Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12: Kehormatan Nyaris Hilang
Malam itu, badai besar sedang mengintai Jakarta, namun badai yang jauh lebih gelap sedang disulut di dalam Mansion Setiawan. Karin berdiri di depan cermin besar kamarnya, memoles bibirnya dengan lipstik merah darah. Ia tidak lagi berpura-pura sakit. Matanya berkilat dengan kegilaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang merasa tak tersentuh.
"Berdiri tegak, ya?" gumam Karin pada bayangan Nara yang terlintas di benaknya. "Kita lihat seberapa tegak punggungmu setelah malam ini, Nara."
Karin telah menyusun rencana pamungkas. Ia tahu Danu sedang dalam kondisi mental yang rapuh terombang-ambing antara rasa bersalah dan obsesi yang mulai tumbuh pada Nara.
Karin mengirimkan sebuah video pendek hasil suntingan ke ponsel Danu. Video itu memperlihatkan Nara (yang diperankan pemeran pengganti dari belakang dengan pakaian serupa) tampak sedang membocorkan kode akses brankas pribadi Danu kepada seorang pria di taman belakang.
Tidak hanya itu, Karin mencampurkan sesuatu ke dalam minuman wiski Danu. Bukan racun, melainkan stimulan yang bisa memicu agresivitas dan menghilangkan kendali diri.
"Kak Danu," bisik Karin saat masuk ke ruang kerja kakaknya yang gelap. "Dia sedang di paviliun sekarang. Dia tertawa, Kak. Dia bilang Kakak itu bodoh. Dia bilang... dia sudah mendapatkan apa yang dia mau dan malam ini dia akan pergi membawa semua rahasia Kakak."
Danu, yang kepalanya sudah berat oleh alkohol dan zat pemicu agresivitas, menggebrak meja. Matanya memerah, urat-urat di lehernya menonjol. "Dia... tidak akan pergi ke mana-mana."
Nara sedang duduk di atas sajadah, baru saja menyelesaikan doa untuk kesehatan ayahnya. Suasana paviliun sangat sunyi, hanya suara rintik hujan yang mulai membasahi bumi. Tiba-tiba, pintu paviliun yang biasanya terkunci dari dalam, hancur seketika.
Danu Setiawan berdiri di sana. Rambutnya berantakan, kemejanya terbuka dua kancing teratas, dan aromanya dipenuhi bau alkohol dan amarah yang pekat.
"Pak Danu?" Nara berdiri dengan cepat, jantungnya berpacu liar. "Ada apa? Kenapa Bapak seperti ini?"
"Diam!" Danu melangkah maju dengan gerakan yang tidak stabil namun sangat mengintimidasi. "Aku sudah memberimu segalanya! Aku menyelamatkan ayahmu! Aku memberimu tempat tinggal! Dan ini balasanmu? Kamu menjualku?!"
"Saya tidak pernah menjual apa pun, Pak Danu! Itu fitnah!" Nara mundur hingga punggungnya menabrak lemari kayu.
Danu tertawa, suara tawa yang terdengar parau dan mengerikan. Ia mencengkeram rahang Nara dengan satu tangan, memaksa wanita itu menatap matanya yang liar. "Kamu pikir jilbab ini bisa menutupi hatimu yang busuk? Kamu ingin menghancurkanku? Maka aku akan menghancurkanmu lebih dulu. Malam ini, aku akan mengambil apa yang kamu jaga selama ini.."
Danu menarik jilbab Nara dengan kasar. Nara berteriak, air mata ketakutan mulai mengalir deras.
"Tolong! Pak Danu, sadar! Jangan biarkan setan menguasai Anda!" teriak Nara sambil meronta.
Namun, kekuatan Danu jauh di atasnya. Dalam pengaruh zat yang diberikan Karin, akal sehat Danu benar-benar lumpuh. Ia mendorong Nara ke tempat tidur, menindih kedua tangannya dengan kuat. Kehormatan yang selama ini Nara jaga dengan nyawanya, kini berada di ujung tanduk.
Nara merasa dunia kiamat. Ia berhenti meronta, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia hanya bisa memejamkan mata dan menggumamkan asma Allah dengan suara yang nyaris hilang.
"Ya Allah... lindungi hamba..."
