Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Tuan Zhao mengangguk hormat berkali-kali saat mendengar pujian dari Pangeran Wen.
"Benar sekali, Yang Mulia. Benda ini memang memiliki keindahan yang tak ternilai harganya," ucapnya dengan sikap ramah.
Melihat transaksi telah selesai dan barang sudah berpindah tangan dengan aman, Tuan Zhao segera memberi isyarat kepada anak buahnya.
"Baiklah, karena urusan sudah selesai, biarkan saya yang mengurus emas-emas ini agar tidak tersebar kemana-mana," serunya dengan nada tegas.
"Kalian berempat! Bawa peti-peti ini masuk ke ruang penyimpanan khusus yang paling aman dan terkunci rapat! Jangan sampai ada satu butir pun yang hilang atau bahkan sedikit tergores!" perintah Tuan Zhao kepada para pegawainya yang sudah siap sedia.
DUNG... DUNG... DUNG...
Empat orang pria kekar bekerja sama mengangkat keenam peti kayu besar yang beratnya luar biasa. Mereka berjalan hati-hati menuju lorong dalam menuju ruang brankas milik Tuan Zhao.
Di sana, emas-emas itu akan disimpan sementara sebelum nantinya dibagi sesuai kesepakatan: 15% masuk ke rekening Tuan Zhao, dan sisanya 85%... tentu saja akan diambil oleh tuannya yang sebenarnya—Shen Yu!
Di sudut ruangan yang agak gelap, Shen Yu menyaksikan tumpukan hartanya dibawa pergi dengan wajah yang sangat puas.
'Silakan disimpan dulu sebentar di sana,' pikirnya dengan senang hati. 'Nanti juga akan masuk ke sakuku lagi. Emas itu kan cuma bersandar sebentar saja.'
Pangeran Wen tampak sangat senang memiliki barang barunya. Ia memandangi bola Galaksi Malam dan Bintang Emas itu berulang kali dengan mata yang berbinar.
"Bagus. Aku sangat puas dengan pelayananmu malam ini, Tuan Zhao," ucap Pangeran Wen sambil berdiri. "Kau boleh mengundurkan diri. Aku akan segera kembali ke istana."
"Terima kasih, Yang Mulia! Hati-hati di jalan!" seru Tuan Zhao sambil membungkuk dalam-dalam.
Pangeran Wen pun pergi meninggalkan tempat itu dengan diiringi pengawal-pengawal tangguhnya, membawa serta harta termahal di kota itu malam ini.
Setelah semua orang penting pergi dan suasana mulai sepi, Shen Yu baru saja berjalan keluar dari persembunyiannya dengan langkah santai.
Tuan Zhao yang melihat Shen Yu langsung tersenyum lebar dan menggosok-gosok tangannya karena kegirangan.
"LUAR BIASA, TUAN SHEN!!" serunya dengan suara pelan namun penuh semangat. "50.000 tael emas!! Aku sampai tidak percaya angka itu benar-benar keluar dari mulut Pangeran Wen!"
Shen Yu tertawa renyah mendengar kegembiraan pria itu.
"Memang rezeki tidak akan tertukar kan, Tuan Zhao?" celetuk Shen Yu dengan nada santai."Jadi sekarang berapa sisa uangku?"
Tuan Zhao langsung menghitung dengan cepat di atas selembar kertas.
"Dari 50.000 tael, dikurangi biaya sewa tempat dan gaji pengawal yang tidak sampai 50 tael... lalu dipotong bagian saya sebanyak 15%..."
Mata Tuan Zhao berbinar kilat.
"Jadi bagian Tuan bersihnya adalah... 47.000 TAEL EMAS!!"
Shen Yu mengangguk-angguk kepalanya, matanya berkilat menunjukkan kecepatannya menghitung matematika.
"Dari hasil lelang pertama dapat 17.000 lalu beli rumah menghabiskan 1.200 jadi. Sekarang dapat tambahan 47.000.."
Shen Yu tersenyum lebar sampai menyentuh telinganya.
62.800 tael emas!
Itu jumlah yang sungguh fantastis!
"Sudah cukup, Tuan Zhao. sekarang aku akan ambil bagian ku."ucap Shen Yu dengan santai.
"Tentu saja, Tuan! Ini semua milikmu! Silakan ambil saja!" jawab Tuan Zhao dengan cepat tanpa sedikit pun ragu.
Malam ini bukan hanya sukses, melainkan sukses besar yang melampaui semua ekspektasi!
Shen Yu hanya tersenyum dan mengangkat tangannya ke udara.
