NovelToon NovelToon
MISTERI DESA GETIH

MISTERI DESA GETIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:40.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.

Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?

Ikuti kisah selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Juminten

"Yuk, pulang." ajak Juminten—kepasa Gina. Ia sudah mengemasi semua barang bawaannya, dan bersikap biasa saja seolah ia berpura-pura tidak tahu, tentang perselingkuhan antara Bejo dan sahabatnya itu.

"Ayo." Gina juga beranjak dari tempatnya, dan melipat tikar tempat ia tadi duduk bersila

Keduanya berjalan menyusuri hutan pinus yang cukup lebat, dengan tinggi yang menjulang.

Hari sudah remang-remang, dan mereka dapat menyaksikan bagaiamana indahnya sunrise yang berwarna violet muda sedang menggantung di langit pagi.

Akan tetapi, keindahan alam yang mereka lihat, tak membuat hati mereka tergugah, sebab saat ini, keduanya sedang larut dalam pikiran yang kacau.

Juminten masih berusaha menyimpan rasa amarahnya, dan menyerahkan semuan kematian Gina—pada Sundel Bolong yang menjadi sekutunya.

"Jum, kita singgah ke warung makanku, yuk. Soalnya laper banget," ajak Gina dengan wajah tanpa dosa.

"Makasih, Gin. Aku sedang buru-buru. Lain kali saja, ya." tolaknya pada Gina.

Ternyata Juminten merasa takut, karena pastinya ada hal yang harus di waspadai.

"Oh, Gitu. Ya—sudah. Aku mau singgah ke warungku, gak ikut pulang ke desa Getih, kamu sendirian gak apa-apa—kan?"

Juminten mengulas senyum datar, lalu menganggukkan kepalanya.

"Aku bisa sendiri." Juminten menyahut, lalu keduanya berpisah, saat mereka tiba di lereng pesarean.

Beberapa menit kemudian. Juminten mengendarai mobilnya melintasi lereng gunung menuju pulang ke rumahnya.

****

Juminten sudah tiba di rumahnya, ia melihat Bejo yang sudah berpakaian rapih.

"Mau kemana, Mas?"

Juminten merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Rasanya ia cukup lelah, sebab melakukan perjalanan ritual yang cukup panjang.

"Ada urusan, Dek. Mungkin gak pulang sebab diluar desa."

Bejo merapikan kaosnya yang mana harus sesuai dengan perutnya yang membuncit.

Rasa curiga Juminten semakin kuat, dan ia menebak apa yang sudah dikatakan Sundel Bolong padanya.

"Mas, kamu lewati warung si Gina, gak? Aku mau nitip makanan untuknya. Sebagai ucapan terimakasih, atas perjalanan kami selama ritual."

Juminten beranjak bangkit dari ranjangnya.

Bejo terdiam. Ia berfikir sejenak, mencari kawaban, agar sang istri tak curiga padanya.

"Ada, karena urusan kerjanya melewati warungnya,"

"Oh, Baguslah. Bentar ya, aku nyimpan bumbu pecal, si Gina suka sekali makan pecal," ujarnya.

Juminten menuju dapur, lalu mengamnil bimbu pecal kering yang sudah dibungkus oleh plastik mika.

"Ini, Mas. Bawain buat Gina, ya. Dia paling suka sama bumbu pecal."

ia menyodorkannya pada sang suami yang menerimanya dengan cukip senang hati.

"Iya, Dik. Nanti Mas sampaikan," janji Bejo, lalu berpamitan untuk pergi.

Sementra itu, Alawiyah sedang mengamati rumah Ratna yang tampak sepi.

Hanya saja, ada dua orang baru yang datang ke rumah itu, sepertinya dari desa lain, dan menjadi asisten rumah tangga, sebab terlihat sedang membersihkan ruangan dilantai dua dengan penyapu.

"Mbok, kenapa pemilik rumah itu tifak kehilatan beberapa hari ini—ya?" tanyanya pada sang ibu mertua.

Ratih yang sedang membersihkan tanaman sayaurannya dari gulma di halaman depan, ikut menatap rumah megah berlantai tiga tersebut.

"Entahlah, terkadang—warga desa Getih menyimpan misteri yang sulit di fahami, dan kamu harap jangan ikut campur tentang masalah itu," pesan Ratih dengan nada menegaskan.

Alawiyah mendengkuskan nafasnya dengan sangat berat. Ada banyak hal janggal ia simpan di lubuk dihatinya.

