Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reversio
Dwarf tua itu berhenti tepat di ujung meja batu. Tongkat kayunya diketukkan sekali ke lantai.
TOK.
Suara itu tidak keras, tapi entah bagaimana mampu membuat seluruh ruangan menjadi hening. Beberapa siswa yang masih berdiri tergesa duduk. Luce membalik kursinya dengan patuh, memusatkan perhatian kepada Professor Ojike.
Professor Ojike meletakkan buku-bukunya di meja dengan suara 'thud' berat. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, menatap para siswa satu persatu.
“Selamat pagi,” ucapnya dengan suara serak dan parau.
“Pagi, Professor..."
"Mungkin beberapa dari kalian mencium aroma yang kurang sedap pagi ini." Professor Ojike duduk di kursi pengajar, "itu adalah salah satu bahan pembelajaran kita pagi ini." Ia membuka pengunci koper.
KLIK.
Tutupnya terangkat perlahan.
Aroma busuk kini tercium jelas, membuat Vivi dan beberapa siswa lainnya mengernyitkan dahi. Ursha'el gemetar, aroma nya benar-benar mirip, benar-benar sama dengan aroma didalam mimpinya, namun ia segera mengendalikan dirinya kembali.
Di dalam koper terdapat sebuah toples kaca tebal. Berisi beberapa kubus padat, cokelat kehitaman, berdenyut dengan cahaya keunguan redup seakan ia hidup.
Ojike mengetukkan tongkatnya ke wadah itu. “Kotoran naga terkutuk.”
Ruangan seketika senyap. Beberapa siswa bergumam. Yang lain saling berpandangan. Bahkan Luce, yang biasanya cerewet, terdiam, alisnya terangkat tinggi.
“Bahan terlarang…?” gumam Vivi.
Ojike menyeringai tipis, hampir tak terlihat di balik janggutnya. “Tepat sekali. Bahan kelas tinggi. Terbatas. Tidak dijual bebas. Tidak untuk tangan bodoh.” Ia melirik tajam ke arah Luce, “dan jelas bukan untuk eksperimen iseng.”
Luce menelan ludah, ia teringat ketika Professor Ojike menghukumnya minggu lalu. Menggantungnya terbalik di belakang kelas karena ia—untuk iseng—membuat Vivi dan Ursha'el mencium bau kentut seharian.
Ojike melanjutkan, suaranya kembali tenang. “Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan bab terakhir pelajaran alkemi kalian di akademi, tentang ramuan tingkat lanjut, objek hari ini adalah...”
Ia beranjak dari kursinya dan menuliskan di papan batu.
REVERSIO — TINGKAT II
“Cara kerjanya sama dengan Reversio dasar. Perbedaannya, jika Reversio tingkat dasar membalikkan efek fisik, Reversio tingkat dua akan membalikkan efek magis yang diterima oleh raga yang dijadikan media kepada peminum. Cara membuatnya juga hampir sama dengan ramuan Reversio dasar. Namun memiliki bahan utama yang berbeda. Bahan utamanya—” tongkatnya menunjuk wadah kaca, “—hanya bisa dinetralkan oleh tangan yang benar-benar memahami reaksi.”
"Paham?"
"Baik, Professor.." Beberapa siswa bergumam, sebagian mengangguk, sebagian mencatat.
Ojike mengangkat tongkatnya, kristal putih di ujungnya berkilau lembut. “Dan sepertinya kalian sudah terlalu banyak menelan teori-teori dalam buku, jadi, kali ini, aku memutuskan kita akan praktik langsung.”
Hening.
Beberapa siswa saling pandang, terkejut. Beberapa detik berlalu dalam keheningan tegang sebelum sebuah kursi bergeser.
“K–kita praktik… sekarang?” suara Vivi terdengar lebih keras dari biasanya, agak bergetar. Gadis elf itu berdiri, telinga runcingnya menegang, kedua tangannya mencengkeram meja batu.
“Professor Ojike,” lanjutnya cepat, nada suaranya tegas seperti saat ia mengoreksi kesalahan dosen pengunjung dalam persentasi lintas akademi, “berdasarkan Tabel Reaksi Alkemik Tingkat Lanjut, kotoran naga terkutuk berada di kategori volatile dominan. Satu kesalahan suhu, satu rasio keliru, reaksi baliknya bisa menghasilkan gas beracun. Itu bisa melumpuhkan seluruh ruangan.”
