Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: PERANG WASABI DAN STRATEGI "KOKI KEDUA"
Pagi berikutnya, toko roti tidak hanya beraroma ragi, tapi juga beraroma persaingan. Bianca datang lebih awal dari pemasok tepung, kali ini mengenakan setelan olahraga ketat bermerek yang sepertinya lebih cocok untuk pemotretan majalah daripada untuk toko roti.
"Reihan, aku sudah memesan katering sehat untukmu. Kita tidak bisa membiarkan CEO Arta Wiguna memiliki kolesterol tinggi karena terlalu banyak makan gorengan," ucap Bianca sambil menaruh kotak salad hijau pucat di atas meja kerja Reihan.
Reihan, yang sedang asyik membantu Laluna memasukkan selai ke dalam mesin filler, hanya melirik kotak itu dengan dahi berkerut.
"Bianca, sarapanku adalah donat isi cokelat. Dan aku merasa sangat sehat."
Laluna melirik Reihan dengan tatapan penuh arti. Ia lalu tersenyum sangat manis ke arah Bianca.
"Oh, Bianca, benar sekali. Kesehatan itu nomor satu. Kebetulan, aku baru saja bereksperimen dengan menu 'Donat Detoks'. Isinya adalah ekstrak sayuran hijau Jepang yang sangat murni. Kau mau mencicipinya?"
Mata Bianca berbinar. "Sayuran Jepang? Matcha? Atau Kale? Tentu, aku suka segala sesuatu yang organik."
Di dapur, Reihan memperhatikan Laluna yang sedang mengisi sebuah donat dengan pasta berwarna hijau cerah. Ia tahu betul itu bukan matcha. Itu adalah wasabi murni yang dicampur sedikit cream cheese agar teksturnya menipu.
"Luna, kau yakin?" bisik Reihan, menahan tawa hingga bahunya berguncang.
"Dia bilang dia ingin 'detoks', kan? Ini akan membersihkan sinusnya dalam sekejap," balas Laluna sambil mengedipkan sebelah mata.
Laluna keluar membawa sepiring donat cantik dengan taburan wijen hitam di atasnya.
"Ini dia, Bianca. Green Zen Donut. Spesial untuk tamu jauh."
Bianca mengambilnya dengan anggun, mengangkat kelingkingnya, dan menggigit donat itu dengan cukup besar.
Satu detik... dua detik...
Wajah Bianca berubah dari putih menjadi merah padam, lalu ungu. Matanya melotot, dan ia mulai terbatuk-batuk hingga kacamata hitamnya merosot ke ujung hidung.
"Air... air! Panas! Hijau ini... apa ini?!"
"Oh! Itu wasabi organik," ucap Laluna dengan nada sangat prihatin yang dibuat-buat.
"Bukankah itu sangat bagus untuk sirkulasi darah?"
Reihan segera menyodorkan segelas besar susu dingin.
"Minum ini, Bianca. Sepertinya lidah London-mu belum siap untuk 'kekuatan' rempah lokal kami."
Setelah Bianca berlari ke kamar mandi sambil menangis sesenggukan (dan berjanji akan melaporkan Laluna ke organisasi kesehatan dunia), Reihan langsung menarik Laluna ke pojok dapur, memojokkannya ke dinding di balik tumpukan karung gula.
"Kau nakal sekali, Nyonya Arta Wiguna," bisik Reihan, suaranya berat dan penuh godaan. Ia mengunci pergerakan Laluna dengan kedua tangannya di sisi tubuh istrinya.
Laluna tertawa, mencoba menghindar dari napas hangat Reihan yang menerpa wajahnya. "Dia yang memulainya, Reihan. Dia menghina donatku."
"Dan kau membela kehormatan donatmu dengan cara yang sangat... pedas," Reihan mendekatkan wajahnya, ujung hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Laluna.
"Tapi aku suka caramu melindungi wilayahmu. Termasuk caramu melindungiku."
Reihan mencium bibir Laluna dengan intens, sebuah ciuman yang beraroma vanila dan sedikit kenakalan. Tangan Laluna merambat naik, meremas kerah kemeja Reihan, menarik suaminya lebih dekat. Di dapur yang sibuk itu, dunia seolah berhenti berputar.
"Ehem. Tuan Reihan, ada telepon dari Ibu Ratna di London," suara Dimas terdengar tepat di sebelah mereka.
Reihan melepaskan ciumannya dengan geraman frustrasi. Ia menoleh dan menemukan Dimas berdiri di sana, memegang ponsel sambil menatap karung gula dengan ekspresi bosan..
"Dimas, bisakah kau muncul lima menit lebih lambat?" keluh Reihan.
"Saya sudah menunggu empat menit di balik pintu, Tuan. Saya rasa itu sudah cukup memberi toleransi untuk 'diplomasi dapur' Anda," jawab Dimas datar.
Telepon dari Ibu Ratna ternyata bukan untuk mendukung Bianca, melainkan untuk memberikan kabar mengejutkan.
"Reihan, Bianca itu sebenarnya sedang melarikan diri dari perjodohan di London. Ibunya hanya menitipkannya padaku,"
suara Ratna terdengar lewat loudspeaker.
"Kalau dia merepotkan, kirim saja dia ke perkebunan teh kakekmu di Bogor. Suruh dia memetik daun teh sampai dia mengerti bedanya kerja keras dan gaya hidup."
Laluna dan Reihan saling pandang. Rencana "pembuangan" sudah terbentuk di kepala mereka.
Malam itu, setelah Bianca akhirnya setuju untuk "berwisata" ke Bogor (setelah diyakinkan oleh Reihan bahwa di sana ada spa teh eksklusif), ruko kembali menjadi milik mereka.
Laluna sedang membersihkan meja konter saat Reihan datang dari belakang dan memeluknya. Ia meletakkan kepalanya di bahu Laluna, menikmati ketenangan setelah hari yang panjang.
"Hanya kita berdua lagi," gumam Reihan.
"Sampai besok pagi saat adonan harus diaduk lagi," sahut Laluna lembut.
Reihan memutar tubuh Laluna agar menghadapnya. Ia mengangkat tubuh Laluna dan mendudukkannya di atas meja marmer.
"Lupakan adonan untuk besok. Malam ini, aku ingin fokus pada 'bahan' utama hidupku."
"Sretttt!"
"Ahhhhh!!! Reihan!"
Tangan kekar Reihan menelusup pelan, bibirnya segera mendarat di leher jenjang Luna yang terekspos bebas.
Dimalam yang dingin, dibawah temaram lampu neon kuning juga derit meja marmer yang menjadi saksi untuk kehangatan malam mereka.