"Mbok, malam tadi, aku melihat sesuatu, mirip Bi Ratna, tapi sepertinya itu Qorin sang pemiliknya, tubuhnya penuh darah, dan merintih kesakitan,"

Ratih menghentikan pekerjaannya, lalu menatap wajah menantunya.

"Dimana—kau melihatnya?"

Di lantai bawah, saat Novita membuka pintu, ia tampak kesakitan,"

Ratih membeku, dan apa yang dikatakan oleh Alawiyah barusan, mengingatkannya pada peristiwa semalam, yang mana ia juga memperlihatkan sosok Ratna dengan tubuh berlumuran darah.

"Jika itu qorinnnya, maka tandanya—" Ratih tak melanjutkan ucapannya, terlalu jauh ia berspekulasi.

"Bi Ratna sudah meninggal, sebab Qorin akan memisahkan diri dari manusia, saat seseorang itu sudah meninggal dunia," sahut Alawiyah dengan cepat.

Ratih menyudahi pekerjaannya. Ia bergisik ngeri saat membayangkan hal itu.

"Malam itu, Novita mengantarkan masakan olahan daging, semuanya berbahan daging. Tetapi saat aku membuka tutupnya, tiba-tiba menjelma menjadi wujud Bi Ratna," jelas Alawiyah.

Ratih semakin tak nyaman. Wajahnya tampak berkeringat. "Ada yang tidak beres dengan Novita." Ratih mulai mencurigai gadis tersebut.

"Aku takutnya—" Alawiyah menghentikan ucapannya, saat melihat Rini sang adik ipar datang ke rumahnya, membawa dua orang ponakannya Hanan dan Hana yang super menggemaskan.

"Mbah ...." kedua bocah itu mengejar ke arah Ratih yang baru saja membersihkan tangannya dengan menggunakan air melalui keran.

"Ya," sahut Ratih, kemudian menghampiri cucunya yang duduk di balai bambu teras rumah.

"Apa kabar, Mbak?" sapa Rini, berusaha ramah, meskipun wajahnya sangat muram.

"Alhamdulillh baik, kamu bagaimana?" tanya Alawiyah balik.

"Begitulah ...." sahut Rini, dan jawaban yang cukup ambigu.

Alawiyah dapat melihat jelas, tentang persaan Rini, melalui ekspresi wajahnya, ia sedang mengalami masalah.

Ratih membwa ember berisi sayuran, dan juga cabai yang lumayan banyak.

"Ambil setengah, Rin. Buat lauk di rumah." Ratih menyodorkannya pada puterinya.

"Mbah, kami makan‐ya. Lapar." ucap Hanan, sembari mengusap perutnya.

Alawiyah langsung faham. Ia beranjak bangkit. "Ayo, ikut sama Bibi ke dapur."

Ia membawa kedua bocah tersebut, dan tampaknya Rini sedang ingin berbicara pada ibunya, tanpa harus di dengar olehnya.

Kedua bocah itu langsung menurut, dan mengikuti Alawiyah.

Sedangkan Rini, tampak berbisik pada Ratih, dan di menit berikutnya, ia sesenggukkan, pundaknya terguncang, dan Ratih menenangkannya dengan cara mengusap punggung puterinya.

"Bersabarlah, semua ini hanya ujian, dan kamu pasti bisa melewatinya. Jika sudah tak tahan, maka lepaskan." pesan Ratih, meskipun hatinya cukup berat saat menyampaikan kalimat rerebut.

****

Hari sudah beranjak, Bejo sudah menemui Gina. "Gin, ini mas beliin bumbu pecal. Kamu sepertinya suka dengan pecal."

Bejo menyerahkan plastik mika tersebut kepada wanita idaman lainnya.

Gina tersenyum sumringah, dan wajahnya tampak bahagia.

"Mas Bejo paling bisa, tau aja kesukaanku. Makasih ya—Mas. Makin sayang—Deh."

Gina mengecup pipi Bejo yang gembul, dan bergelayut mesra di pundak pria tersebut.

Aroma perpaduan daun jeruk purut, kebcur, dan gula aren yang gurih, membuat ia tak sabar mencicipinya.

Dengan cekatan ia membuka mika tersebut, dan mencicipinya.

"Enak banget, Mas. Rasanya sangat pas." Gina mengacungkan jempolnya, dan memakannya hinga setengah, tanpa menggunakan campuran air dan sayur mayur.

