Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 – Cahaya, Bayangan, dan Nada Pertama
Festival musim panas Universitas Aozora selalu datang seperti ledakan warna yang ditahan setahun penuh. Sejak pagi, kampus yang biasanya rapi dan tenang berubah menjadi labirin tenda, spanduk kain, dan suara tawa yang saling bertabrakan. Aroma takoyaki, karamel, dan kopi dingin bercampur di udara. Langit biru menggantung tanpa awan, seolah ikut merayakan.
Airi berdiri di gerbang area festival sambil memegang peta kecil pembagian kelas. Di dadanya, perasaan aneh berdesir—campuran antusias dan gugup. Hari ini, Silent Echo akan debut. Tapi sebelum sore tiba, mereka masih mahasiswa biasa yang bebas tersesat di antara kesibukan kelas-kelas.
“Jangan lupa jam empat kita ke backstage,” kata Mei sambil merapikan pita rambutnya. “Aku mau keliling dulu. Kelas seni visual bikin kafe bertema retro.”
Ren mengangguk. “Aku mau cek kelas musik. Katanya ada battle akustik kecil.”
Yukito mengangkat tangan ragu. “Aku… ikut ke mana saja.”
Airi tersenyum kecil. “Kita ketemu lagi nanti. Jangan hilang.”
Mereka berpisah, mengikuti arah yang berbeda. Airi melangkah pelan, menyusuri deretan kelas yang membuka stan. Ada kelas yang membuat kafe bertema seaside, dengan meja kayu dan lampu kecil. Ada lomba sumo kecil—pesertanya tertawa terbahak saat bantalan empuk membuat mereka terjungkal. Di sudut lain, dua kelas berkolaborasi membuat pameran seni interaktif; pengunjung menempelkan stiker warna di kanvas besar, membentuk gambar langit senja.
Airi berhenti sebentar di depan stan obake kecil—hanya tirai hitam dan papan kayu. Ia menelan ludah, lalu menggeleng. Nanti saja, pikirnya.
“Lagi ngapain sendirian?”
Suara itu membuatnya menoleh. Haruto berdiri di sana, mengenakan kaus hitam sederhana dengan ID panitia menggantung di leher. Wajahnya santai, tapi matanya menyimpan perhatian yang lembut.
“Keliling,” jawab Airi. “Kampusnya ramai.”
Haruto tersenyum kecil. “Iya. Kamu… gugup nggak buat nanti sore?”
Pertanyaan itu sederhana. Airi ragu sejenak, lalu mengangguk. “Sedikit. Lebih ke… takut salah.”
“Kamu jarang salah,” kata Haruto tenang. “Dan kalau pun salah, itu bukan akhir.”
Airi tertawa kecil. “Kedengarannya seperti nasihat orang dewasa.”
“Anggap saja kakak kelas yang sok bijak,” balas Haruto, senyumnya mengembang.
Ia melirik jam tangan. “Kelas kami bikin rumah hantu. Obake. Mau lihat?”
Airi refleks menggeleng, lalu berhenti. “Aku… takut.”
“Aku punya tiket,” kata Haruto ringan. “Kalau nggak mau, nggak apa-apa.”
Airi menatap tirai hitam di kejauhan. Ia menarik napas. “Aku ikut. Tapi… pelan.”
“Janji,” kata Haruto.
Mereka berdiri di antrean pendek. Musik festival terdengar samar, tergantikan oleh suara pintu kayu berderit. Begitu masuk, gelap menyergap. Lampu redup menyala tak menentu. Lorongnya sempit, berliku—seperti maze kecil.
“Aku di sini,” kata Haruto, suaranya dekat.
Airi melangkah hati-hati. Tangannya terulur, tanpa sengaja menyentuh sesuatu—hangat. Ia refleks menggenggam. Baru sadar itu tangan Haruto.
“Maaf,” katanya cepat.
“Nggak apa,” jawab Haruto.
