NovelToon NovelToon
Frosen King OF Calestial

Frosen King OF Calestial

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Raja Ilusi

Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14:Penjaga Gelap dan Kekuatan Yang Baru

Setelah melewati aula utama, Kaelen dan Lira melangkah masuk ke dalam lorong-lorong dalam benteng Malakar. Suasana di sini terasa jauh lebih mencekam daripada di mana pun sebelumnya. Udara terasa berat, seolah-olah dipenuhi dengan energi jahat yang nyata, dan setiap langkah kaki mereka memantul dengan suara yang aneh di dinding batu hitam. Obor-obor yang menyala dengan api hijau kehitaman memberikan cahaya yang cukup untuk melihat jalan, tapi bayang-bayang yang dihasilkannya tampak bergerak-gerak sendiri, seolah-olah ada kehidupan sendiri di dalamnya.

"Kita harus sangat berhati-hati," bisik Kaelen, suaranya rendah namun terdengar jelas di keheningan itu. "Aura gelap di sini semakin kuat. Malakar pasti sudah tahu bahwa kita ada di sini. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk menyambut kita."

Lira menggenggam pedang esnya dengan erat, merasakan jantungnya berdegup kencang. "Saya siap, Yang Mulia. Apa pun yang datang, kita akan menghadapinya bersama-sama."

Mereka terus berjalan, mata mereka teliti memindai setiap sudut lorong yang gelap dan menakutkan. Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka tiba di sebuah ruangan besar yang terletak di tengah benteng. Ruangan itu tampak seperti sebuah arena pertarungan, dengan lantai yang luas dan dinding-dinding yang tinggi. Di ujung ruangan itu, ada sebuah pintu besar yang terbuat dari besi hitam yang berkilauan, yang pasti menuju ke tempat di mana Malakar berada.

Namun, di tengah ruangan itu, berdiri sebuah sosok yang membuat Kaelen dan Lira berhenti sejenak dengan terkejut.

Sosok itu adalah seorang pria yang sangat tinggi dan berotot, dengan kulit yang berwarna abu-abu gelap dan mata yang bersinar dengan cahaya ungu yang sangat terang dan menakutkan. Dia mengenakan baju zirah yang terbuat dari besi hitam yang dihiasi dengan duri-duri tajam, dan di tangannya, dia memegang sebuah gada raksasa yang terbuat dari batu hitam dan besi, yang bersinar dengan energi gelap yang kuat. Di punggungnya, ada sayap-sayap besar yang terbuat dari asap hitam dan energi gelap, yang membuatnya terlihat seperti malaikat jatuh yang sangat jahat.

Itu adalah Vorath, Penjaga Gelap—salah satu bawahan Malakar yang paling kuat dan paling kejam. Konon, Vorath dulunya adalah seorang ksatria yang sangat kuat dan berani, tapi dia menjual jiwanya kepada Malakar demi kekuatan yang lebih besar, dan sekarang dia menjadi makhluk yang tidak lebih dari sebuah mesin pembunuh yang dikendalikan oleh keinginan Malakar.

Vorath menatap Kaelen dan Lira dengan pandangan yang dingin dan penuh dengan kebencian. "Jadi, kalian adalah orang-orang yang berani mengganggu ketenangan tuanku Malakar," katanya, suaranya berat dan serak, seperti suara batu yang bergesekan satu sama lain. "Kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan. Kalian tidak tahu betapa kuatnya tuanku. Dan kalian tidak tahu betapa menyedihkannya nasib kalian yang akan mati di tanganku hari ini."

Kaelen melangkah maju, menatap Vorath dengan pandangan yang tegas dan tidak takut. "Kami tidak takut padamu, Vorath. Kami datang untuk mengalahkan Malakar dan untuk membawa kedamaian kembali ke dunia ini. Dan jika kamu menghalangi jalan kami, kami tidak akan ragu untuk mengalahkanmu juga."

