“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sajadah di Jantung Badai
Guncangan hebat di dalam jet Virelion membuat segalanya terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Suara gesekan logam yang terbakar dan alarm kematian yang melolong tanpa henti memenuhi kabin mewah yang kini berantakan. Di tengah gravitasi yang seolah hilang karena jet menukik tajam, Kaelthas tidak sedikit pun melepaskan dekapannya pada Ceisya. Ia memutar tubuhnya, menjadikan punggung tegapnya sebagai tameng saat jet itu dihantam turbulensi ekstrem akibat gelombang elektromagnetik.
"Kael! Mesin kanannya meledak!" teriak Ceisya. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin yang mulai masuk melalui celah retakan jendela.
Kaelthas tidak menjawab dengan kata-kata. Wajahnya yang tampan kini tampak sangat pucat namun matanya berkilat penuh tekad. Ia merangkak di lantai kabin yang miring, menyeret tubuh Ceisya bersamanya menuju kompartemen parasut darurat di bagian belakang jet. Setiap inci pergerakan mereka terasa sangat berat, seolah udara di dalam jet sedang ditarik keluar oleh cahaya biru misterius di bawah sana.
"Guntur! Buka pintu darurat sekarang! Kita tidak punya waktu lagi!" perintah Kaelthas melalui intercom yang sudah berderak rusak.
Guntur, dengan wajah bersimbah darah akibat terbentur panel kendali, berhasil menekan tombol manual. Brak! Pintu belakang jet terbuka paksa. Angin Atlantik yang membekukan masuk seperti raksasa yang mengamuk, menyedot segala benda ringan di dalam kabin keluar menuju kegelapan.
Kaelthas mencengkeram sabuk parasut di punggung Ceisya, memastikan kuncinya benar-benar terkunci mati pada tubuhnya sendiri. Ia menarik Ceisya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Di tengah badai yang menderu, Kaelthas menangkup wajah istrinya, menatap mata jernih Ceisya dengan tatapan yang sangat dalam—sebuah tatapan perpisahan sekaligus janji abadi.
"Dengar, Ceisyra! Begitu kita lompat, jangan pernah lepaskan pelukanku! Jika kau takut, pejamkan matamu dan ingatlah bahwa aku adalah pemilik takdirmu malam ini!" ucap Kaelthas dengan suara menggelegar.
Tanpa menunggu persetujuan, Kaelthas mencium bibir Ceisya dengan sangat liar dan menuntut di ambang pintu jet yang terbakar. Sebuah ciuman maut yang seolah ingin menyatukan nyawa mereka sebelum mereka menyerahkan diri pada gravitasi. Setelah itu, Kaelthas membawa Ceisya terjun bebas ke dalam pelukan badai.
Mereka jatuh menembus awan hitam yang pekat dengan kecepatan yang mengerikan. Dinginnya udara malam seolah menusuk hingga ke tulang, namun panas dari tubuh Kaelthas yang mendekapnya erat menjadi satu-satunya sumber kehangatan bagi Ceisya. Di bawah sana, Pulau Von Heist tampak menyeramkan; sebuah daratan batu karang yang dikelilingi ombak raksasa, dengan menara cahaya biru di tengahnya yang membelah langit.
"Kael! Parasutnya!" teriak Ceisya saat melihat daratan semakin mendekat.
Kaelthas menarik tuas parasut. Sret! Sentakan hebat terjadi saat parasut mereka terkembang, menahan laju jatuh mereka dengan kasar. Namun, masalah belum selesai. Pasukan mawar hitam di bawah sana rupanya sudah bersiaga. Mereka mulai melepaskan tembakan ke arah parasut yang melayang di langit.
"Mereka menembaki kita, Kael!"
Kaelthas mengeluarkan pistol peraknya sambil tetap mengendalikan tali parasut dengan satu tangan lainnya. Dengan akurasi yang mustahil di tengah terpaan angin, ia membalas tembakan musuh di darat. "Tetaplah di bawah ketiakku, Sayang! Jangan biarkan kepalamu terlihat!"