"Tentu, Dong." balas Bejo, yang mengusap pundak Gina dengan lembut.

"Mas, aku nitip masakan buat juminten ya, bilang aja, Mas yang beli. Dia kan suka krengsengan kambing," Gina teringat akan makanan favorite Juminten, ia menyudahi makannya dan menuju dapur untuk membuat oleh-oleh bagi wanita tersebut.

"Boleh, nanti mas kasih langsung ke Juminten," balas Bejo.

Sementara itu, Sundel Bolong yang baru saja nongkrong di pinggir jalan, tepatnya di pos ronda bersama kuntilanak merasakan hal yang tak biasa.

Ia merasakan getaran dari jiwa Gina, yang mana sudah memakan makanan pemberian Juminten.

"Hem, waktunya bekerja."

Sundel Bolong beranjak dari tempatnya. Ia ingin melesat meninggalkan Kuntilanak putih.

"Sun, mau kemana? Buru-buru amat?"

Kuntilanak Putih menarik rambut gimbal Sundel Bolong yang tampak tergesa-gesa.

"Sialan, lepasin. Aku diburu deadline, kejar setoran." sahut Sundel Bolong, yang menepis tangan Kuntilanak.

"Alamak, baru saja kita nongkrong, sudah kabur saja." omel kuntilanak putih.

"Sorry, Bestie. Aku masih magang. Doakan aku agar naik kelas, dan ditetapkan jabatan menjadi jin Ba'al."

Sundel Bolong segera melesat pergi meninggalkan Kuntilanak Putih yang melongo.

1
FiaNasa
ayo semua kluarga Ratih tetap semangat menjalani hari,,bismillah ..teruslah berjuang dijalan Allah smpai desa getih jadi desa normal tanpa pesugihan
FiaNasa
semua warga didesa getih memelihara demit jadi gak ada critanya mereka takut sama demit😀😀
SENJA
semangat terus! yok semangat💪
☕𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ehhh bagas kok bisa liat si kun dan si om cong to

waduhhh gaaas jagan itu istri adik mu lho
SENJA
YaAllah tresno mulutmu 😳😑
Desyi Alawiyah
Mbak Kun kurang kerjaan banget deh.. pake ngagetin Bagas segala... 🤭
SENJA
laaah novita ngapain situ 😳
SENJA
dan ga penyugihan
Desyi Alawiyah
Lah, Desa yang lain juga menganut ilmu pesugihan? Kirain warga Desa Getih doang yang melakukan ilmu pesugihan...

Ya allah, kasihan banget keluarganya mbok Ratih.. 😓
yuyun Rahayu
ku Aamiinkan paling kenceng Bagas smg dpt jdoh seprti Alwiyah kaya adik iparmu🤭🤭
yuyun Rahayu
mau ikutan yaaaa ngepet online ya😂😂😂😂
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: jaman udh maju, ngepet online lah enak gak pake tumbal 🤣
total 1 replies
yuyun Rahayu
semga dpt jdoh di desa lain ya Bagas,dan calon istrimu kaya Alwiyah yg soleha
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: makan dulu makan, kalo lemes gimana mau cari istri 🤣🤣
total 1 replies
Amelya Rahmadhani
lanjut kak💪💪💪
☕𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
semoga ada jalan ya kan percaya saja
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
waduh keluarga Mbok Ratih kena blokade ekonomi /Grievance/ jual keluar desa aja mbok, desa2 tetangga
yuyun Rahayu
kak Siti carikan Bagas jodoh🤭🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: hahaha.. bolehlah tuu kak @Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
total 3 replies
FiaNasa
masih ada cara kok gak usah berpikiran sempit,,yg ada nanti takut gak percaya lagi sama Tuhan..kan bis tuh Bagas kerja di desa lain juga bisa jualan sayurnya ke desa tetangga,,belilah keperluan disana klau beli di desa getih gak dikasih..klau mengeluh terus kapan bisa tercapai tujuannya..yg ada nanti malah ikutan cari pesugihan
Tini Nurhenti
makan dari hasil berkebun sendiri aja,lagian bocah2 masi pada kecil2 gk rewel2 bgt,beda klo sdh rada gede byk kemauan ea thor./Grin//Grin/🤭💪💪
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pasti nggak bakalan dia kasih kamu gaji, karna dia sangat dendam
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pasti kamu bakalan di kasih bagas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!