Vorath tertawa dengan suara yang keras dan mengerikan, yang membuat tanah di sekitarnya bergetar. "Kalian mengalahkan saya? Ha! Itu adalah lelucon yang paling lucu yang pernah saya dengar. Kalian hanyalah dua anak kecil yang bermain dengan api. Kalian tidak tahu apa yang menanti kalian. Saya adalah Vorath, Penjaga Gelap. Saya telah membunuh ribuan orang yang lebih kuat dan lebih berani daripada kalian. Dan hari ini, kalian akan menjadi korban berikutnya."

Tanpa peringatan apa pun, Vorath melompat ke arah Kaelen dan Lira dengan kecepatan yang luar biasa, mengayunkan gada raksasanya dengan kekuatan yang besar. Kaelen dan Lira sempat menghindar tepat waktu, tapi serangan gada itu menghantam tanah di tempat mereka berdiri sebelumnya, membuat lubang yang besar dan debu yang beterbangan ke mana-mana.

"Awasi dirimu!" teriak Kaelen kepada Lira. "Dia sangat cepat dan sangat kuat. Jangan biarkan dia memukulmu."

"Baiklah, Yang Mulia!" jawab Lira.

Pertarungan pun dimulai. Vorath menyerang mereka dengan ganas dan tanpa henti. Dia mengayunkan gada raksasanya dengan cepat dan kuat, mencoba untuk memukul Kaelen dan Lira. Dia juga menggunakan sayap-sayapnya untuk menciptakan angin kencang yang membuat Kaelen dan Lira sulit untuk menjaga keseimbangan mereka. Selain itu, dia juga bisa melemparkan bola-bola energi ungu yang sangat panas dan berbahaya dari tangannya, yang meledak dengan kekuatan yang besar saat menyentuh apa pun.

Kaelen dan Lira bertarung dengan sekuat tenaga. Kaelen menggunakan kekuatan esnya untuk membekukan gerakan Vorath dan untuk menciptakan tembok-tembok es untuk melindungi diri mereka dari serangan gada dan bola energi Vorath. Lira menggunakan kekuatan es dan cahaya emasnya untuk menyerang Vorath, melemparkan bola-bola energi dan mengayunkan pedangnya dengan cepat dan kuat.

Namun, Vorath ternyata jauh lebih kuat dan lebih tangguh daripada musuh-musuh yang mereka hadapi sebelumnya. Setiap kali Kaelen membekukan bagian tubuhnya, Vorath bisa dengan mudah memecahkan es itu dengan kekuatannya yang besar. Dan setiap kali Lira menyerangnya dengan bola energi atau pedangnya, serangan itu hanya membuat luka-luka kecil di tubuhnya, yang segera sembuh kembali berkat energi gelap yang ada di dalam dirinya.

"Sialan!" geram Kaelen, setelah mencoba untuk memotong lengan Vorath dengan pedangnya tapi hanya berhasil membuat goresan kecil. "Dia sangat tangguh. Serangan kita hampir tidak berpengaruh padanya."

Lira juga merasa frustrasi. Dia sudah mengerahkan semua kekuatannya, tapi Vorath masih berdiri dengan tegap dan masih terus menyerang mereka dengan ganas. "Apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia? Dia tidak bisa mati!"

"Kita harus menemukan kelemahannya," jawab Kaelen, sambil menghindari serangan gada Vorath dan membalas dengan serangan es. "Setiap makhluk pasti memiliki kelemahan. Kita harus mencari tahu apa itu."

Mereka terus bertarung, sambil mencoba untuk mencari kelemahan Vorath. Mereka memperhatikan setiap gerakan Vorath, setiap serangan yang dia lakukan, dan setiap bagian tubuhnya. Akhirnya, Lira melihat sesuatu yang menarik.

Setiap kali Vorath melemparkan bola energi ungu atau mengerahkan kekuatannya yang besar, ada sebuah batu kecil berwarna ungu yang bersinar terang di dada nya, di tengah baju zirahnya. Itu pasti sumber energi yang memberinya kekuatan dan membuatnya bisa sembuh sendiri.

