Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Malam merayap perlahan menyelimuti gedung RSUP. Lampu-lampu koridor di lantai tiga mulai diredupkan oleh petugas, menyisakan cahaya remang yang memberikan kesan sunyi sekaligus menakutkan. Agus duduk di tepi kursi besi, tangannya menggenggam erat kayu penyangganya hingga guratan urat-urat di tangannya yang kasar terlihat jelas. Di dalam sakunya, sisa uang tiga ratus ribu rupiah ia simpan dengan sangat hati-hati, terbungkus rapi di dalam amplop cokelat. Uang itu terasa seperti beban yang mengingatkannya akan kebohongannya pada ibunya.
Pukul delapan malam lewat sedikit. Agus melirik ke arah pintu ruang ICU. Ibu agus sedang duduk bersandar di dekat pintu kaca, kepalanya tertunduk, mungkin sedang hanyut dalam doa atau kelelahan yang luar biasa. Lukman baru saja datang sepuluh menit yang lalu, membawa aroma sabun yang segar, kontras dengan bau debu semen yang masih samar-samar menempel di baju Agus.
"Gus, yakin mau jalan sekarang?" bisik Lukman sambil mendekati Agus. Wajah Lukman penuh keraguan. Sebagai orang yang tahu rahasia Agus, ia merasa ngeri membayangkan temannya yang pincang itu harus memikul beban di pelabuhan.
Agus mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah ibunya untuk memastikan wanita itu tidak sedang memperhatikan mereka. "Ibu, Agus berangkat sekarang. Lukman sudah di sini jaga Ibu sama Bapak. Ingat ya, Bu, Agus cuma bagian catat barang. Ibu jangan khawatir."
Ibu agus mendongak, matanya yang sembap menatap Agus dengan tatapan yang sangat berat untuk dilepaskan. "Hati-hati, Le. Jangan dipaksakan kalau kakimu terasa panas. Pulanglah sebelum subuh."
"Iya, Bu. Assalamu’alaikum," pamit Agus.
Agus mulai melangkah meninggalkan koridor itu. Setiap ketukan kayu penyangganya di atas lantai keramik seolah-olah adalah detak jantungnya yang berpacu kencang. Ia melewati lift dan memilih turun melalui tangga darurat di ujung lorong agar tidak terlalu banyak berpapasan dengan orang. Turun tangga dengan satu kaki yang cedera adalah siksaan yang luar biasa. Agus harus berpegangan pada besi pegangan tangga yang dingin, sementara kaki kirinya ia gantungkan dengan kaku. Rasa nyeri di pergelangan kakinya kini bukan lagi sekadar denyutan, melainkan rasa terbakar yang seolah-olah sedang menguliti dagingnya dari dalam.
Sesampainya di parkiran, udara malam yang dingin langsung menusuk kulitnya. Agus segera menghidupkan motor tuanya. Suara knalpot yang kasar menderu di tengah sunyinya parkiran rumah sakit. Ia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah untuk mengisi bensin eceran di depan gerbang rumah sakit agar perjalanannya tidak terhambat.
Perjalanan menuju pelabuhan lama memakan waktu hampir satu jam. Semakin ia meninggalkan pusat kota yang terang benderang, suasana menjadi semakin gelap dan sunyi. Jalanan menuju pesisir itu penuh dengan lubang besar dan debu jalanan yang terbang tertiup angin laut. Motor Agus bergetar hebat saat melewati jalanan yang rusak, dan setiap guncangan itu adalah hantaman pada kakinya yang bengkak. Agus menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan air mata yang hampir jatuh bukan karena sedih, tapi karena menahan rasa sakit fisik yang luar biasa.
Ia melihat ke arah langit. Tidak ada bintang malam ini, hanya hamparan awan hitam yang menggantung rendah. Agus merasa dirinya seperti butiran debu di tengah kegelapan ini sedang mempertaruhkan sisa kesehatannya demi uang lima ratus ribu rupiah. Ia teringat Rahma. Saat ini, mungkin Rahma sedang duduk di ruang tamunya yang nyaman, atau sedang membaca buku sebelum tidur. Rahma tidak akan pernah membayangkan bahwa laki-laki yang ia sayangi sedang memacu motor butut menuju kawasan pelabuhan yang dikenal sebagai sarang kriminal dan kerja paksa.
Pukul sepuluh kurang sepuluh menit. Agus sampai di kawasan pelabuhan lama. Aroma laut yang amis bercampur dengan bau karat besi dan solar yang menyengat langsung menyerbu indra penciumannya. Bangunan-bangunan gudang tua yang dindingnya sudah terkelupas berdiri tegak seperti raksasa yang tertidur. Hanya ada beberapa lampu merkuri yang menyala, berkedip-kedip seolah akan padam.
