Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juminten
"Yuk, pulang." ajak Juminten—kepasa Gina. Ia sudah mengemasi semua barang bawaannya, dan bersikap biasa saja seolah ia berpura-pura tidak tahu, tentang perselingkuhan antara Bejo dan sahabatnya itu.
"Ayo." Gina juga beranjak dari tempatnya, dan melipat tikar tempat ia tadi duduk bersila
Keduanya berjalan menyusuri hutan pinus yang cukup lebat, dengan tinggi yang menjulang.
Hari sudah remang-remang, dan mereka dapat menyaksikan bagaiamana indahnya sunrise yang berwarna violet muda sedang menggantung di langit pagi.
Akan tetapi, keindahan alam yang mereka lihat, tak membuat hati mereka tergugah, sebab saat ini, keduanya sedang larut dalam pikiran yang kacau.
Juminten masih berusaha menyimpan rasa amarahnya, dan menyerahkan semuan kematian Gina—pada Sundel Bolong yang menjadi sekutunya.
"Jum, kita singgah ke warung makanku, yuk. Soalnya laper banget," ajak Gina dengan wajah tanpa dosa.
"Makasih, Gin. Aku sedang buru-buru. Lain kali saja, ya." tolaknya pada Gina.
Ternyata Juminten merasa takut, karena pastinya ada hal yang harus di waspadai.
"Oh, Gitu. Ya—sudah. Aku mau singgah ke warungku, gak ikut pulang ke desa Getih, kamu sendirian gak apa-apa—kan?"
Juminten mengulas senyum datar, lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku bisa sendiri." Juminten menyahut, lalu keduanya berpisah, saat mereka tiba di lereng pesarean.
Beberapa menit kemudian. Juminten mengendarai mobilnya melintasi lereng gunung menuju pulang ke rumahnya.
****
Juminten sudah tiba di rumahnya, ia melihat Bejo yang sudah berpakaian rapih.
"Mau kemana, Mas?"
Juminten merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Rasanya ia cukup lelah, sebab melakukan perjalanan ritual yang cukup panjang.
"Ada urusan, Dek. Mungkin gak pulang sebab diluar desa."
Bejo merapikan kaosnya yang mana harus sesuai dengan perutnya yang membuncit.
Rasa curiga Juminten semakin kuat, dan ia menebak apa yang sudah dikatakan Sundel Bolong padanya.
"Mas, kamu lewati warung si Gina, gak? Aku mau nitip makanan untuknya. Sebagai ucapan terimakasih, atas perjalanan kami selama ritual."
Juminten beranjak bangkit dari ranjangnya.
Bejo terdiam. Ia berfikir sejenak, mencari kawaban, agar sang istri tak curiga padanya.
"Ada, karena urusan kerjanya melewati warungnya,"
"Oh, Baguslah. Bentar ya, aku nyimpan bumbu pecal, si Gina suka sekali makan pecal," ujarnya.
Juminten menuju dapur, lalu mengamnil bimbu pecal kering yang sudah dibungkus oleh plastik mika.
"Ini, Mas. Bawain buat Gina, ya. Dia paling suka sama bumbu pecal."
ia menyodorkannya pada sang suami yang menerimanya dengan cukip senang hati.
"Iya, Dik. Nanti Mas sampaikan," janji Bejo, lalu berpamitan untuk pergi.
Sementra itu, Alawiyah sedang mengamati rumah Ratna yang tampak sepi.
Hanya saja, ada dua orang baru yang datang ke rumah itu, sepertinya dari desa lain, dan menjadi asisten rumah tangga, sebab terlihat sedang membersihkan ruangan dilantai dua dengan penyapu.
"Mbok, kenapa pemilik rumah itu tifak kehilatan beberapa hari ini—ya?" tanyanya pada sang ibu mertua.
Ratih yang sedang membersihkan tanaman sayaurannya dari gulma di halaman depan, ikut menatap rumah megah berlantai tiga tersebut.
"Entahlah, terkadang—warga desa Getih menyimpan misteri yang sulit di fahami, dan kamu harap jangan ikut campur tentang masalah itu," pesan Ratih dengan nada menegaskan.
Alawiyah mendengkuskan nafasnya dengan sangat berat. Ada banyak hal janggal ia simpan di lubuk dihatinya.
"Mbok, malam tadi, aku melihat sesuatu, mirip Bi Ratna, tapi sepertinya itu Qorin sang pemiliknya, tubuhnya penuh darah, dan merintih kesakitan,"
Ratih menghentikan pekerjaannya, lalu menatap wajah menantunya.
"Dimana—kau melihatnya?"
Di lantai bawah, saat Novita membuka pintu, ia tampak kesakitan,"
Ratih membeku, dan apa yang dikatakan oleh Alawiyah barusan, mengingatkannya pada peristiwa semalam, yang mana ia juga memperlihatkan sosok Ratna dengan tubuh berlumuran darah.
"Jika itu qorinnnya, maka tandanya—" Ratih tak melanjutkan ucapannya, terlalu jauh ia berspekulasi.