Mereka mendarat dengan keras di atas dek observasi kastil yang terbuat dari beton tua. Kaelthas berguling untuk menyerap benturan, memastikan Ceisya tetap berada di atas tubuhnya agar tidak menghantam lantai yang keras. Begitu berhenti, Kaelthas langsung berdiri dan menarik Ceisya ke balik pilar batu yang besar.
"Guntur! Laporkan posisi!" bisik Kaelthas melalui alat komunikasi di telinganya yang masih berfungsi secara ajaib.
"Saya mendarat di sektor barat, Tuan. Gudang amunisi mereka sudah saya tandai untuk sabotase," lapor Guntur singkat di tengah suara baku tembak.
Aksi Silat Sang Bidadari Santriwati
Kaelthas sedang sibuk mengisi ulang peluru pistolnya saat lima orang pasukan bertopeng mawar hitam muncul dari balik lorong gelap dengan pedang panjang yang berkilau.
"Kael, biar aku yang urus mereka! Gunakan pelurumu untuk menara itu!" seru Ceisya. Sifat tengil dan keberaniannya meledak seketika. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar wanita yang perlu terus dipeluk.
Ceisya melompat keluar dari balik pilar dengan kelincahan yang luar biasa. Saat musuh pertama mengayunkan pedangnya, Ceisya melakukan gerakan Egos Atas—merunduk dengan sangat lentik hingga pedang itu hanya memotong udara di atas kepalanya. Tanpa membuang detik, Ceisya meluncurkan jurus Sapuan Harimau. Kaki kanannya menghantam tulang kering lawan dengan kekuatan penuh hingga terdengar bunyi krak yang memuaskan.
Musuh kedua mencoba menusuk dari arah samping. Ceisya menggunakan teknik Tangkis Sikut, menangkap pergelangan tangan musuh, memutarnya dengan tenaga inti, lalu memberikan Tendangan Gejig tepat di ulu hati pria itu hingga ia terpental menabrak dinding.
Kaelthas, yang sedang menghabisi sisa musuh dengan tembakan kepalanya, sempat terpaku diam melihat aksi istrinya. Seringai bangga muncul di wajahnya yang penuh dengan debu dan darah. "Jurusmu semakin mematikan, Bidadariku. Sangat menggoda untuk dilihat," gumam Kaelthas dengan nada posesif yang tetap muncul di tengah peperangan.
Kaelthas segera menghampiri Ceisya setelah semua musuh tumbang. Ia menarik pinggang Ceisya, menekannya ke dinding pilar, dan mencium bibirnya dengan sangat kasar dan panas seolah sebagai hadiah atas keberanian istrinya. "Kau benar-benar canduku, Ceisyra. Bahkan saat kau berdarah pun, kau tetap milikku seutuhnya."
"Kael, kita harus ke menara pusat sekarang! Sinyal elektromagnetiknya semakin kuat, mereka akan melakukan sinkronisasi terakhir dalam sepuluh menit!" ucap Ceisya sambil mengatur napasnya yang memburu.
Mereka berlari menembus lorong-lorong kastil yang dingin dan lembap. Ceisya menggunakan keahlian peretasnya untuk membuka pintu-pintu besi yang terkunci secara otomatis. Setiap kali pintu terbuka, Kaelthas akan merangsek masuk lebih dulu, menghabisi siapa pun yang berani menghalangi jalan mereka dengan keberingasan seorang penguasa yang sedang marah besar.
Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan raksasa dengan langit-langit yang sangat tinggi. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah mesin pemindah dimensi yang berbentuk seperti pilar kaca raksasa berisi energi biru yang bergolak liar.
Di depan mesin itu, berdiri Clarisse yang mengenakan gaun putih panjang yang kini sudah kotor oleh debu, dan Sebastian yang memegang sebuah kendali jarak jauh.
