Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Emrys dan Melvin
Keputusan Gaby untuk mengundang Melvin makan malam adalah langkah paling berani yang pernah ia ambil. Dengan jantung berdebar, ia mengirimkan pesan singkat kepada Emrys, mengharapkan interogasi atau penolakan dingin. Namun, jawaban yang muncul di layarnya justru membuatnya tertegun.
[ Kak Emrys ]
"Gunakan reservasi atas namaku di The Shard. Nikmati malammu, Gaby. Jangan pulang terlalu larut."
Persetujuan itu terasa seperti kemenangan mutlak, sekaligus pengingat bahwa meski Emrys melepaskan rantainya, dia tetaplah sosok yang menyediakan panggungnya.
Malam di The Shard, London
Restoran mewah yang terletak di salah satu gedung tertinggi di London itu menyuguhkan pemandangan lampu kota yang berkelip seperti hamparan berlian di bawah kaki mereka. Gaby tampil memukau dengan gaun slip dress sutra berwarna sampanye yang elegan, kontras dengan Melvin yang mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, memberikan kesan rebel-chic yang kental.
Pelayan menuangkan wine ke dalam gelas kristal dengan gerakan anggun. Melvin menyandarkan punggungnya, menatap Gaby dengan binar ketertarikan yang tidak lagi ia sembunyikan di balik topeng profesionalisme kampus.
"I must admit, Gaby. Being invited by you. Under the blessing of the Great Kaito... Is the highlight of my week, " ujar Melvin sembari mengangkat gelasnya."He really did change his strategy, didn't he? From a jailer to a benefactor."
(Harus kuakui, Gaby. Diundang olehmu. Di bawah restu Kaito Agung... Adalah puncak dari mingguanku. Dia benar-benar mengubah strateginya, bukan? Dari seorang penjaga penjara menjadi seorang dermawan.)
Gaby tersenyum tipis, menyesap minumannya. "Dia hanya memberiku ruang untuk bernapas, Melvin. Dan aku ingin berterima kasih padamu karena sudah membantuku menemukan kembali suaraku dalam desain."
"Your voice was always there. It just needed a little... friction to ignite, " (Suaramu selalu ada. Hanya butuh sedikit... gesekan untuk menyalakannya.) balas Melvin dengan suara rendah yang intens."Proyek 'Sanctuary' kita hampir selesai. Dan setelah ini, dunia mode London tidak akan melihatmu sebagai 'adik kecil Emrys Aetherion Kaito' lagi. Mereka akan melihat Gabriella, sang visioner. "
Percakapan mengalir lancar, dari filosofi desain hingga impian Gaby untuk memiliki label sendiri. Untuk pertama kalinya, Gaby merasa dihargai sebagai seorang rekan, bukan sekadar objek yang harus dijaga. Melvin adalah lawan bicara yang brilian, meski setiap kata-katanya selalu memiliki sisi tajam yang menantang.
Namun, di tengah tawa mereka, Gaby tanpa sengaja melirik ke arah pintu masuk restoran. Di sana, berdiri dua pria bersetelan gelap yang sangat ia kenal. Pengawal Emrys. Mereka tidak mendekat, hanya berdiri diam di dekat area resepsionis, memastikan keselamatan Gaby dari jarak yang sangat sopan.
Melvin mengikuti arah pandang Gaby dan terkekeh rendah. "The invisible shadow. He might let you have dinner with the wolf, Gaby, but he’ll never let the wolf take a bite."
(Bayangan tak terlihat. Dia mungkin membiarkanmu makan malam dengan serigala, Gaby, tapi dia tidak akan pernah membiarkan serigala itu menggigit.)
Gaby menghela napas, namun kali ini ia tidak marah. Ia tahu ini adalah kompromi yang harus ia terima. "Setidaknya aku bisa memilih menu makan malamku sendiri malam ini, Melvin."
.
.
.
Udara malam London yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun adrenalin membuat Gaby tidak merasakannya. Di depan gedung The Shard yang menjulang, Melvin sudah menunggunya di atas motor custom berwarna hitam matte yang gahar. Suara raungan mesinnya kontras dengan keanggunan restoran di belakang mereka.
"Your chariot awaits, Princess. Let the suits handle the red beast," ujar Melvin sembari menyodorkan helm full-face cadangan kepada Gaby.
(Kereta kudamu sudah menunggu, Putri. Biarkan para petinggi yang menangani binatang buas merah itu.)