Beberapa langkah kemudian, sebuah sosok obake melompat dari balik tirai. Airi tersentak. Di saat yang sama, Haruto—tanpa tahu—menggenggam tangan Airi lebih erat dan merangkul pundaknya pelan, gerakan refleks untuk menenangkan.
“Tenang,” katanya lembut. “Kamu aman.”
Hangat itu datang terlalu cepat. Terlalu dekat. Di kepala Airi, sebuah bayangan lama menyusup—suara yang pernah ia salah artikan sebagai perlindungan. Dadanya mengencang. Napasnya tercekat.
“Jangan—!”
Airi berteriak kencang. Suaranya memantul di lorong gelap. Ia melepaskan diri dan berlari ke depan, air mata mengaburkan pandangan. Lorong bercabang. Ia memilih satu, lalu satu lagi. Maze itu berputar, menelannya.
“Airi!” Haruto memanggil, panik. Ia berbalik arah, menyusuri lorong lain, memanggil namanya berulang.
Airi berjongkok di pojok lorong, memeluk lutut. Tangisnya pecah—sesenggukan pendek yang menyakitkan dada. Gelap terasa menekan.
Langkah kaki mendekat. Haruto muncul di ujung lorong, napasnya terengah. Ia berhenti beberapa langkah, merendahkan suara.
“Airi… aku di sini.”
Ia mendekat pelan, lalu berlutut. Tidak menyentuh. Hanya hadir.
“Maaf,” katanya lirih. “Aku nggak tahu. Aku nggak bermaksud—”
Airi menggeleng, tangisnya mereda perlahan. “Bukan… bukan salahmu.”
Beberapa detik berlalu. Nafas Airi pelan-pelan teratur.
“Boleh kita keluar?” tanya Haruto hati-hati.
Airi mengangguk.
Mereka keluar ke cahaya. Suara festival kembali menyambut. Haruto menyerahkan tisu.
“Maaf,” ulangnya. “Aku harusnya tanya dulu.”
Airi mengusap mata. “Terima kasih… sudah nyari.”
Haruto mengangguk. “Aku antar kamu ke kelasmu.”
Di perjalanan, mereka diam. Festival tetap meriah—tawa, musik, langkah kaki. Kejadian kecil itu larut di tengah keramaian, meninggalkan sisa yang tak terlihat.
Menjelang sore, area panggung mulai dipenuhi kru. Kabel ditata, ampli diuji, lampu dicoba. Silent Echo berkumpul di backstage. Airi berdiri di samping Ren, jantungnya berdebar.
“Gugup?” tanya Ren pelan.
Airi mengangguk. “Takut lupa lirik.”
Ren tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Airi dengan lembut—tidak menarik, tidak memaksa. Airi tidak menolak. Pegangan itu stabil, seperti jangkar.
“Kamu nggak sendirian,” kata Ren.
Haruto melirik dari kejauhan. Sesuatu mengganjal di dadanya—perasaan asing yang membuatnya ingin mengatakan sesuatu, lalu menahannya. Ia menarik napas, memilih diam. Band ini lebih penting dari apa pun sekarang.
“Lima menit!” seru kru.
Mei menutup mata sejenak, jari-jarinya menari di udara. Yukito memutar stik drum, fokus.
“Siap?” tanya Haruto.
“Siap,” jawab mereka hampir bersamaan.
Lampu panggung menyala. Tepuk tangan menyambut.
Lagu pertama mengalir—tempo mantap, suara Airi jernih. Lagu kedua lebih cepat; Yukito menyatu sempurna, Ren dan Haruto terkunci rapi, Mei mengisi ruang. Lagu ketiga menutup dengan nada panjang—hening sejenak, lalu ledakan tepuk tangan.
Airi tersenyum—lega, bahagia. Untuk pertama kalinya, panggung terasa seperti rumah.
Di bawah cahaya senja, Silent Echo lahir. Dan kota Aozora menyambut gema pertamanya.
Siap. Berikut tambahan adegan penutup Chapter 3 yang menyatu dengan alur, nada, dan emosi yang sudah dibangun—tanpa merusak pacing debut Silent Echo. Adegan ini berfungsi sebagai afterglow: hangat, intim, dan memperkuat ikatan karakter.