"Selamat datang di akhir perjalananmu, Kakakku sayang," ucap Clarisse dengan suara melengking yang terdengar sangat gila. "Kau pikir kau bisa lari dari takdirmu? Kau diciptakan untuk menjadi kunci, dan kunci itu harus kembali ke tempat asalnya agar aku bisa memiliki kekuatan ini!"
Sebastian menyeringai kejam. "Kaelthas, kau penguasa yang hebat, tapi kau bodoh karena mencintai seorang hantu. Begitu mesin ini mencapai puncaknya, jiwanya akan tersedot kembali ke dunianya, dan kau hanya akan memeluk mayat kosong!"
Kaelthas mencengkeram bahu Ceisya begitu erat, buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat penuh obsesi yang sangat gelap. "Kalau begitu, aku akan merobek gerbang duniamu, Sebastian! Jika dia pergi, maka tidak akan ada dunia yang tersisa untuk kalian huni!"
Ceisya melihat ke arah panel kontrol di dekat mesin itu. Sebagai seorang hacker tingkat tinggi, ia melihat ada sebuah celah sistem. "Kael... aku bisa menghancurkan inti mesin ini dari dalam sistemnya. Tapi itu berarti aku harus menghubungkan pikiranku langsung ke sistem saraf mesin ini."
"Apa risikonya?" tanya Kaelthas tajam.
"Jiwaku bisa terjebak di tengah-tengah dua dunia selamanya. Tapi itu satu-satunya cara agar pintu ini tertutup permanen dan mereka tidak bisa mengganggu Abah Kyai atau siapapun lagi di sana," jelas Ceisya dengan mata berkaca-kaca.
Kaelthas menarik Ceisya ke dalam pelukannya, mencium seluruh wajahnya dengan penuh keputusasaan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun. "Tidak! Aku tidak mengizinkannya! Kau tidak boleh pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau!"
"Mas Sultan..." Ceisya memegang pipi Kaelthas. "Percaya sama istrimu. Aku santriwati jago silat, ingat? Aku bakal balik ke pelukanmu. Aku janji."
Ceisya segera berlari ke arah panel kontrol, mengabaikan teriakan Clarisse. Kaelthas berdiri di depannya, menahan berondongan peluru dari anak buah Sebastian untuk melindungi istrinya.
"Lakukan, Ceisyra! Lakukan sekarang!" teriak Kaelthas sambil terus memuntahkan peluru.
Ceisya menghubungkan perangkatnya. Seketika, cahaya biru di dalam mesin itu berubah menjadi merah darah. Seluruh kastil mulai bergetar hebat seolah-olah pulau itu akan tenggelam ke dasar laut.
Saat sistem mencapai angka 90%, tiba-tiba sebuah suara dari masa lalu Ceisya bergema di seluruh ruangan melalui speaker mesin itu. Suara yang sangat ia kenal—suara Abah Kyai di pesantren aslinya.
"Nduk Ceisya... pulanglah... gerbangnya sudah terbuka di depanmu. Jangan biarkan jiwamu ternoda oleh darah pria itu..."
Ceisya membeku. Tangannya gemetar di atas tombol Enter. Ia melihat ke arah Kaelthas yang sedang berjuang bersimbah darah melindunginya, lalu melihat ke arah pusaran cahaya yang menjanjikan kedamaian di dunianya yang lama.
"Kael..." bisik Ceisya pelan.
"JANGAN MENOLEH, CEISYRA! TETAPLAH BERSAMAKU!" raung Kaelthas dengan sisa tenaganya.
Tiba-tiba, mesin itu meledak kecil, mengirimkan gelombang kejut yang mementalkan semua orang di ruangan itu. Asap tebal memenuhi aula, dan di tengah kabit itu, sosok Ceisya tampak mulai memudar menjadi butiran cahaya biru.
BERSAMBUNG...
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca