NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebih sederhana dan sepi dibandingkan kantor polisi yang cuma berjarak sekitar sepuluh meter di sebelahnya.

Budi Santoso masuk ke lobi gedung pos kehutanan. Hanya ada beberapa petugas di meja resepsionis, kebanyakan lagi main kartu domino atau ngobrol santai. Dia langsung naik ke lantai dua.

Kepala Pos nggak ada, jadi Budi cuma bisa ketuk pintu kantor Wakil Kepala Pos.

“Masuk!”

Dia buka pintu. Di dalam ada seorang bapak-bapak paruh baya agak gemuk. Kantung mata tebal, kelihatan kurang tidur. Dia cuma melirik sekilas ke Budi lalu balik fokus ke dokumen di meja.

“Ada apa?” tanyanya datar.

Budi agak sebal diabaikan, tapi dia paksa senyum. “Selamat siang, Pak. Saya adik ipar Mas Joko Santoso. Dia kemarin ke sini bareng Kepala Seksi buat cek kondisi hutan, tapi sampai sekarang belum pulang. Adik ipar saya nyuruh saya ke sini buat ngecek. Bapak tahu mereka ke mana?”

Bapak itu akhirnya angkat kepala, ekspresinya berubah kaget. “Kepala Seksi Hadi sama Joko belum balik? Tunggu bentar, saya telepon dulu.”

Dia berdiri, ambil HP, dan mulai nelpon sana-sini. Keringat mulai muncul di dahinya semakin banyak. Beberapa menit kemudian, dia ambruk kembali ke kursi dengan wajah pucat.

“Kemarin mereka ke mana, Pak?” tanya Budi penasaran.

“Kemarin siang Kepala Seksi Hadi, Pak Camat setempat, Kepala Pos, sama Joko naik ke bukit buat inspeksi setelah makan siang. Seharusnya kemarin sore sudah balik. Kamu udah telepon Joko? Mungkin dia ke tempat lain?” tanyanya gelisah.

Budi langsung merasa nggak enak. Ini pertanda buruk. Dia jawab cepat, “Adik ipar saya udah nelpon berkali-kali, saya juga tadi pagi ke Dinas Kehutanan di Palangkaraya. Atasannya bilang mereka belum balik, mungkin masih di atas bukit. Yang paling penting sekarang minta bantuan polisi!”

“Iya, iya betul!” Bapak itu mengangguk panik. Kalau sampai atasan-atasan ini kenapa-kenapa, dia bisa kena sanksi berat, bahkan dipecat. Dia buru-buru berdiri dan nelpon lagi.

“Halo! Pak Kapolsek? Ini Eko dari pos kehutanan... Iya, iya... Saya ke sana sekarang... Susah jelasin lewat telepon... Saya datang langsung!” Dia tutup telepon dan bilang ke Budi, “Ayo, ikut saya ke kantor polisi!”

Budi dan Wakil Kepala Pos langsung bergegas ke kantor polisi terdekat.

Sepuluh menit kemudian, mereka sudah di ruang Kapolsek. Wakil Kepala Pos jelasin ulang semuanya. Kapolsek langsung kaget dan berdiri.

“Kok baru sekarang lapor? Ini hampir 24 jam!”

Melihat muka Eko yang muram, Kapolsek melambai tangan. “Sudah, saya telepon PA dulu.”

Dia keluar ruangan sambil nelpon. Pas balik, mukanya serius banget.

“Kalian berdua balik dulu ke pos, tunggu di sana. Saya suruh tim naik ke bukit sekarang. Pasti ketemu.”

“Terima kasih banyak, Pak Kapolsek!” Eko mengangguk hormat dan siap pulang.

Budi sadar ini bukan urusannya, tapi kalau dia nggak ikut langsung, misi nggak bakal selesai. Dia buru-buru bilang, “Pak Kapolsek, saya juga mau ikut naik!”

“Itu bahaya di atas bukit, kami nggak bisa jamin keselamatan kamu. Tunggu aja di sini ya,” tolak Kapolsek sambil cemberut.

“Saya tahu bahaya, Pak. Tapi itu kakak ipar saya. Gimana saya bisa diem aja nunggu di sini? Saya pernah ikut latihan silat dan olahraga rutin. Saya janji nggak bakal jadi beban,” kata Budi sambil berusaha kelihatan cemas.