"Bi Ratna sudah meninggal, sebab Qorin akan memisahkan diri dari manusia, saat seseorang itu sudah meninggal dunia," sahut Alawiyah dengan cepat.
Ratih menyudahi pekerjaannya. Ia bergisik ngeri saat membayangkan hal itu.
"Malam itu, Novita mengantarkan masakan olahan daging, semuanya berbahan daging. Tetapi saat aku membuka tutupnya, tiba-tiba menjelma menjadi wujud Bi Ratna," jelas Alawiyah.
Ratih semakin tak nyaman. Wajahnya tampak berkeringat. "Ada yang tidak beres dengan Novita." Ratih mulai mencurigai gadis tersebut.
"Aku takutnya—" Alawiyah menghentikan ucapannya, saat melihat Rini sang adik ipar datang ke rumahnya, membawa dua orang ponakannya Hanan dan Hana yang super menggemaskan.
"Mbah ...." kedua bocah itu mengejar ke arah Ratih yang baru saja membersihkan tangannya dengan menggunakan air melalui keran.
"Ya," sahut Ratih, kemudian menghampiri cucunya yang duduk di balai bambu teras rumah.
"Apa kabar, Mbak?" sapa Rini, berusaha ramah, meskipun wajahnya sangat muram.
"Alhamdulillh baik, kamu bagaimana?" tanya Alawiyah balik.
"Begitulah ...." sahut Rini, dan jawaban yang cukup ambigu.
Alawiyah dapat melihat jelas, tentang persaan Rini, melalui ekspresi wajahnya, ia sedang mengalami masalah.
Ratih membwa ember berisi sayuran, dan juga cabai yang lumayan banyak.
"Ambil setengah, Rin. Buat lauk di rumah." Ratih menyodorkannya pada puterinya.
"Mbah, kami makan‐ya. Lapar." ucap Hanan, sembari mengusap perutnya.
Alawiyah langsung faham. Ia beranjak bangkit. "Ayo, ikut sama Bibi ke dapur."
Ia membawa kedua bocah tersebut, dan tampaknya Rini sedang ingin berbicara pada ibunya, tanpa harus di dengar olehnya.
Kedua bocah itu langsung menurut, dan mengikuti Alawiyah.
Sedangkan Rini, tampak berbisik pada Ratih, dan di menit berikutnya, ia sesenggukkan, pundaknya terguncang, dan Ratih menenangkannya dengan cara mengusap punggung puterinya.
"Bersabarlah, semua ini hanya ujian, dan kamu pasti bisa melewatinya. Jika sudah tak tahan, maka lepaskan." pesan Ratih, meskipun hatinya cukup berat saat menyampaikan kalimat rerebut.
****
Hari sudah beranjak, Bejo sudah menemui Gina. "Gin, ini mas beliin bumbu pecal. Kamu sepertinya suka dengan pecal."
Bejo menyerahkan plastik mika tersebut kepada wanita idaman lainnya.
Gina tersenyum sumringah, dan wajahnya tampak bahagia.
"Mas Bejo paling bisa, tau aja kesukaanku. Makasih ya—Mas. Makin sayang—Deh."
Gina mengecup pipi Bejo yang gembul, dan bergelayut mesra di pundak pria tersebut.
Aroma perpaduan daun jeruk purut, kebcur, dan gula aren yang gurih, membuat ia tak sabar mencicipinya.
Dengan cekatan ia membuka mika tersebut, dan mencicipinya.
"Enak banget, Mas. Rasanya sangat pas." Gina mengacungkan jempolnya, dan memakannya hinga setengah, tanpa menggunakan campuran air dan sayur mayur.
"Tentu, Dong." balas Bejo, yang mengusap pundak Gina dengan lembut.
"Mas, aku nitip masakan buat juminten ya, bilang aja, Mas yang beli. Dia kan suka krengsengan kambing," Gina teringat akan makanan favorite Juminten, ia menyudahi makannya dan menuju dapur untuk membuat oleh-oleh bagi wanita tersebut.
"Boleh, nanti mas kasih langsung ke Juminten," balas Bejo.
Sementara itu, Sundel Bolong yang baru saja nongkrong di pinggir jalan, tepatnya di pos ronda bersama kuntilanak merasakan hal yang tak biasa.
Ia merasakan getaran dari jiwa Gina, yang mana sudah memakan makanan pemberian Juminten.
"Hem, waktunya bekerja."
Sundel Bolong beranjak dari tempatnya. Ia ingin melesat meninggalkan Kuntilanak putih.
"Sun, mau kemana? Buru-buru amat?"
Kuntilanak Putih menarik rambut gimbal Sundel Bolong yang tampak tergesa-gesa.
"Sialan, lepasin. Aku diburu deadline, kejar setoran." sahut Sundel Bolong, yang menepis tangan Kuntilanak.
"Alamak, baru saja kita nongkrong, sudah kabur saja." omel kuntilanak putih.
"Sorry, Bestie. Aku masih magang. Doakan aku agar naik kelas, dan ditetapkan jabatan menjadi jin Ba'al."
Sundel Bolong segera melesat pergi meninggalkan Kuntilanak Putih yang melongo.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