NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tersisa dari Kemenangan

...Chapter 18...

Huan Zheng menarik napas panjang—napas yang terasa seperti menelan abu dari api yang sudah padam berabad lalu, lalu ia melanjutkan dengan suara yang tiba-tiba menjadi lebih datar, lebih kosong, seperti orang yang membaca daftar nama di atas batu nisan yang tak bertuan. 

"Tapi ada yang aneh, Nona Racun. Setelah Pertentangan Harmoni usai, setelah manusia merayakan kemenangan mereka dengan pesta pora yang berlangsung selama tujuh malam tujuh hari di ibu kota semesta... Si Pemalas dan Si Penyanyi menghilang. Bukan mati—karena tidak ada yang berani mengklaim telah membunuh mereka. Bukan bersembunyi—karena tidak ada yang bisa menemukan jejak mereka. Mereka hanya... lenyap. Seperti kabut yang ditelan matahari pagi. Sementara Si Pendiam tetap ada, tetap hadir di setiap upacara kemenangan, di setiap eksekusi dewi yang tertangkap, di setiap pengesahan undang-undang anti-dewa yang baru." 

Ling Xu mengerjap, merasakan ada sesuatu yang ganjil dari cara Huan Zheng mengucapkan kata "menghilang"—seperti orang yang sedang berbicara tentang teman lamanya yang pergi tanpa pamit, dan ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya. 

"Dan para pahlawan manusia lainnya? Yang berjuang di garis depan?" 

Huan Zheng tersenyum—senyum yang tidak sampai ke matanya—lalu menjawab dengan nada malas yang terasa dipaksakan.

"Beberapa juga ikut menghilang. Yang lain memilih diam di sudut-sudut semesta yang tidak terjangkau peta. Ada yang menjadi petani di planet terpencil, ada yang menjadi pemulung di lorong-lorong waktu yang terlupakan. Tidak ada yang tahu persis kenapa. Mungkin mereka lelah. Mungkin mereka mual. Mungkin mereka melihat sesuatu di balik tirai kemenangan yang tidak ingin mereka lihat untuk kedua kalinya."

Ia mengangkat bahu, lalu berbalik meninggalkan tepi tebing, dan di belakangnya, Ling Xu hanya bisa terdiam dengan seribu pertanyaan yang mengganjal di tenggorokannya.

Di dalam benaknya, Huan Zheng membiarkan suara batinnya bergumam.

Bukan dengan kata-kata biasa, melainkan dengan getaran yang terasa seperti air danau di tengah malam yang tidak pernah bergerak, dingin dan dalam dan tanpa permukaan yang bisa diukur. 

"Kami tidak ingin melawan," gumamnya, dan untuk sesaat, ia merasakan kembali aroma teh pahit di paviliun bambu yang dulu, tempat ia dan Penyanyi—teman masa kecilnya yang selalu ada di setiap sisi seperti bayangan yang tidak pernah berpisah, meskipun hatinya tidak pernah berdetak untuknya—duduk berdua dengan para dewa utusan yang menawarkan perdamaian. 

"Kami memilih jalan damai. Bukan karena takut kalah. Bukan karena lemah. Tapi karena kami tahu—kami sudah melihat sendiri—bahwa perang tidak pernah berakhir dengan kemenangan. Perang hanya berakhir dengan satu pihak terlalu lelah untuk terus membunuh, dan pihak lain terlalu hancur untuk terus dilawan." 

Ia teringat pada wajah para Dewa utusan itu.

Bukan Dewa-dewa agung dengan singgasana emas dan mahkota bintang, melainkan dewa-dewa rendahan dengan mata sayu dan bahu yang turun, yang juga tidak menginginkan pertarungan, yang juga hanya ingin hidup dalam damai tanpa harus memilih antara membunuh atau dibunuh. 

"Tapi kemenangan manusia," lanjut gumaman Huan Zheng, suara batinnya tiba-tiba bergetar dengan nada yang bahkan tidak pernah ia tunjukkan pada Ling Xu, "tidak datang dengan damai. Kemenangan manusia datang dengan kebejadan."

Ia membiarkan ingatan-ingatan itu mengalir seperti darah dari luka yang tidak pernah sembuh.

Ingatan tentang ratusan Dewi.

Bukan dewi pejuang, bukan dewi dengan pedang dan baju zirah, melainkan dewi-dewi biasa yang hanya pandai meracik obat, merawat taman, menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anak-anak bintang—digilir oleh para prajurit manusia yang mabuk kemenangan dan amarah, satu per satu, di alun-alun kota yang sama tempat mereka merayakan kemenangan tujuh malam tujuh hari itu. 

