NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Pertama

Perjalanan menuju rumah Mbah Jaya di ujung desa terasa berbeda sore itu. Langit berwarna jingga kemerahan, seperti terbakar dari ufuk barat. Awan-awan tebal bergerak lambat, seolah enggan meninggalkan tempat mereka bergantung.

Angin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering di sepanjang jalan setapak yang tidak bisa dilalui mobil. Pohon-pohon di pinggir hutan kecil bergoyang dengan ritme yang tidak wajar, seperti sedang menari mengikuti irama yang tidak bisa didengar telinga manusia.

Rafiq berjalan sendirian. Fortuner hitamnya ia parkir di tepi jalan raya, sekitar setengah kilometer dari sini. Ia tidak ingin ada yang melihat mobil itu terlalu dekat dengan rumah Mbah Jaya. Tidak ingin ada yang bertanya. Tidak ingin ada yang tahu.

Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah botol kecil—botol kaca gelap dengan tutup hitam. Isinya cairan pekat berwarna hitam kemerahan, bergerak pelan di dalam botol seperti ada kehidupan di dalamnya.

Darah pertama. Dari janin Siti Karisma, perempuan hamil empat bulan yang ditemuinya di rumah sakit tiga hari lalu. Darah yang masih hangat. Darah yang masih berdenyut. Darah yang mengandung nyawa yang belum sempat lahir ke dunia.

Rafiq mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang sama, lengan bajunya digulung sedikit hingga siku. Celana bahan hitam, rapi, tanpa noda. Sepatu kets hitam dengan tali yang tidak pernah ia ikat.

Rambutnya yang semakin panjang dibiarkan tergerai, menutupi sebagian dahi—tapi tidak cukup untuk menutupi tiga huruf hitam yang tertera di jidatnya. Huruf-huruf itu menyala redup di bawah cahaya senja, berdenyut pelan, seperti jantung kedua yang berdetak di luar tubuhnya.

Di pundaknya, ia membawa tas kain hitam kecil berisi tanah kuburan Fatih dan botol air dari dalam kubur—dua komponen lain yang sudah ia kumpulkan minggu lalu. Tinggal enam darah janin lagi. Enam nyawa. Enam perempuan hamil empat bulan yang belum tahu bahwa mereka sedang dalam bahaya.

Rafiq tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang sudah menjadi miliknya sepenuhnya.

Rumah bambu Mbah Jaya muncul di kejauhan. Atap rumbianya yang hitam karena usia terlihat seperti topi raksasa yang menutupi bangunan kecil di bawahnya.

Asap tipis mengepul dari celah-celah dinding—bukan asap biasa, tapi asap kehijauan yang aneh, seperti ada sesuatu yang terbakar di dalam rumah itu. Bau dupa menusuk hidung Rafiq sejak jarak lima puluh meter. Dupa yang sama seperti di rumahnya. Dupa yang tajam. Dupa yang memanggil.

Mbah Jaya sudah menunggu di teras. Pria tua itu duduk di kursi bambu dengan tubuh sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada tongkat hitam yang sudah halus karena usia.

Ia mengenakan kemeja putih longgar yang sudah kekuningan di kerah dan ujung lengan, sarung batik coklat yang dililitkan hingga di atas mata kaki, dan peci hitam di kepalanya.

Matanya yang jernih menatap Rafiq dari kejauhan, menatap botol di tangan Rafiq, menatap tas hitam di pundaknya, menatap tiga huruf di dahi Rafiq yang menyala di bawah cahaya senja.

"Kowe teko," kata Mbah Jaya. Suaranya serak, parau, seperti suara orang yang sudah terlalu sering melantunkan mantra.

"Iya, Mbah," jawab Rafiq sambil naik ke teras. Kayu anak tangga berderit di bawah kakinya.

"Satu sudah terkumpul."

Mbah Jaya mengangguk pelan. Ia bangkit dari kursinya dengan susah payah, tongkatnya berdecit di lantai kayu. "Mlebu."

Rafiq mengikuti Mbah Jaya masuk ke dalam rumah. Di dalam, gelap seperti biasa. Hanya ada beberapa lilin yang menyala di sudut-sudut ruangan, api kecilnya tidak bergerak meskipun ada angin yang masuk melalui celah-celah dinding.

Lingkaran abu di lantai masih sama seperti kunjungan terakhir—masih utuh, masih sempurna, seolah tidak pernah diinjak atau terganggu.

Tapi kali ini, ada yang berbeda.

Di sekeliling lingkaran abu, di lantai tanah yang gembur, terukir simbol-simbol. Bukan digambar. Terukir. Seperti ada pisau tak terlihat yang menggores tanah, menciptakan alur-alur dalam yang membentuk pola-pola rumit.

