NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Dua Kutub Pemangsa dan Titah Sang Penengah

​Udara di batas Hutan Marapi tidak lagi terasa seperti udara di bumi. Ia telah berubah menjadi medan magnet yang sarat akan listrik statis dan anomali suhu yang mematikan.

​Di sisi kiri, Bumi Arka berdiri dengan kuda-kuda kokoh. Matanya yang memancarkan pendar merah kecokelatan mengawasi setiap inci pergerakan lawan. Hawa hangat yang sebelumnya terasa nyaman dari tubuh pemuda itu kini telah memadat, berubah menjadi aura dominasi komunal yang buas—peringatan dari seekor serigala Alpha muda yang teritorinya sedang diinjak.

​Di sisi kanan, Indra Bagaskara adalah perwujudan dari bencana alam itu sendiri. Setiap kali pemuda itu mengembuskan napas, uap panas menyembur dari sela bibirnya. Tetesan gerimis yang berani menyentuh kulit lengannya yang pucat dan berotot langsung mendesis dan menguap menjadi asap kelabu. Mata cokelat keemasannya tidak berkedip, memancarkan amarah absolut sang Raja Hutan yang fiksasinya sedang dihalangi.

​Dan di tengah-tengah mereka, Dara Kirana berdiri mematung. Segel gaib berbentuk kelopak bunga di telapak tangannya berdenyut semakin liar, merespons tabrakan dua energi raksasa yang saling bermusuhan ini.

​"Menyingkir dari hadapannya, Bumi," geram Indra. Suaranya bergema tidak hanya di udara, tetapi juga di dalam rongga dada Dara, menggetarkan tulang rusuknya. "Sebelum aku merobek lehermu dan membiarkan kawananku memungut sisa-sisa bangkaimu di jurang."

​Bumi menyeringai, memamerkan taringnya yang telah memanjang sempurna. "Kau pikir aku takut pada kucing besar yang bahkan tidak bisa mengendalikan suhu tubuhnya sendiri? Perjanjian Lama menyatakan bahwa pemukiman ini adalah wilayah netral. Kau melanggar batasmu, Indra."

​"Gadis itu adalah wilayahku," balas Indra mematikan, melangkah satu tindak lagi ke depan. Rumput liar di bawah sepatunya langsung layu dan menghitam menjadi abu. "Energinya merespons padaku lebih dulu. Menjauh, atau aku akan menganggap ini sebagai deklarasi perang terbuka antara Cindaku dan kaum Ajag."

​"Silakan dicoba," Bumi merendahkan tubuhnya, bersiap melompat. "Kawananku tidak pernah lari dari pertarungan."

​Indra menggeram keras. Suara itu bukan lagi suara manusia, melainkan raungan harimau jantan yang memekakkan telinga. Otot-otot di punggung dan bahu Indra membengkak secara tidak wajar, merobek jahitan kaus oblong hitamnya. Transformasi mengerikan itu hendak dimulai di depan mata Dara.

​Ini tidak boleh terjadi! jerit nalar Dara.

​Jika mereka bertarung di sini, dengan kekuatan yang mampu menghancurkan kayu solid menjadi serbuk, salah satu dari mereka—atau bahkan Dara sendiri—pasti akan mati. Dan jika raungan itu terdengar hingga ke pemukiman, seluruh desa akan panik.

​Insting bertahan hidup Dara, dipadukan dengan keputusasaan yang memuncak, mengambil alih kendali tubuhnya. Gadis itu tidak berlari menjauh seperti yang seharusnya dilakukan manusia normal. Ia justru melangkah maju, menerobos tepat ke titik tengah di antara kedua predator tersebut.

​"HENTIKAN!" teriak Dara dengan segenap tenaga yang ia miliki di paru-parunya.

​Bersamaan dengan teriakan itu, Dara secara refleks mengangkat kedua tangannya ke arah depan—satu telapak tangan menghadap Indra, satu telapak tangan menghadap Bumi.

​Di detik itu juga, segel di telapak tangannya meledak.

​Bukan ledakan api, melainkan ledakan gelombang energi yang luar biasa dingin. Gelombang cahaya berwarna biru pucat melesat keluar dari tubuh Dara layaknya badai salju tak kasat mata. Energi itu menghantam dada Indra dan Bumi secara bersamaan.

​Dampaknya seketika dan absolut.