Wush!
Seketika saja, tumpukan emas batangan yang tersusun rapi di atas meja itu lenyap begitu saja, tersedot masuk ke dalam dimensi penyimpanannya dengan aman dan rapi. Tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang berkurang sedikit pun.
"Terima kasih banyak, Tuan Zhao, atas kerja samanya. Kerja bagus," ucap Shen Yu sambil menepuk bahu pria itu.
"Sama-sama, Tuan Shen! Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!" jawab Tuan Zhao sambil membungkuk hormat, merasa sangat beruntung bisa bermitra dengan orang ajaib seperti ini.
Shen Yu pun berpamitan dan berjalan keluar dari ruangan belakang.
Di luar gedung, malam masih gelap dan sepi. Tidak ada seorang pun yang lewat.
Shen Yu tidak langsung pulang dengan berjalan kaki seperti biasa. Ia ingin menikmati sensasi malam ini dan sekaligus menghindari kemungkinan diikuti oleh siapapun.
Hap!
Dengan lompatan ringan namun kuat, tubuhnya melayang naik ke atas atap gedung.
Shen Yu melompat dari satu atap ke atap lainnya dengan gerakan lincah dan anggun seperti burung yang sedang terbang. Angin malam menerpa wajahnya dengan rasa sejuk yang menyegarkan.
Sambil melompat-lompat, ia pun mengubah penampilannya. Jubah merah darah yang mencolok itu perlahan berubah warna dan teksturnya menjadi pakaian berwarna hitam gelap yang biasa dipakai orang awam, sehingga ia tidak akan menarik perhatian jika nantinya turun ke jalan.
Akhirnya, ia mendarat dengan lembut di sebuah gang kecil yang gelap dan sunyi.
Shen Yu melepaskan topeng rubah dari wajahnya. Wajah aslinya yang tampan dan tenang kembali terlihat jelas.
Topeng itu pun masuk kembali ke dalam ruang penyimpanannya, bersembunyi bersama harta karun lainnya.
Sekarang, ia bukan lagi "Tuan Shen" yang misterius dan menakutkan. Ia hanya Shen Yu—seorang tuan muda biasa yang sedang berjalan-jalan di malam hari.
Shen Yu merapikan bajunya sekali lagi, lalu berjalan keluar dari gang kecil itu menuju jalan utama yang mulai diterangi cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk.
"Pulang... pulang ke rumah hangatku,"gumamnya dengan senang hati.
"Mau cari kereta kuda atau cukup jalan kaki saja ya? Perut rasanya agak lapar nih setelah transaksi besar tadi. Mungkin beli jajanan hangat di jalan dulu sebelum tidur."
Hidup memang sangat indah dan penuh kejutan!
Di dalam kereta kuda mewah yang berjalan mulus menuju kediaman kekaisaran, Pangeran Wen duduk bersandar dengan tenang. Di kedua tangannya, ia memegang dengan hati-hati dua buah bola kaca ajaib yang baru saja ia menangkan.
Ia membolak-balik bola pertama di jarinya.
"Bintang Emas..." Butiran emas di dalamnya bergerak-gerak dengan sangat indah, berkilauan bahkan di dalam kegelapan kereta. Memberikan kesan kemewahan dan kekayaan yang melimpah ruah.
Kemudian ia mengambil yang satunya lagi.
"Galaksi Malam..." Warnanya dalam dan gelap, namun memancarkan pesona yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti memegang seluruh rahasia alam semesta.
"Meskipun keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda, tapi jika dipandang bersama justru terasa sangat sempurna," gumam Pangeran Wen pelan sambil tersenyum tipis.
"Pantas saja Tuan Shen bilang itu pasangan sejati. Memang benar adanya."
Ia sama sekali tidak menyesal mengeluarkan uang sebanyak 50.000 tael emas. Baginya, keindahan dan keunikan ini sungguh tak ternilai harganya.
Tidak lama berselang, kereta pun berhenti total. Mereka sudah sampai di kediaman megah milik keluarga kerajaan.
"Yang Mulia, kita sudah sampai di halaman utama," suara pengawal terdengar dari luar, lalu pintu kereta dibuka lebar.
Pangeran Wen turun dengan langkah gagah dan anggun, menyimpan kedua bola itu dengan aman di dalam lengan bajunya sebelum berjalan masuk.
Sepanjang jalan di dalam halaman istana yang luas, para pelayan, kasim, dan dayang yang melihatnya segera membungkuk dalam-dalam dengan penuh rasa hormat.
