Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang bocah kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, bocah itu merupakan anak kesayangan seorang duda berpengaruh.
Sebelumnya, Jenna tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagu
Jenna dengan lembut menyentuhkan gelas birnya ke gelas Marco. Ia tersenyum tulus.
“Makasih.”
Saat senyum gadis itu merekah, Marco sedikit terdiam. Jenna lalu menoleh ke bakpau kecil di sampingnya.
“Aku paling berterima kasih sama Juju. Kalau bukan karena dia, aku pasti gak sempat datang ke audisi! Sini sayang, aku juga toast sama kamu!”
Juju melihat gelas susu di tangannya. Lalu melihat bir di tangan Jenna dan ayahnya.
Walau sedikit enggan, ia akhirnya mengangkat gelasnya dan menyentuhkannya ke gelas Jenna. Setelah itu ia langsung menghabiskan susu dalam satu tegukan.
Jenna tidak bisa menahan tawa melihat ekspresinya yang serius. Seakan ia sedang minum alkohol seperti orang dewasa yang menenggelamkan kesedihan.
Di tengah makan, Marco keluar ke balkon untuk menerima telepon.
Begitu ia pergi, Jenna langsung mendekat ke bakpau kecil. Ia menyodorkan gelas birnya.
“Hehe … penasaran sama rasanya? Cepat coba selagi ayah kamu gak ada! Tapi cuma boleh sedikit.”
Mata bakpau kecil langsung berbinar seperti bintang.
Ia menunduk dan menyesap sedikit dengan hati-hati. Rasanya sebenarnya tidak enak. Tapi ia tetap sangat senang.
Begitu Marco kembali, Jenna langsung duduk tegak seakan tidak terjadi apa-apa.
Bakpau kecil bahkan lebih profesional. Ia minum susu dengan tenang tanpa terlihat gugup.
Marco seakan tidak menyadari apa pun. Namun ada sedikit kehangatan di matanya sebelum ia duduk kembali.
Nafsu makan mereka bertiga cukup baik. Semua makanan habis meskipun Jenna membeli banyak bahan. Saat Jenna berpikir mereka pasti akan pulang karena sudah larut, tiba-tiba kilat menyambar di langit.
Beberapa detik kemudian terdengar suara guntur keras. Angin kencang mulai bertiup.
“Hm … tadi aku lihat ramalan cuaca katanya malam ini bakal hujan deras sama badai…”
Jenna menatap hujan lebat di luar jendela dengan cemas.
Bakpau kecil dan Marco menatapnya bersamaan.
Ditatap seperti itu, Jenna akhirnya berkata, “Kalau pulang sekarang sama Juju agak bahaya. Sudah malam dan cuacanya juga buruk. Mungkin … kalian bisa menginap di sini malam ini?”
Ia sebenarnya hanya basa-basi. Ia yakin Marco pasti akan menolak.
Hasilnya…
“Baik,” kata Marco.
Bakpau kecil mengangguk.
Apa!?
Kenapa kalian setuju lagi?
Marco terlalu mudah setuju!
Kenapa rasanya seperti mereka sudah menunggu ia mengatakan kalimat itu?
Jenna hampir gila. Akhirnya Marco dan bakpau kecil benar-benar akan menginap. Apartemen yang diberikan perusahaan untuknya tidak besar. Hanya ada ruang tamu dan satu kamar tidur.
Masalah pengaturan tidur langsung muncul.
“Aku tidur di ruang tamu malam ini. Tuan Alamsyah tidur di kamar aku sama Juju. aku ganti dulu sprei—”
“Tidak,” kata Marco. “Aku yang tidur di ruang tamu. Kamu tidur di kamar sama Juju.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk menolak. Jenna merasa seperti menggali lubang untuk dirinya sendiri.
Ia bukan hanya mengajak CEO Alamsyah makan hotpot murah. Sekarang ia bahkan membuatnya tidur di ruang tamu. Kalau Marco datang sendirian, ia pasti tidak akan membiarkannya menginap.
Apalagi setelah apa yang pria itu katakan siang tadi. Tinggal berdua di satu rumah jelas berbahaya. Namun karena ada bakpau kecil, ia tidak punya pilihan. Dalam cuaca seperti ini terlalu berbahaya membawa anak kecil pulang.
Lagipula … selama bakpau kecil ada di sini, mereka tidak benar-benar berdua … kan?
Akhirnya Jenna menyerah.
“Aku cari baju ganti buat kalian dulu…”
Ia mengacak-acak lemari sampai akhirnya menemukan pakaian yang bisa dipakai oleh mereka berdua.
Jenna menemukan satu set piyama anak berbentuk Pikachu yang bisa dipakai Juju. Piyama itu ia dapatkan saat bekerja paruh waktu dulu dan hanya disimpan begitu saja di lemari.
