NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman tak terduga,membuat hati bergetar

Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden apartemen, memantulkan cahaya pada lantai marmer yang mengilap. Suasana yang biasanya kaku dan dingin, perlahan mulai mencair sejak Cantika mulai bekerja di kafe milik Dimas. Arka, yang biasanya sudah berangkat ke kantor sebelum Cantika bangun, kini tampak masih menyesap kopinya di meja makan, menunggu istrinya bersiap.

"Sudah siap?" tanya Arka saat melihat Cantika keluar dari kamar dengan seragam kafenya sebuah apron cokelat yang ia lipat rapi di dalam tasnya, dan kemeja flanel sederhana yang membuatnya tampak jauh lebih muda dari usianya.

"Sudah. Maaf membuat Mas, menunggu lama," jawab Cantika agak canggung.

Perjalanan menuju kafe diisi dengan obrolan ringan. Arka sesekali melirik Cantika yang sedang asyik menceritakan pelanggan-pelanggan unik yang ia temui kemarin. Ada sesuatu pada cara bicara Cantika semangatnya, binar matanya yang mulai mengusik ketenangan Arka. Selama bertahun-tahun, Arka terbiasa dengan perempuan seperti Viona, mantan kekasihnya yang selalu bicara tentang mode, pesta kelas atas, dan ambisi sosial. Bersama Viona, semuanya terasa seperti transaksi bisnis yang dipoles dengan romansa semu. Namun bersama Cantika, segalanya terasa ... mentah dan jujur.

Saat mobil berhenti di depan kafe, Cantika bergegas hendak turun. Namun, sabuk pengamannya mendadak macet. Ia menariknya dengan keras, tapi alat itu justru terkunci semakin rapat.

"Eh, macet," gumam Cantika panik.

"Jangan ditarik paksa, nanti malah makin mengunci," Arka mendekat secara refleks.

Arka condong ke arah Cantika untuk membantu melepaskan sabuk pengaman tersebut. Jarak mereka seketika menguap.

Cantika bisa mencium aroma parfum Arka yang maskulin campuran kayu cendana dan sedikit aroma jeruk sementara Arka bisa merasakan deru napas Cantika yang pendek di ceruk lehernya.

Tangan Arka bekerja dengan telaten pada pengait sabuk pengaman. Namun, saat sabuk itu akhirnya terlepas dengan bunyi *klik*, gerakan mendadak itu membuat tubuh Cantika tersentak ke depan di saat yang bersamaan dengan Arka yang menoleh untuk memastikan Cantika baik-baik saja.

Dan itu terjadi.

Bibir mereka bertemu.

Hanya sebuah sentuhan yang tidak disengaja, sebuah kecupan singkat yang seharusnya bisa berakhir dalam sepersekian detik. Namun, waktu seolah berhenti berputar di dalam kabin mobil yang kedap suara itu. Cantika membeku, matanya membelalak lebar, sementara Arka merasa seolah ada aliran listrik yang menyengat langsung ke pusat sarafnya.

Alih-alih langsung menjauh, ada jeda beberapa detik di mana keduanya seolah terhipnotis oleh kedekatan itu. Arka bisa merasakan kelembutan bibir Cantika yang berbeda dari siapapun yang pernah ia kenal. Bukan rasa dingin dan penuh perhitungan seperti Viona, melainkan sesuatu yang hangat, polos, dan menggetarkan.

Ketika mereka akhirnya menjauh, suasana di dalam mobil menjadi sangat canggung. Wajah Cantika merah padam hingga ke telinga.

"Ma-maaf, Arka. Aku tidak sengaja," gagap Cantika, tangannya gemetar saat membuka pintu mobil.

Arka hanya bisa mengangguk kaku, tenggorokannya terasa kering. "Ya. Masuklah. Jangan terlambat."

Begitu pintu mobil tertutup dan Cantika berlari masuk ke dalam kafe tanpa menoleh lagi, Arka menyandarkan punggungnya ke kursi pengemudi. Ia meletakkan tangan di dadanya. Di balik kemeja mahalnya, jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan irama yang tak beraturan.

"Dug-dug. Dug-dug."

"Apa ini?" bisiknya pada diri sendiri.