"Kepala mereka dipenggal setelahnya," gumam Huan Zheng lebih dalam lagi, suaranya terasa seperti es yang retak di bawah beban yang terlalu berat, "bukan sebagai hukuman, bukan sebagai keadilan—melainkan sebagai... koleksi. Sebagai bukti bahwa manusia telah menang, bahwa para Dewa telah jatuh, bahwa tidak ada lagi yang perlu dihormati, tidak ada lagi yang perlu ditakuti, tidak ada lagi yang perlu diperlakukan sebagai makhluk yang juga memiliki hati." 

Dan di antara wajah-wajah dewi yang bergiliran muncul di ingatannya, satu wajah muncul lebih jelas dari yang lain—wajah seorang wanita dengan rambut putih keperakan yang sama seperti rambut Ling Xu, dengan mata yang sama teduhnya, dengan senyum yang sama lembutnya. 

Ibunda Ling Xu. 

Ia tidak pernah bertemu wanita itu secara langsung, tapi ia bisa merasakan—dari hawa yang melekat pada tubuh Ling Xu, dari cara gadis itu menyimpan dendam di sudut matanya yang paling dalam—bahwa kematian wanita itu bukan kematian yang cepat, bukan kematian yang terhormat, melainkan kematian yang lambat dan hina di tangan manusia-manusia yang seharusnya hanya menjadi lawan dalam pertempuran, bukan algojo dalam kegelapan.

Dua hari kemudian, ketika matahari di atas pelabuhan timur mulai tenggelam seperti kuning telur yang pecah di ufuk, Ling Xu dan Huan Zheng akhirnya menginjakkan kaki di gerbang Kota Naga Mutiara.

Bukan dengan berjalan di dasar laut seperti yang dibayangkan Ling Xu, melainkan dengan menaiki kereta gelembung yang ditarik oleh enam kuda laut bercahaya, meluncur menembus palung samudra yang gelapnya seperti beludru basah, sampai tiba-tiba di hadapan mereka terbentang kota yang seluruh bangunannya terbuat dari mutiara raksasa dan karang bercahaya, dengan jalan-jalan berpasir putih yang disapu lembut oleh arus laut yang hangat. 

"Selamat datang, Tabib Keliling dan Pengawalnya," sambut seorang wanita paruh baya dengan mahkota karang merah di kepalanya.

Ratu Samudra sendiri, yang turun dari singgasana untuk menyambut mereka di pintu masuk istana, suaranya terdengar seperti nyanyian paus yang diterjemahkan menjadi kata-kata, 

"Kami telah mendengar nama kalian bergema di setiap arus laut, di setiap bisikan ombak, di setiap doa nelayan yang hampir tenggelam." 

Ling Xu membungkuk sopan, tapi Huan Zheng hanya menguap.

Para pengawal istana kemudian mempersilakan mereka beristirahat di paviliun tamu yang terletak di taman karang di belakang istana.

Sebuah bangunan berbentuk kerang raksasa yang terbuka di bagian atasnya, sehingga cahaya bioluminesensi dari plankton laut bisa masuk seperti bintang-bintang yang jatuh ke dasar samudra. 

"Kalian boleh tinggal di sini selama yang kalian mau," ucap seorang dayang dengan tubuh setengah ikan, sambil meletakkan nampan berisi buah-buahan laut yang tidak pernah Ling Xu lihat sebelumnya—ada yang berbentuk bintang, ada yang mengeluarkan cahaya keemasan, ada yang berdenyut pelan seperti jantung kecil, "karena kabar dari darat mengatakan bahwa para kultivator manusia sedang beristirahat. Mereka baru saja menyelesaikan gelombang penyerangan kelima belas ke semesta-semesta yang masih dihuni oleh para Dewa yang selamat—para Dewa yang melarikan diri setelah Pertentangan Harmoni, yang bersembunyi di sudut-sudut semesta yang paling gelap, yang masih bernapas meskipun dunia telah memutuskan bahwa mereka pantas mati." 

Tiga minggu berlalu di Kota Naga Mutiara seperti mimpi yang terlalu manis untuk diingat.

Huan Zheng, yang biasanya hanya bergerak jika terpaksa, tiba-tiba menjadi sering terlihat di kedai arak dekat pasar tengah, duduk bersila di atas bantal sutra sambil tertawa lepas bersama para nelayan dan pedagang laut, rambut acak-acakannya yang kusut kini dihiasi anyaman karang kecil yang diberikan oleh gadis-gadis setempat dengan mata berbinar, dan setiap kali Ling Xu datang menjemputnya dengan wajah cemas, Huan Zheng hanya mengangkat gelas araknya sambil berkata.

"Santai, Nona Racun. Kau terlalu tegang. Lihatlah—di sini aman. Tidak ada yang ingin membunuh kita. Tidak ada yang ingin mencuri kepingmu. Kau bisa berhenti menjadi algojo untuk sementara waktu." 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!