Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terintimidasi
Beberapa bulan berlalu tanpa masalah berarti,memasuki bukan keenam pertanyaan mulai muncul.
"Sudah ada tanda tanda?, " tanya Ibu mertuanya. suatu pagi ketika mereka bertemu di rumah salah satu kerabat.
“Tanda tanda apa Ma?.”Tanya Mia yang belum mengerti arah pembicaraan Ibu Mertuanya.
"Kamu gimana sih masa gak ngerti?, jangan di tunda. " Sahut Ibu Mertuanya dengan datar.
Mia menunduk, Johan menjawab cepat.
"Kami belum kepikiran kearah situ. "
Ibunya tidak membalas. Namun sejak hari itu, topik yang sama terus muncul dengan cara berbeda. Kadang berupa saran, kadang berupa sindiran halus.
"Dulu kakak-kakakmu cepat,” kata ibunya di kesempatan lain.
"Setiap orang berbeda Ma. " Timpal Johan lagi.
Mia mulai merasa tertekan, meski ia tidak menunjukkannya. Ia tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Bekerja, mengurus rumah, dan menunggu Johan pulang.
Kunjungan ibunya Johan semakin sering. Tidak lagi sekadar singgah, tetapi diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Mia sulit bernapas.
Siang itu,Ibunya Johan kembali mengunjungi rumah mereka, keduanya duduk berhadapan di ruang tengah sementara Johan masih di kantor.
“Mia,” panggilnya tiba-tiba.
"Iya Ma, " Sahut Mia pelan.
"Kamu suka anak anak?, " Lanjut Ibu Mertuanya.
Mia terhenyak mendengar pertanyaan itu. Ia tidak langsung menjawab. Baginya, pertanyaan tersebut terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin ia tidak menyukai anak-anak dengan segala tingkah polos dan lucu mereka, meski ia tahu tidak semua anak selalu menyenangkan.
“Tentu suka, Ma,” jawab Mia akhirnya.
“Anak-anak kakak saya malah lebih dekat ke saya daripada ke ibu mereka.” Ia berharap jawaban itu cukup untuk membuat Mertuanya mengerti.
Namun ibunya Johan tidak tersenyum. Ia justru menatap Mia lebih lama dari biasanya.
“Kalau suka, kenapa belum ada?” tanyanya datar.
Mia menelan ludah.
"Kami tidak menunda Ma. "
Ibu Mertuanya mengangguk pelan
“Mama hanya bertanya. Kamu jangan salah paham.” Tapi nada suaranya tidak terdengar seperti bertanya.
Sejak hari itu, pertanyaan serupa terus muncul dalam bentuk yang berbeda. Kadang terdengar seperti perhatian, kadang seperti penilaian.
"Kamu sudah ke dokter?.”
“Sudah coba program?”.
Mia mulai merasa tubuhnya sendiri seperti sedang diperiksa setiap hari. Ia menjadi lebih pendiam. Senyumnya muncul seperlunya.
SUatu malam, setelah ibunya Johan pulang, Mia duduk lama di tepi ranjang. Johan baru keluar dari kamar mandi ketika melihat wajah istrinya tampak pucat.
""Kamu kenapa?,sakit?."tanya Johan sambil meraba dahinya.
Mia menggeleng ,dengan gerak perlahan, ia menyingkirkan tangan suaminya dari dahinya
Johan cukup peka, ia merapat kearah Mia,ia menggenggam tangan istrinya erat.
“Jangan dimasukkan ke hati ucapan Mama. Namanya orang zaman dulu, pola pikirnya memang agak nyleneh.”
“Aku tidak keberatan ditanya,aku hanya lelah menjelaskan hal yang sama.”
Johan terdiam, ia tahu tidak tahu harus menjawab apa.
Malam itu, Mia tidur membelakangi Johan. Bukan karena marah, tetapi karena pikirannya terlalu penuh. Tekanan itu tidak datang dalam bentuk teriakan. Ia hadir lewat pertanyaan sederhana yang diulang terus-menerus, sampai Mia mulai mempertanyakan dirinya.
Ibunya Johan datang siang itu dengan membawa sebuah botol kaca. Warnanya kecokelatan, tertutup rapat, dan dibungkus plastik. Mia langsung tahu, kedatangan itu bukan sekadar berkunjung.
Tanpa banyak basa-basi, ibunya Johan masuk ke dapur dan meminta segelas air hangat. Mia menurut. Ia melihat botol itu diletakkan di meja makan.
“Mia, minum ini,” ujar ibu mertuanya sambil menuangkan cairan berwarna cokelat muda ke dalam gelas.
