Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin Tipis dan Dua Garis Merah
Kos-kosan itu masih sama.
Temboknya tetap tipis—kalau tetangga batuk saja terdengar jelas.
Lantainya dingin setiap pagi.
Suara sandal lewat depan pintu seperti alarm tambahan.
Tapi bagi Siska… tempat itu sudah berubah.
Bukan lagi sekadar tempat menumpang tidur.
Itu rumah.
Satu-satunya tempat di mana ia merasa hidupnya benar-benar miliknya sendiri.
Awal tinggal bersama, semuanya serba pas-pasan.
Tapi anehnya… terasa ringan.
Kevin makin gila bekerja.
Apa saja diambil.
Panas, hujan, tangan lecet, badan pegal—jalan terus.
“Kerjaan apa lagi hari ini?” tanya Siska suatu malam sambil menyiapkan nasi dan telur dadar tipis.
“Angkut barang pindahan. Berat sih… tapi lumayan,” jawab Kevin sambil mencuci tangan.
Siska yang mengatur uang.
Menghitung receh.
Menyusun daftar belanja.
Memasak seadanya tapi tetap diusahakan enak.
Kadang mereka tertawa hanya karena hal kecil.
“Telurnya gosong dikit,” goda Kevin.
“Besok kamu yang masak,” jawab Siska pura-pura kesal.
Hidup mereka bergantung pada tabungan yang makin menipis dan penghasilan yang tak pernah pasti.
Capek? Iya.
Takut? Iya.
Tapi bahagia juga… iya.
Suatu malam, hujan turun pelan. Lampu kamar redup. Siska sedang melipat baju di lantai.
“Sis…” panggil Kevin pelan.
“Hm?”
Kevin terlihat gelisah.
“Aku nggak punya apa-apa,” katanya tiba-tiba.
Siska menoleh. “Kenapa bilang begitu?”
“Aku nggak punya rumah. Tabungan besar juga nggak. Hidupku masih begini-begini aja.” Ia menelan ludah. “Tapi… aku nggak mau kita terus seperti ini tanpa status.”
Jantung Siska berdetak lebih cepat.
“Maksud kamu?”
Kevin turun dari kasur.
Lalu—di lantai kos yang dingin itu—ia berlutut.
“Kevin?! Kamu ngapain?!”
Dari saku jaketnya, Kevin mengeluarkan cincin perak tipis. Sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana.
Tapi tangannya gemetar saat menggenggamnya.
“Siska… mau nggak kamu nikah sama aku?” suaranya serak.
“Aku nggak bisa kasih hidup mewah. Tapi aku janji tanggung jawab. Aku janji kerja sekeras mungkin. Aku janji nggak akan ninggalin kamu.”
Air mata Siska jatuh tanpa bisa ditahan.
Bukan karena tempatnya sempit.
Bukan karena cincinnya murah.
Tapi karena ia tahu—Kevin mengucapkannya dengan seluruh hati.
“Iya,” bisiknya sambil menangis. “Aku mau.”
Kevin terdiam beberapa detik.
“Serius?”
“Bego. Masa aku bercanda.”
Mereka menikah tanpa pesta.
Tanpa gedung megah.
Tanpa foto glamor.
Tanpa restu penuh dari keluarga Siska.
Akadnya sederhana. Saksinya sedikit. Doanya lirih tapi tulus.
Saat Kevin mengucap ijab kabul, suaranya sempat bergetar.
Saat kata “sah” terdengar… Siska menangis lagi.
Bahagia? Iya.
Tapi di balik bahagia itu, ada sesuatu yang hilang.
Ia resmi menjadi istri Kevin.
Dan semakin jauh dari keluarganya.
Setelah menikah, hidup tak berubah drastis.
Masih kos yang sama.
Masih rutinitas yang sama.
Hanya saja sekarang ada panggilan baru.
“Mas…”
“Iya, Dek…”
Sederhana. Tapi hangat.
Siska bangun lebih pagi untuk memasak walau hanya nasi dan tempe.
Kevin pulang lelah, tapi selalu memeluknya dulu sebelum mandi.
“Kita pasti punya rumah sendiri suatu hari nanti,” kata Kevin suatu malam.
Siska tersenyum.
“Aku percaya.”
Beberapa bulan kemudian, semuanya berubah lagi.
Siska sering mual di pagi hari. Cepat lelah. Mood tak menentu.
“Mas… aku kayaknya sakit.”
“Periksa yuk.”
Sore itu, di kamar mandi kos yang sempit, Siska duduk menatap alat tes kehamilan.
Dua garis merah.
Tangannya dingin.
Kevin pulang malam itu.
“Kamu kenapa pucat banget?” tanyanya panik.
Siska hanya menyodorkan test pack.
Kevin terdiam beberapa detik.
“Kita… punya anak?” suaranya hampir tak terdengar.
Siska mengangguk pelan.
Kevin langsung memeluknya erat.
“Aku janji. Anak kita nggak boleh merasa kurang. Aku bakal kerja lebih keras lagi.”
Kehamilan Siska jauh dari mewah.
Periksa seadanya.
Makan disesuaikan kemampuan.
Kamar kos terasa makin sempit.
Tapi setiap merasakan gerakan kecil di perutnya… Siska selalu tersenyum.
Dan saat bayi laki-laki mereka lahir—merah, kecil, menangis keras—Kevin kembali menangis.
“Namanya siapa?” tanya bidan.
Kevin menatap Siska.
“Apa pun namanya… dia alasan hidupku.”
Mereka merawat bayi itu di kamar kos yang sama.
Tangisan bayi bercampur suara tetangga.
Popok dicuci manual.
Malam tanpa tidur.
Awalnya terasa indah.
Melihat Kevin menggendong anaknya.
Mendengar “makasih ya, Sis” setiap malam.
Merasa memiliki keluarga kecil sendiri.
Tapi waktu terus berjalan.
Kevin makin sering pulang larut dan langsung tertidur.
Siska hampir 24 jam di kamar—mengurus bayi, memasak, membereskan semuanya sendirian.
Suatu siang, sambil menggendong anaknya yang tertidur, Siska membuka media sosial.
Teman-temannya mengunggah rumah baru.
Liburan keluarga.
Suami dengan kemeja rapi.
Anak bermain di playground yang bersih dan luas.
Siska menatap layar cukup lama.
Lalu mematikannya.
Tapi rasa itu… tak ikut mati.
Ia mulai membandingkan.
Kamar kos terasa makin sempit.
Uang belanja harus dihitung detail.
Setiap kebutuhan anak harus dipikir dua kali.
Suatu malam, Kevin pulang dengan wajah kusut.
“Aku capek,” ucap Siska tiba-tiba. Nada suaranya berbeda.
Kevin terkejut.
“Aku juga capek, Sis.”
Hening.
Tapi hening kali ini tak lagi nyaman.
Dulu hening terasa hangat.
Sekarang… terasa jauh.
Hari-hari seperti fotokopi.
Bangun. Masak. Mengurus anak. Menunggu Kevin.
Ulang lagi.
Siska masih mencintai Kevin.
Ia sangat menyayangi anaknya.
Tapi perlahan… ia mulai membenci kehidupan yang mereka jalani.
Dan itu membuatnya takut.
Takut kalau ternyata ia tidak sekuat yang dulu ia yakini.
Takut kalau pilihan yang ia bela mati-matian mulai terasa berat.
Takut kalau… cinta saja memang tidak selalu cukup untuk membuat semuanya bertahan selamanya.
Dan tanpa ia sadari…
retakan kecil itu mulai muncul di dalam hatinya.