Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
POV: RIANI
Riani datang sepuluh menit lebih awal ke cafe "Kopi Kita", tempat nongkrong favorit mereka sejak semester satu. Lokasinya strategis—lima menit jalan kaki dari kampus 1, harga mahasiswa banget, dan yang paling penting: wifi kenceng dan colokan banyak.
Cafe-nya bergaya industrial minimalis—dinding bata ekspos, meja kayu panjang, kursi metal, lampu gantung bohlam Edison. Sore ini cukup ramai. Beberapa meja sudah diisi mahasiswa yang lagi ngerjain tugas sambil ngopi, ada juga yang sekadar ngobrol sambil scroll HP.
Riani pilih meja di pojok dekat jendela—spot favorit mereka. Dia pesan es kopi susu gula aren dan sebungkus kentang goreng untuk sharing. Sambil nunggu, dia buka HP, scroll Instagram tanpa tujuan jelas.
Pikirannya masih di kemarin.
Tatapan Wahyu. Suaranya yang dingin. Cara dia pergi tanpa menoleh.
"Kenapa sih gue masih mikirin?" gumam Riani sambil nge-swipe Instagram story teman-temannya. "Emang gue siapa buat dia? Bukan siapa-siapa juga."
Tapi entah kenapa... it bothered her.
Riani bukan tipe orang yang suka overthinking. Biasanya kalau ada masalah, dia selesaikan, atau ya sudah move on. Tapi kasus Wahyu... beda. Ada sesuatu tentang cowok itu yang bikin Riani... penasaran. Nggak cuma penasaran "oh dia ganteng", tapi penasaran dalam artian... "ada apa sih sama dia?".
Pintu cafe terbuka. Dinda masuk dengan senyum lebar, rambut dikuncir tinggi, bawa tote bag besar bertuliskan "COFFEE BEFORE TALKIE".
"Riii!" Dinda melambaikan tangan sambil berjalan cepat ke meja Riani. "Gue nggak telat kan?"
"Nggak, gue yang terlalu awal," Riani tersenyum. "Duduk. Gue udah pesen kentang buat kita."
"Love you!" Dinda duduk di seberang Riani, menaruh tas di kursi samping. "Karin belum dateng?"
"Belum. Dia bilang telat dikit, ada kerjaan kampus."
"Oke. Anyway..." Dinda condong ke depan, mata berbinar. "Spill. Lo beneran ketemu Wahyu kemarin?"
Riani mengangguk. "Iya. Di kampus 1. Gue sampe nyapa, tapi dia... dingin banget, Din. Kayak gue ganggu dia aja."
"Told you. Dia emang gitu. Dulu gue pernah coba deketin—well, nggak serius sih, cuma iseng—tapi respon nya nol. Literally nol. Kayak gue nggak exist."
"Terus kenapa lo masih bilang dia ganteng?" Riani nyengir.
"Karena emang ganteng, Ri. Objectively. Tapi personality-wise? Ugh. Red flag. Dingin, pendiam, nggak bisa diajak ngobrol. Gue sih prefer cowok yang fun, yang bisa bikin ketawa."
Riani tertawa kecil. "Makanya lo sekarang pacaran sama Rangga."
"Exactly!" Dinda nyengir lebar. "Rangga tuh kebalikan total dari Wahyu. Receh, ngocol, perhatian. That's my type."
Mereka ngobrol ringan sambil nunggu Karin. Sepuluh menit kemudian, Karin datang—terengah-engah, rambut agak berantakan, tas laptop nge-swing di pundak.
"Sorry telat!" Karin langsung duduk di samping Dinda, menarik napas panjang. "Tadi ketemu dosen, diajak ngobrol panjang banget."
"Santai, Kar. Lo mau pesen apa?" Riani mengangkat tangan, manggil pelayan.
"Iced latte aja. Thanks."
Setelah pesanan Karin datang, mereka bertiga duduk melingkar. Suasana jadi agak... serius. Dinda dan Riani menatap Karin dengan penuh ekspektasi.
Karin menyeruput latte-nya pelan. Lalu menaruh gelas, menatap Riani.
"Ri... lo yakin itu Wahyu Setiawan yang lo liat kemarin?"
"Iya. Gue tanya langsung, dia jawab. Cowok tinggi, putih, rambut hitam agak panjang, suka pake hoodie, pendiam. Itu kan Wahyu?"
Karin mengangguk pelan. "Iya. Itu dia."
Hening sebentar.
"Kar..." Dinda memecah keheningan. "Kemarin lo bilang ada yang mau diceritain. Soal apa?"
Karin menarik napas panjang. "Soal... Wahyu. Dan kenapa dia jadi kayak gitu."
Riani condong ke depan. "Gitu gimana?"
"Dingin. Pendiam. Nggak mau deket sama orang."
"Emang kenapa?"
Karin menatap gelas latte-nya. "Karena... dia pernah disakiti. Berkali-kali."
Karin mulai cerita.