Beberapa siswa mengangguk setuju. mulai terdengar bisik panik.
“Dan—” Vivi menelan ludah, “—kami belum pernah melakukan praktik langsung dengan bahan terlarang.”
Ojike tidak langsung menjawab, ia berdiri. Tongkatnya diketukkan sekali lagi ke lantai.
TOK.
Getaran halus merambat di lantai batu. Rune pelindung yang terukir samar di dinding kelas menyala redup, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih padat.
“Analisis yang tepat,” kata Ojike akhirnya, suaranya rendah dan mantap. “Kau memang siswi terbaik dalam menghafal teori, Vivi."
Vivi terdiam.
“Tapi,” lanjutnya, mata Ojike menyapu kelas, “alkemi bukan hanya soal menghafal teori. Ia soal merasakan reaksi. Mengenali napas bahan. Mengetahui kapan suatu zat berteriak sebelum ia meledak.”
Ia mengangkat kristal di ujung tongkatnya. Cahaya putihnya kini berlapis kilau keemasan.
“Rune penahan sudah aktif. Ventilasi di langit-langit terbuka penuh. Dan selama praktik ini berlangsung—” ia mengetukkan tongkatnya ke dada sendiri, “—aku tidak akan melepas pandangan, bahkan satu detik pun”
Ojike menoleh kembali ke Vivi. “Jika terjadi kekeliruan sekecil apa pun, aku akan menghentikan reaksi seketika.”
Vivi menggigit bibirnya, lalu perlahan duduk kembali. “...Jika begitu, saya tidak keberatan,” katanya akhirnya, meski jelas masih tegang.
"Baik...," Ojike kembali mengarahkan pandangannya ke seluruh ruang kelas, ia menunjuk bagian meja didepannya yang penuh dengan peralatan alkemi. “Satu sukarelawan.”
Kelas terdiam.
Tak ada tangan terangkat. Ursha’el melirik Vivi, Vivi mengangkat bahu. Beberapa siswa pura-pura sibuk membuka buku.
Tiba-tiba...
Suara kursi berderit.
Luce berdiri. Dengan satu tangan di dada dan ekspresi berlebihan.
“Ah… panggilan takdir akhirnya datang juga,” katanya dramatis. “Baiklah, demi ilmu pengetahuan dan keindahan reaksi ramuan, aku—Luce yang sederhana namun mempesona—akan mempersembahkan keahlianku.”
Vivi menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Ya tuhan...kita semua akan mampus."
Luce melangkah mantap kedepan kelas yang hampir dipenuhi bisik ragu dan tatapan merendahkan.
"Tunjukkan kemampuanmu, Luce!," ujar seorang siswa manusia dengan rambut pirang dan mata biru, dengan senyum yang tak kalah menyebalkannya.
"Tenang, Ken...inilah waktunya untuk menunjukkan pada dunia," ujar Luce dengan senyum lebar pada Kenny, teman dekat nya.
Luce berdiri tenang dihadapan Professor Ojike, Professor Ojike menatap mata coklat Luce serius. "Kau...yakin, nak?," tanya Professor Ojike, khawatir. Ia paham betul kalau Luce adalah seorang murid yang suka iseng dengan nilai pas-pasan.
“100%, Professor, ini bukan kebetulan. Ini adalah takdir yang diracik dengan presisi untukku,” jawab Luce dengan senyum lebar, penuh percaya diri.
Ojike mengamatinya beberapa detik, lalu ia mendengus. Ia menggenggam erat tongkatnya, cahaya kristal putih diujungnya makin terang, tanda kewaspadaan total. Kemudian Ojike berkata singkat. “Baiklah, untuk medianya, gunakan rambutmu. Siap?, tunjukkan padaku, mulai."
"Siap, Professor..., hei,... kalian semua... perhatikan pesona ku!, hahaha!." Luce melayangkan pandangannya pada semua orang sambil tertawa dramatis dengan suara yang diberat-beratkan, senyum menjengkelkan dan pandangannya bertemu Vivi, yang membalasnya dengan ekspresi jijik. Ia melangkah mantap menuju peralatan praktek dan segera memulainya.