Kapolsek memandang Budi dari atas ke bawah. Badannya tinggi, berotot, kelihatan rajin olahraga. Mungkin bisa bantu di lapangan.

“Oke. Tapi harus nurut perintah!”

“Janji, Pak!” Budi langsung setuju.

Kapolsek nelpon lagi. “Kapten Andi, minta tiga orang langsung lapor ke ruang saya sekarang!”

Tak lama, seorang pria paruh baya berkulit sawo matang masuk. “Pak Kapolsek panggil?”

“Iya, tunda dulu tugas lain. Ada masalah lebih urgent. Beberapa pejabat kota sama Camat hilang di atas bukit. Tim kamu langsung cari sekarang!”

Muka pria itu langsung serius. “Siap, Pak. Ada lagi?”

“Ini Budi Santoso, keluarga salah satu korban. Dia mau ikut, ajak dia.”

Kapten Andi melirik Budi sekilas. “Siap, Pak. Kami berangkat sekarang.”

Dia lalu menoleh ke Budi dengan nada dingin, “Ikut saya!”

Mereka keluar ruangan. Di koridor sudah ada tiga orang menunggu: dua cowok dan satu cewek, semuanya kelihatan di bawah umur 30.

Mata Budi otomatis tertuju ke cewek itu. Dia pakai seragam polisi lengan pendek, pinggang ramping, dada penuh, kaki panjang dibalut stoking tipis di bawah rok seragam. Benar-benar memikat, seperti buah matang yang siap dipetik.

“Fetish seragam nih kayanya,” pikir Budi sambil buru-buru alihkan pandangan ke dua cowok. Satu cowok umur sekitar 30, tinggi, muka penuh bekas jerawat, potongan cepak. Kalau nggak pakai seragam, bisa disangka preman. Yang satu lagi muka polos, kelihatan baru lulus.

“Kapten, hari ini ada apa sih sampe urgent gini?” tanya si cepak dengan nada santai, nggak terlalu hormat.

“Nanti di jalan cerita. Semua ganti seragam lengan panjang, siapin senjata. Kita naik bukit. Si Aji, ambilin seragam buat Budi juga, dia ikut,” perintah Kapten Andi ke polisi muda.

“Siap, Kapten!” Aji langsung jawab, lalu ke Budi, “Ikut saya. Kayaknya ukuran kita mirip. Nggak keberatan pakai seragam saya kan?”

“Nggak masalah. Makasih!” Budi senyum. “Kamu baru lulus tes CPNS tahun ini ya, Mas Aji?”

Aji ketawa. “Bukan, Mas. Saya lulusan Akpol. Masuk sini pake jalur koneksi buat tim Sabhara. Tapi kalau performa bagus, bisa pindah unit. Pokoknya kerja dulu lah!”

“Lumayan tuh, setidaknya tunjangannya oke.”

“Cukup buat hidup aja sih,” jawab Aji sambil ambil dua set seragam lengan panjang dan sepatu bot dari loker. Cuaca akhir-akhir ini lembab, seragamnya agak bau apek, tapi masih bersih.

Pas Budi selesai ganti, si cepak masuk dan nepuk kepala Budi. “Bisa jadi polisi juga nih. Dari mana asalnya, Nak? Kok ikut-ikutan naik bukit?”

Budi agak kesal, tapi diam-diam geser kepala sambil senyum. “Kakak ipar saya hilang di atas bukit. Saya ikut cari. Nama saya Budi. Panggil aja Mas Budi. Kamu siapa?”

“Panggil Bang Zain aja,” katanya sambil nyengir. “Jangan kesel ya, kebiasaan lama. Jadi kakak iparmu siapa?”

“Kerja di kehutanan,” jawab Budi singkat, lalu alihkan ke Aji. “Mas Aji, bisa kasih senjata buat bela diri nggak? Katanya di hutan bahaya banget.”

Aji geleng kepala. “Pistol nggak bisa, melanggar aturan!”

Budi cepat tanya lagi, “Pisau aja gimana? Nggak mungkin saya masuk hutan tanpa apa-apa kan?”

