NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

you're mine 8

*Sore hari. Kantor Ardiansyah Group. Hujan baru saja reda.*

Setelah cukup menenangkan diri, akhirnya Devan memutuskan untuk kembali ke kantor.

"Nara ke mana?" tanya Devan kepada salah seorang karyawan, setelah ia tidak mendapati Nara berada di meja kerjanya.

"Sepertinya Nara tadi pergi memfotokopi dokumen, Pak," jawab karyawan perempuan tersebut dengan sopan.

"Nanti kalau sudah kembali, minta Nara langsung ke ruangan saya," perintah Devan, datar dan dingin tanpa ekspresi seperti biasanya.

"Baik, Pak," jawabnya.

Beberapa menit kemudian.

"Ra, kamu disuruh Pak Devan langsung ke ruangannya," ujar teman kantornya begitu melihat Nara kembali.

"Baik, terima kasih," jawab Nara singkat.

Nara segera menuju ruangan Devan begitu mendengar perintah tersebut tanpa sempat meletakkan tumpukan dokumen yang baru saja ia fotokopi.

Nara berdiri di hadapan meja Devan, map di tangannya gemetar. Dipanggil mendadak membuatnya sedikit gugup, terlebih ini kali pertama Devan memintanya datang ke ruangannya secara pribadi. Sejak kembali dari Jepang, Nara merasa Devan selalu menjaga jarak dengannya. Awalnya Nara kecewa dengan sikapnya itu, tetapi kemudian ia berusaha menerima kenyataan bahwa memang seharusnya demikian. Ia telah pergi tanpa kabar selama lima tahun. Baginya aneh apabila Devan akan menyambutnya kembali dengan sukacita. Ditambah lagi, Devan kini sudah bertunangan. Jadi Nara menduga Devan memang telah melupakannya.

Begitu Nara masuk, pintu langsung dikunci. _Klik_. Suara itu membuat jantung Nara nyaris jatuh.

Devan berjalan perlahan, lalu berdiri membelakanginya, menatap suasana di luar yang masih basah oleh hujan melalui jendela kaca besar. Punggungnya tegang. Kemejanya masih sama seperti pagi tadi, hanya saja lengannya digulung dan tampak sudah kusut.

Hening.

"Apa yang membuatmu kembali, Ra?" Suaranya datar, tanpa menoleh. "Setelah lima tahun. Mengapa sekarang?"

Nara menggigit bibirnya sendiri, bingung mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Devan yang terlalu lugas.

"Jika yang dimaksud Pak Devan berkaitan dengan Anda, maka asumsi Anda keliru, Pak. Saya kembali karena di sini rumah saya. Dan perihal saya dapat bekerja di sini, itu di luar kehendak saya. Saya tidak mengetahui bahwa ini perusahaan Anda. Saya hanya membutuhkan pekerjaan dan kebetulan saya mengenal Bu Renata, lalu beliau menawarkan saya pekerjaan," jelasnya panjang lebar.

"Mengapa baru sekarang, Ra? Di saat..."

"Di saat apa? Di saat Anda mau menikah? Jika itu maksud Anda, sebaiknya Anda tidak perlu mengubah keputusan. Menikah ya menikah saja, jangan pedulikan keberadaan saya," Nara berusaha tetap tenang meskipun hatinya mulai bergemuruh.

"Kamu yakin?" Devan berbalik, berjalan ke arah Nara dan mencekal tangannya. Map di tangan Nara terlepas, kertas-kertas berhamburan.

"Kamu tahu apa yang terjadi selama lima tahun ini? Kamu tahu aku hampir seperti orang gila mencari keberadaan kamu! Kamu menghilang begitu saja, Ra!"

Air mata Nara sudah tidak dapat dibendung lagi.

"Karena saya harus," jawabnya dengan bibir bergetar menahan luka.

"Dan kamu memilih pergi lalu membunuhku secara perlahan?!" Devan semakin mendekat, jarak mereka tinggal sejengkal. Napasnya panas, tidak beraturan.

"Kamu pikir aku tidak mati, Ra? Aku mati setiap hari sejak kamu pergi!"

"Maaf... maafkan saya, Pak. Saya kira itu yang terbaik," Nara masih bersikap formal dengan tetap memanggil _Pak_ kepada Devan. Ia tetap ingin menjaga jarak dari laki-laki itu meskipun hatinya menolak.

"Terbaik?" Devan tertawa pahit. Tangannya terangkat, hendak menyentuh pipi Nara, tetapi terhenti di udara. Gemetar. Lima tahun ia tidak dapat menyentuh kulit ini. Lima tahun.

"Yang terbaik itu menurutmu."

Nara tercekat, tidak mampu berkata-kata. Setiap kata yang ingin diucapkannya seperti tertahan di tenggorokan.

Hening. Hanya ada suara pendingin ruangan dan embusan napas mereka yang saling beradu.

Devan mundur selangkah. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.

"Maaf," sekali lagi hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Nara.