Rafiq tidak mengenali simbol-simbol itu. Bukan aksara Arab. Bukan aksara Jawa. Bukan aksara apa pun yang pernah ia lihat dalam hidupnya. Tapi ketika ia menatapnya, ia merasakan sesuatu. Getaran. Getaran di sekujur tubuhnya. Getaran yang membuat tiga huruf di dahinya terasa hangat.

Dan di tengah pola-pola rumit itu, ada tujuh lingkaran kecil. Tujuh titik yang tersusun dalam formasi melingkar, mengelilingi lingkaran abu utama. Tujuh titik yang kosong. Tujuh titik yang menunggu.

Mbah Jaya berjalan ke salah satu titik itu, menunjuk dengan ujung tongkatnya. "Kene," katanya. "Lebokno."

Rafiq mendekat. Ia berlutut di tepi lingkaran, mengeluarkan botol kecil dari sakunya. Botol kaca gelap dengan cairan hitam kemerahan di dalamnya. Ia membuka tutupnya.

Bau keluar dari botol itu. Bau anyir. Bau manis. Bau yang mengingatkan pada sesuatu yang hidup dan mati dalam waktu bersamaan.

Rafiq menuangkan cairan itu ke tanah. Perlahan. Setetes demi setetes. Cairan hitam itu mengalir dari mulut botol, jatuh ke tanah di dalam lingkaran kecil, meresap ke dalam tanah seperti tidak pernah ada.

Tapi Rafiq bisa melihat—tanah di titik itu berubah warna. Menjadi hitam. Hitam pekat. Dan di permukaannya, muncul kilau merah samar, seperti ada api yang menyala di bawah tanah.

Ketika botol itu kosong, Mbah Jaya mengangkat tongkatnya. Ujung tongkat yang hitam itu menyentuh tanah di titik yang basah oleh darah. Ia menutup matanya.

Bibirnya bergerak-gerak, melantunkan mantra-mantra yang tidak Rafiq mengerti. Suaranya rendah, dalam, menggetarkan lantai bambu, menggetarkan dinding, menggetarkan tanah di bawah mereka.

Dan di titik itu, sesuatu muncul.

Seperti akar. Seperti urat. Seperti garis-garis hitam yang merambat dari titik itu, menyusuri alur-alur simbol yang terukir di tanah, mengisi setiap goresan dengan warna hitam pekat.

Simbol-simbol itu mulai bersinar—bukan bersinar seperti lampu, tapi bersinar seperti bara api yang menyala di balik tanah. Merah. Gelap. Berdenyut.

Satu titik terisi penuh. Garis-garis hitam berhenti merambat. Simbol-simbol berhenti bersinar. Semua kembali gelap, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tapi Rafiq tahu. Satu langkah sudah selesai. Satu dari tujuh.

Mbah Jaya membuka matanya. Wajahnya pucat, lebih pucat dari biasanya. Keringat membasahi dahinya yang keriput. Napasnya terengah-engah, seperti baru saja mengangkat beban yang sangat berat.

"Wis," katanya. "Siji."

Rafiq berdiri. Ia menatap titik hitam di tanah, di mana darah janin pertamanya meresap.

"Berapa lama, Mbah? Berapa lama setelah semua terkumpul?"

Mbah Jaya berjalan ke kursi bambu di sudut ruangan, duduk dengan tubuh lemas. Tongkatnya ia letakkan di samping kursi. Matanya yang jernih menatap Rafiq dengan tatapan yang sulit diartikan—apakah itu kasihan, apakah itu peringatan, apakah itu sesuatu yang lain.

"Sangang puluh dina," katanya. "Sawise kabeh terkumpul, kowe kudu ngenteni sangang puluh dina. Sakwise iku... anakmu bakal bali."

Rafiq mengangguk. Sembilan puluh hari. Tiga bulan. Cukup waktu untuk mengumpulkan enam darah sisanya. Cukup waktu untuk mempersiapkan segalanya. Cukup waktu untuk memastikan tidak ada yang mengganggu.

"Aku akan kembali, Mbah. Dengan yang berikutnya."

Mbah Jaya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, matanya sudah terpejam, seperti orang yang kelelahan dan ingin beristirahat.

Rafiq berbalik, melangkah keluar rumah. Di teras, ia berhenti sejenak, menatap langit yang mulai gelap. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Tidak ada bulan malam ini. Hanya kegelapan dan titik-titik cahaya yang jauh.

Ia berjalan kembali ke jalan setapak, meninggalkan rumah bambu itu. Tidak menoleh ke belakang.