Agus memarkirkan motornya di balik tumpukan kontainer berkarat, sesuai instruksi Bang Kumis. Ia mengambil kayu penyangganya, turun dari motor dengan napas yang tersengal. Langkahnya terseret di atas tanah yang bercampur kerikil dan oli bekas.
Di depan sebuah gudang besar bernomor Blok C, sekelompok pria bertubuh besar sedang berkumpul. Sebagian besar dari mereka tidak mengenakan baju, memperlihatkan tato dan otot yang menonjol. Bau rokok kretek dan suara tawa kasar mereka memenuhi udara yang lembap. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria dengan kumis melintang yang sangat tebal dan mengenakan topi pudar. Itulah Bang Kumis.
"Nah, ini dia kuli pincang kita!" teriak Bang Kumis saat melihat kehadiran Agus. Para pria lain menoleh dan tertawa mengejek. "Kamu beneran mau kerja, Gus? Atau cuma mau minta sedekah di sini?"
Agus berdiri tegak meskipun tubuhnya sedikit limbung. Ia menatap Bang Kumis dengan tatapan yang tajam. "Saya ke sini buat kerja, Bang. Bukan buat bercanda."
Bang Kumis mendekat, mengembuskan asap rokoknya tepat ke wajah Agus. "Gudang ini isinya suku cadang mesin kapal dari luar. Barangnya berat, kardusnya kasar. Tugasmu adalah pindahkan barang dari dalam gudang ke bak truk itu dalam waktu dua jam sebelum patroli laut lewat jam satu pagi nanti. Kalau kamu tidak bisa cepat, kamu tidak dapat upah. Paham?"
Agus melirik ke arah truk fuso yang sudah menunggu dengan pintu belakang terbuka. Di dalam gudang, tumpukan peti kayu dan kardus besar terlihat menumpuk hingga langit-langit.
"Paham, Bang," jawab Agus singkat.
"Satu lagi," Bang Kumis menekan pundak Agus yang cedera hingga Agus hampir tersungkur. "Jangan sekali-kali kamu buka isi kardusnya. Dan jangan sekali-kali kamu bicara sama siapa pun soal apa yang kamu lihat malam ini. Kalau kamu melanggar, bukan cuma kakimu yang hilang, nyawamu juga."
Ancaman itu membuat Agus menelan ludah. Ia tahu ini bukan pekerjaan legal. Ini adalah bisnis gelap yang mempertaruhkan nyawa. Namun, ia teringat wajah ayahnya yang terpasang ventilator dan uang dua juta rupiah yang harus ia kembalikan pada Rahma.
"Mana barangnya? Saya mulai sekarang," ucap Agus tanpa rasa takut lagi. Rasa takutnya sudah kalah oleh kemiskinannya.
Agus meletakkan kayu penyangganya di pojok gudang. Ia harus membuktikan bahwa ia masih bisa berguna meskipun kakinya rusak. Ia berjalan mendekati tumpukan kardus pertama. Ia menumpukan seluruh kekuatannya pada kaki kanannya yang sehat, sementara kaki kirinya hanya ia gunakan untuk menjaga keseimbangan.
Saat ia memikul kardus pertama yang ternyata sangat berat mungkin lebih dari empat puluh kilo, pergelangan kakinya mengeluarkan bunyi krak yang pelan namun sangat terasa di telinga Agus. Rasa sakit yang mematikan saraf seketika menjalar, tapi Agus tidak melepaskan kardusnya. Ia berjalan perlahan, menyeret kaki kirinya di atas lantai semen yang dingin, menuju bak truk.
Satu kardus.
Agus kembali ke dalam gudang yang pengap dan gelap. Di bawah lampu bohlam yang berayun ditiup angin laut, ia terus bergerak seperti robot. Keringat mulai membasahi kaos singletnya, melunturkan debu-debu semen yang masih menempel di pori-porinya. Pundaknya yang belum sembuh benar kembali terasa panas terbakar oleh gesekan peti kayu yang kasar.
Setiap langkah Agus adalah siksaan. Ia merasa seolah-olah sedang berjalan di atas kawat berduri yang dialiri listrik. Namun, di dalam kepalanya, ia hanya melihat satu gambaran fajar yang akan datang, di mana ia akan menggenggam uang lima ratus ribu rupiah di tangannya yang kasar, dan ia bisa berdiri sedikit lebih tegak di hadapan Nor Rahma esok pagi, meskipun harus dibayar dengan kehancuran fisiknya sendiri.
Di kejauhan, suara ombak yang menghantam dermaga terdengar seperti detak jam yang menghitung sisa waktunya. Malam baru saja dimulai, dan Agus baru saja memasuki neraka yang ia pilih sendiri demi martabat yang tak seberapa.