Begitu dimulai, sesuatu berubah.
Luce yang biasanya menjengkelkan… hening.
Tidak ada komentar puitis. Tidak ada gerakan berlebihan. Tangannya bergerak cepat dan pasti.
Ekspresinya serius, penuh ketelitian. Penampakan yang sangat langka pada diri Luce.
Botol-botol dan labu kaca dipilih tanpa ragu. Bubuk kehijauan ditakar tanpa timbangan, hanya dengan mata dan insting. Luce mencabut sehelai rambutnya yang kemudian ia bakar, lalu mencampurkan abunya kedalam bubuk hijau.
Luce bahkan tidak melihat catatan.
Professor Ojike hanya terdiam kagum, hampir tidak percaya. Ia sudah menyadari ada yang berbeda sejak awal Luce memulai praktek nya.
Cairan biru dituangkan dalam sudut tertentu sambil memutar labu kaca, bukan lurus.
Ursha’el perlahan mengangkat kepalanya. Matanya menyipit. “…Dia tidak salah menuang?,” gumamnya.
Vivi terbelalak. “Tunggu...itu sudut spiral. Itu cuma ada di buku teori tingkat tinggi....”
Ojike melangkah mendekat. Janggutnya sedikit bergetar.
Luce mematikan nyala api dibawah labu, kemudian, ia memasukkan bahan utama, satu kubus kotoran terkutuk.
Beberapa siswa menahan napas. “Idiot,” bisik seseorang. “Kenapa dia malah mencampurkan bahan utama di akhir...”
Akan tetapi...
Cairan di dalam labu berubah jernih sempurna.
Tidak bergelembung.
Tidak beraroma.
Tidak mendidih.
Diam. Tenang. Sempurna.
Ojike berdiri tepat di samping Luce. “Kenapa urutannya kau balik?” tanyanya, memastikan.
Luce menjawab santai, tanpa menoleh, masih fokus pada ramuannya. “Karena kotoran terkutuk itu bereaksi terhadap panas sisa, bukan api langsung. Kalau dimasukkan lebih awal, ia cuma jadi racun mahal.”
Kelas terdiam.
Ojike mengangkat labu kaca itu perlahan, mengamati dengan seksama. “…Astaga...ini Reversio tingkat dua yang sempurna...,” gumamnya.
Beberapa siswa menelan ludah. Vivi menoleh pada Ursha’el. “Sejak kapan dia… seperti ini?”
Ursha’el hanya menggeleng pelan.
Luce akhirnya menoleh, senyum jahil kembali merekah. “Jadi, Prof… bagaimana?"
Ojike menatap mata coklatnya lama.
“Dalam praktek alkemi,” katanya akhirnya, “kau jenius.”
Beberapa siswa terkejut.
"Namun..", Ojike melanjutkan.
“Dalam mantra, kau payah.”
Tawa tertahan pecah di kelas.
“Dan dalam pertarungan jarak dekat,” tambah Ojike datar, “aku yakin seekor slime pincang bisa mengalahkanmu.”
Kelas meledak tawa.
Luce mengangkat bahu, senyumnya semakin lebar. “Semua orang punya talenta masing-masing, Prof. Dan aku memilih ini.”
Ojike mendengus kecil, tersenyum. “Duduk.”
Luce kembali ke kursinya, disambut tatapan terpana, kagum, dan iri.
Vivi berbisik, “Aku benci mengakuinya…”
Ursha’el menatap berbinar. “…tapi dia benar-benar luar biasa.”
"Mantap, Luce..hahaha.." Ujar Kenny dengan tawa ringan sambil menepuk punggung Luce perlahan. Yang ia jawab dengan anggukan dan senyum tipis.
Luce menyandarkan dagu di meja, kembali sepenuhnya ke mode menyebalkan. “Oh ayolah, jangan menatapku seperti itu,” katanya sambil terkekeh. “Aku hanya bunga sederhana yang kebetulan mekar di ladang rumput.”
Vivi mendengus. “Bunga paling berisik dan menjengkelkan yang pernah kutemui.”