Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Sang Antagonis dan Protagonis Klise
Bonus gambar karakter:
...----------------...
Keesokan paginya, lonceng perunggu raksasa di pelataran Pos Pertama berdentang nyaring, memecah kabut tebal yang menyelimuti Gunung Awan Azure. Suaranya menggema, membangunkan para calon murid dari asrama mereka.
Li Fan dan Jin Tianyu melangkah keluar menuju pelataran. Li Fan kembali mengenakan topeng arogan Tuan Muda Ma Liang dari Hebei. Ia berjalan dengan kipas lipat di tangan, dagu terangkat tinggi, sementara Jin Tianyu berjalan menunduk di belakangnya dengan patuh.
Di tengah pelataran, Tetua Zhao sudah berdiri di atas podium batu. Dua puluh lima calon murid yang tersisa berkumpul dengan wajah kuyu dan mata panda, bukti betapa tersiksanya mereka semalaman mencoba membuka gerbang nadi spiritual dengan metode pernapasan yang dangkal.
“Duduk bersila! Pusatkan pikiran kalian!” perintah Tetua Zhao menggelegar.
Selama dua jam berikutnya, kelas pernapasan pagi itu berlangsung. Tetua Zhao menjelaskan tentang sirkulasi Qi dan cara memancing energi alam masuk melalui pori-pori. Bagi Li Fan yang telah membuka sembilan gerbang legendaris, penjelasan itu tidak lebih dari ocehan anak balita yang baru belajar berjalan. Namun, demi menjaga kedoknya, ia berpura-pura berkeringat dan memejamkan mata dengan susah payah. Sesekali ia merintih kecil, berakting seolah meridiannya sedang berjuang menyerap Qi.
Setelah kelas selesai, Tetua Zhao membubarkan mereka dan membiarkan para calon murid berlatih sendiri atau menjelajahi fasilitas Pos Pertama.
Hari-hari berikutnya dihabiskan Li Fan dengan rutinitas yang membosankan. Siang hari ia berpura-pura berlatih bersama yang lain, sementara malam hari ia menyempurnakan kendali sembilan gerbangnya dan mengajari Jin Tianyu di dalam kamar tertutup. Sisa waktu luangnya digunakan untuk berkeliling asrama, duduk di kedai teh, dan menyebarkan koin perak untuk mengorek informasi tentang struktur sekte dan murid-murid jenius di puncak utama.
Hingga pada hari kelima, rutinitas membosankan itu akhirnya pecah.
Siang itu, pelataran Pos Pertama kembali dipenuhi keributan. Rombongan calon murid baru kloter selanjutnya baru saja tiba setelah mendaki Tangga Awan Surgawi. Sebagian besar dari mereka terkapar kelelahan, muntah-muntah, dan merintih kesakitan, persis seperti kelompok Li Fan beberapa hari yang lalu.
Li Fan sedang duduk di teras Kedai Angin Awan, menyesap tehnya dengan santai sambil memperhatikan tontonan gratis tersebut. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada satu sosok perempuan muda di tengah kerumunan yang baru datang.
Gadis itu berusia sekitar sebelas atau dua belas tahun. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru muda yang menjuntai elegan. Kulitnya putih bersih, sehalus porselen, kontras dengan wajah-wajah lelah di sekitarnya. Rambut hitamnya yang panjang diikat sebagian dengan jepit perak berbentuk kupu-kupu. Namun, yang paling mencolok dari dirinya adalah matanya yang dingin dan ekspresi wajahnya yang datar, seolah seluruh dunia berhutang nyawa kepadanya. Ia berdiri tegak tanpa setetes keringat pun, menandakan bahwa ia memiliki fondasi kultivasi yang sangat baik bahkan sebelum masuk sekte.
Mata Li Fan menyipit. Ingatannya dengan cepat memutar ulang informasi dan sketsa gambar yang dijejalkan Guan Lao Da kepadanya di kereta kuda sebelum tiba di sekte.
