Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Plakkkkkkk
Suara tamparan keras terdengar memecah keheningan malam. Xeline masih belum tertidur saat mendengar bunyi tersebut. Saat mendengar itu, ritme jantungnya berdetak hebat. Bayangannya teringat saat ia melihat KDRT yang dialami oleh ibunya serta bullying yang ia alami dua tahun yang lalu.
Trauma itu begitu masih begitu menghantuinya hingga kini. bila bayangan itu kembali hadir di memori Xeline, kerapkali rasa itu membuat tertekan hingga ia merasakan sesak yang berujung dadanya terasa susah sekali untuk digunakan bernapas.
"Mbak, bila terjadi sesuatu pada ibu, tolong jaga adik ya," suara sayup-sayup ibu dari arah dapur.
Debaran jantung Xeline semakin berada dalam intensitas tinggi. Saat dalam kondisi seperti itu, ia akan melakukan relaksasi untuk sejenak. Ia mengambil napas dan membuangnya dengan cepat agar debaran jantung segera sedikit reda karena ia tak ingin kedua adik yang tengah tidur terbangun dan mendengarkan pertengkaran kedua orang tua mereka.
Setelah debaran jantung sedikit mereda, Xeline bergegas keluar dari kamar dan menghampiri kedua adiknya, Hexa dan Xavier dan tengah tidur di ruang keluarga. Seperti biasa, ia akan memberi bantal kecil ditelinga bagian kiri dan kanan agar pertengkaran tidak terdengar jelas.
Prangggggggg
Bunyi piring melayang dilantai. serpihannya bersebaran dilantai dapur.
"Kamu mau apa hah? Gathel kamu. Asu."
"Kamu misuhi aku? Nggak pa pa. Aku terima. Semarah apapun aku sama kamu, aku berusaha agar mulut ini tidak misuhi atau mengataimu karena itu tanda hormatku sebagai seorang istri. Terima kasih atas gathel dan asunya."
"Kamu minta apa saat ini hah?"
"Aku ingin kita pisah sementara waktu. Kamu tuntaskan saja hobi game online mu itu. kamu juga suka keluyuran tiap malam seperti hobimu masa muda bukan?. kamu puaskan semuanya. sepertinya kamu juga masih belum siap untuk menjadi suami dan ayah. kamu masih asik dengan duniamu sendiri. kembalilah bila kamu sudah selesai dengab dirimu sediri dan sudah siap menjadi suami dan ayah bagi keluarga ini
"Kamu mengusirku? Oke. Aku akan angkat kaki dari rumah ini. Tapi ingat. Karena kamu telah mengusirku, resiko tanggung sendiri."
Ibu Xeline yang bernama Mara menggeleng pelan.
"Mengapa kamu selalu salah paham dengan perkataanku? Aku hanya butuh jeda agar kita bisa saling memikirkan apa yang kita mau selama ini? Bersama dengan orang yang belum selesai dengan masa mudanya itu, sungguh membuatku lelah."
Ayah Xeline terlihat berjalan dari dapur menuju kamar utama. Saat di ruang keluarga, ia menggapai hp Xeline yang tengah dicas di meja.
"Ayahhhh..." panggil Xeline.
"Kenapa? Nggak usah tanya. Jaga adikmu dengan baik."
"Hpku jangan dibawa ayah. Sekolahku nanti gimana?"
"Hpmu? Hp ini beli pakai uang ayah. Ini berarti hp ayah. Bukan hpmu."
"Lha terus sekolahku gimana yah?"
"Itu bukan urusanku. Semua urusan di rumah ini, biar diurus sama ibumu sendiri. termasuk sekolahmu. Aku sudah nggak peduli lagi dan nggak mau tahu."
"Tapi yahhh..."
"Aku baru mau kembalikan hp ini, kalau uang lima ratus ribuku yang dicuri diganti oleh ibumu," ucap Ayah dengan nada tinggi.
Xeline membelalak.
"Ayah menuduh ibu mencuri?Ibu nggak mencuri yah. Ibu malah punya hutang dimana-mana karena ayah tidak memberi nafkah sama sekali saat meninggalkan rumah selama empat tahun ini," tegas Xeline.
"Aku nggak peduli. Aku akan kembali bila ibumu mengganti semuanya."
"Mengapa ayah begitu perhitungan sekali pada kami? Semoga suatu saat aku bisa mengganti semua yang telah ayah berikan pada ibu, padaku, Hexa dan juga pada Xavier. Semuanya ayah."
"Gantilah semuanya. Aku ingin tahu apa kamu bisa mengganti semuanya termasuk awal kehidupanmu di dunia ini. Ingat, kamu nggak akan pernah di dunia bila tidak ada aku."
"Aku baru tahu, ternyata ada ayah yang seperti ini di dunia yang begitu perhitungan dengan keluarganya. Baik ayah. Berapa yang harus kubayar kelak? Satu milyar, dua milyar, tiga milyar mungkin? Silakan sebutkan nominalnya. Aku akan serahkan semua itu bila aku telah memilikinya."
"Lima ratus milyar. Silakan datangi aku bila kamu sudah punya uang itu."
