Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — Kota Baru, Luka Lama
Langit Sydney menyambut Bella dengan warna abu-abu lembut saat pesawat yang membawanya akhirnya mendarat. Dari balik jendela kecil di samping kursinya, deretan lampu kota tampak seperti garis-garis cahaya yang berkilau di bawah gerimis tipis. Pemandangan itu seharusnya terasa indah, namun yang Bella rasakan justru kelelahan yang menumpuk di tubuh dan hatinya.
Sepanjang penerbangan, ia hampir tidak benar-benar tidur.
Setiap kali memejamkan mata, bayangan Dominic di terminal kembali muncul.
Tatapan mata itu.
Nada suara yang nyaris memohon.
Dan wajah pria itu saat Bella mengatakan bahwa ia harus lebih mencintai dirinya sendiri.
Bella memejamkan mata sesaat, lalu tanpa sadar tangannya kembali bergerak menyentuh perutnya.
Di sanalah ia menemukan alasan untuk tetap kuat.
Bukan untuk masa lalu.
Bukan untuk Dominic.
Tapi untuk kehidupan kecil yang kini sepenuhnya bergantung padanya.
Saat keluar dari area kedatangan, udara dingin Sydney langsung menyambut wajahnya. Kota ini terasa berbeda—lebih asing, lebih besar, dan pada saat yang sama memberinya ruang untuk bernapas.
Di tengah keramaian bandara, seorang perempuan dengan mantel cokelat muda melambaikan tangan.
“Bella!”
Bella langsung mengenali wajah itu.
Maya.
Teman kuliahnya dulu.
Wajah hangat yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui.
Senyum Bella akhirnya muncul, kecil namun tulus.
“Maya…”
Begitu mereka berhadapan, Maya langsung memeluknya erat.
“Ya Tuhan, kamu kurusan banget.”
Bella tertawa kecil, meski matanya mulai terasa panas.
Pelukan itu sederhana, namun cukup membuat sesuatu dalam dirinya sedikit mengendur.
Setidaknya di kota ini, ia tidak sepenuhnya sendiri.
—
Apartemen Maya terletak tidak jauh dari pusat kota, di sebuah gedung modern dengan balkon kecil yang menghadap jalan raya dan deretan pohon mapel di pinggir trotoar. Tempat itu tidak terlalu besar, namun terasa hangat dan nyaman.
Bella duduk di sofa sambil memeluk bantal kecil, sementara Maya meletakkan secangkir teh hangat di meja.
“Aku nggak akan paksa kamu cerita sekarang,” ujar Maya lembut sambil duduk di seberangnya. “Tapi aku bisa lihat ada sesuatu yang berat banget kamu bawa.”
Bella menunduk.
Tangannya kembali bergerak ke perutnya.
Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Maya.
Tatapan perempuan itu berubah.
Matanya melebar sedikit, lalu kembali menatap Bella dengan hati-hati.
“Bella…”
Suara Maya terdengar pelan.
Bella mengangkat wajah.
Air matanya hampir jatuh.
“Aku hamil.”
Ruangan mendadak sunyi.
Maya terdiam cukup lama, memproses kalimat itu.
Lalu perlahan ia menghela napas dan berpindah duduk di samping Bella.
“Kamu datang sendirian?”
Bella mengangguk.
“Suami kamu tahu?”
Untuk sesaat Bella memejamkan mata.
Suara Dominic di bandara kembali terngiang.
Jangan pergi.
Bella menggeleng pelan.
“Belum.”
Maya menatapnya lama, lalu menggenggam tangannya.
“Kalau begitu, mulai sekarang kamu tinggal di sini dulu.”
Bella menoleh.
Maya tersenyum lembut.
“Kamu nggak sendirian.”
Dan kalimat itu, sesederhana apa pun, membuat air mata Bella akhirnya jatuh.
—
Di kota yang lain, Dominic kembali pulang ke rumah yang kosong.
Langkahnya terasa berat saat membuka pintu.
Suara pintu yang menutup di belakangnya menggema terlalu keras di ruang yang sunyi.
Ia berdiri beberapa saat di ambang pintu, memandangi ruang tengah yang tak berubah.
Namun entah kenapa, semuanya terasa berbeda.
Sofa tempat Bella biasa duduk sambil membaca.
Selimut kecil yang sering dipakainya saat tertidur.
Aroma lavender samar yang masih tertinggal di udara.
Semua hal kecil itu kini terasa seperti siksaan.
Dominic menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar membiarkan dirinya tenggelam dalam penyesalan.
Tangannya meremas rambut sendiri kasar.
Ia terlambat.
Bella benar-benar pergi.
Dan yang paling menyakitkan, ia tidak tahu kapan atau apakah wanita itu akan kembali.
Ponselnya bergetar.
Nama Diana muncul di layar.
Tatapan Dominic langsung mengeras.
Ia membiarkannya berdering beberapa kali sebelum akhirnya mengangkat.
“Apa lagi?”
Suara Diana terdengar santai seperti biasa.
“Kamu di rumah?”
Dominic tertawa pendek.
Tawa yang nyaris terdengar dingin.
“Bukan urusan kamu.”
“Dom…”
“Aku udah bilang, jangan hubungi aku lagi.”
Nada suaranya kali ini jauh lebih tajam.
Diana terdiam beberapa detik.
Lalu suaranya berubah sedikit.
“Jadi kamu serius pilih dia?”
Kalimat itu membuat Dominic menutup mata.
“Aku nggak pernah berhenti memilih dia.”
Sunyi.
Jawaban itu bahkan membuat dirinya sendiri terhenyak.
Karena untuk pertama kalinya ia mengakuinya dengan jelas.
Ia memang selalu mencintai Bella.
Namun kebodohannya, egonya, dan bayang-bayang masa lalu telah merusak semuanya.
“Kalau begitu kenapa dia pergi?” suara Diana terdengar hampir mengejek.
Dominic membuka mata.
Tatapannya dingin.
“Karena aku brengsek.”
Lalu telepon itu diputus.
Tangannya mengepal.
Rasa marah kini tidak lagi tertuju pada Bella.
Atau Diana.
Melainkan pada dirinya sendiri.
—
Hari-hari pertama Bella di Sydney berjalan lambat.
Maya membantu mengurus segala kebutuhannya, dari tempat tinggal sementara hingga membuat janji kontrol ke dokter kandungan.
Di sela-sela itu, Bella mulai mencoba bekerja dari rumah, membantu Maya di penerbit tempat sahabatnya bekerja sebagai editor.
Rutinitas kecil itu perlahan memberinya napas.
Namun malam selalu menjadi waktu yang paling sulit.
Karena setiap kali suasana hening, pikirannya kembali pada Dominic.
Ia membenci kenyataan bahwa di tengah semua luka, pria itu masih ada di dalam hatinya.
Di malam ketiga, Bella berdiri di balkon apartemen sambil memandang lampu-lampu kota.
Tangannya menyentuh perut yang kini terasa sedikit lebih berarti.
“Aku akan kuat,” bisiknya.
Namun di saat yang sama, jauh di dalam dirinya, ada bagian kecil yang bertanya…
Sampai kapan ia bisa terus lari dari seseorang yang pernah menjadi seluruh dunianya?
END BAB 18 😭✨
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