Untuk Marco lebih mudah lagi mencari pakaian ganti, karena adik laki-lakinya pernah meninggalkan beberapa pakaian di tempatnya.
Sejak kembali ke keluarga kandungnya, Jenna merasa bersalah kepada orang tua angkatnya. Ia merasa tidak pantas menemui mereka lagi, jadi jarang berhubungan. Ia hanya tetap berhubungan dengan adiknya, Nemmo.
Setelah menemukan pakaian, Jenna kembali ke kamar untuk mengambil seprai dan sarung bantal baru.
Sofa di ruang tamu terlalu pendek untuk kaki panjang Marco. Ia hanya bisa menambahkan bangku kecil untuk memanjangkan tempat tidur darurat itu.
Untuk Juju, ia sama sekali tidak perlu khawatir. Bocah itu mandi sendiri, lalu memakai piyama pikacu itu. Setelah itu ia langsung menuju tempat tidur dan berbaring.
Jenna juga selesai mandi dan mengganti pakaian dengan piyama yang lebih tertutup. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia keluar dari kamar.
“Ehm … Tuan Alamsyah, aku tidur duluan ya. Kalau butuh apa-apa panggil aku.”
“Iya.”
Tatapan Marco sedikit kosong saat melihat Jenna yang baru selesai mandi. Matanya perlahan menjadi lebih dalam.
Gadis itu hanya memakai piyama biasa. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya bersih tanpa riasan. Kulitnya masih sedikit memerah karena uap air dari kamar mandi. Ia tahu Jenna sengaja berpakaian sopan.
Tidak ada yang tidak pantas. Namun keadaan di dalam dirinya sendiri sedikit sulit dijelaskan. Ia menyadari bahwa bagian tertentu dari tubuhnya perlahan bereaksi.
Jenna masuk ke kamar dan langsung melihat makhluk kecil lucu yang sekarang berada di tempat tidurnya. Suasana hatinya langsung membaik. Banyak hal sejak semalam berjalan di luar dugaannya.
“Cepat tidur.”
Ia mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu tidur. Lalu ia berbaring di samping Juju.
Juju berkedip. Sepertinya ia sama sekali belum mengantuk. Jenna langsung pusing. Sepertinya anak kecil memang perlu diceritakan dongeng sebelum tidur.
Jenna mengangkat bahu pasrah.
“aku gak bisa cerita dongeng. Gimana kalau aku nyanyi aja buat kamu?”
Juju langsung terlihat antusias dan mengangguk. Jenna menepuk punggungnya pelan sambil mulai bernyanyi dengan suara lembut.
Seandainya kau tau ku tak ingin kau pergi
Meninggalkan ku sendiri bersama bayanganku
Seandainya kau tau aku kan selalu cinta
Jangan kau lupakan kenangan kita selama ini
Kelak kau kan menjalani hidupmu sendiri
Melukai kenangan yang telah kita lalui
Kau akan terbang jauh menembus awan
Memulai kisah baru tanpa diriku
Seandainya kau tau ku tak ingin kau pergi
Meninggalkan ku sendiri bersama bayanganku
Seandainya kau tau aku kan selalu cinta
Jangan kau lupakan kenangan kita selama ini
Selama ini .....
Jenna tiba-tiba berhenti.
Karena itu adalah lagu tentang cinta.
Astaga.
Bukankah itu terlalu tidak pantas untuk anak kecil?
Ia harus ganti lagu.
Jenna batuk kecil.
“Aku nyanyi lagu lain ya. Lagu selanjutnya.”
Juju mengangguk patuh.
Jenna memutar otak mencari lagu yang lebih cocok untuk anak-anak.
POtong bebek angsa masak di kuali
Nona minta dansa dansa empat kali
Sorong ke kiri sorong ke kanan
Lalalalalala lalalalalala
Sorong ke kiri sorong ke kanan
Lalalalalala lalalalalala
Potong bebek angsa masak di kuali
Nona minta dansa dansa empat kali
Sorong ke kiri sorong ke kanan
Lalalalalala lalalalalala
Sorong ke kiri sorong ke kanan
Lalalalalala lalalalalala
Baru setelah menyanyikan lagu itu tiga kali, ia mendengar suara napas kecil yang lembut di sampingnya.
Juju akhirnya tertidur.
Membesarkan anak memang tidak mudah.
Tiba-tiba Jenna merasa kagum pada Marco sebagai ayah tunggal. Ia bertanya-tanya siapa ibu Juju. Kenapa wanita itu melahirkan anak ini lalu meninggalkan Marco?
Apakah karena statusnya terlalu rendah untuk diterima Keluarga Alamsyah?
Atau karena Marco memiliki masalah yang tidak diketahui orang lain?
Dalam pikirannya yang terus berkelana, Jenna perlahan tertidur.
Tengah malam, ia tiba-tiba terbangun karena mendengar suara berat dari ruang tamu.