"Gue kenal Wahyu dari SD. Kelas 4. Dulu kita satu sekolah, SD Negeri 12. Wahyu... beda banget sama sekarang. Dia ceria, Ri. Suka ketawa, suka bercanda, punya banyak teman. Bahkan dia tuh sering jadi ketua kelas, karena pinter dan berani ngomong di depan."
Riani mencerna informasi itu dengan susah. Wahyu yang dia kenal kemarin—dingin, cuek, nggak mau ngomong—itu... ceria? Berani ngomong di depan?
"Terus... kenapa berubah?" tanya Riani pelan.
"Kelas 6 SD," Karin melanjutkan. "Wahyu mulai berubah. Dia jadi pendiam, sering murung, nggak mau main bareng temen-temen. Gue notice, jadi gue tanya. Tapi dia nggak mau cerita. Cuma bilang, 'Bapak gue lagi ada masalah di kantor.'"
"Masalah apa?" Dinda ikut penasaran.
"Gue nggak tau detailnya waktu itu. Cuma tau, bapaknya Wahyu kena masalah di perusahaan. Ada gugatan atau apa gitu. Terus... keluarga Wahyu jadi bahan omongan orang."
Riani mengerutkan kening. "Bahan omongan?"
"Iya. Tetangga, temen-temen sekolah, bahkan orang tua murid. Mereka ngomongin keluarga Wahyu. Bilang bapaknya koruptor, bilang keluarganya nggak beres, macem-macem deh. Dan itu... sampai ke Wahyu."
Karin berhenti sebentar, minum latte lagi. Wajahnya terlihat... sedih.
"Gue inget banget, waktu itu kelas 6, ada beberapa anak yang mulai ngejauhin Wahyu. Nggak mau duduk sebelahan, nggak mau sekelompok sama dia. Bahkan ada yang terang-terangan bilang, 'Gue nggak mau temenan sama anak koruptor.'"
Riani tersentak. "Serius?"
"Serius, Ri. Dan Wahyu... diem aja. Dia nggak ngelawan, nggak marah, nggak nangis di depan orang. Tapi gue tau dia sakit hati. Karena setelah itu, dia makin menarik diri."
Dinda menggeleng pelan. "Kasian banget sih. Masih SD udah ngalamin kayak gitu."
"Terus gimana lanjutannya?" Riani bertanya lagi.
"SMP kita beda sekolah. Gue di SMP 3, Wahyu di SMP 8. Gue coba kontak dia beberapa kali—telpon, SMS, bahkan gue pernah dateng ke rumahnya. Tapi dia... nggak mau ketemu. Ibunya yang keluar, bilang Wahyu lagi nggak enak badan. Padahal gue tau dia di dalem."
Karin tersenyum pahit. "Sejak itu, gue nggak pernah kontak lagi. Gue pikir, mungkin dia butuh space. Mungkin dia nggak mau ngingetin masa lalu. Jadi gue... biarin."
Riani merasa dadanya sesak. "Terus... lo nggak pernah tau gimana kondisi Wahyu di SMP?"
"Nggak. Gue cuma denger dari temen yang satu SMP sama dia, katanya Wahyu pendiam banget. Nggak punya teman deket. Selalu sendirian."
"Dan SMA?" Dinda bertanya.
"SMA pertama dia, gue nggak tau di mana. Tapi pas dia pindah ke SMA 5—SMA kita—gue baru tau. Gue kaget waktu liat dia di kantin. Gue mau nyapa, tapi... takut. Takut dia nggak mau diingetin masa lalu. Jadi gue cuma... observe dari jauh."
Riani teringat sesuatu. "Tunggu. Berarti lo tau Wahyu itu temen SD lo, tapi lo nggak pernah bilang ke kita?"
Karin mengangguk. "Iya. Karena... gue nggak mau bikin Wahyu uncomfortable. Kalau gue cerita ke kalian, pasti kalian bakal notice dia, bakal tanya-tanya, bakal... you know. Dan gue takut itu malah bikin dia makin menarik diri."
Dinda menepuk bahu Karin pelan. "Lo temen yang baik, Kar."
Karin tersenyum tipis. "Gue cuma... pengen Wahyu bisa hidup normal. Tanpa stigma. Tanpa judgment. Tapi kayaknya... susah ya."
Riani diam. Pikirannya berputar cepat.
Jadi... Wahyu dingin bukan karena dia sombong atau anti-sosial by nature. Tapi karena dia... disakiti. Berkali-kali. Dari kecil.
Dan sekarang, dia membangun tembok. Supaya nggak disakiti lagi.
"Ri," Karin memanggil. "Lo... kenapa tiba-tiba tertarik sama Wahyu?"
Riani tersentak dari lamunan. "Hah? Nggak, bukan tertarik dalam artian itu—"
"Gue nggak bilang 'tertarik' dalam artian naksir," Karin tersenyum kecil. "Maksud gue, kenapa lo tiba-tiba pengen tau tentang dia? Biasanya lo nggak se-curious ini sama orang."
