Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: SISA ABU DAN SEMESTA YANG BARU
Pagi setelah badai politik itu terasa sangat asing. Istana Kepresidenan, yang biasanya berdengung dengan kesibukan para ajudan dan menteri, kini diselimuti kesunyian yang khidmat. Garis polisi masih terpasang di beberapa ruangan kantor Perdana Menteri, dan berita tentang penangkapan Pradikta Kusuma menjadi tajuk utama di setiap layar televisi di seluruh negeri.
Di paviliun mawar—tempat yang dulunya menjadi saksi intimidasi Cansu—Rhea duduk sendirian dengan secangkir teh melati yang sudah mendingin. Ia mengenakan pakaian kasual, sebuah oversized sweater berwarna abu-abu yang membuatnya tampak kembali seperti mahasiswi kedokteran biasa, bukan lagi "Tunangan Nasional" yang terjebak dalam pusaran makar.
Langkah kaki yang teratur namun berat mendekat. Rhea tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma kayu cendana yang bercampur dengan dinginnya udara pagi adalah identitas yang sudah terekam di memorinya.
Ian duduk di hadapan Rhea. Wajahnya tampak bersih, namun ada gurat kelelahan yang dalam di bawah matanya.
"Yusuf sudah mengurus pemulihan nama baik ayahmu," ucap Ian membuka percakapan. Suaranya sedikit serak. "Semua rekam medis dan lisensinya sudah dikembalikan. Beliau juga sudah ditunjuk menjadi kepala dewan medis di rumah sakit pusat Diningrat."
Rhea mengangguk pelan, jemarinya memutar-mutar pinggiran cangkir. "Terima kasih, Ian. Kamu menepati janjimu."
"Aku selalu menepati janjiku, Rhea. Hanya saja, terkadang jalannya terlalu berdarah," balas Ian getir. Ia menatap hamparan mawar di sekitar mereka. "Cansu pergi subuh tadi."
Rhea tersentak. "Ke mana?"
"Milan. Dia membawa ibunya ke sana untuk perawatan medis yang lebih baik. Dia menyerahkan pengunduran diri secara resmi sebagai Ibu Negara dan bercerai dari ayah dengan alasan kesehatan mental. Ayahku... mengizinkannya." Ian menjeda kalimatnya, matanya menerawang jauh. "Dia meninggalkan surat untukmu."
Ian meletakkan sebuah amplop berwarna krem di atas meja. Rhea membukanya dengan tangan bergetar. Isinya singkat, ditulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi namun tajam:
"Untuk Rhea, mawar yang tumbuh di tanah yang benar.
Terima kasih telah menjadi cermin yang memaksaku melihat betapa buruknya luka yang kupelihara. Jangan pernah biarkan Adrian kembali menjadi monster. Dia punya hati, meski dia sendiri sering lupa di mana ia menyimpannya.
Hiduplah dengan baik, Dokter Rhea. Dunia medis lebih cocok untukmu daripada dunia yang penuh kepalsuan ini."
Rhea melipat surat itu kembali, merasakan sesak yang aneh di dadanya. Cansu Alessandra Kusuma, wanita yang ia anggap musuh, ternyata hanyalah seorang tawanan perang yang akhirnya menemukan pintu keluar.
Sore harinya, Ian mengajak Rhea ke gedung pusat Diningrat Grub. Namun, mereka tidak menuju ruang rapat atau kantor CEO. Ian membawa Rhea ke lantai paling atas, sebuah taman langit yang menghadap langsung ke cakrawala Jakarta.
"Kontrak kita sudah berakhir secara de facto semalam," Ian memulai, berdiri di tepi pagar kaca yang menjulang tinggi. Angin sore memainkan rambutnya yang biasanya tertata rapi. "Kamu bebas sekarang, Rhea. Kamu bisa kembali ke kehidupan lamamu, fokus pada koasmu, dan melupakan bahwa kamu pernah mengenalku."
Rhea terdiam, menatap punggung lebar pria itu. Ia teringat saat Ian pertama kali menariknya ke dalam mobil limusin, teringat kedipan mata Ian saat sandiwara pingsan di air mancur, dan teringat bagaimana pria ini memeluknya di tengah hujan semalam.
"Apa itu yang kamu inginkan, Ian?" tanya Rhea pelan. "Agar aku pergi dan melupakan semuanya?"
