NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:80
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuk RS

“Aira masuk rumah sakit semalam,” katanya pelan.

Deg.

Rania menoleh cepat. “Apa?”

“Demam tinggi. Pengasuhnya panik, sekarang mereka udah ada di Rumah Sakit.”

Suara Radit tenang, seakan tak sadar bahwa kata-katanya barusan seperti melempar Rania ke jurang rasa bersalah yang dalam.

“Kamu... kamu tahu aku punya anak, Radit. Tapi kenapa—kenapa kamu biarin aku kayak gitu?!”

Air mata panas langsung membasahi pipinya. “Kamu bikin aku kelewatan. Aku bukan perempuan bebas. Aku seorang ibu, Radit! Aku—”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tetap goda aku! Kamu buat aku mabuk—kamu—”

“Aku enggak nyuruh kamu minum,” potong Radit, pelan. “Tapi, aku tetap salah. Aku enggak ngingetin kru kalo kamu enggak bisa minum.”

Rania berdiri cepat, menyambar tas. Isakannya makin deras. Dia tak peduli wajahnya belum bersih, atau rambutnya masih awut-awutan. Yang dia tahu, dia harus ke rumah sakit sekarang juga.

Sesampainya di rumah sakit, Rania menemukan Yani duduk di kursi tunggu, wajah lelah tapi lega. Aira sedang tertidur di dalam, infus kecil terpasang di tangannya yang mungil.

“Maaf, Mbak... Saya panik semalam. Untung Pak Radit langsung bantu,” ujar Yani.

“Apa maksudnya bantu?”

“Ya, semuanya udah dibayarin sama beliau. Obat-obatan, rawat inap, sampai perlengkapan Aira juga dibelikan. Katanya jangan bilang ke Mbak Rania dulu... takut bikin panik.”

Hening.

Rania tak langsung masuk ke ruang rawat. Dia berdiri di balik kaca, menatap putrinya yang begitu tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak sedang seberantakan ini.

Ia menutup matanya sejenak.

Radit tidak membela diri tadi. Tidak membalas saat ia dimaki. Ia diam… mungkin karena tahu, tidak ada pembelaan yang bisa menghapus perasaan bersalah Rania terhadap anaknya sendiri.

Mata Rania mulai berkaca. Ia masuk agar lebih dekat ke wajah Aira, mengecup keningnya perlahan, lalu berbisik, “Mama di sini, Sayang. Mama nggak akan kemana-mana lagi.”

Aira hanya tertidur lelap. Wajahnya begitu polos. Sementara Rania masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri atas kejadian semalam.

Tiba-tiba panggilan masuk: Radit

Ia ragu sejenak, lalu akhirnya menggeser ikon hijau.

"Halo?"

"Ran…" suara Radit terdengar pelan, “Aku nggak ganggu, kan?”

"Kalau kamu nelpon buat bahas kerjaan, iya… kamu ganggu," jawab Rania tanpa basa-basi.

"Aku cuma pengin bahas soal kontrak—"

"Kamu serius mau bahas kontrak sekarang, Radit?" potong Rania cepat. "Aira masih diinfus. Aku belum istirahat. Aku bahkan belum ngerti kenapa kamu bisa tega ngangkat topik ini sekarang."

Radit terdiam. Ia menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara yang lebih lembut.

"Aku tahu kamu lelah. Dan aku salah waktu. Tapi aku juga enggak bisa pura-pura biasa aja setelah kejadian semalam."

Rania tak berkata apa-apa. Dadanya masih sesak.

"Semalam aku panik," lanjut Radit, "Aku gak tahu harus gimana."

"Radit…" suara Rania mulai goyah. "Kamu enggak ngerti. Ini bukan soal kontrak. Ini soal hidupku. Soal anakku. Aku nggak punya kemewahan buat main-main."

"Aku nggak main-main," potong Radit tenang. "Justru karena aku serius, makanya aku minta kita bahas ini."

Rania menunduk. Air matanya jatuh diam-diam.

"Aku akan balikin semua yang udah kamu kasih," ucapnya pelan. “Aku janji.”

"Jangan," jawab Radit cepat. "Jangan balikin apa pun. Aku ngelakuin itu karena aku peduli. Dan jujur–"

Panggilan terputus.

Rania mematikannya sepihak.

Ia tidak mau tergusur ke dalam hidup Radit terlalu dalam.

---

Beberapa hari terakhir, Rania benar-benar menghindar. Semua pesan dari Radit tak pernah ia balas. Telepon? Tak satu pun dijawab. Ia bahkan meminta pihak agensi menahan semua kontrak kerja sama.

Namun yang ia lupa, wajahnya sudah terpampang di mana-mana—di baliho kota, di feed iklan brand ternama, dan di mata semua orang yang kini mulai mengenal siapa dirinya.

Setiap melangkah keluar rumah, orang-orang mulai menatapnya lama. Beberapa bahkan terang-terangan mengambil foto. Ada yang hanya sekadar senyum, ada pula yang langsung meminta selfie. Rania tak pernah menyangka hidupnya akan berubah secepat ini. Semua karena satu proyek. Dan karena satu nama: Raditya Mahendra

Hari itu, langit senja tampak sendu. Rania baru pulang dari tempat produksi kecil di pinggiran kota, tempat ia mencoba kembali ke dunia lamanya sebelum semua ini terjadi. Ia lelah. Kepalanya pening. Hatinya apalagi.

Dan saat langkahnya tiba di halaman kontrakan…

Sebuah mobil hitam terparkir diam di sana. Di sisi mobil, berdiri seseorang yang familiar. Dengan kemeja putih yang digulung di siku dan jam tangan hitam kesukaannya. Radit.

