Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Putus Asa
Liu Bei berjalan mendekati Lin Feng. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam, berbeda dengan ekspresi saat berbicara dengan Sima Yanzhen tadi.
"Bagaimana keadaan Nyonya Ji?"
Lin Feng menundukkan kepalanya. "Kurang lebih sama seperti istrimu."
Liu Bei mengepalkan tangannya, Lin Feng melakukan hal yang sama. Dua pria yang sudah bersahabat sejak muda, sekarang sama sama terluka. Bukan hanya luka di tubuh, tapi luka di jiwa yang jauh lebih dalam.
Liu Bei kemudian menatap Lin Han yang masih berdiri mematung dengan tatapan kosong. Seperti jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya, tidak mampu menampung semua kesedihan yang datang bertubi tubi.
Liu Bei mendekat dan menepuk pundak menantunya.
"Menantu... Ayahmu dan Ayah Mertua akan berusaha memulihkan kondisi ibumu dan ibu mertuamu. Dan tentang Liu Mei... Ayah sudah mengirim beberapa tetua dan semua informan yang kedua klan miliki. Jadi kau istirahatlah sekarang."
Lin Han hanya mengangguk pelan, gerakan mekanis tanpa kesadaran.
Ia berbalik dan berjalan masuk ke kamar ibunya, mendekati ranjang, memandangi wajah pucat Ji Lianyue. Ia membungkuk dan mencium tangan ibunya.
"Ibu... baru beberapa hari aku menikah dan bisa berkultivasi lagi. Kini aku mendapatkan banyak pukulan di satu waktu."
Suaranya pelan, seperti berbicara pada diri sendiri.
"Ibu... coba katakan pada putramu ini... benarkah jalan keabadian itu penuh darah?"
Hening.
Tidak ada jawaban dari wanita yang terbaring tidak sadarkan diri.
Lin Han menurunkan tangan ibunya dengan lembut, meletakkannya kembali di sisi tubuhnya, lalu menatap wajah itu sekali lagi.
"Jalan keabadian penuh darah." Ulangnya, kali ini lebih keras. Seperti sebuah kesimpulan yang baru saja ia dapatkan.
Ia keluar dari kamar ibunya. Di lorong, ia melihat ayahnya dan Liu Bei duduk tertunduk di meja, menulis sesuatu di kertas. Mungkin surat untuk dikirim ke informan, mungkin juga permintaan bantuan ke kota lain. Lin Han tidak bertanya, ia terus berjalan hingga tiba di depan pintu kamarnya dan Liu Mei.
Ia membuka pintu dan masuk.
Krieett!
Kamar itu kosong, semuanya masih sama, hanya orangnya yang tidak ada.
"Kenapa aku merasa sangat sesak karena dirimu menghilang."
Lin Han duduk di pinggir ranjang, kepalanya tertunduk, tangannya mengepal di atas lututnya.
"Jika jalan keabadian penuh darah... maka darah itu tidak boleh darahku. Semua yang membasahi jalanku harus darah milik musuhku."
Ia tertawa pelan. Tawa yang tidak memiliki humor sedikit pun, tawa yang lahir dari keputusasaan dan kemarahan yang ditahan.
Lalu ia teringat sesuatu. Suara itu, suara yang membisikkan tawaran saat ia bertarung melawan iblis di gerbang utara. Suara yang mengatakan Lin Han akan membutuhkannya suatu saat nanti. Suara yang mengajarinya kata kata untuk memanggilnya.
Lin Han tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Tidak ada petunjuk, tidak ada saksi mata yang bisa diandalkan, juga tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melacak pelaku. Satu satunya hal yang paling ingin ia ketahui adalah siapa yang berada di balik semua ini. Siapa yang menghancurkan keluarganya, dan siapa yang menculik istrinya.
Ia tersenyum pahit.
"Hamba Patuh Tuan." Bisiknya.