Danu membisikkan kata-kata kasar di telinga Nara, tangannya mulai merobek bagian bahu pakaian Nara. Luka fisik mungkin bisa sembuh, namun luka pada martabat Nara adalah apa yang paling diinginkan Karin.
Karin, yang berdiri di balik bayangan lorong luar, memegang ponselnya dengan tangan gemetar karena semangat. Ia bersiap merekam kehancuran total guru yang ia benci itu.
Brak!
Suara pintu utama mansion yang terbuka dengan keras terdengar hingga ke area paviliun, diikuti oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan teriakan otoriter.
"DANU! MANA KAMU?!"
Suara itu berat, tua, dan dipenuhi wibawa yang tak bisa dibantah. Itu adalah suara Tuan Surya Setiawan, ayah Danu, yang seharusnya masih berada di London untuk pengobatan jantungnya bersama Nyonya Sofia, istrinya.
Karin terlonjak kaget. Ponselnya hampir jatuh. "Papa? Mama? Kenapa mereka pulang sekarang?!"
Andra, sang asisten yang selama ini diam-diam merasa kasihan pada Nara, ternyata adalah orang yang mengirimkan pesan darurat kepada Tuan Surya. Ia tahu hanya satu orang di dunia ini yang bisa menghentikan kegilaan Danu: ayahnya sendiri.
Langkah kaki itu semakin mendekat ke paviliun. Tuan Surya dan Nyonya Sofia masuk ke dalam ruangan kecil itu tepat saat Danu hampir kehilangan seluruh kendalinya.
"ASTAGFIRULLAH! DANU!"
Nyonya Sofia berteriak histeris, menutup mulutnya dengan tangan melihat pemandangan di depan matanya.
Tuan Surya, meski baru saja sembuh dari sakit, bergerak lebih cepat dari siapa pun. Ia menarik bahu Danu dengan kekuatan yang luar biasa dan melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi putra sulungnya itu.
Plak!
Danu tersungkur ke lantai. Tamparan itu, ditambah dengan syok melihat orang tuanya, seolah menetralisir sebagian racun di otaknya. Ia menatap ayahnya dengan pandangan kabur.
"Pa... Papa?"
"Binatang apa yang aku besarkan ini?!" teriak Tuan Surya dengan napas tersengal.
"Kamu menyerang seorang wanita? Di bawah atap rumahmu sendiri? Dimana kehormatan keluarga Setiawan yang aku ajarkan padamu?!"
Nyonya Sofia segera berlari ke arah Nara. Ia melepaskan syal sutranya yang mahal dan menutupi bahu Nara yang koyak serta rambutnya yang tergerai. Ia memeluk Nara yang sedang menangis histeris karena trauma.
"Maafkan kami, Nak... Maafkan anak saya yang sudah gila ini," bisik Nyonya Sofia sambil ikut menangis.
Karin mencoba melarikan diri, namun Andra sudah berdiri di belakangnya.
"Nona Karin, Tuan Besar ingin bicara dengan Anda juga," ucap Andra datar.
Tuan Surya menoleh ke arah Karin yang berdiri gemetar di ambang pintu. "Dan kamu, Karin... jangan pikir Papa tidak tahu apa yang kamu lakukan. Andra sudah memberikan semua bukti rekaman kamera tersembunyi yang baru dia pasang. Semua bukti fitnahmu, semua zat yang kamu masukkan ke minuman kakakmu... Papa sudah tahu semuanya."
Wajah Karin mendadak pucat pasi. Seluruh rencananya meledak di depan wajahnya sendiri.
"Papa... itu... aku cuma..."
"Diam!" potong Tuan Surya. "kamu akan di kirim ke luar negeri."
Tuan Surya kemudian menatap Danu yang masih terduduk di lantai, mulai menyadari betapa menjijikkannya perbuatannya tadi. Danu menatap tangannya, lalu menatap Nara yang masih gemetar di pelukan ibunya. Penyesalan yang luar biasa menghujam jantungnya.
"Dan kamu, Danu," suara Tuan Surya merendah namun sangat tajam. "kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu. Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga kita lebih dalam daripada musuh mana pun."
Nara mendongak, matanya yang sembab menatap keluarga kaya di depannya. Di tengah kehancuran mentalnya, ia menyadari satu hal: Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Langit mungkin terasa runtuh, namun ia masih berdiri tegak di atas puing-puing kehormatannya yang nyaris hilang.