Xeline tersenyum menyeringai.
"Ayahhhh... Apakah ini benar?Baik ayah. Semoga aku mendapatkan semua uang itu dan melempar semuanya tepat dihadapan ayah. Keluarga ini ternyata seharga itu dihadapan ayah. Padahal, bagiku, ibu tidak memiliki harga sama sekali bila dibandingkan dunia seisinya. Ini tak bisa berbanding sedikitpun dengan adanya ibu dihidupku. Hargailah semuanya selagi ada ayah."
Ayah Xeline terlihat keluar rumah sembari membawa koper miliknya. Mobil, hp, beserta brankas juga dibawa serta. Hanya motor matic bekas yang ditinggal dirumah. Praktis semua harta benda dibawa serta oleh sang ayah yang segera berlalu dihadapannya.
"Apa yang kamu bilang pada ayahmu sayang? Oh Tuhan. Uang lima ratus milyar. Bagaimana bisa kita mendapatkan uang sebanyak itu, sedang kan untuk beli beras sekilo saja kadang kita mampu beli, kadang tidak. Dan hp kamu juga dibawa serta? Nanti aku ke sana untuk ambil nomer hp kamu sayang."
"Buk, aku tidak terima ibu diperlakukan seperti itu. Bercerai lah dengan ayah. Aku tak apa. Aku ingin ibu bahagia. Akan kubayar semuanya asalkan ibu bisa lepas dari ayah," tegas Xeline pada sang Ibu.
"Sayang, bercerai tidak semudah yang kamu kira. Kita harus memikirkan semua dengan matang sebelum kita mengambil keputusan besar untuk bercerai. Kita harus mandiri, baik secara fisik, psikis, dan finansial. Kita juga harus mampu bertahan dalam kondisi apapun pasca perceraian terjadi. Itu sangat tidak mudah bagi ibu yang hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan sepertiku. Apalagi ditambah tidak ada dukungan sama sekali dari semua pihak keluarga, terutama pihak ibu. Ingatlah sayang. Ibu hanya sendirian dan tidak memiliki benteng apapun disaat badai datang dalam kehidupan ibu."
"'Ibu, apa benar kita akan menikah dengan seseorang yang mirip dengan ayah kita? Bila itu terjadi, bolehkan aku tidak menikah dan tidak memiliki anak? No married and child free dan ingin tinggal di luar negeri. Aku tahu, aku tidak akan bisa sekuat ibu dalam menghadapi suami dan ayah dari anakku kelak. Aku juga tidak yakin bisa melindungi mereka seperti ibu melindungi kami."
Mara melihat putri sulungnya dengan tatapan lembut.
"Sayang, maafkanlah ibu dan ayah karena kalah dengan keadaan dan belum selesai dengan diri sendiri. Maaf karena kami telah memberi kehidupan yang kurang layak padamu. Maaf kami telah memberi trauma pada dirimu. Maafkanlah kami."
Mara terdiam sesaat sebelum melanjutkan perkataannya.
"Sayang, yakinlah. Sosok ayahmu hanya hadir sekali dalam kehidupan ini dan ia telah bertemu dengan ibu. Yakinkanlah pada hatimu, kamu tidak akan bertemu dengan sosok seperti ayahmu."
"Ibu..."
"Cara ibu memaafkan ayahmu adalah dengan hadirmu, Hexa, Xavier di dunia ini sayang. Menurut ibuk, cara terbaik memaafkan ayahmu adalah cintaimu tuhanmu sayang. Karena kamu telah tercipta di dunia ini agar bisa bersujud padanya, bisa menyembah padanya. Bukankah bisa bersujud pada Tuhan di dunia merupakan anugerah paling terindah? Cintai dirimu, hidupmu, sayang. Itu saja pinta ibu padamu."
"Ibu..."
"Saat kamu bilang tidak ingin menikah dan child free, ada rasa sedikit sesak di hati ibu. Bukan karena apa? Ibu tidak tahu, apakah ibu bisa menemanimu lebih lama atau kah tidak di dunia ini? Bila ibu tiada, siapa yang akan menemani dan menenangkanmu disaat traumamu melanda? Ibu tidak bisa membayangkan bila kamu sendiri sayang."
"Ibu..."
"Bagi ibu, anak adalah obat mujarab untuk semua cobaan di dunia. Kita bisa sabar dalam menghadapi semua cobaan karena ada seseorang yang sangat berharga dalam hidup kita. Ibu harap keputusan no merried and child free yang telah kamu katakan bukanlah sebuah keputusan akhir. Menikahlah bila itu kamu telah selesai dengan semuanya. Menikahlah bila kamu telah menemukan lelaki yang sangat mencintaimu dan mampu menerima semua pecahan dan serpihan dari dirimu yang tidak utuh. Pinta ibu, tetaplah bahagia dimanapun kamu berada."
Mara dan Xeline saling berpelukan di malam begitu hening. Tak ada tangisan atau air mata seperti biasanya saat ayah pergi. Hanya ada rasa ikhlas dan sabar yang bersemayam di hati.