Rania terdiam di ujung gang. Tak ada yang bergerak. Hanya angin yang menyapu pelan rambutnya yang kusut.

Radit menatapnya. Mata itu, tak lagi membawa nama seorang CEO. Tapi membawa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

"Gimana, udah cukup istirahatnya?"

Rania langsung mengerutkan kening. Nada suara Radit yang tenang justru membuatnya ingin melemparkan sesuatu ke arahnya.

“Apa yang kamu lakuin di sini?” tanyanya ketus. Ia mempercepat langkah, menenteng tas kanvas berisi dokumen, sambil berkeringat karena perjalanan panjang dan hati yang masih kacau.

“Aku cuma—”

“Sst!” Rania mendesis tiba-tiba, mata membelalak saat melihat seseorang keluar dari pintu samping rumah. Itu ibu pemilik kontrakan—sosok yang cerewet dan selalu curiga jika ada tamu laki-laki berdiri terlalu lama di depan rumahnya.

Tanpa pikir panjang, Rania langsung menarik tangan Radit.

“Masuk! Cepet!”

Radit sempat terpaku, tapi kemudian mengikuti langkah cepat Rania yang menyeretnya masuk ke lorong sempit di samping rumah.

“Gila… kamu mau bikin aku diusir dari kontrakan ini?!” bisiknya penuh amarah.

“Aku enggak tahu kamu masih tinggal di tempat sekecil ini,” ujar Radit pelan.

Rania memutar mata. “Oh jadi sekarang kamu mau bahas rumah juga? Atau kamu mau ngatur semuanya? Biar aku nginep di hotel bintang lima, sekalian menuhin semua kemauan kamu?!”

“Aku cuma—”

“Dengerin ya, Radit. Aku bakal balikin semua yang kamu kasih. Semua. Mulai dari biaya rumah sakit, sampai sepeser pun uang kampanye. Aku akan minta agensi cabut mukaku dari iklan-iklanmu itu.”

Radit tak langsung menjawab. Ia menatap Rania lama, seakan mencoba membaca luka-luka kecil yang tersembunyi di balik matanya.

“Aku enggak mau semua itu balik,” katanya pelan.

“Kamu harus mau,” balas Rania cepat. “Karena aku enggak bisa berutang apa pun sama kamu.”

“Aku ngelakuin itu bukan buat kamu berutang.”

Rania terkekeh sumbang. “Jadi buat apa? Buat nyenengin diri kamu sendiri? Buat ninggalin kesan manis di hidupku sebelum kamu cabut semuanya?!”

Radit menahan napas. Sekejap.

“Aku ngelakuin itu karena aku nggak bisa tenang kalau jauh dari kamu.”

“Enggak ada urusannya denganku,” desis Rania.

“Kalau bener begitu, terus kenapa tangan kamu gemetar waktu narik aku barusan?”

Rania tercekat. Sekilas, ia menyadari betul tangannya memang gemetar saat tadi memegang tangan Radit. Tapi dengan cepat ia menepisnya.

“Jangan ge-er. Itu karena aku kesel, bukan karena aku masih peduli.”

Radit mengangguk pelan. “Oke. Kalau kamu yakin itu, aku akan pergi.”

Ia membalikkan badan. Satu langkah… dua langkah…

Ting!

Dengan ragu, ia mengangkat ponsel dan melihat layar. Sebuah email dari Raditya A. muncul, dengan satu lampiran dan judul singkat:

"Kontrak Jangka Panjang."

Tangannya bergetar saat mengetuk pesan itu. Matanya langsung tertuju pada file PDF yang terlampir. Ia tahu file itu. Sangat tahu.

Itu bukan file baru. Itu... file yang sama yang pernah ia teken tiga bulan lalu, di malam yang kelam saat hidupnya terasa tak memberi ruang untuk bernapas.

Kontrak yang bukan hanya soal kerja sama profesional. Tapi sesuatu yang lebih...

Rania membaca kembali halaman terakhir:

‘Perjanjian Kerja Sama dan Hubungan Jangka Panjang’

Ditandatangani oleh:

Raditya M.

Rania C.

Ia mengingat dengan jelas bagaimana tangannya waktu itu bahkan nyaris tak sanggup menggenggam pulpen. Bukan karena ragu… tapi karena terlalu putus asa.

Suara Radit memecah lamunan.

“Aku cuma pengin kamu tahu… aku enggak pernah main-main soal itu.”

Rania mengangkat wajah. Matanya nyalang.

“Kamu tahu alasanku teken itu kenapa, kan?”

Radit menatapnya dalam. “Iya. Karena saat itu kamu lagi di titik paling hancur.”

“Jadi kenapa kamu ngirimin ini sekarang?”

“Supaya kamu tahu… meski kamu teken itu karena terpaksa, aku nggak pernah anggap hubungan kita sebagai paksaan.”

Ia melangkah pelan mendekat.

“Yang kamu anggap jalan keluar… buat aku justru jadi jalan masuk. Masuk ke hidup kamu. Dan sampai sekarang, aku belum nyerah.”

Rania menatap layar ponselnya lagi. File itu masih terbuka. Kata-kata di dalamnya kini terasa lebih berat dari sebelumnya. Dulu, itu hanyalah kertas dengan harapan yang dipaksakan. Sekarang, entah kenapa… terasa seperti sesuatu yang merampas hidup bebasnya perlahan.

Sementara Rania yang terpaku di sana, Radit malah berbalik ke arahnya, mencium pipi perempuan itu sambil berkata:

"Ingat ya. Ada perjanjian penting di sana. Dendanya lebih besar, daripada tugas yang diminta. Jadi pikirkan selagi aku berbaik hati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!