Kata kata itu keluar dari mulutnya seperti bisikan angin. Tapi efeknya langsung terasa. Udara di dalam kamar berubah, menjadi lebih berat, dingin dan gelap.
Deru angin terdengar dari dalam kamar, padahal semua jendela tertutup rapat.
Lalu suara tawa melengking memenuhi ruangan.
"Hahahaaaa! Aku sudah bilang sebelumnya bukan? Kau pasti akan membutuhkanku. Hahahaaaa!"
Tawa itu bergema di dalam kamar, tapi Lin Han yakin tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya, suara itu hanya untuk telinganya.
Lin Han hanya tersenyum pahit. Tidak ada rasa takut ataupun menyesal. Hanya kepasrahan dari seseorang yang sudah kehabisan pilihan.
Suara itu berhenti tertawa dan mulai berbicara dengan nada yang lebih serius.
"Baiklah. Sekarang kau sudah memanggilku. Pasti kau butuh bantuan bukan?"
Lin Han berbicara pelan, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Bisakah kau bantu pulihkan kondisi ibuku... dan ibu mertuaku seperti sebelumnya?"
Suara itu menjawab dengan nada antusias, seperti pedagang yang baru saja melihat pelanggan potensial.
"Tunggu dulu, kita harus membuat kesepakatan di sini. Satu hal yang harus kau tahu... tujuanku mendekatimu karena ada sesuatu yang kuinginkan darimu."
"Katakan." Jawab Lin Han pendek.
Suara itu mulai menjelaskan. "Perlu kau ketahui, kondisi ibu dan ibu mertuamu itu hampir mustahil untuk dipulihkan. Karena penyerangnya menggunakan Jarum Peledak Dantian."
Lin Han menyipitkan matanya. "Kenapa kau bisa tahu? Bahkan ayahku dan aku tidak tahu penyebabnya."
Suara itu terkekeh. "Karena aku melihat sendiri bagaimana mereka semua diserang. Aku ada di sana dan menyaksikan semuanya."
Lin Han berdiri, amarahnya naik, detik berikutnya ia segera duduk kembali. Tidak ada gunanya marah pada suara ini, karena dia bukan pelakunya, dan hanya menonton. Wajar jika ia tidak ikut campur. Dunia kultivasi tidak mengenal pahlawan yang menolong tanpa pamrih.
Suara itu terkekeh lagi, kali ini terdengar puas.
"Bagus, ketenangan mu luar biasa."
"Lanjutkan." Kata Lin Han.
Suara itu melanjutkan. "Aku tidak hanya tahu siapa yang menyerang, dan apa yang digunakan. Aku juga tahu siapa dalangnya, dan di kekuatan mana dia berlindung."
Lin Han membelalakkan matanya. "Aku butuh semuanya, aku ingin informasi itu."
Suara itu tertawa lagi. "Hahahaaa! Tidak hanya informasi... aku bahkan bisa memberimu kekuatan untuk membalas dendam."
Lin Han langsung berdiri. "Benarkah?"
Suara itu tertawa lebih keras, menikmati reaksi Lin Han. Lalu ia berbicara dengan nada yang lebih berat.
"Itu benar, tapi ada syaratnya untuk semua itu."
"Apa syaratnya?" Tanya Lin Han.
Suara itu terdengar seperti tersenyum lebar. "Untuk memulihkan kultivasi, memberikan informasi, lalu membantumu membalaskan dendam pada si pelaku... Aku ingin kau..."
Lin Han menelan ludah, jeda itu terasa sangat lama.
Suara itu akhirnya menyelesaikan kalimatnya..
"Putuskan hubungan dengan siapa pun. Tinggalkan segala hal yang kau miliki saat ini. Dan aku ingin tubuhmu menjadi milikku."
tp gw seneng sm murid sekte, mereka rebutan tp ttp rasional, mereka gak ada niat membunuh( sejauh ini) ..