Aromanya langsung tercium. Asam, pahit, dan membuat perut Mia terasa tidak nyaman.
Mia ragu sejenak. Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap sopan.
“Apa ini, Ma?”
“Obat tradisional,” jawab ibunya singkat. “Ramuan turun-temurun dari leluhur keluarga kami. Banyak yang berhasil setelah minum ini.”
Mia memandang gelas di depannya. Cairan itu masih mengepul tipis.
“Ayo diminum selagi hangat,” lanjut ibunya.
Mia mengangguk pelan. Ia mengangkat gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Baru saja cairan itu menyentuh bibirnya, rasa mual langsung naik.
Hueeeek!
Mia menutup mulutnya. Ia hampir memuntahkan isinya.
“Jangan dicium, langsung tenggak,” kata ibunya cepat. “Kalau dicium memang tidak enak.”
Mia mengangguk. Ia menarik napas pendek, lalu kembali meneguk cairan itu. Rasanya pahit dan getir. Tidak jauh berbeda dengan baunya.
Ia memaksa menelannya.
“Nah, begitu,” ujar ibunya puas. “Sisanya masukkan kulkas. Kalau mau minum, tinggal dihangatkan.”
Ibunya lalu berdiri dan merapikan botol itu. “Kalau sudah habis, bilang Mama. Atau nanti Johan saja yang ambil ke rumah.”
“Iya, Ma,” jawab Mia pelan.
Setelah ibunya Johan pulang, Mia duduk lama di kursi makan. Gelas itu masih ada di depannya. Perutnya terasa perih. Ia meneguk air putih beberapa kali, berharap rasa tidak nyaman itu berkurang.
Sore hari, Johan pulang lebih awal dari biasanya. Ia melihat botol di kulkas saat hendak mengambil minum.
“Itu apa?” tanya Johan.
Mia menoleh.
“Mama bawa. Katanya ramuan.”
"Johan mengernyit, ia mendekatkan botol itu kehidungnya sedetik kemudia langsung menaruhnya kembali.
"Kamu minum?."Tanya Johan lagi
Mia mengangguk pelan.
Johan terdiam beberapa saat.
“Kamu tidak harus memaksakan diri.”
Mia tersenyum tipis.
“Aku hanya tidak ingin Mama kecewa”
Malam itu, Mia kembali menghangatkan cairan tersebut. Ia meminumnya perlahan, menahan rasa mual yang datang bersamaan. Tidak ada yang memaksanya secara langsung, tapi ia tahu, menolak bukan pilihan yang mudah.
Di kepalanya, pertanyaan mulai bermunculan. Sampai sejauh mana ia harus bertahan demi disebut istri yang baik.
Ibunya Johan tidak berhenti pada ramuan. Ia mulai menanyakan efeknya secara rutin, seolah ingin memastikan setiap tetesnya benar-benar bekerja.
“Sudah diminum?”
“Masih ada?”
“Badannya terasa apa?”
Pertanyaan itu datang hampir setiap kali mereka bertemu atau lewat sambungan telepon. Mia menjawab seperlunya. Ia tidak ingin terdengar mengeluh, tapi juga tidak bisa sepenuhnya berbohong.
“Kadang mual,” jawab Mia suatu siang.
“Itu wajar,” sahut ibunya cepat.
“Tandanya obatnya bekerja.”
Tidak hanya Mia yang dikontrol. Johan pun mulai sering ditelepon, bahkan saat jam kerja.
“Kamu pastikan dia minum, ya.”
“Jangan sampai lupa.”
“Kamu jangan terlalu lunak.”
Awalnya Johan masih menahan diri. Ia menjawab singkat, mencoba bersabar. Namun lama-kelamaan, rasa tidak nyaman itu berubah menjadi jengkel.
Suatu sore, ibunya datang tanpa memberi kabar. Mia sedang di kamar ketika suara mereka terdengar dari ruang tengah.
“Kenapa kamu tidak tegas sama istrimu?” tanya ibunya.
"Ma cukup, "Jawab Johan dengan nada tertahan.
" Ini semua demi kamu. "
"Ini rumah tangga kami Ma. "Bantah Johan
Ibunya terdiam sejenak, kemudian berkata.
“Mama tidak ikut campur. Mama hanya tidak mau kamu hidup tanpa keturunan.”
Nada suara Johan meninggi.
" Kami sudah dewasa Ma, tolong jangan masuk terlalu jauh. "Ibunya menatap tajam kearah Johan.
" Jadi sekarang kamu membela dia?,