​Bumi Arka terpental mundur sejauh dua meter. Pemuda itu jatuh terduduk di atas tanah berlumpur, terengah-engah hebat. Pendar merah di matanya langsung padam seketika, dan taring-taringnya menyusut kembali menjadi gigi manusia biasa. Insting serigalanya seolah baru saja ditekan paksa oleh sebuah otoritas purba yang memerintahkannya untuk tunduk.

​Di sisi lain, reaksi Indra jauh lebih dramatis.

​Gelombang dingin dari energi Pawang itu menabrak tubuh Indra yang sedang mendidih layaknya air bah yang menghantam tungku api. Terdengar suara mendesis yang sangat keras saat hawa panas di tubuh pemuda itu berbenturan dengan energi murni milik Dara.

​Indra terhuyung mundur, mengerang kesakitan sekaligus kelegaan. Transformasinya berhenti seketika. Urat-urat yang menonjol di lehernya mengempis, dan uap panas yang menyelimutinya menghilang tak berbekas. Pemuda itu jatuh berlutut dengan satu kaki, mencengkeram dadanya sendiri dengan napas memburu.

​Keheningan yang pekat kembali turun menyelimuti Hutan Marapi. Suara rintik hujan yang sebelumnya menguap kini terdengar lagi, jatuh membasahi dedaunan dengan ritme yang menenangkan.

​Dara berdiri dengan dada naik turun, napasnya tersengal. Kepalanya berdenyut hebat akibat melepaskan energi yang belum bisa ia kendalikan, namun ia memaksakan dirinya untuk tetap berdiri tegak. Matanya menatap tajam ke arah kedua pemuda itu secara bergantian.

​"Aku bukan mainan kalian!" suara Dara bergetar hebat, namun penuh dengan kemarahan yang tertahan. "Aku bukan wilayah yang bisa kalian perebutkan, aku bukan sepotong daging segar, dan aku tidak akan membiarkan kalian berdua saling membunuh di halaman belakang rumahku!"

​Bumi menatap Dara dari bawah, matanya membelalak takjub. Pemuda itu perlahan bangkit berdiri, mengusap lumpur dari celananya. Ia sama sekali tidak terlihat marah karena baru saja dihempaskan. Sebaliknya, ada senyum tipis—campuran antara rasa hormat dan ketertarikan yang semakin dalam—terukir di wajahnya.

​Namun, perhatian Dara segera beralih ketika ia mendengar suara kekehan pelan yang serak.

​Indra perlahan mengangkat wajahnya. Pemuda itu masih berlutut dengan satu kaki. Mata cokelat keemasannya menatap lurus ke dalam mata Dara. Kilat amarah yang liar di mata Indra telah lenyap, sepenuhnya diredam oleh 'obat penenang' berdosis tinggi yang baru saja ditembakkan Dara kepadanya.

​Sebagai gantinya, tatapan Indra kini dipenuhi oleh ketergantungan yang menyakitkan. Ia menatap Dara seolah gadis itu adalah udara segar di ruangan yang terbakar.

​"Kau... tidak tahu apa yang baru saja kau lakukan, Dara Kirana," bisik Indra pelan, namun suaranya menembus jarak di antara mereka dengan jelas. Pemuda itu berdiri dengan gerakan perlahan. Sisi arogansinya kembali membungkus kerapuhan yang sempat terlihat sedetik sebelumnya.

​Indra melirik sinis ke arah Bumi yang masih berdiri waspada. "Beruntunglah kau, Serigala. Tuan putrimu baru saja menyelamatkan nyawamu."

​"Simpan bualanmu, Indra," balas Bumi tak kalah tajam, meski ia tetap menjaga jarak. "Lebih baik kau urus klanmu yang mulai kesulitan menahan diri tiap kali bulan baru tiba. Jangan sampai rahasia Marapi terbongkar hanya karena kau tidak bisa menahan rasa laparmu."

​Rahang Indra mengeras, namun ia tidak membalas provokasi itu. Ia tahu energinya sedang terkuras setelah dipaksa mendingin secara mendadak.

​Mata emas Indra kembali terkunci pada wajah Dara. Ada badai emosi yang berkecamuk di dalam sana—antara kebencian pada kutukan yang mengikatnya, dan hasrat absolut untuk memiliki penawarnya.

