Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Rasta menceritakan semuanya kepada Baim. Pengkhianatan Viola, yang menjadi alasan perceraian, hingga pengusiran Viola dari rumahnya dalam keadaan hamil. Selama ini, Rasta menyembunyikan fakta itu dari siapa pun, kecuali keluarga intinya. Baru kali ini ia bercerita kepada Baim.
Baim cukup terkejut. Ia pikir, alasan Rasta dsn Viola bercerai itu karena pikiran mereka yang sudah tidak sejalan, seperti yang selama ini Rasta katakan.
"Lo yakin kalau Viola selingkuh, Ta? Siapa yang ngirim foto itu ke lo?" tanya Baim ragu-ragu. Jujur, ia sendiri tidak mempercayai cerita itu.
"Gue yakin," sahut Rasta dengan anggukan kepala. "Buktinya kuat banget. Mama yang ngirim foto Viola bersama selingkuhannya itu. Mama berkunjung ke rumah, tapi gak taunya beliau malah liat Viola lagi tidur sama selingkuhannya di kamar kami. Brengsek banget." Rasta tersenyum miris.
"Lo nggak selidiki dulu kebenarannya, Ta? Kita sama-sama tau ya kalau mama lo nggak setuju lo nikah sama Viola, mana tau ini cuma jebakan mama lo aja."
Rasta menoleh cepat ke arah Baim, kernyitan di dahinya cukup membuktikan jika ia tidak terima mamanya dituduh. Baim cepat-cepat meralat ucapannya.
"Bukannya gue nuduh mama lo, Rasta, gue juga gak belain Viola, tapi alangkah baiknya kalau lo harusnya selidiki dulu kebenarannya. Harusnya lo jangan kemakan emosi sebelum benar-benar yakin."
Rasta mendengkus, ia terus menghisap rokok di terselip di sela-sela jarinya. "Gue nggak ada waktu buat selidiki, karena malam itu gue langsung usir Viola dari rumah. Abis itu gue sewa pengacara buat urus perceraian kami, dan Viola juga nggak pernah datang ke persidangan. Kami resmi cerai, ketuk palu, gue langsung pergi ke luar negeri, nenangin diri. Sejak itu, gue gak pernah denger kabar dia lagi sampai hari ini tiba-tiba dia datang melamar kerja di kafe gue."
Baim diam sejenak, tak tahu harus merespon bagaimana. Menurutnya, Rasta terlalu emosional. Tidak bisa berpikir jernih, termakan emosi.
"Lo kenal Viola sejak kapan, Ta? Berapa lama lo menjalin hubungan sama dia? Viola yang lo kenal itu seperti apa? Menurut lo apa iya, Viola tega mengkhianati elo, Ta?" cecar Baim.
Tatapan Rasta nyaris kosong saat mengenang semuanya. Hubungannya dengan Viola sudah terjalin sejak mereka duduk di bangku sekolah. Sedari Rasta belum memiliki dan menjadi apa-apa, Viola setia mendampingi.
"Tapi, mama juga nggak mungkin kan memfitnah Viola?" elak Rasta. "Lo harus tau kalau waktu itu, hubungan mama sama Viola udah membaik. Semua jadi masuk akal kalau Viola beneran selingkuh, karena kata mama, cowok yang jadi selingkuhannya itu lebih kaya daripada gue," tuturnya. "Cewek emang gitu, kan? Ada yang lebih kaya, ngapain pilih yang baru merintis."
Baim membuang napas panjang. Rasta tidak salah jika ia lebih mempercayai mamanya, apalagi mamanya menyertakan bukti kuat. tetapi, ia sangat tidak yakin jika Viola berselingkuh. Entah siapa yang benar, dan siapa yang salah.
"Jadi sampai sekarang pun lo belum tau gimana keadaan anak yang dulu sedang dikandung Viola saat lo usir dia?" Baim bertanya pelan dan hati-hati.
Rasta mematikan putung rokok di tangannya. Tak langsung menjawab, ia diam sesaat.
"Gue gak tau. Gimana kehidupan Viola selama lima tahun ini, gue juga gak tau. Mungkin dia udah bahagia sama selingkuhannya itu, dan anak mereka." Rasta mengedikkan bahu. Terlihat tidak peduli, nyatanya saat memikirkan kehidupan Viola yang bahagia bersama lelaki lain, ia merasakan dadanya nyeri.
Baim bertanya, "Gimana kalau ternyata ... Anak itu adalah anak kandung lo?"
*
Menjadi single mom sudah Viola lakukan sejak ia hamil Vita. Dari memandikan Vita, menyuapinya makan, menemaninya jalan-jalan, hingga merawatnya di saat Vita sakit, Viola jalani dengan bahagia. Beruntung, ada Sinta, ibunya yang menemani dan membantunya di rumah.
Viola bisa menitipkan Vita kepada ibunya, ketika ia hendak meninggalkannya bekerja. Hal itu dengan terpaksa Viola lakukan, sebab kalau bukan dirinya yang bekerja untuk Vita, lalu siapa lagi? Ayahnya kan tidak peduli, bahkan tidak tahu jika Vita ada di dunia ini.
"Mama hari ini kerja nggak?" Vita bertanya dengan suara cadelnya khas anak balita. Ia sudah mandi, sudah wangi, dan sedang disuapi makanan oleh ibunya.