“Lin Xueyan,” guman Li Fan pelan. Ujung bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman geli.
Menurut profil yang diberikan Guan Lao Da, Lin Xueyan adalah putri dari Pemimpin Klan Lin, salah satu klan terkuat di Provinsi Hebei yang setara dengan Klan Ma. Yang lebih penting lagi, gadis dingin berwajah giok itu adalah tunangan dari Ma Liang, pemilik identitas yang sedang Li Fan gunakan saat ini. Pertunangan itu adalah murni transaksi politik antar klan. Ma Liang yang asli sangat tergila-gila padanya dan sering kali melakukan tindakan bodoh hanya untuk mencari perhatian gadis itu, sementara Lin Xueyan sangat membenci Ma Liang karena sifatnya yang arogan, bodoh, dan tidak berguna.
“Ini adalah ujian kemampuan aktingku yang sebenarnya,” kekeh Li Fan dalam hati.
Tanpa ragu sedikit pun, Li Fan membanting cangkir tehnya ke meja, membuat Jin Tianyu terlonjak kaget. Ia membuka kipas lipatnya dengan bunyi plak yang keras dan melangkah keluar dari kedai, berjalan membelah kerumunan dengan langkah yang sangat percaya diri dan ekspresi wajah yang sengaja dibuat berbinar-binar penuh kerinduan yang berlebihan.
“Xueyan-er! Ah, tunanganku tersayang! Ternyata kau akhirnya tiba juga di tempat kumuh ini!” seru Li Fan dengan suara lantang yang sengaja dikeraskan agar seluruh pelataran mendengarnya.
Mendengar panggilan menjijikkan itu, tubuh Lin Xueyan yang anggun tiba-tiba menegang. Ia menoleh perlahan, dan saat ia melihat wajah Li Fan yang menyeringai lebar ke arahnya, rasa muak yang sangat pekat melintas di matanya yang dingin.
“Ma Liang,” desis Lin Xueyan, suaranya lebih dingin dari es di puncak Pegunungan Utara. “Jaga mulutmu. Kita belum resmi menikah, dan panggilan menjijikkan itu membuat telingaku kotor.”
Li Fan tidak peduli. Ia terus melangkah mendekat, berhenti tepat tiga langkah di hadapan gadis itu. Ia memasang wajah bodoh seorang pemuda bangsawan yang mabuk kepayang. “Oh, Xueyan-er, kau selalu saja bersikap dingin padaku. Apakah kau lelah mendaki tangga sialan ini? Biarkan pelayanku menggendongmu ke kamarku! Aku sudah menyewa kamar terbaik di sini, hanya untuk kita berdua saling... mengenal lebih dalam sebelum upacara dimulai.”
Kerumunan di sekitar mereka langsung menahan napas. Beberapa calon murid saling berbisik, menatap adegan itu dengan campuran rasa iri dan jijik. Tuan Muda Ma Liang memang terkenal tidak tahu malu.
Lin Xueyan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Jika ini bukan wilayah Sekte Awan Azure, ia pasti sudah menghunus pedangnya dan menebas lidah pemuda di hadapannya ini.
Namun, sebelum Lin Xueyan sempat membalas dengan kata-kata tajam, sebuah tangan kokoh menjulur dari belakang gadis itu, menepis kipas lipat Li Fan yang hampir menyentuh bahu Lin Xueyan.
Plak!
“Tuan Muda Ma, saya rasa Nona Lin sudah meminta Anda untuk menjaga jarak. Harap hargai batasannya,” sebuah suara pria yang tenang namun dipenuhi ketegasan terdengar.
Li Fan mengalihkan pandangannya dari wajah Lin Xueyan menuju sosok yang baru saja menepis kipasnya. Itu adalah seorang pemuda seusianya, mengenakan pakaian linen kasar yang warnanya sudah memudar. Wajah pemuda itu tampan dengan rahang tegas, kulitnya agak kecokelatan karena sering terpapar matahari, dan matanya memancarkan ketangguhan yang luar biasa. Di punggungnya terikat sebuah pedang besi berkarat yang dibalut kain usang.