Tambahan Adegan – Malam Setelah Panggung
Malam turun perlahan di Universitas Aozora, membawa udara yang lebih sejuk dan cahaya lampu-lampu kecil yang digantung di sepanjang lapangan. Festival telah selesai. Panggung utama mulai dibongkar, suara tawa berganti dengan dengung mesin dan langkah kaki kru yang kelelahan.
Di belakang gudang peralatan—tempat yang jarang dilalui orang—Silent Echo berkumpul.
Amplifier kecil bersandar di dinding, tas alat musik terbuka setengah. Jaket dan handuk berserakan di rumput. Di tengah lapangan kecil itu, api unggun menyala—tidak besar, tapi cukup hangat untuk menarik semua orang mendekat.
“Kita beneran debut,” kata Mei sambil menatap api, seolah memastikan itu nyata. “Dan… nggak ada yang salah.”
Yukito tertawa kecil, terdengar lega. “Aku masih nggak percaya aku bisa hafal semua tempo itu.”
“Kamu gila,” kata Ren singkat. “Dalam arti baik.”
Haruto menyerahkan minuman kaleng ke Yukito. “Kalau kamu gagal, kita semua tenggelam. Jadi… terima kasih.”
Yukito menerima dengan dua tangan. “Aku cuma ikut arus.”
Airi duduk bersila di rumput, telapak tangannya dihangatkan oleh api. Wajahnya memantulkan cahaya oranye, matanya berbinar dengan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bangga tanpa takut.
“Terima kasih,” katanya tiba-tiba. Semua menoleh. “Karena… hari ini. Karena kalian.”
Ren meliriknya sekilas, lalu kembali menatap api. “Kamu pusatnya,” katanya datar. “Kami cuma menguatkan.”
Airi tersenyum kecil, pipinya menghangat—entah karena api atau kata-kata itu.
Dari balik bayangan gudang, seseorang melangkah mendekat.
Sato Hinami.
Ia membawa map tebal dan tas kain besar yang sama seperti hari pertama orientasi. Rambutnya sedikit berantakan, tapi matanya cerah. Ia berhenti beberapa langkah dari lingkaran api, ragu sejenak.
“Airi,” katanya pelan.
Airi menoleh, lalu berdiri cepat. “Hina!”
Hinami tersenyum kecil ketika Airi memeluknya. “Aku nonton dari belakang panggung.”
“Kamu kenapa nggak ke depan?” tanya Airi.
Hinami menggeleng. “Aku lebih suka memastikan jadwalnya jalan.” Ia melirik yang lain, lalu menunduk sedikit. “Selamat. Kalian luar biasa.”
Mei menepuk tempat kosong di dekat api. “Duduk. Kamu bagian dari ini.”
Hinami duduk, memeluk lututnya. Cahaya api menari di kacamata tipisnya.
“Aku nggak bisa main musik,” katanya lirih. “Tapi… aku senang bisa ada.”
“Kamu yang bikin kita ada,” jawab Haruto. “Tanpa jadwalmu, kita kacau.”
Hinami tersenyum—senyum kecil, tapi penuh.
Api unggun berderak. Seseorang memutar musik pelan dari ponsel. Mereka tertawa, saling mengejek ringan, membahas momen lucu di panggung—kabel yang hampir terinjak, mic yang sempat mati sepersekian detik.
Airi menatap lingkaran itu. Wajah-wajah yang berbeda, latar yang berbeda, tapi malam itu—mereka sama.
Ia menyadari sesuatu dengan tenang: musik tidak lagi hanya tempat bersembunyi. Ia menjadi tempat berbagi.
“Silent Echo,” gumam Airi pelan.
Ren mendengarnya. “Apa?”
Airi tersenyum, menatap api. “Nggak. Cuma… nama itu pas.”
Api unggun terus menyala, memantulkan cahaya ke langit malam Aozora.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Airi tidak ingin berlari dari kehangatan itu.