"Selamat Malam, Yang Mulia Pangeran Kedua!" seru mereka serempak tanpa seorang pun yang berani mengangkat wajah.
Pangeran Wen hanya berjalan lurus tanpa menoleh, namun tiba-tiba seorang kasim tua yang berwajah ramah dan telah bertahun-tahun melayani keluarga kerajaan datang berjalan cepat menyambutnya.
"Ah! Yang Mulia akhirnya pulang juga," ucap sang Kasim Tua dengan senyum hangat.
"Ada apa, Kasim tua? Kenapa kau datang menjemput?" tanya Pangeran Wen dengan suara pelan.
"Kakek dan Nenek Yang Mulia sudah menunggu di Ruang Keluarga Besar sejak tadi malam," jawab Kasim Tua dengan lembut. "Mereka ingin bertemu dan minum teh bersama dengan Yang Mulia."
Wajah Pangeran Wen yang biasanya dingin dan tegas langsung melembut sedikit setelah mendengar nama kakek dan neneknya.
"Oh? Mereka berdua ada di sana?" tanyanya untuk memastikan.
"Benar, Yang Mulia. Mereka sedang duduk bersama menikmati pemandangan taman sambil menunggu cucu kesayangan mereka pulang," jawab Kasim Tua sambil terkekeh hangat.
Mendengar itu, Pangeran Wen pun mempercepat langkahnya.
"Baiklah. Ayo kita kesana. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu yang menarik pada mereka berdua malam ini."
Pangeran Wen berjalan menuju Ruang Keluarga dengan hati yang hangat, siap untuk berkumpul bersama orang-orang yang paling ia cintai dan hormati di dunia ini.
Di dalam Ruang Keluarga Besar yang hangat dan nyaman, suasana terasa sangat damai. Aroma teh wangi dan dupa halus tercium menenangkan hati.
Kakek Wen dan Nenek Wen sedang duduk bersandar di kursi empuk sambil mengobrol santai, namun saat mendengar langkah kaki cucu mereka masuk, keduanya langsung menoleh dengan wajah yang segera berseri-seri penuh kasih sayang.
"Wah... akhirnya cucu kesayangan kita pulang juga!" seru Nenek Wen dengan suara lembut dan hangat. Ia segera menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Ayo, Wen'er, duduk di sini dekat Nenek. Jangan berdiri di situ saja."
Pangeran Wen pun tersenyum tipis—senyum yang sangat berbeda jauh dari wajah dingin dan menakutkannya saat di lelang tadi. Di hadapan kakek dan neneknya, ia hanya seorang cucu yang patuh dan penyayang.
Ia berjalan mendekat dan duduk dengan rapi di antara mereka berdua.
"Maaf membuat Kakek dan Nenek menunggu lama," ucap Pangeran Wen pelan dan penuh hormat.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa," sahut Kakek Wen sambil tertawa renyah, menepuk bahu cucunya. "Kami juga baru saja duduk dan minum teh. Lagipula melihatmu sehat dan gagah seperti ini sudah cukup membuat hati kami senang."
Nenek Wen segera menuangkan secangkir teh hangat ke dalam cangkir keramik milik cucunya.
"Minum dulu nih, hangat-hangat. Malam ini anginnya agak dingin kan di luar?" tanyanya dengan penuh perhatian.
"Tumben sekali malam ini kau pulang agak larut, Wen'er," tanya Kakek Wen dengan rasa penasaran sambil menyesap tehnya. "Biasanya kan kau jarang keluar malam-malam seperti ini kecuali ada urusan penting. Ada acara menarik apa di kota?"
Pangeran Wen memegang cangkir tehnya, lalu ia tersenyum misterius dan menatap kakek-neneknya.
"Sebenarnya... aku baru saja datang dari acara yang sangat menarik, Kek, Nek," jawabnya pelan. "Dan aku membawa sesuatu yang aku yakin... kalian berdua pasti akan sangat suka melihatnya."
Kakek dan Nenek Wen saling berpandangan dengan rasa penasaran.
"Oh? Membawa sesuatu? Barang apa itu nak? Coba tunjukkan!" seru Nenek Wen tidak sabar, matanya berbinar seperti anak kecil yang ingin melihat mainan baru.
Pangeran Wen pun perlahan mengeluarkan kotak kayu kecil dari lengan bajunya, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja di hadapan mereka berdua.
"Silakan lihat sendiri..." bisik Pangeran Wen dengan penuh bangga.
Kakek Wen yang penasaran segera mengulurkan tangannya yang keriput namun tetap halus. Dengan hati-hati, ia membuka penutup kotak kayu itu.