sebenarnya tidak pernah benar-benar mengenal mereka.
Ibu tirinya pun sepertinya jarang sekali berkomunikasi atau mengajaknya berinteraksi dengan keluarga besar Huo tersebut.
Perlahan, dugaan itu terbentuk di benak Xin Yi.
Mungkin... memang begini adanya. batinnya berpikir logis.
Aku kan hanyalah anak dari hubungan ayahku dengan wanita lain di desa. Wajar saja kalau keluarga dari ibu tiriku tidak menyukai aku, atau bahkan menganggap aku tidak ada.
Bagi Xin Yi, itu bukan masalah besar. Tidak perlu dipusingkan.
Tidak apa-apa. Selama Ayah, Ibu Huo, dan Kakak menyayangiku... itu sudah lebih dari cukup buatku.
Kehangatan dari keluarganya saat ini sudah mampu mengisi kekosongan di hatinya, membuatnya tidak lagi peduli pada pandangan orang lain.