" Aku telah kehilangkan kedua orang tuaku dari karna ulah keluargamu, maka bersiap lah menerima akibat dari perbuatanmu itu!" Ucap seorang pria dengan mata penuh dendam.
” Aku menerima semua kemarahan mu tuan, atas apa yang telah di perbuat oleh orang tuaku untuk menebus semua kesalahan itu. Tapi jika aku lelah aku pamit pergi tuan." Balas seorang wanita dengan wajah sendiri penuh kepasrahan apa yang akan ia terima dengan ikhlas untuk menebus semua kesalahannya pada pria yang membenci dirinya itu.
Bagaimana kelanjutannya ikuti terus cerita ini sampai selesai ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda sri ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketiga
Di sebuah kamar yang sangat sederhana jauh dari kata mewah tempat Naura mengistirahatkan tubuhnya di saat gadis kelelahan di ruangan itu hanya ada kasur tipis dan juga selimut usang yang menemani Naura ketika tidur malam dari dinginnya malam.
Setelah selesai berganti baju dengan seragam Sekolahnya Naura pun mengambil tas sekolah miliknya yang tampak biasa saja dengan di dalamnya terisi buku-buku pelajaran yang sudah ia siapkan dari semalam.
Tadi setelah selesai membantu asisten rumah tangga di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi Pemuda tersebut Naura pun kembali lagi masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap pergi ke sekolah dengan berbekal makanan sederhana yang diberikan oleh ibu itu untuk makannya di sana.
Makan itu pun bukan di ambil dari meja makan namun ibu itu masak sendiri dengan menu yang tidak istimewa seperti yang di masak itu pemilik rumah tersebut.
Karna memang naura tidak pernah membawa uang saku ke sekolah. karna ia tinggal di rumah itu pun bukan di bayar namun hanya tenaganya saja yang digunakan.
Setelah selesai bersiap Naura pun keluar dari dalam kamar dengan atas yang sudah ada di punggung nya mendatangi wanita paru baya yang masih sibuk di dapur.
" Assalamualaikum Bu Naura pergi ke sekolah dulu ya." Ucap naura berpamitan pada ibu tersebut sebelum pergi ke sekolah.
"Iya mbak naura hati hati di jalan ya. bekal yanh tadi sudah ibu siapkan jangan lupa di bawak buat makan di sekolah." kata ibu tersebut pada gadis tersebut dengan penuh perhatian selayaknya seorang ibu kepada putri kandungnya sendiri.
" Baik Bu kalau gitu Naura pergi dulu ya Assalamualaikum." kata naura sambil menyalami tangan wanita parubaya tersebut.
”Walaikumsalam."
Begitu juga dengan yang lainnya naura pernah pilih pilih untuk ia cium tangannya.
Setelah berpamitan Naura pun pergi lewat pintu belakang yang terhubung ke pintu samping lalu ke gerbang depan untuk berjalan kaki menuju sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mewah tersebut.
Pagi itu jalanan tampak begitu ramai oleh aktifitas orang orang yang mengantar anak yang bersekolah ataupun orang yang baru akan memulai aktivitas pagi mereka untuk bekerja pada pagi ini.
Saat Naura sedang berjalan menuju ke sekolah dari arah belakang terlihat Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan sedang dengan kaca jendela yang tertutup rapat melewati naura yang sedang berjalan kaki.
Sedangkan naura yang melihat mobil itu melintas di pinggir nya hanya terdiam dengan tatapan mata biasa saja karna naura tau kalo mobil yang di kendarai oleh orang tersebut adalah shaka pria yang membenci dirinya.
Sedangkan Shaka yang berada di dalam mobil tersebut hanya menatap sekilas gadis itu dengan tatapan mata dingin tampa berniat memberi tumpangan pada gadis itu.
Bahkan sejak semalam shaka pulang dari luar bersama ketiga temennya hingga pagi pemuda itu baru melihat kembali gadis itu setelah ia marahin.
Jarak sekolah Naura dan juga sekolah shaka terbilang cukup jauh karna naura bersekolah di SMP negri sedangkan shaka bersekolah di SMA swasta yang terbaik di kota tersebut.
Akhirnya naura setelah berjalan dari rumah itu sampai di sekolah tepat waktu. dari kejauhan terlihat seorang gadis seusia naura berjalan menghampiri naura yang baru saja sampai di sekolah.
”Asalamualaikum naura sahabat ku sayang." Sapa gadis tersebut dengan cengengesan.
"Walaikumsalam selamat pagi dina." Balas naura sembilan tersenyum pada sahabatnya itu.