​"Malam ini batasmu aman. Tapi segelmu semakin terang, Dara. Kau memanggil kami semua, entah kau menyadarinya atau tidak," ujar Indra dengan nada final.

​Dengan satu tolakan kaki yang nyaris tak bersuara, Indra berbalik dan melesat ke dalam kegelapan hutan. Dalam hitungan dua detik, bayangan pemuda itu telah sepenuhnya tertelan oleh kabut tebal, menyisakan jejak langkah yang menghilang di antara pepohonan pinus.

​Dara memejamkan mata, membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di atas rumput yang basah. Kakinya tidak lagi mampu menopang beban ketegangan yang baru saja berlalu.

​"Dara!"

​Bumi segera berlari menghampirinya, berlutut di sebelahnya. Pemuda itu tidak berani menyentuh kulit Dara secara langsung setelah merasakan ledakan energi Pawang tadi. Ia hanya melepas jaket varsity merah marunnya dan menyampirkannya ke bahu Dara yang mulai menggigil kedinginan.

​Aroma jaket itu—aroma matahari, getah pinus, dan kehangatan manusiawi—membantu menetralkan rasa mual di perut Dara.

​"Kau tidak apa-apa? Apakah kepalamu sakit?" tanya Bumi cemas, nada suaranya kembali menjadi pemuda SMA yang bersahabat, sangat kontras dengan monster yang baru saja memimpin kawanan serigala sepuluh menit yang lalu.

​Dara menggeleng pelan, menarik napas panjang. "Aku... aku tidak tahu apa yang terjadi denganku, Bumi. Kakek bilang aku adalah Pawang Rimba, keturunan Darah Penengah. Tapi rasanya ini seperti kutukan. Kenapa dia... kenapa Indra begitu agresif padaku?"

​Bumi menghela napas panjang. Ia menatap ke arah hutan yang gelap, wajahnya tampak serius. "Cindaku... keluarga Bagaskara... mereka adalah klan dengan kekuatan fisik terbesar di lembah ini. Namun, bayarannya sangat mahal. Di dalam darah mereka, mengalir 'Nafsu Rimba'—insting membunuh yang selalu berusaha menelan kewarasan manusia mereka. Semakin kuat seorang Cindaku, semakin panas suhu tubuhnya, dan semakin besar penderitaannya."

​Bumi menoleh, menatap Dara dengan pandangan iba namun tegas. "Indra adalah pewaris Harimau Putih. Kekuatannya mungkin yang paling besar dalam sejarah klan mereka satu abad terakhir. Dia sedang berada di ambang kegilaan akibat menahan nafsunya sendiri, Dara. Dan kau... energi dingin dari Darah Penengah-mu adalah satu-satunya obat penawar yang bisa memadamkan siksaan itu. Bagi Indra, aromamu adalah candu murni. Dia agresif karena insting binatangnya menjerit untuk mengklaim dirimu agar ia bisa tetap waras."

​Penjelasan Bumi membuat dada Dara sesak. Ia teringat kilat penderitaan di mata Indra saat pemuda itu mencengkeram meja guru di kelas hingga hancur. Indra tidak sedang mencoba melukainya; Indra sedang berjuang mati-matian untuk menahan dirinya sendiri.

​"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Dara pelan, menatap lurus ke mata cokelat Bumi. "Kakek bilang Darah Pawang mengikat kalian semua. Kenapa kau tidak menjadi gila sepertinya?"

​Senyum tipis dan sedih terukir di bibir Bumi. "Kaum Ajag berbeda, Dara. Kami bukan penguasa soliter yang angkuh. Kami makhluk komunal. Penderitaan kami dibagi bersama seluruh anggota kawanan, sehingga kami tidak pernah mencapai titik didih seperti Cindaku. Kehadiranmu memang memabukkan bagi kami... tapi aku masih bisa mengendalikan diriku di dekatmu. Setidaknya, untuk saat ini."

​Bumi berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Dara.

​Dara menatap tangan besar dan kapalan itu sejenak, sebelum akhirnya menyambutnya. Bumi menariknya berdiri dengan mudah.

​"Ayo, kuantar sampai ke pintu belakangmu," kata Bumi lembut. "Hujan semakin deras, dan kau harus mengunci semua pintu rapat-rapat. Kakek Danu pergi mencari penawar untuk menstabilkan energimu, kan? Sampai beliau kembali, berjanjilah padaku kau tidak akan menginjakkan kaki keluar dari rumah setelah senja."