Riani terdiam.
Kenapa ya?
"Gue... nggak tau," jawabnya jujur. "Mungkin karena... dia terlihat... kesepian?"
Dinda dan Karin saling pandang.
"Ri," Dinda bersuara pelan. "Lo tau kan, kalau lo mau deketin Wahyu—dalam artian jadi temen—itu nggak bakal gampang?"
"Gue tau."
"Dia bakal push you away. Berkali-kali."
"Gue tau."
"Dan lo mungkin bakal capek. Frustrasi. Ngerasa effort lo sia-sia."
Riani menatap kedua sahabatnya. "Gue... tetep mau coba."
Karin tersenyum—senyum yang campur antara bangga dan khawatir. "Oke. Tapi gue warn you, Ri. Wahyu itu... complicated. Dia nggak percaya orang dengan gampang. Bahkan gue, yang dulu temen deket dia, sekarang dia treat kayak stranger."
"Gue ngerti."
"Dan satu lagi..." Karin menatap Riani serius. "Jangan pernah bring up kasus bapaknya. Kecuali dia yang cerita duluan. Itu... trigger terbesar dia."
Riani mengangguk. "Noted."
Dinda menyeruput es kopi susunya. "Anyway, lo bilang Wahyu kuliah di kampus 1? Fakultas apa emang?"
"Gue nggak tau. Dia nggak bilang. Tapi gue sering liat dia di kampus 1, jadi mungkin Ekonomi atau FISIP?"
Karin menggeleng. "Nggak mungkin. Wahyu itu... pinter banget di pelajaran Sejarah, PKN, sama Bahasa. Gue rasa dia lebih cocok di jurusan yang berhubungan sama itu. Hukum, mungkin? Atau Ilmu Politik?"
"Hukum..." Riani bergumam. "Kampus 3 kan?"
"Iya."
"Terus kenapa dia sering di kampus 1?"
"Mungkin ada urusan," Dinda nyeletuk. "Organisasi? Atau temen?"
Riani ragu. "Temen? Dia kayaknya nggak punya temen."
"Ya udah, stalking aja," Dinda nyengir. "Tanya ke temen-temen lo yang di organisasi kampus. Siapa tau ada yang kenal."
Riani mempertimbangkan. "Hmm... boleh juga."
Mereka ngobrol lebih santai setelah itu—bahas tugas kuliah, gossip kampus, rencana weekend. Tapi pikiran Riani tetap di Wahyu.
Malam harinya, Riani duduk di kamar kost sambil buka laptop. Dia masuk ke portal mahasiswa, coba searching nama "Wahyu Setiawan" di database.
Nggak ketemu.
Mungkin dia salah eja nama belakang?
Coba lagi: "Wahyu" only.
Muncul 47 hasil.
Riani scroll satu-satu. Baca nama lengkap, fakultas, angkatan.
Halaman ketiga, matanya berhenti.
Wahyu Aditama Setiawan
Fakultas Hukum - Ilmu Hukum
Angkatan 2023
Kampus 3
Riani tersenyum tipis.
Ketemu.
Jadi dia memang Hukum. Karin bener.
Riani close laptop. Rebahan di kasur sambil menatap langit-langit kamar.
Hukum.
Kenapa Hukum?
Apa... ada hubungannya dengan kasus bapaknya?
Riani nggak tau. Dan dia nggak bisa langsung tanya. Karin bilang, jangan bring up kasus bapaknya.
Tapi... kalau Wahyu yang cerita duluan?
Riani menggeleng. "Mikir apa sih gue. Dia aja belum anggep gue temen."
HP-nya bunyi. Notifikasi WA dari grup "GENG REBAHAN" (grup sama Dinda, Karin, dan dua sahabat lainnya—Amel dan Sari).
Dinda: "Btw Ri, lo tau nggak Wahyu ikut organisasi apa?"
Riani: "Gatau. Kenapa?"
Dinda: "Rangga tadi bilang, dia pernah liat cowok mirip deskripsi lo di sekretariat BEM Universitas."
Riani duduk.
BEM Universitas?
Riani: "Serius? BEM Universitas yang di gedung Rektorat kampus 1?"
Dinda: "Iya. Rangga kan anggota BEM juga. Dia bilang, ada cowok pendiem, tinggi, suka pake hoodie, sering dateng ke sekretariat. Tapi dia nggak tau nama."
Karin: "Kalau bener itu Wahyu, berarti dia aktif di BEM dong?"
Riani: "Interesting..."
Riani tersenyum kecil.
BEM Universitas.
Berarti... dia punya alasan untuk "kebetulan" mampir ke sekretariat BEM.
Atau...
Riani menggeleng lagi. "Nggak. Jangan keliatan stalker."
Tapi...
Besok dia ada kelas sampai siang. Setelah itu... mungkin bisa mampir sebentar ke gedung Rektorat.
Cuma... mampir.
Bukan stalking.
Definitely bukan stalking.
Bersambung.....