Devan kembali mendekati Nara, kali ini sangat dekat. Nara terkejut, ia hendak menghindar. Tetapi Devan bergerak lebih cepat. Pergelangan tangan Nara ditangkap, lalu didekatkan ke dadanya, erat sekali, hingga Nara tidak dapat melepaskan diri. Posesif. Lima tahun rindu yang dipendam berubah menjadi genggaman.

"Jangan," suara Devan serak. "Jangan pergi lagi. Sekali lagi saja, Ra. Aku tidak akan sanggup."

Nara terdiam. Genggaman tangan Devan terasa panas. Ia ingat, lima tahun lalu tangan ini juga selalu menggenggamnya seerat ini. Nara juga merindukan sentuhan itu.

"Pak Devan sudah bertunangan," bisik Nara. Air matanya menetes ke tangan Devan yang masih erat menggenggamnya. "Pak Devan akan menikah dengan Sandra. Saya tidak ingin menjadi perusak."

Devan tertawa lagi. Lebih hancur. "Tunangan?" Jemarinya secara refleks mengusap air mata Nara yang jatuh ke punggung tangannya. Sentuhan kecil. Pertama setelah lima tahun.

"Aku bertunangan karena Mama. Karena aku lelah dengan desakan Mama. Karena aku pikir kamu tidak akan kembali lagi."

Devan melepaskan genggaman di pergelangan Nara, tetapi kemudian berpindah ke pipi Nara. Satu tangan. Telapaknya menempel di pipi yang basah itu. Jemarinya mengusap perlahan di bawah mata Nara.

"Lihat aku, Ra," perintahnya pelan.

Nara mengangkat wajahnya. Mata mereka saling bertemu. Lima tahun jarak seolah terbayar lunas dalam tiga detik.

"Aku tidak pernah mencintai Sandra," bisik Devan. Dahi mereka hampir saling bersentuhan. Napasnya berbaur dengan napas Nara. "Dari dulu. Sampai detik ini. Yang aku cintai hanya kamu."

Nara terisak. "Pak... jangan..."

"Aku sudah menahannya selama lima tahun, Ra," potong Devan. Suaranya semakin pelan, semakin posesif.

"Sekarang kamu berada di hadapanku. Kamu pikir aku akan melepaskan kamu lagi?"

Tangan Devan yang lain bergerak naik, menahan tengkuk Nara. Ia memeluk Nara erat, seolah ingin mengklaim, _kamu hanya milikku_.

Nara memejamkan matanya. Tidak sanggup menahan gejolak di dadanya. Aroma tubuh Devan masih sama, aroma yang selalu membuatnya merasa nyaman dan tenang, sesuatu yang hanya Devan miliki.

"Aku rindu," bisik Devan tepat di depan bibir Nara. Hanya berjarak sehelai napas.

Kemudian perlahan bibirnya semakin mendekat dan akhirnya Devan menautkan ciumannya di sana, di bibir mungil berwarna merah muda yang selalu membuatnya candu.

Nara ingin memberontak, tetapi respons tubuhnya mengkhianatinya. Akhirnya Nara menyerah dan membiarkan Devan melampiaskan rasa rindunya melalui pelukan dan ciuman itu.

Beberapa saat kemudian...

Devan mengusap pelan bibir Nara yang masih basah.

"Jangan pergi, kumohon," pintanya. Seperti anak kecil yang merengek meminta mainan kepada ibunya.

"Aku tidak peduli dengan semuanya. Kamu cukup di sini. Di sampingku. Itu saja."

"Berikan aku waktu, ini tidak mudah..." ucap Nara pelan.

"Biar aku yang mengurus semuanya," potong Devan cepat. Rahangnya mengeras kembali. Sikap posesifnya kembali muncul.

"Kamu milikku, Ra. Sampai mati."

Tok. Tok.

Ketukan pintu. Suara Sandra. "Van? Kamu di dalam? Kenapa dikunci?"

Dunia Nara seketika runtuh. _Sandra_. Nara hampir melupakan keberadaan Sandra. Apakah dia cukup memiliki keberanian untuk merebut Devan dari Sandra? Tiba-tiba Nara merasa dirinya menjadi orang yang jahat di sini.

Devan masih belum melepaskan Nara. Malah pelukannya semakin erat. Matanya menatap ke arah pintu, lalu berkata pelan kepada Nara, hampir berbisik.

"Kamu tetap di sini. Jangan berpikir untuk pergi lagi."

Di luar, gagang pintu digoyang semakin kencang.

"Van! Buka, Van!"

Nara gemetar. Entah bagaimana nasibnya ke depan nanti... Devan. Laki-laki yang ia cintai selama ini, yang kini napasnya berada di bibirnya, yang tangannya memeluknya seperti harta paling berharga, tetapi kenyataannya laki-laki ini adalah tunangan perempuan lain. Sungguh ironis.

Nara melepaskan pelukan Devan, lalu merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena ulah Devan. Sementara Devan berjalan ke arah pintu kemudian membukanya.

Sandra berdiri di sana dengan wajah memerah. Matanya menatap Devan, lalu Nara, menelisik dan menyelidik tanpa berkedip, mencoba mencari sesuatu.

"Mengapa pintunya harus dikunci?" tanya Sandra dengan nada suara tinggi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!