"Yang Mulia!" teriak Lira kepada Kaelen. "Lihatlah di dadanya! Ada batu ungu di sana. Itu pasti sumber energinya! Kita harus menghancurkan batu itu jika kita ingin mengalahkan dia!"

Kaelen melihat ke arah dada Vorath, dan dia melihat batu ungu itu bersinar terang saat Vorath mengerahkan kekuatannya. "Benar! Itu dia! Lira, bantu saya! Kita harus mengalihkan perhatiannya, dan kemudian salah satu dari kita akan menyerang batu itu!"

"Baiklah, Yang Mulia!" jawab Lira.

Kaelen pun mulai menyerang Vorath dengan lebih agresif, mengalihkan perhatiannya sepenuhnya. Dia menciptakan badai es yang besar yang menghantam Vorath dari segala arah, membuat Vorath sibuk untuk melindungi dirinya dan untuk memecahkan es-es yang menutupi tubuhnya.

Sementara itu, Lira mengerahkan semua kekuatannya. Dia merasakan kekuatan es dan cahaya emas di dalam dirinya berkumpul menjadi satu, menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar dan kuat. Dia mengangkat tangannya, dan sebuah bola energi yang sangat besar—yang berwarna biru bercampur emas—terbentuk di telapak tangannya. Bola itu bersinar dengan cahaya yang sangat terang, yang membuat Vorath sedikit terganggu dan menoleh ke arah Lira.

"Terima ini!" teriak Lira, dan dengan sekuat tenaga, dia melemparkan bola energi itu ke arah batu ungu di dada Vorath.

Vorath terkejut, dan dia mencoba untuk melindungi dadanya dengan tangannya. Tapi dia terlambat. Bola energi itu menghantam batu ungu itu dengan kekuatan yang besar.

Terdengar suara ledakan yang sangat keras dan mengerikan, dan cahaya yang terang menyelimuti seluruh ruangan. Saat cahaya itu meredup, Vorath berdiri diam sejenak, matanya yang bersinar ungu mulai meredup. Dia mengeluarkan suara auman yang panjang dan menyakitkan, dan kemudian tubuhnya mulai hancur menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian berubah menjadi asap hitam yang menghilang di udara.

Ruangan itu kembali sepi, hanya menyisakan suara napas Kaelen dan Lira yang terengah-engah dan suara angin yang berhembus melalui celah-celah benteng.

Kaelen dan Lira berdiri di tengah ruangan itu, tubuh mereka lelah dan keringat mengalir di wajah mereka. Tapi mereka tersenyum bahagia dan lega. Mereka berhasil mengalahkan Vorath, Penjaga Gelap yang sangat kuat dan berbahaya itu.

Kaelen berjalan mendekati Lira, dan dia memeluknya dengan erat. "Kamu hebat, Lira. Kamu sangat hebat. Tanpa kamu, saya tidak akan bisa mengalahkan dia. Kamu adalah pahlawan sejati."

Lira membalas pelukan Kaelen, merasakan kehangatan dan keamanan dalam pelukan itu. "Kita melakukannya bersama-sama, Yang Mulia. Kita adalah tim yang hebat."

Mereka melepaskan pelukan itu, dan saling menatap dengan mata yang penuh dengan cinta dan kekaguman. Mereka tahu bahwa mereka telah melewati ujian yang sangat berat. Mereka telah mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat daripada yang mereka bayangkan. Dan itu membuat mereka merasa lebih yakin dan lebih kuat untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.

Mereka beristirahat sejenak di tengah ruangan itu, memulihkan tenaga mereka dan merawat luka-luka mereka. Setelah merasa cukup kuat, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berjalan menuju pintu besar di ujung ruangan itu, yang menuju ke tempat di mana Malakar berada.

Mereka tahu bahwa di balik pintu itu, mereka akan menghadapi musuh yang paling kuat dan paling jahat dari semuanya.

1
Ridwani
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!