Di dalam rumah, Mbah Jaya membuka matanya.

Ia tersenyum.

Senyum yang tidak pernah dilihat Rafiq. Senyum yang berbeda dari senyum ramah yang selalu ia tunjukkan. Senyum yang gelap. Senyum yang penuh rahasia. Senyum yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang diketahui Mbah Jaya, sesuatu yang tidak diketahui oleh Rafiq.

"Bocah kuwi ora ngerti," bisik Mbah Jaya pada dirinya sendiri. Suaranya tidak lagi serak. Tidak lagi parau. Suaranya jernih, muda, seperti suara orang yang tidak berusia delapan puluh tahun.

"Dheweke ora ngerti nek sing diuripke mengko... dudu anaké."

Ia tertawa. Tertawa pelan. Tertawa panjang. Tertawa yang membuat lilin-lilin di ruangan itu berkedip ketakutan.

"Dheweke njaluk anaké bali. Lan aku bakal menehi. Nanging anak sing bali... anak sing bakal manggon ing raga bocah kuwi... dudu Muhammad Al Fatih."

Ia menatap lingkaran abu di lantai, menatap tujuh titik hitam yang mulai terbentuk. Satu sudah terisi. Enam lagi menunggu.

"Penguasa kegelapan ora tau menehi tanpa njupuk luwih akeh. Rafiq njaluk anaké bali. Lan dheweke bakal oleh. Nanging anak sing teko... anak sing bakal ngrusak kabeh sing isih ana ing uripe..."

Ia menutup matanya. Senyumnya masih tersisa di bibirnya yang keriput.

"Koe wis milih dalan iki, Nak Rafiq. Saiki koe kudu nampa akibate."

1
Afri
bagus .. saya suka
Afri
d terpa badai yg terus menerus .. akhirnya .. iman pun terkikis
sakit yg d luar batas merengut akal nya
kuat ya Rafiq💪💪💪
La Rue
aku bacanya siang hari karena kalau malam hih jadi merinding ,seram
Mila helsa
mntappp bget ceritanya,.byk pljrnbyg bisa d ambil..
mmng sgt sulit utk ikhlas pasrah PD ujian yg bertubi tubi,.melawan RS sakit hati,mnhdpi runtuhnya dunia,.dendam dn kecewa mengambil alih😭
tp utk mngmbil jln sesat jg akibatnya g main main,.yg ad hidup sudah hancur mlh mkin hancur,rugi dn menderita dunia akhirat, astaghfirullah
Mila helsa
wah kerasukan th c Tono
Mila helsa
penasaran siapa sbnernya mbh jaya ini,dn py hubungan AP SM kluarga c Rafiq ini,.kt nya dia mmng udh d tunggu.,ahh seruu penasarn
Mila helsa
astaghfirullah,itu berani muncul sndiri,.pasti jdi buronan itu lma²,d luar prediksi bmkg🤣kirain ngambilnya dr jarak jauh,busyett deh g main2 ini setan kerjanya terang²n🤭
La Rue
semakin mengerikan 😱
Mila helsa
merindinggg
Mila helsa
seru bget kl d ank ke luar lbar
Mila helsa
ceritanya seruu bget,.ayo kawan² baca,.byk hikmah yg bisa kita ambil d kisah ini,.ayo Thor .promosiin cerita ini,biar mkin rame
Bp. Juenk: gak tau cara promosi nya kk 🤭
total 1 replies
Tamirah
Cerita awal yg menyedihkan, dikala anaknya demam tinggi kok tega tega berbagi keringat dgn sahabat suami.bahkan putranya dititipkan pada mertua nya.istri model begini baik' nya diceraikan saja dan ambil hak asuh nya. karena gak layak jadi seorang ibu.
Rani Saraswaty
swkaranh kamu sudah tahu, nak
ini dunia yg sesungguhnya, yg menghujat karna matanya masih tertutup, skarang matamu sdh terbuka dan kamu tdk takut, itu yg jd kekuatanmu
Rani Saraswaty
tutup pintunya
Rani Saraswaty
kamu tidak bisa kembali seperti dulu
Rani Saraswaty
tidak ada jalan mundur, setelah ini
Rani Saraswaty
jadi, kamu sudah yakin?
Rani Saraswaty
sholat iku yang menghubungkan kamu dan tuhan mu, sholat itu yg menjagamu. selama kamu sholat kamu dalam lindunganNya. caraku tidak bisa jalan apabila kamu masih sholat, kamu hrs memilih Alloh atau balas dendam
Rani Saraswaty
sholat itu gerbang nak
Rani Saraswaty
kamu harus meninggalkan sholat 5 waktu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!