NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Matahari pagi menyapa dengan hangat, memantulkan cahaya di permukaan air laut yang tenang.

Prabu baru saja kembali dari lari paginya di sepanjang garis pantai, napasnya memburu teratur, dan keringat membasahi kausnya. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat pemandangan di dalam ruang tengah.

Xena sedang sibuk di dekat koper yang terbuka. Dengan gerakan efisien yang tenang, ia melipat pakaian-pakaian Prabu dan memasukkannya ke dalam koper besar, tepat di samping koper miliknya yang sudah tertutup rapi.

"Selesai lari?" tanya Xena tanpa menoleh, tangannya tetap telaten merapikan kemeja terakhir.

"Sarapan dulu, Pra. Semuanya sudah siap di meja."

Prabu tidak segera beranjak ke meja makan. Matanya terpaku pada koper-koper itu.

Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.

Koper itu bukan sekadar tanda mereka akan berpindah tempat, tapi simbol bahwa kontrak kesepakatan mereka akan segera berakhir.

"Kenapa koper-koper ini sudah disiapkan sekarang, Xen?" tanya Prabu lirih.

"Supaya setelah tes kesehatan nanti, kita tidak perlu kembali ke sini lagi. Kita bisa langsung pulang," jawab Xena singkat, lalu ia berdiri dan menatap suaminya.

"Ayo, makan. Kamu butuh energi untuk tes siang ini."

Setelah sarapan yang berlangsung dalam keheningan yang tegang, mereka berangkat menuju pusat kesehatan penerbangan.

Sepanjang perjalanan, Prabu lebih banyak diam. Ia memegang kemudi dengan erat, sementara Xena di sampingnya sibuk memeriksa berkas-berkas medis yang akan diserahkan kepada tim penguji.

Sesampainya di lobi rumah sakit khusus tersebut, Xena berhenti dan berbalik menghadap Prabu.

Ia merapikan sedikit kerah baju suaminya dengan gerakan yang sangat profesional.

"Semoga tes kamu lancar semuanya, Pra. Aku sudah memberikan rekomendasi terbaik di dalam berkas itu. Kamu sudah siap secara mental dan fisik," ucap Xena.

Prabu tidak menjawab. Ia hanya menatap lekat-lekat wajah istrinya—menatap sisa lebam yang mulai memudar dan binar mata Xena yang seolah sudah siap untuk melepaskan.

Prabu tahu betul konsekuensinya. Tes ini adalah pedang bermata dua baginya.

Jika ia berhasil melewati semua ujian medis dan psikologis ini, ia akan mendapatkan kembali sayapnya untuk terbang di langit. Namun di saat yang bersamaan, ia akan kehilangan dunianya di bumi.

Sukses dalam tes ini berarti terpenuhinya janji Xena kepada ayahnya, dan itu artinya, Xena akan benar-benar pergi meninggalkan hidupnya.

"Xen..." suara Prabu tercekat.

"Masuklah, Pra. Jangan buat tim penguji menunggu," potong Xena lembut, memberikan dorongan kecil di lengan Prabu agar pria itu melangkah masuk ke dalam ruang ujian.

Prabu melangkah masuk dengan hati yang berat. Untuk pertama kalinya dalam kariernya, ia tidak tahu apakah ia benar-benar ingin lulus atau gagal.

Prabu melangkah masuk ke ruang pemeriksaan dengan perasaan yang berkecamuk.

Di balik pintu kaca itu, serangkaian prosedur medis yang ketat sudah menantinya.

Ia harus membuktikan bahwa fisiknya masih layak untuk mengendalikan burung besi di ketinggian ribuan kaki.

Tes kesehatan dimulai. Prabu menjalani pemeriksaan jantung, paru-paru, hingga tes audiometri dan ketajaman penglihatan.

Tim medis bekerja dengan sangat teliti. Prabu mengikuti setiap instruksi dengan patuh, meskipun pikirannya sesekali melayang pada koper-koper yang sudah rapi di bagasi mobil.

Ia tahu, setiap hasil "Normal" yang keluar dari alat medis itu, membawanya selangkah lebih dekat ke kokpit, namun juga selangkah lebih dekat menuju perceraian.

Setelah pemeriksaan fisik selesai, ia diarahkan menuju ruang yang lebih tenang untuk tes psikologi.

Di sana, ia berhadapan dengan serangkaian tes kognitif, kecepatan reaksi, dan yang paling berat: wawancara mendalam mengenai stabilitas emosinya pasca-trauma.

"Bagaimana perasaanmu saat mendengar suara bising mesin sekarang?" tanya dokter penguji.

Prabu terdiam sejenak. Ia teringat sesi terapi di vila semalam.

"Saya sudah bisa mengendalikannya. Fokus saya bukan lagi pada ketakutan, tapi pada tanggung jawab," jawabnya tegas.

Xena, yang bertindak sebagai dokter pendamping sekaligus konsultan utama kasus Prabu, masuk ke ruangan membawa map berisi catatan perkembangan klinis yang ia susun selama di pantai.

Ia menyerahkan dokumen-dokumen itu kepada tim dokter penguji lainnya.