Gaby menoleh ke arah pengawal Emrys yang sudah siap dengan Ferrari merahnya. Dengan satu anggukan tegas, ia menyerahkan kunci mobil itu kepada mereka. Ia memilih untuk membelah kemacetan London di belakang punggung Melvin, merasakan kecepatan yang berbeda. Lebih mentah dan membebaskan.
Raungan mesin motor custom Melvin membelah keheningan malam London, menciptakan getaran yang merambat dari jok hingga ke tulang belakang Gaby. Berbeda dengan kabin Ferrari yang kedap suara dan steril, di atas motor ini, Gaby merasa menyatu dengan kota.
Angin malam yang tajam menerpa slip dress sutranya, namun ia tidak peduli. Aroma aspal basah, sisa hujan sore tadi, dan gemerlap lampu neon dari papan reklame di Piccadilly Circus menyatu menjadi sensasi yang memabukkan. Gaby merasa seperti burung yang baru saja menemukan kembali kepakan sayapnya.
Di tengah kecepatan yang stabil, Gaby memberanikan diri. Ia melepaskan pegangannya pada pinggang Melvin, perlahan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke samping. Ia membiarkan ujung jemarinya membelah angin, merasakan tekanan udara yang kuat namun menyegarkan.
"I'm free!" teriaknya pelan, suaranya tertelan oleh deru angin dan mesin, namun senyumnya merekah lebar di balik kaca helm.
Melvin melirik dari spion, sedikit memperlambat lajunya agar Gaby bisa menikmati momen itu tanpa kehilangan keseimbangan. Ia bisa melihat melalui pantulan kaca betapa gadis itu benar-benar "hidup" saat ini. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi bayang-bayang sangkar emas. Hanya ada dia, jalanan London yang meliuk, dan rasa kebebasan yang terasa begitu mentah dan jujur.
Sesekali Gaby memejamkan mata, membiarkan rambutnya yang tersingkap dari bawah helm menari-nari ditiup angin. Setiap tarikan napasnya terasa lebih ringan. Ia bukan lagi sekadar pajangan atau adik kecil yang harus dikurung. Ia adalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa dunia di luar sana terlalu luas untuk dilewatkan dari balik kaca mobil yang gelap.
Hingga akhirnya, motor itu melambat saat mendekati kawasan elit penthouse Kaito Group. Gaby menurunkan tangannya, kembali berpegangan pada bahu Melvin, namun sisa-sisa adrenalin itu masih memompa jantungnya dengan kencang.
Sepuluh menit kemudian, motor itu berhenti tepat di lobi privat penthouse Kaito Group. Melvin mematikan mesinnya, membiarkan kesunyian malam kembali menyelimuti mereka. Di sana, berdiri sosok tinggi tegap yang sudah sangat mereka kenal.
Emrys berdiri di dekat pintu utama dengan tangan terlipat di depan dada. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memberikan kesan santai namun tetap mengintimidasi.
Gaby turun dari motor, melepas helmnya dengan rambut yang sedikit berantakan terkena angin. Begitu melihat kakaknya, ia langsung berlari kecil dan melompat ke pelukan Emrys. Sebuah kebiasaan baru yang menunjukkan betapa ia merasa aman sekarang. Emrys dengan sigap menangkapnya, satu tangannya menyangga di bawah bokong Gaby agar posisi gadis itu stabil dalam dekapannya.
Emrys menatap Melvin dari balik bahu Gaby. Tatapannya tetap sedingin es, dengan ketajaman seorang penguasa.
"Terima kasih sudah mau repot mengantarnya pulang," ucap Emrys dengan suara rendah yang berwibawa.
Melvin menyeringai, tetap duduk di atas motornya dengan satu kaki menumpu di aspal. "No trouble at all, Kaito. She’s a fast learner..on the desk and on the road."
(Tidak masalah sama sekali, Kaito. Dia cepat belajar...di meja dan di jalan.)
Melvin memberikan penghormatan kecil dengan dua jari di dahi sebelum menyalakan kembali mesin motornya. "See you at the studio, Gaby."
Setelah raungan motor Melvin menjauh, Emrys menunduk, menatap wajah Gaby yang tampak cerah dan penuh rona kebahagiaan. "Kau bersenang-senang?" tanya Emrys sambil mulai melangkah masuk ke dalam, masih menggendong Gaby seolah gadis itu tidak memiliki berat sama sekali.
Gaby menyandarkan kepalanya di bahu Emrys, menghirup aroma sandalwood yang menenangkan. "Sangat menyenangkan, Kak. Terima kasih sudah mengizinkanku."
Emrys tidak menjawab, namun ia mengeratkan pelukannya sejenak sebelum mereka memasuki lift privat menuju lantai teratas.