Ia teringat Viona. Ia pernah mencium Viona ratusan kali, di berbagai tempat mewah, di bawah lampu kota yang romantis. Namun, jantungnya tidak pernah bereaksi sehebat ini. Bersama Viona, ciuman adalah bagian dari rutinitas, sebuah kewajiban sosial dari sepasang kekasih. Tapi barusan? Itu hanyalah kecelakaan kecil, namun dampaknya merusak seluruh pertahanan logika yang telah Arka bangun selama ini.

### Pergulatan Batin

Sepanjang hari di kantor, Arka tidak bisa berkonsentrasi. Laporan keuangan yang biasanya ia santap dengan cepat kini tampak seperti deretan angka tanpa makna. Bayangan bibir Cantika dan ekspresi terkejut gadis itu terus terbayang di benaknya.

Ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin seorang pria dewasa seperti dia, yang sudah malang melintang di dunia bisnis dan asmara, bisa terpengaruh hanya karena ciuman tak sengaja dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun?

"Kau sakit, Ka?" tanya Dimas yang tiba-tiba masuk ke ruangannya sore itu.

Arka tersentak. "Tidak. Kenapa kau bertanya?"

"Kau menatap layar laptopmu yang mati selama sepuluh menit tanpa berkedip. Itu bukan gayamu," Dimas terkekeh, lalu duduk di sofa. "Tadi aku lihat Cantika di kafe. Dia tampak ... sedikit linglung. Apa kalian bertengkar?"

Arka mengalihkan pandangannya. "Tidak. Kami tidak bertengkar."

"Baguslah. Karena dia bekerja dengan sangat baik. Tapi tadi dia sempat memecahkan dua gelas. Dia bilang dia hanya kurang fokus. Aku pikir ada hubungannya denganmu," goda Dimas.

Arka terdiam. Jadi, Cantika juga terganggu? Pemikiran itu memberikan rasa aneh yang manis di hatinya, namun ia segera menepisnya. "Jangan bicara sembarang, Dimas. Fokus saja pada bisnismu."

Setelah Dimas pergi, Arka berdiri dan berjalan ke jendela besar di kantornya. Ia melihat ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Selama ini, ia selalu menganggap hubungannya dengan Cantika adalah sebuah tanggung jawab yang harus ia pikul karena amanah keluarganya. Ia tidak pernah merencanakan untuk jatuh cinta. Ia bahkan berjanji pada dirinya sendiri bahwa hatinya telah tertutup setelah pernikahannya dengan Viona ditetapkan

Viona adalah ambisi. Viona adalah kesempurnaan fisik. Tapi Cantika... Cantika adalah kehidupan yang ia tidak sadari ia butuhkan. Kegigihannya untuk bekerja, cara dia menolak untuk hanya menjadi beban, dan kehangatan yang terpancar dari setiap tindakannya mulai meruntuhkan tembok es di sekitar hati Arka.

### Pulang ke Rumah

Malam itu, Arka pulang lebih lambat dari biasanya. Ia sengaja mampir ke sasana tinju hanya untuk meluapkan energi berlebih yang membuatnya gelisah sejak pagi. Namun, rasa lelah fisik ternyata tidak mampu menghapus debaran jantungnya.

Saat ia memasuki apartemen, suasana sepi. Lampu ruang tamu hanya menyala temaram. Ia melihat Cantika tertidur di sofa dengan sebuah buku panduan membuat kopi di pangkuannya. Rupanya gadis itu menunggunya pulang sambil belajar.

Arka mendekat dengan langkah pelan. Dalam tidurnya, Cantika tampak sangat tenang. Wajahnya yang polos tanpa riasan berlebihan terlihat jauh lebih cantik di mata Arka dibandingkan para model yang biasa ia temui di pesta-pesta bisnis.

Arka berlutut di samping sofa. Ia memperhatikan setiap inci wajah Cantika. Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang bangir, dan ... bibirnya. Arka teringat kembali kejadian tadi pagi. Jantungnya kembali bereaksi. Denyutnya terasa hingga ke ujung jari.

"Kenapa kau harus masuk ke hidupku dengan cara seperti ini?" gumam Arka sangat pelan.