"Iya, mulai hari ini mama kerja lagi, ya? Vita di rumah aja sama nenek, jangan nakal," jawab Viola.
"Aaaaah, nggak boleh. Mama nggak boleh kerja, di rumah aja temenin Vita," balita itu merengek. Sebelum Viola mulai kerja lagi, ia sudah menganggur selama dua minggu pasca ia resign dari minimarket.
Sebab itulah yang membuat Vita agak tidak rela jika harus melepas mamanya pergi bekerja. Pun begitu dengan Viola. Sungguh, jika mengikuti kata hati, Viola ingin selalu menemani Vita di rumah. Memantau tumbuh kembangnya, tapi hal itu tidak bisa Viola lakukan.
Dia harus bekerja. Harus mencari uang.
"Mama harus kerja, Sayang. Vita ngerti, ya? katanya mau sekolah? Mau beli mainan yang banyak. Kalau mama nggak kerja, gimana Vita bisa sekolah? Gimana Vita bisa beli mainan, hayoo?"
"Tapi Vita nggak mau sekolah aja deh. Nggak mau beli mainan lagi, biar mama di rumah terus sama Vita."
Viola menghela napas. Ia pergi ke belakang, meletakkan piring kotor bekasnya Vita makan. Melirik jam yang tergantung di dinding, waktu sudah sangat mepet. Ia harus segera berangkat, namun sayangnya, ia harus menghadapi drama tantrum anaknya yang tak mau melepasnya.
"Jangan kerja, mama!" Vita menangis. Bahkan, Sinta cukup kuwalahan menahan tubuhnya yang memberontak hendak memeluk mamanya.
Hati Viola teriris. Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya dalam keadaan menangis?
"Vita tenang, ya? Mama kerja dulu, biar Vita bisa beli jajan, oke?" bujuk Sinta.
Vita menggeleng, tangisnya semakin keras.
Viola ingin menangis menatapnya, tapi ia tahan-tahan supaya air matanya tidak jatuh. Sekali lagi, ia menatap jam dinding. Sudah telat. Sementara anaknya masih berusaha memeluk kakinya sambil mendongak, menatapnya, memohon untuk tidak ditinggalkan.
"Vita, dengerin mama ya?" Viola berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Vita. "Mama kerja dulu, nanti sore mama pulang. Mama janji, nanti mama pulang jam lima sore. Vita mau minta dibawakan apa? Es krim mau?" tawarnya lembut.
Vita sesenggukan, hingga ia tidak bisa bicara.
"Sini peluk mama dulu, sebentar saja ya? Abis itu mama harus berangkat."
Ibu dan anak itu berpelukan selama beberapa menit, hingga Vita merasa tenang, barulah Viola melepas pelukannya.
"Mama boleh berangkat sekarang?" tanya Viola, tangannya sibuk mengusap kedua pipi anaknya yang basah air mata.
Perlahan, kepala Vita mengangguk. "Boleh, tapi janji nanti sore pulang bawain Vita es krim."
Viola tersenyum lega. "janji dong!" ia ulurkan jari kelingkingnya yang kemudian saling bertautan dengan jari kelingking kecil milik Vita.
*
"Aku udah telat banget, Ya Allah," Viola bergumam panik. Sepanjang perjalanan, ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Sampai di restoran, sesuai dengan dugaannya, ia datang sangat terlambat.
Resto sudah buka, seharusnya Viola datang tiga puluh menit sebelum jam buka resto.
Jantungnya mencelos ketika Rasta sudah menunggunya di pintu masuk sambil berkacak pinggang.
"Sangat tidak konsisten!" Rasta menggeleng, tampangnya menyebalkan. "Hari pertama kerja, karyawan baru pula, tapi malah telat," sindirnya.
Viola mengangkat wajahnya. Menghela napas, karena memang ia pantas mendapatkan amarah.
"Maaf, Pak Rasta, kalau saya terlambat," ucapnya.
"Kenapa telat?" tanya Rasta, suaranya sama sekali tidak bersahabat.
Viola menjawab ragu-ragu, "Tadi ... Anak saya rewel. Saya minta maaf, saya janji, lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi."
Rasta mendengkus kasar. Mendengar Viola menyebut kata anak, rasanya ia ingin meledak lagi.
"Anak dijadikan alasan? Kalau tau anak kamu berat untuk ditinggal kerja, ya harusnya jangan kerja. Ada bapaknya, kan? Suruh dong bapaknya kerja lebih serius lagi, kalau perlu suruh dia cari kerja sampingan, biar ibunya nggak terpaksa ninggalin anak kerja. Daripada telat begini." Rasta ngomel-ngomel. Matanya menatap Viola tajam.
Viola mengalihkan pandangannya, giginya saling beradu. Rasta tidak tahu jika yang sedang ia bicarakan adalah dirinya sendiri.
"Kali ini kamu saya maafkan. Masih saya beri toleransi, tapi ada hukumannya."
Sumpah, demi apapun juga, setelah gaji bulan pertama cair, Viola akan lekas mencari pekerjaan lain. Ia tidak tahan terus terlibat interaksi dengan Rasta. Hubungan mereka sangat tidak baik.
"Apa hukuman saya?"
"Hari ini kamu harus lembur. Pulang malam!"
Viola terbelalak. Terbayang janjinya pada Vita.
"Tapi, Pak Rasta...."
Bersambung....
Follow Ig aku : @jalur_langitbiru13
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu