Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bima mengemudi kembali menuju Restoran Sari Rasa.
Begitu membuka pintu ruang VIP, pemandangan di dalam langsung membuatnya terpaku. Sepertinya setelah ia dan Dewi pergi tadi, suasana di ruangan justru semakin memanas. Selain Sari yang masih duduk tenang sambil menyeruput teh, semua orang sudah minum terlalu banyak.
Bahkan Yeni pun tak luput dari efek alkohol. Wajahnya memerah, matanya sayu dan kabur, dengan senyum tipis yang sedikit menggoda.
“Ah! Bima sudah kembali!” serunya sambil terhuyung. “Ayo cepat, ceritakan lagi satu lelucon! Yang itu… yang semut mematahkan kaki kelabang semalaman itu!”
Sari mendengus dingin dari samping.
Bima sedikit canggung. Ia melangkah maju, menopang tubuh Yeni yang hampir roboh, lalu berkata dengan nada serius, “Kau sudah minum terlalu banyak. Aku akan mengantarmu pulang.”
“Mengantarku pulang?” Yeni bersandar di tubuhnya, terkikik nakal. “Kau tidak akan menyelinap dan menyentuhku, kan? Tidak apa-apa kok… sentuh saja dengan berani. Aku pasti tidak akan melawan. Hehe… siapa suruh aku menyukaimu!”
“Kelihatannya gairahmu memang luar biasa.” Sari berkata dingin dari kursinya, kedua tangan terlipat di dada. Di matanya, pria ini tidak ada bedanya dengan lelaki lain—makan dari piring sendiri tapi masih melirik ke penggorengan orang.
“Haha, salah paham! Salah paham!” Bima cepat-cepat tertawa. “Aku ini pria terhormat yang bisa menahan segala godaan! Malam itu hanya kecelakaan… murni kecelakaan!”
Begitu ia menyebut malam itu, Sari langsung mengepalkan tinju kecilnya. “Kalau kau berani membahas itu lagi,” katanya sambil menggertakkan gigi, “aku tidak akan melepaskanmu!”
“Baik, baik.” Bima mengangkat Yeni. “Melihat mereka sudah mabuk begini, aku antar mereka pulang dulu. Kamu pulang naik taksi saja.”
“....” Sari terdiam. Apakah pria ini lupa bahwa dia sopir pribadinya?
Setelah mengantar satu per satu rekan timnya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Bima akhirnya tiba di rumah Sari. Ia mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.
Sari berdiri di sana dengan piyama. Mata Bima langsung berbinar. Sari mengenakan gaun tidur sutra putih. Bahunya yang putih mulus terbuka, sementara pakaian dalamnya samar-samar terlihat dari balik kain tipis itu. Jika pada siang hari ia terlihat dingin berwibawa, sekarang ia tampak lebih santai… bahkan sedikit manja.
“Ada apa malam-malam begini?” tanya Sari dingin ketika melihat Bima menatap tanpa sungkan.
“Tidak ada apa-apa. Ini kunci mobil.” Bima tersenyum dan menyerahkannya.
Sari tidak langsung mengambilnya. Mobil itu punya dua kunci. Satu dipegang Bima, satu lagi ada padanya. Ia sangat cerdas, sekilas saja ia sudah menebak motif pria itu.
“Mengembalikan kunci hanya alasan,” katanya ringan. “Yang sebenarnya, kau ingin membuktikan bahwa malam ini kau tidak menginap di rumah Yeni, kan?”
“Omong kosong!” Bima tertawa kaku. “Aku ini orang jujur! Lagi pula hubunganku dengan dia benar-benar bersih—lebih putih dari kertas HVS!”
Meski berkata begitu, hatinya sedikit bersalah. “Ngomong-ngomong,” ia cepat mengalihkan topik, “kenapa kau belum tidur? Jangan-jangan menungguku?”
Sari mendengus, matanya sedikit panik seolah rahasianya terbongkar. “Kalau tidak ada urusan, kau boleh pergi. Besok pagi pukul tujuh tiga puluh jemput aku!”
Saat itu, dari balkon lantai dua terdengar suara perempuan lain yang malas. “Sar, siapa yang datang malam-malam begini?”
Bima tertegun. Kenapa suara itu terdengar sangat familiar?
“Ini kau!”
“Ini kau?!”
Keduanya berseru bersamaan. Wanita itu adalah Bianca—polisi wanita yang tadi ia goda di gang! Tanpa berkata apa-apa lagi, Bima langsung berbalik dan kabur.
“Bajingan! Berhenti!” Bianca tidak mau kalah. Ia langsung mengejar turun sambil berteriak. Dalam hatinya ia bersumpah, kali ini ia pasti menangkap Bima, menggantungnya, lalu menendang "aset"-nya sampai pecah!
Sayangnya ia lupa satu hal… ia masih mengenakan piyama dan sandal rumah. Saat ia sampai di bawah, Bima sudah lebih dulu melesat pergi dengan Cayenne milik Sari, menghilang ke dalam kegelapan malam Jakarta.
“Sialan! Bajingan itu kabur lagi! Aku bener-bener emosi!” Bianca menghentakkan kaki dengan kesal, lalu kembali ke dalam rumah, berniat menginterogasi Sari.
Wanda yang mendengar keributan juga keluar dari kamar, mengenakan daster gambar kartun. Bianca langsung menceritakan kejadian tadi.
“Kak Bianca, maksudmu Bima itu ngerjain kakak?” Wanda langsung tertawa terbahak-bahak sambil memeluk bonekanya. “Haha! Bima hebat banget, bahkan Kak Bianca pun berani dia godain!”
Mata Bianca langsung melotot. Wanda buru-buru menutup mulutnya dan menjulurkan lidah dengan nakal.
“Kau bilang dia sendirian mengalahkan enam atau tujuh orang?” Sari bertanya dengan bingung. Menurutnya Bima hanya pandai bicara. Soal berkelahi? Paling-paling cuma level amatir.
“Aku tidak yakin apa mereka dipukul olehnya,” kata Bianca sambil menggertakkan gigi. “Waktu aku datang, mereka sudah tepar di tanah! Tapi itu nggak penting sekarang. Yang penting… aku harus tangkap bocah itu!”
Ia kemudian memandang Sari dengan serius. “Lagian, bocah itu bukan orang baik. Menyimpannya di sisimu cuma bakal bawa sial. Sar, cepetan pecat dia!”
Sari tampak agak canggung. “Aku baru saja mengangkatnya jadi asisten presdir. Kalau langsung dipecat, nggak enak sama karyawan lain. Dia juga belum melakukan kesalahan besar” Ia berhenti sejenak. “Selain itu, karena aku, dia sudah menyinggung orang-orang seperti Rendy dan Dodi. Kalau dia keluar dari Garuda Group, mereka pasti bakal habisin dia.”
“Belum melakukan kesalahan besar?” Bianca langsung melonjak. “Aku disentuh olehnya! Kau bersamanya setiap hari—siapa tahu suatu saat dia juga bakal macem-macemin kau!”
Wanda menjulurkan lidah kecilnya dan bergumam pelan, “Bahkan tidur bareng pun sudah pernah… mau dimacem-macemin apa lagi?”
“Apa kau bilang?” telinga Bianca sangat tajam. Ia langsung berdiri tegak. “Sar, yang dibilang Wanda bener? Kalian berdua beneran sudah tidur bareng?!”
“Bajingan! Aku bakal bunuh bocah itu sekarang juga!”
“Jangan dengerin omong kosongnya!” Sari menatap Wanda dengan tajam, wajahnya memerah padam. “Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia!”
“Nggak sekarang bukan berarti nggak bakal terjadi nanti!” kata Bianca tegas. “Aku harus cegah sebelum terlambat! Besok pagi aku bakal tangkap bocah itu, aku tuduh pelecehan, terus aku kurung setahun dua tahun!”
Sari langsung panik. “Bianca, nggak boleh gitu! Kalau ada keributan kayak gitu, reputasi perusahaanku taruhannya. Itu juga nggak baik buat namaku!”
Ia menatap Bianca dengan serius. “Kau harus janji. Di rumah ini atau di kantorku, kau nggak boleh bikin masalah. Gimana kalau tetangga sama karyawan kantor pada liat?”