Ian berbalik. Matanya yang biasanya dingin kini tampak rapuh, seolah lapisan es yang selama ini melindungi hatinya telah mencair akibat panasnya tragedi semalam.
"Aku tidak pernah tahu apa itu keinginan yang tulus sampai aku bertemu dengannya," ucap Ian, melangkah mendekati Rhea. "Selama sepuluh tahun, keinginanku adalah kehancuran Pradikta. Tapi setelah itu tercapai, aku merasa hampa. Sampai aku menyadari bahwa hal paling nyata yang kupunya sekarang... adalah kamu."
Ian meraih tangan Rhea, menggenggamnya dengan cara yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada paksaan, tidak ada otoritas. Hanya ada permintaan yang tulus.
"Rhea Candrakirana, aku bukan pria yang baik. Hidupku penuh dengan musuh dan kegelapan yang mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Tapi, bisakah kita mencoba menulis cerita yang baru? Tanpa kontrak, tanpa sandiwara, dan tanpa mawar yang berduri?"
Rhea menatap mata Ian, mencari sisa-sisa "Adrian sang Algojo", namun yang ia temukan hanyalah seorang pria yang sedang belajar cara mencintai lagi.
"Aku punya syarat," ucap Rhea dengan senyum tipis yang mulai merekah.
Ian mengangkat alisnya. "Apa itu?"
"Kamu harus belajar menyeduh kopimu sendiri. Aku tidak mau menjadi tunangan yang terus-menerus disuruh-suruh oleh asistenmu," gurau Rhea, mencoba mencairkan suasana.
Ian tertawa—sebuah tawa lepas yang pertama kali didengar Rhea sejak mereka bertemu. Tawa yang membuat wajahnya tampak jauh lebih muda dan tampan. "Deal. Dan aku akan belajar cara tidak menendang pantat Yusuf di depan umum."
Di saat yang sama, di dalam pesawat yang sedang melintasi benua, Cansu menatap keluar jendela ke arah awan yang putih bersih. Di sampingnya, ibunya sedang tertidur lelap dengan tenang. Cansu meraba pergelangan tangan kanannya, menyentuh bekas luka sayatan yang kini nampak memudar.
Ia mengeluarkan sebuah foto tua—foto dirinya dan Ian di Italia—lalu merobeknya perlahan menjadi potongan-potongan kecil. Ia membiarkan potongan itu jatuh ke dalam wadah sampah.
"Selamat tinggal, Adrian," bisiknya pelan. "Jadilah bahagia dengan mawar barumu."
Dua minggu kemudian, suasana di rumah sakit tempat Rhea praktik kembali normal. Ayahnya sudah kembali bekerja sebagai konsultan senior, disambut dengan hormat oleh rekan-rekan sejawatnya.
Sebuah mobil sport hitam berhenti di depan lobi rumah sakit. Ian turun dengan mengenakan pakaian yang lebih santai—kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia membawa satu tangkai mawar putih, tanpa duri.
Orang-orang di rumah sakit mulai berbisik, namun kali ini bukan bisikan kebencian, melainkan kekaguman. Ian berjalan menuju Rhea yang baru saja menyelesaikan jam praktiknya.
"Dokter Rhea, apakah Anda punya waktu untuk makan malam dengan pria biasa yang sedang berusaha memperbaiki hidupnya?" tanya Ian dengan nada menggoda.
Rhea melepas jas putihnya, menggantungnya di lengan. "Pria biasa? Sejak kapan CEO Diningrat Grub menjadi pria biasa?"
"Sejak dia menyadari bahwa gelar yang paling berharga baginya bukan 'CEO' atau 'Putra Presiden', tapi 'Alasan Rhea Candrakirana Tersenyum'," balas Ian mantap.
Rhea tersipu, wajahnya memerah seperti mawar yang sedang mekar. Ia menyambut bunga itu dan melangkah bersama Ian menuju mobil.
Mereka melaju meninggalkan gedung rumah sakit, menuju masa depan yang meski mungkin masih penuh tantangan, namun kini dihadapi dengan kejujuran. Di balik tirai istana yang kini mulai terbuka, sebuah simfoni baru mulai dimainkan—bukan lagi simfoni pengkhianatan, melainkan simfoni tentang penyembuhan dan keberanian untuk mencintai di atas puing-puing masa lalu.
Drama ini berakhir bukan dengan kemenangan politik semata, tapi dengan kemenangan hati yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang.