NovelToon NovelToon
Dunia Terlalu Kejam Untuk Aku Yang Sendirian

Dunia Terlalu Kejam Untuk Aku Yang Sendirian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:438
Nilai: 5
Nama Author: Agnura

karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEY YANG MULAI KEPIKIRAN ATAS SIKAPNYA KEN

Rifa tersenyum, tapi senyum itu terlihat sedikit dipaksakan. Ia menoleh ke arah Ken. “Ada apa kamu ke sini? Bukannya tadi bilang mau makan cepat terus balik ke kantor?” tanyanya dengan nada yang seolah menuntut penjelasan.

“Ini Pak, ada dokumen penting yang harus ditandatangani sekarang juga sebelum dikirim ke cabang,” potong Rifa cepat sambil meletakkan berkas tebal tepat di depan Ken, mengacaukan tata letak piring makan mereka.

Ken menatap berkas itu dengan tatapan dingin, lalu menatap wajah Rifa. Suasananya berubah tegang.

Key merasa canggung dan tidak betah. Ia segera berdiri dari kursinya. “Kalau begitu saya pamit dulu ya, Pak Ken. Kebetulan saya juga masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan di toko.”

“Oh iya, baiklah. Hati-hati di jalan ya Key,” ucap Rifa cepat, seolah ingin segera mengusir wanita itu pergi.

Ken masih memandang Rifa dengan tatapan tak suka. Ia bisa melihat niat tersembunyi di balik sikap asistennya itu.

“Lain kali kan bisa di kantor,” ucap Ken dingin sambil berdiri dan mengancingkan jasnya. “Nggak perlu kamu susul sampai ke tempat makan dan ganggu orang lain. Ini masih jam istirahat.”

Rifa terdiam, wajahnya memerah karena ditegur di depan umum. Ken tidak menunggu jawabannya, ia ingin mengejar Key, tapi saat ia melihat ke luar jendela, mobil Key sudah melaju meninggalkan area parkir. Ken menghela napas kesal, menyadari bahwa kedatangannya kali ini membawa angin masalah yang baru.

key pun pulang ke toko Sweety bakery

dan membereskan berkas yang belum selesai

banyak yang harus dikerjakan mulai dari pesanan dan stok bahan-bahan yang sudah mulai habis

para karyawan yang sudah sebagain pada pulang

“Permisi, Bu Key. Kami pamit pulang duluan ya,” ucap salah satu karyawan.

Key mengangkat wajah dari tumpukan kertas, menyunggingkan senyum tipis. “Iya, hati-hati di jalan ya. Makasih kerjanya hari ini.”

Pintu toko tertutup, dan kini kesunyian benar-benar melingkupinya. Hanya suara jarum jam dinding yang berdetak tik-tok dan suara gesekan pulpen di atas kertas yang terdengar jelas.

Key menghela napas panjang, memijat pelan pelipisnya yang terasa sedikit berat. Pikirannya kembali melayang ke kejadian siang tadi. Tatapan Ken yang tiba-tiba berubah dingin saat menegur Rifa, dan cara Ken memandangnya seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.

“Kenapa sih jadi rumit begini?” gumamnya pelan, sambil menyusun faktur pesanan ke dalam map biru.

Ia mencoba fokus. Menghitung angka, mencatat detail pesanan, memastikan tidak ada satu pun yang terlewat. Tapi entah kenapa, hari ini rasanya lebih berat dari biasanya. Mungkin karena hatinya masih terselip rasa kecewa karena momen indah makan siang itu harus terganggu, atau mungkin karena ia mulai sadar bahwa kedekatannya dengan Ken ternyata menimbulkan reaksi dari orang lain, seperti yang dilakukan Rifa.

Waktu terus berlalu. Di luar jendela kaca besar toko, langit yang tadinya biru kelabu kini berubah menjadi hitam pekat. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya oranye di permukaan aspal yang mulai sepi.

Key menengadah, menatap jam dinding. Pukul sembilan lewat lima belas menit.

Ia baru sadar bahwa ia sudah bekerja lebih dari dua belas jam hari ini. Perutnya bahkan sempat lupa memberitahu bahwa ia belum makan malam.

Ia berdiri, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Ruangan itu terasa dingin karena AC yang terus menyala, kontras dengan udara malam di luar yang masih menyisakan sisa panas siang. Key berjalan perlahan menuju area display utama. Di bawah sorotan lampu kuning yang hangat, kue-kue yang tersisa tampak begitu indah, manis, dan tenang.

Berbeda dengan gejolak di hatinya.

Key menyandarkan tubuhnya di meja kasir, menatap kosong ke jalanan yang mulai lengang. Ia mengambil ponselnya, membuka layar, dan jari-jarinya seakan memiliki keinginan sendiri untuk mencari nama tertentu. Tapi ia segera mengunci layarnya lagi dan memasukkan ponsel itu ke saku celemeknya.

“Key, kamu ini karyawan yang baik. Fokus sama kerjaan saja,” bisiknya menyemangati diri sendiri.

Dengan langkah berat namun tetap tegas, ia mematikan lampu-lampu utama toko, menyisakan hanya satu lampu kecil di lorong belakang. Ia memeriksa ulang kunci pintu, memastikan semua aman.

Saat ia akhirnya melangkah keluar menuju kendaraannya, angin malam berhembus pelan menerpa wajahnya. Udara malam kota terasa segar, tapi juga membawa rasa sepi yang mendalam. Di balik kaca jendela mobilnya, Key menatap sekilas ke arah gedung tinggi PT Gemilang yang masih menyisakan beberapa lampu kamar yang menyala di lantai atas.

Entah di sana pria itu masih bekerja atau sudah pulang.

“Selamat malam, Ken,” ucapnya lirih, hampir tak terdengar.

Kemudian, ia menyalakan mesin kendaraannya, dan perlahan menghilang di tikungan jalan yang gelap, membawa serta tumpukan harapan dan rasa lelah yang tak kasat mata.

1
EvhaLynn
Saya Sangat Menyukai Cerita Novel Mu, Semangat Ya Berkarya.
😉🤍
Agnura Lestari 🍑
siap say otw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!