Aji keluar sebentar nanya Kapten, lalu balik. “Pistol nggak bisa, tapi pisau boleh. Kami banyak sitaan. Ikut ke gudang.”

Mereka ke gudang di ujung koridor. Aji buka kotak besar. Isinya macam-macam: golok, parang, pisau dapur, belati, pisau lipat, sampai golok besar.

“Pilih aja!” kata Aji murah hati.

Budi mikir. Ada ular, rotan, ranting tebal di bukit. Pisau kecil pasti nggak guna. Golok terlalu berat buat dia. Akhirnya dia ambil parang panjang yang biasa buat motong rumput dan kayu.

Dia mengayun-ayunkan parang itu beberapa kali. Rasanya pas di tangan.

Diam-diam dia berbisik, “Identifikasi.”

[Parang Tajam]

[Bahan: Baja Karbon]

[Kelangkaan: Putih]

[Berat: 2,3 kg]

[Ketajaman: 12–16]

[Kebutuhan: Kekuatan 9]

[Keterangan]

Senjata pertanian modern. Cocok untuk menebas rumput, memotong kayu, dan membunuh jika perlu.

Kualitas standar, tetapi bilahnya kuat. Ideal untuk tebasan dan potongan cepat.

“Nggak buruk. Lebih tajam dari golok dapur di kontrakan,” pikir Budi. “Yang ini aja.”

“Ayo, Kapten nunggu!” kata Aji.

Mereka keluar ke parkiran. Semua sudah di dalam mobil patroli. Budi masuk cepat. Mobil langsung jalan menuju pinggiran kota.

Setelah beberapa saat, mereka keluar jalan raya, belok ke jalan kecil. Kanan-kiri sawah dan ladang yang sekarang ditumbuhi rumput liar setinggi dada orang dewasa. Angin bertiup, kelihatan seperti lautan hijau bergoyang.

“Ini ladang kan?” tanya Budi ragu.

Polwan yang duduk di depan ikut kaget. “Iya, tapi sepuluh hari lalu pas saya lewat, rumputnya nggak segila ini. Kalau dibiarkan, bentar lagi jalan ditutup rumput.”

“Kalau ladang aja udah begini, di hutan pasti lebih parah. Kapten yakin mau naik? Nanti kita ikut hilang malah,” canda Bang Zain.

“Iya, katanya sekarang bahaya banget di bukit,” tambah polwan.

“Kalau berani, lapor langsung ke Kapolsek. Kenapa bilang ke saya? Saya cuma jalankan perintah,” jawab Kapten Andi muram.

Dia tahu betul kasus orang hilang di sekitar Bukit Muara meningkat drastis. Sudah lima orang hilang, kebanyakan warga desa dekat bukit. Tapi perintah tetaplah perintah.

“Saya rasa nggak bakal separah itu, kan? Kita bawa senjata semua. Kalau ketemu babi hutan aja masih bisa handle,” kata Budi mencoba redakan suasana.

Kalau terus bahas bahaya, bisa-bisa tim balik lagi ke kantor. Apalagi sekarang mereka tahu ada keluarga korban ikut.

“Sudah, stop bahas ini. Kita polisi. Kalau setiap ada kesulitan langsung mundur, nanti diketawain orang. Kita naik bukit, kalau terlalu bahaya ya balik. Minimal kita udah usaha. Gimana, Budi?” tanya Kapten.

“Setuju, Pak. Kalau saya yang hilang, saya yakin kakak ipar saya juga bakal cari saya,” jawab Budi pelan. Ini satu-satunya pilihan sekarang. Kalau misi terlalu bahaya, ya terpaksa gagal. Meski EXP-nya ilang banyak, tapi nyawa lebih penting.

Setengah jam kemudian, mobil masuk desa terpencil dan berhenti. Budi turun, pandang ke depan. Bukit di hadapan hamparan hijau tua pekat, tingginya nggak sampai 200 meter, tapi cukup bikin deg-degan.

“Sekarang hampir jam 11. Makan siang dulu di warung pinggir jalan, satu jam lagi kita berangkat naik bukit!”

Kapten Andi lihat jam tangan, lalu berjalan ke warung sederhana di pinggir desa.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Tekan dong... 😁
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Era gede²... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!