​Dara mengangguk patuh. Ia menyadari betapa bodoh dan berbahayanya tindakan nekatnya malam ini.

​Saat mereka tiba di teras dapur, Bumi berhenti di anak tangga terbawah. Pemuda itu menatap Dara cukup lama, seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih dalam, namun ia menahannya.

​"Tidurlah yang nyenyak, Anak Kota. Kalau besok di sekolah kau merasa diawasi, jangan panik. Aku menempatkan Tio dan Adi—dua temanku dari kawanan—untuk memastikan keluarga Bagaskara tidak mengintimidasimu di koridor."

​"Terima kasih, Bumi," ucap Dara tulus, mengeratkan pelukan pada jaket varsity pemuda itu.

​"Sama-sama. Masuklah."

​Dara memutar anak kunci, masuk ke dalam dapur, dan kembali mengunci pintu jati itu rapat-rapat. Dari balik kaca jendela, ia melihat Bumi berdiri selama beberapa detik di tengah hujan, sebelum pemuda itu membalikkan badan dan berlari menembus kegelapan, gerakannya terlalu cepat untuk diikuti oleh mata manusia biasa.

​Malam itu berlalu dengan penderitaan fisik bagi Dara.

​Meskipun ia tidak diserang secara fisik, penggunaan energi Pawang yang masif telah menguras habis tenaganya. Gadis itu tergeletak di atas ranjang dengan demam tinggi. Dalam igauannya, ia terus bermimpi tentang sepasang mata keemasan yang menatapnya dari dasar jurang api, memohon untuk diselamatkan, sementara lolongan serigala bergema dari atas tebing es.

​Keesokan paginya, demamnya mereda secara ajaib seolah tidak pernah terjadi apa-apa, namun rasa lelah yang luar biasa masih menggayuti tulangnya. Kakek Danu belum kembali. Dara memaksakan diri untuk mandi air hangat, sarapan seadanya, dan bersiap ke sekolah.

​Ia membalut telapak tangan kanannya yang memiliki segel dengan perban elastis kinesio tape berwarna krem, berpura-pura bahwa tangannya terkilir akibat jatuh dari sepeda. Ia tidak ingin menarik perhatian lebih banyak lagi.

​Setibanya di SMA Nusantara Lereng Marapi, atmosfer terasa sedikit berbeda.

​Saat ia memarkirkan sepedanya, Dara bisa merasakan beberapa pasang mata mengawasinya dari kejauhan. Di dekat lapangan basket, dua pemuda berwajah identik dengan senyum jahil sedang duduk di atas tembok pembatas. Saat mereka melihat Dara, salah satu dari mereka mengangkat dua jarinya memberi salam hormat ala tentara, lalu menyeringai lebar memperlihatkan gigi yang sangat putih.

​Itu pasti Tio dan Adi, batin Dara, mengingat ucapan Bumi semalam. Anggota kawanan Ajag yang disuruh untuk mengawasinya.

​Hal itu memberinya sedikit rasa aman, namun juga mengingatkannya bahwa ia kini secara resmi berada di tengah-tengah wilayah konflik dua faksi gaib. Ia bukan lagi siswi biasa; ia adalah bidak catur terpenting di papan ini.

​Santi menghampirinya di lorong menuju kelas, menatap perban di tangan Dara dengan cemas. "Astaga, Ra! Tanganmu kenapa? Baru dua hari sekolah di sini udah cedera aja."

​"Jatuh dari sepeda semalam, San. Jalanan licin habis hujan," Dara berbohong dengan lancar, sebuah kemampuan bertahan hidup yang baru ia pelajari.

​"Makanya, kan aku udah bilang daerah rumahmu itu bahaya kalau sore," Santi mengomel sambil menarik lengan Dara yang tidak terluka. "Eh, ngomong-ngomong, kamu ngerasa aneh nggak sih pagi ini? Anak-anak kelas dua belas pada ribut."

​"Ribut kenapa?"

​Santi memelankan suaranya. "Kak Indra nggak masuk sekolah. Kak Maya dan Kak Raka juga. Ini tumben banget, lho. Mereka itu kayak punya track record kehadiran 100% dari kelas sepuluh. Beberapa anak cowok bilang semalam mereka dengar suara raungan aneh dari arah perkebunan Bagaskara. Kayak suara harimau yang lagi marah besar."