Dalam sekejap, Li Fan bisa merasakan fluktuasi Qi yang tersembunyi jauh di dalam tubuh pemuda itu. Meski auranya ditekan dalam-dalam, Li Fan yang memiliki wawasan Alam Dewa bisa melihat bahwa fondasi pemuda ini luar biasa padat, bahkan mungkin menyembunyikan garis keturunan khusus.
“Siapa kau, berani-beraninya menyentuh barang milik Klan Ma?” bentak Li Fan, sengaja meninggikan suaranya dan membusungkan dada, memerankan karakter antagonis arogan secara total.
Pemuda berpakaian kasar itu tidak mundur selangkah pun. Ia membalas tatapan Li Fan dengan mata tajam bagaikan pedang yang baru diasah. “Nama saya Xiao Chen. Saya berasal dari desa yang sama dengan pelayan keluarga Nona Lin, dan kebetulan Nona Lin mengizinkan saya ikut serta dalam perjalanannya. Di mata sekte ini, kita semua berstatus sama, Tuan Muda Ma. Kekuasaan klan Anda tidak berlaku di atas awan ini.”
Li Fan terdiam sejenak. Di dalam benaknya, ia tertawa terbahak-bahak hingga rasanya ingin berguling-guling di lantai.
‘Ya ampun... lihat susunan pemain ini,’ batin Li Fan geli. ‘Seorang tunangan bangsawan yang cantik dan dingin, dipasangkan dengan seorang pemuda berpakaian kasar yang menyembunyikan kekuatan besar, memiliki pedang misterius berkarat, berani melawan otoritas klan besar demi sang gadis, dan diam-diam menyimpan perasaan padanya. Ini... ini adalah kombinasi paling klise yang pernah diciptakan oleh takdir! Anak bernama Xiao Chen ini jelas adalah Putra Langit yang menjadi tokoh utama di era ini!’
Dan posisi Li Fan saat ini? Ia adalah tuan muda bodoh, arogan, dan menyebalkan yang diciptakan takdir hanya untuk dijadikan batu pijakan bagi Xiao Chen untuk pamer kekuatan dan memenangkan hati si gadis es.
Skenario yang sangat menggelikan, namun sekaligus sangat menarik.
Mata Li Fan menyipit, menatap Xiao Chen dengan tatapan meremehkan yang sangat meyakinkan. “Xiao Chen? Tidak pernah dengar. Kau hanyalah seekor kodok di dasar sumur yang mencoba melindungi angsa putih.”
Li Fan mengibaskan lengan jubahnya dengan angkuh. “Baiklah, Xueyan-er. Aku akan memberimu ruang untuk hari ini. Tapi ingat, saat Upacara Penerimaan Murid nanti, kau akan melihat sendiri bahwa hanya Tuan Muda Ma ini yang layak berdiri di puncak bersamamu. Dan untukmu, anak miskin,” Li Fan menunjuk wajah Xiao Chen dengan kipasnya, “Berdoalah kita tidak bertemu di arena ujian nanti. Jika tidak, aku akan mematahkan kedua kakimu.”
Tanpa menunggu balasan, Li Fan berbalik badan dan melangkah pergi dengan tawa besar yang sengaja dibuat-buat, diikuti oleh Jin Tianyu yang menunduk dalam-dalam.
Dari kejauhan, Xiao Chen menatap punggung Li Fan dengan tangan terkepal erat, matanya memancarkan niat membunuh yang tertahan. Sementara Lin Xueyan hanya menghela napas panjang, merasa beban hidupnya bertambah berat di sekte ini.
Di dalam hatinya, Li Fan tersenyum miring. Permainan baru saja dimulai, dan ia berencana untuk mengacaukan skenario klise ini dengan cara yang paling brutal yang tak pernah dibayangkan oleh takdir itu sendiri.
Cerdas...
Lucu...