"Ini data lengkap mengenai perkembangan terapi Prabu selama dua minggu terakhir. Termasuk responnya terhadap simulasi audio yang kami lakukan semalam," ucap Xena dengan suara yang sangat profesional, tanpa sedikit pun nada emosional yang menunjukkan bahwa ia adalah istri dari pasien yang sedang diuji.

Ketua tim dokter penguji menerima map tersebut dan membacanya dengan seksama.

Ia berdiskusi sejenak dengan rekan-rekannya sambil sesekali melirik ke arah Prabu.

"Baik, Dokter Xena. Kami sudah menerima semua datanya. Beri kami waktu untuk melakukan sidang pleno kecil mengenai kelayakan terbang Captain Prabu," ucap dokter senior itu.

"Tunggu setengah jam lagi, setelah itu kami akan memberikan jawaban finalnya."

Xena menganggukkan kepalanya dengan sopan. "Terima kasih, Dokter. Kami akan menunggu di luar."

Mereka berdua berjalan keluar menuju ruang tunggu.

Keheningan di antara mereka terasa sangat berat.

Prabu duduk di kursi besi yang dingin, menumpu sikunya di lutut dan menautkan jemarinya.

Sementara Xena berdiri di dekat jendela, menatap ke arah parkiran.

Tiga puluh menit itu terasa seperti tiga puluh tahun bagi Prabu.

Ia melirik Xena yang tampak begitu tegar dan tenang.

Di balik ketenangan itu, Prabu tahu bahwa Xena sudah menyiapkan surat-surat yang akan mengakhiri hubungan mereka tepat setelah pengumuman ini keluar.

Penentuan nasib karier Prabu sedang diputuskan di dalam ruangan itu, sementara penentuan nasib pernikahannya sedang dihitung mundur oleh detak jam di tangan Xena.

Waktu seolah merangkak lambat di ruang tunggu yang berbau antiseptik itu.

Prabu duduk dengan punggung tegak, namun tangannya yang tertaut menunjukkan ketegangan yang luar biasa.

Di sampingnya, Xena tampak tenang, meski sebenarnya ia merasakan jantungnya berdetak kencang, jauh lebih hebat daripada saat ia menjalani ujian spesialisnya dulu.

Bagi Xena, ini bukan sekadar hasil medis; ini adalah muara dari seluruh air mata dan kesabarannya selama sepuluh tahun.

Pintu kayu ek itu terbuka. Seorang perawat muncul dan memberikan isyarat.

"Captain Prabu, Dokter Senior memanggil Anda masuk."

Prabu berdiri, melirik Xena sejenak, lalu melangkah masuk.

Xena mengekor di belakang dengan napas yang tertahan.

Di dalam ruangan, ketua tim penguji sudah duduk dengan map terbuka di depannya. Ekspresinya sulit dibaca, datar dan profesional.

"Kami sudah meninjau hasil pemeriksaan fisik, tes laboratorium, hingga evaluasi psikologis yang sangat mendalam dari Dokter Xena," dokter senior itu memulai bicaranya, menjeda kalimatnya sejenak hingga suasana terasa makin mencekam.

"Secara klinis, trauma Anda dinyatakan terkendali. Respon kognitif dan motorik Anda berada di atas rata-rata kembali." Dokter itu kemudian berdiri, mengulurkan tangannya dengan senyum tipis.

"Selamat, Captain Prabu. Anda bisa menerbangkan pesawat lagi. Surat rekomendasi kembali bertugas akan kami kirimkan dan mulai sore nanti, Anda sudah bisa kembali bekerja,"

Kalimat itu seperti ledakan di telinga mereka. Prabu terpaku, lidahnya kelu untuk sekadar mengucap terima kasih. Matanya langsung mencari sosok Xena.

Xena, yang selama ini selalu berusaha menjaga citra profesionalnya sebagai dokter jiwa, mendadak kehilangan kekuatannya. Mendengar suaminya bisa kembali ke langit—tempat yang sangat dicintai Prabu—membuat seluruh beban yang menghimpit pundaknya luruh seketika.

Tanpa memedulikan tatapan dokter lain di ruangan itu, Xena langsung bersimpuh di lantai dan melakukan sujud syukur.

Isak tangis yang sejak tadi ia tahan pecah begitu saja.

Di atas dinginnya lantai rumah sakit, ia menumpahkan segala rasa syukur karena doanya selama ini dikabulkan; ia berhasil menyembuhkan pria yang dicintainya, meski ia tahu setelah ini, ia mungkin harus melepaskannya.

Prabu mendekat, berlutut di samping istrinya yang masih bersujud. Ia menyentuh bahu Xena yang bergetar hebat.

"Xen, terima kasih," bisik Prabu dengan suara serak.

"Terima kasih sudah tidak menyerah padaku."

Xena mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Prabu dengan binar yang tak bisa dijelaskan.

Di tengah keberhasilan besar ini, ada sebuah kenyataan pahit yang membayangi: janji pengobatan telah lunas, dan koper-koper di mobil sudah siap untuk membawa mereka ke arah yang berbeda.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!