Tiba-tiba, Cantika bergerak. Matanya perlahan terbuka. Ia tampak terkejut melihat Arka berada begitu dekat dengannya.

"Mas Arka? Kamu sudah pulang?" suaranya serak khas orang bangun tidur.

Arka segera berdiri, berusaha mengembalikan kewibawaannya. "Ya. Baru saja. Kenapa tidur di sini? Kau bisa sakit leher."

Cantika membetulkan posisinya, wajahnya kembali merona teringat kejadian di mobil tadi pagi. "Aku ... aku hanya menunggumu. Ada sesuatu yang ingin kukatakan."

"Tentang apa?"

Cantika berdiri, menatap Arka dengan serius. "Tentang tadi pagi. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud ... itu benar-benar kecelakaan."

Arka menatap mata Cantika. Ia melihat kejujuran di sana, tapi ia juga melihat rasa takut. Rasa takut bahwa kejadian itu akan mengubah kesepakatan mereka. Bahwa mungkin ia akan marah.

"Aku tahu," ucap Arka singkat.

"Kamu tidak marah?"

Arka melangkah satu tindak lebih dekat. "Kenapa aku harus marah?"

"Karena ... karena kita tidak saling mencintai. Dan aku tahu kau masih memikirkan ... maksudku, Mas punya Mbak viona,tunangan Mas." Cantika menunduk,

Arka terdiam lama. Ia merenungkan kata-kata Cantika. (Tidak saling mencintai.) Benarkah? Ataukah itu hanya label yang ia pasang agar ia tidak merasa bersalah jika suatu saat nanti ia harus pergi?

"Cantika," panggil Arka dengan nada suara yang lebih lembut dari biasanya.

Cantika mendongak.

"Jangan meminta maaf untuk sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak menyesalinya," ucap Arka jujur.

Mata Cantika membelalak. "Maksudmu?"

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangannya, menyisipkan sehelai rambut yang menutupi wajah Cantika ke belakang telinganya. Sentuhan itu ringan, namun bagi Cantika, itu terasa seperti ledakan.

"Tidurlah. Besok kau harus bekerja lagi," kata Arka sebelum berbalik dan berjalan menuju kamarnya.

Di dalam kamarnya, Arka menutup pintu dan bersandar di sana. Ia menghela napas panjang. Pengakuan itu keluar begitu saja. Ia tidak menyesalinya. Ciuman itu, debaran jantung itu, rasa hangat itu ... ia menginginkannya lagi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka menyadari bahwa cinta bukanlah sebuah transaksi. Cinta tidak butuh persetujuan logika. Cinta datang seperti pencuri di malam hari diam-diam, tak terduga, dan mengubah segalanya.

Viona adalah masa lalu yang penuh dengan tuntutan. Cantika adalah masa depan yang penuh dengan kemungkinan. Dan malam itu, Arka tahu bahwa sangkar emas yang ia bangun bukan lagi untuk mengurung Cantika, melainkan menjadi tempat di mana ia ingin gadis itu tetap tinggal bukan karena terpaksa, tapi karena ia akan membuat gadis itu mencintainya sehebat ia mulai mencintai gadis itu.

Arka meletakkan tangan di dadanya sekali lagi. Jantungnya masih berdetak kuat. Dan kali ini, ia tidak mencoba menghentikannya. Ia membiarkan irama itu menuntunnya masuk ke dalam tidur, dengan bayangan senyum Cantika sebagai pengantarnya. Dunia Arka yang tadinya hanya berwarna hitam dan putih, kini mulai dipenuhi dengan warna-warna baru yang dibawa oleh kegigihan dan kelembutan seorang perempuan berusia dua puluh tahun yang ia panggil istri.

1
Nadia Zalfa
double up thorr. ..suka sama ceritanya cantika😍
MayAyunda: diusahakan kak🙏
total 1 replies
Lovelynzeaa🌷
lanjut thor, up yg bnyk
MayAyunda: di usahakan kak ..🙏🙏
total 1 replies
Alex
semoga segera kebongkar kebusukan mu viona dan Cantika gak sedih lagi arka gak bngung lagi 🥰
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!