​Langkah Dara terhenti sesaat. Jantungnya mencelos.

​Indra tidak masuk. Apakah karena efek benturan energi semalam? Ataukah karena siksaan Nafsu Rimba di dalam diri pemuda itu semakin parah karena Dara telah 'meracuni' sistemnya dengan penawar murni lalu mencabutnya kembali secara paksa?

​"Mungkin cuma rumor, San," jawab Dara pelan, berusaha menyembunyikan getar suaranya.

​"Ya semoga aja," Santi mengedikkan bahu. "Eh, aku mau ke ruang guru dulu kumpulin tugas Biologi. Kamu langsung ke kelas aja ya."

​"Aku mau ke perpustakaan sebentar, San. Mau cari buku referensi Sejarah. Nanti aku nyusul ke kelas."

​Santi mengangguk dan berlari menjauh.

​Alih-alih menuju ruang kelas, Dara memutar langkahnya menuju sayap barat gedung sekolah yang sepi, tempat di mana perpustakaan tua peninggalan Belanda itu berada. Ia memiliki satu tujuan pagi ini. Ia tidak bisa hanya menunggu Kakek Danu memberikan kepingan-kepingan informasi. Ia harus mencari tahu sendiri tentang sejarah kelam Lembah Marapi, tentang Perjanjian Lama, dan tentang apa sebenarnya kutukan yang mengikat garis keturunan Bagaskara dan dirinya.

​Dara mendorong pintu ganda kayu jati perpustakaan. Udara di dalam ruangan itu berbau kertas lapuk, debu, dan kayu yang dimakan usia. Rak-rak menjulang tinggi hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh buku-buku tebal, ensiklopedia kuno, dan arsip-arsip sekolah dari puluhan tahun yang lalu.

​Keadaan perpustakaan sangat sunyi. Tidak ada penjaga maupun murid lain di sana. Cahaya matahari pagi menembus melalui jendela nako yang berdebu, menyorotkan pilar-pilar cahaya di antara debu yang melayang di udara.

​Dara berjalan perlahan menyusuri rak di bagian belakang, area yang berlabel 'Sejarah Lokal & Mitologi Nusantara'. Matanya memindai punggung-punggung buku yang mulai mengelupas.

​Cerita Rakyat Sumatera, Catatan Kolonial Hindia Belanda 1800-an, Mitos Gunung Marapi.

​Tangan Dara terulur untuk mengambil sebuah buku bersampul kulit merah pudar yang tidak memiliki judul di punggungnya. Namun, tepat saat ujung jarinya menyentuh buku itu, sebuah tangan lain yang besar, pucat, dan sangat dingin tiba-tiba muncul dari balik rak, menahan punggung tangan Dara.

​Dara terkesiap dan nyaris menjerit, namun suara berat yang serak mendahuluinya.

​"Kau tidak akan menemukan jawaban yang kau cari di dalam buku-buku usang ini, Pawang."

​Dara mendongak, matanya membelalak lebar. Jantungnya berdetak liar di rongga dadanya.

​Berdiri menjulang di celah antara dua rak buku di hadapannya bukanlah Indra, Bumi, atau anggota klan Bagaskara lainnya. Sosok di hadapannya adalah seorang pria dewasa dengan postur kaku dan elegan yang ganjil. Ia mengenakan setelan jas tiga potong bernuansa kolonial Eropa era abad ke-19 yang tampak sangat bersih dan terawat, namun benar-benar salah tempat di sebuah SMA modern.

​Kulit pria itu sepucat pualam, nyaris transparan, memperlihatkan urat-urat kebiruan di lehernya. Namun yang paling mengerikan adalah matanya. Matanya tidak memancarkan warna keemasan atau merah kecokelatan seperti Cindaku dan Ajag. Mata pria itu sehitam jelaga, memancarkan ketiadaan, kebekuan, dan haus darah yang berusia ratusan tahun.

​"Namaku Willem," pria itu tersenyum, memperlihatkan taring tipis yang putih bersih. Bau anyir darah kering seketika memenuhi udara perpustakaan, mencekik napas Dara. "Dan aku telah menunggumu kembali ke tanah ini selama dua abad, Dara Kirana."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!