"Yaudah kalo gitu sekarang kita masuk yok." Ajak naura mengajak sahabatnya itu untuk masuk kedalam sekolah karena waktu pembelajaran akan segera di mulai.
" Oke mari kita masuk naura." Ucap dina dengan mengandeng tangan kanan naura yang tiba tiba aja bilang sakit membuat dina terkejut.
" Aww.... sakit." Meringis naura saat pergelangan tangannya di sentuh oleh dina.
" Tangan kamu kenapa Naura?" Tanya dina dengan penasaran langsung menarik lengan baju sahabatnya itu hingga terpampang tangan yang tampak merah seperti terkena sesuatu yang panas.
" Ini kenapa naura." Dina kembali bertanya dengan nada serius pada sahabatnya itu dengan tatapan mata mengintimidasi penuh pertanyaan pada naura atas apa yang telah terjadi.
Naura pun langsung memanjangkan kembali lengan bajunya untuk menutupi tangannya itu.
" Ini hanya kena air panas aja kok dina saat kemarin aku masak , udah gadi kasih salep juga kok dina jadi kamu gak usah khawatir ya aku baik baik aja ." Ucap naura dengan wajah tersenyum seolah olah semuanya tidak ada yang terjadi.
" Kamu bilang gak papa naura. Dan apa benar itu hanya kena air panas bukan karena hal lain?" Wajah dina tidak percaya apa yang di bilang oleh sahabatnya itu, karna bukan hanya sekali saja dina melihat bagian tubuh naura yang mengalami hal seperti itu yang tampaknya sengaja di lakukan oleh orang lain.
Terlihat wajah naura tampak gugup namun sebisa mungkin naura mencoba untuk bersikap biasa saja di hadapan dina.
" Iya Dina tanganku hanya terkena air panas Kamu kan tahu terkadang Aku ceroboh makanya nggak sengaja tersiram, kan yang penting tanganku baik-baik aja Jadi kamu jangan khawatir ya. mendingan sekarang kita masuk Takutnya nanti guru malah udah datang duluan." kata Naura mengalihkan ke pembicaraan lain supaya tidak terus bertanya tanya tentang tangannya yang terluka.
Lalu Naura pun berjalan duluan sambil menggandeng tangan Dina untuk masuk ke dalam sekolah dengan tangan kirinya.
Sedangkan Dina sendiri tidak mengatakan apapun Hanya mengikuti langkah sahabatnya untuk masuk ke dalam dengan wajah yang masih terdiam sambil memperhatikan sahabatnya dari samping.
Selama mata pelajaran terlaksanakan Dina masih saja tetap diam tidak menegur ataupun memanggil Naura.
Hal tersebut pun dirasakan oleh Naura saat ia mengajak sahabatnya itu untuk masuk ke dalam kelas tidak pernah mengeluarkan suaranya dan hanya bersikap cuek.
Namun Naura sendiri juga tidak bisa menjelaskan apapun sama dina apalagi saat ini mereka masih dalam jam pelajaran sekolah yang pastinya akan mengganggu orang lain.
Mungkin nanti kalau jam istirahat sudah tiba Naura bakal sedikit memberi pengertian kepada sahabatnya itu.
*
*
*
Sedangkan di tempat lain terlihat empat orang remaja pria sedang duduk di sebuah kantin yang tampak ramai pada pagi itu.
Mereka ada yang sedang sarapan ada juga yang sedang makan. namun tidak dengan pemuda yang sejak awal datang sama sekali tidak ada mengatakan hal apa pun malah sibuk dengan ponselnya dengan wajah serius.
Sampai tidak lama kemudian pandangan orang-orang yang berada di kantin tersebut pun teralihkan saat kedatangan tiga orang wanita yang memakai seragam sekolah dengan Gayanya yang terlihat modis berjalan masuk ke area kantin.
" Buset cantik bener Zaskia si Primadona sekolah ini." Ucap putra tidak berkedip melihat ketiga wanita cantik tersebut yang digandrungi oleh siswa laki-laki di sekolah tersebut.
" Bener bro mereka bertiga memang cantik tapi mata gue fokus pada Zaskia memang benar-benar cantik bodinya bagus anak orang kaya siapa yang nggak suka sama wanita seperti dia." Tambah rio yang menatap ketiga wanita tersebut tanpa berkedip.
Tapi tidak dengan Shaka dan juga Rian yang sama sekali tidak perduli dan bersikap cuek apa yang kedua temennya lihat saat kedatangan ketiga wanita itu yang kini duduk tepat di belakang kursi yang di tempati oleh shaka dan temen temennya.
.....