NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Optimis yang Naif

"Kak Elara?"

Suara itu datang dari ruang tengah, memecah kesunyian muram yang baru saja kunikmati bersama tikus-tikusku. Suara itu cerah, ringan, dan sama sekali tidak cocok dengan atmosfer bangunan ini.

Aku menghela napas panjang, memasukkan sisa setengah roti yang belum kumakan ke dalam saku celana jeans-ku, lalu bangkit berdiri.

Aku berjalan keluar menuju aula utama—ruangan besar yang dulunya tempat anak-anak panti berkumpul makan siang, kini hanya hamparan lantai ubin retak yang dipenuhi debu setebal satu senti.

Di sana, di dekat jendela besar yang bingkainya sudah miring dimakan rayap, berdiri Lily.

Adikku.

Penampilannya sama kacaunya denganku. Rambut ikalnya yang berwarna cokelat terang diikat asal-asalan dengan karet gelang merah bekas nasi bungkus. Wajahnya cemong oleh debu hitam, dan kaos kedodoran bergambar kartun pudar yang dipakainya sudah berlubang di bagian bahu.

Tapi anehnya, dia tersenyum.

Dia sedang berjongkok di depan sebuah pot tanah liat yang sudah pecah terbelah dua. Di dalam pot itu, tidak ada bunga mawar atau melati. Hanya ada tanaman liar—semacam rumput teki dengan bunga kecil berwarna ungu pucat—yang tumbuh di antara retakan semen.

Lily sedang menyiram rumput liar itu dengan air dari botol plastik bekas. Dia melakukannya dengan keseriusan seorang ahli botani yang sedang merawat anggrek langka.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku datar, bersandar di pilar yang catnya sudah mengelupas habis.

Lily menoleh. Senyumnya melebar, menampilkan deretan gigi yang untungnya masih rapi. "Menyiram 'Harapan'. Lihat, Kak, dia berbunga lagi hari ini. Ungunya cantik, kan?"

Aku menatap rumput liar itu. "Itu gulma, Lily. Itu parasit. Kau menyiram parasit."

"Semua tanaman berhak hidup, Kak," jawabnya enteng, lalu bangkit berdiri dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor ke celana. Matanya kemudian turun ke arah saku celanaku yang menggembung sedikit.

Senyumnya memudar, digantikan oleh tatapan memelas yang membuat dadaku sesak. Tatapan anak anjing yang kelaparan.

"Kakak... punya sesuatu?" tanyanya pelan. "Perutku sakit. Semalam aku cuma minum air keran."

Tanganku bergerak refleks menyentuh saku celana. Roti setengah gigit itu ada di sana. Jatah makan siangku. Atau mungkin makan malamku. Logika di kepalaku berteriak: Simpan! Kau juga lapar! Kau yang bekerja seharian!

Tapi kemudian aku melihat mata Lily. Mata yang sama dengan mata Ibu. Polos, bodoh, dan terlalu lembut untuk dunia yang sekeras ini.

Dengan enggan, aku merogoh saku. Aku mengeluarkan sisa roti yang keras itu.

"Hanya ini," kataku ketus, melempar roti itu ke arahnya. "Jangan minta lagi sampai besok."

Lily menangkapnya dengan sigap seolah itu adalah bongkahan emas. Dia tidak peduli roti itu keras atau bekas gigitanku. Dia langsung memakannya dengan lahap. "Terima kasih, Kak! Kakak memang paling baik!"

Aku mendengus, memalingkan wajah. "Makan pelan-pelan. Kalau kau tersedak, aku tidak punya uang untuk membawamu ke dokter."

Lily mengunyah sambil duduk bersila di lantai kotor. Setelah menelan suapan terakhir, wajahnya kembali berseri-seri. Optimisme konyol itu kembali menyala.

"Aku punya firasat bagus hari ini, Kak," celotehnya riang. "Matahari bersinar cerah. Mungkin hari ini 'mereka' akan datang."

"Siapa?" tanyaku bosan, meski aku sudah tahu jawabannya.

"Donatur! Yayasan yang dibilang Paman Jerry sebelum dia pergi bulan lalu. Ingat? Dia bilang ada orang kaya yang mau merenovasi tempat ini. Mungkin hari ini mereka akan datang survei!"

Rahangku mengeras mendengar nama 'Paman Jerry'. Pengurus panti bangsat yang kabur membawa sisa uang kas terakhir kami, meninggalkan kami membusuk di sini tanpa listrik dan air bersih.

"Tidak ada yang akan datang, Lily," potongku tajam. Suaraku menggema di ruangan kosong itu, memantul di dinding-dinding yang lembap.

Lily terdiam, senyumnya goyah. "Tapi Paman Jerry bilang..."

"Paman Jerry penipu. Dia sudah pergi. Yayasan itu tidak ada. Donatur itu cuma dongeng supaya kau tidak menangis saat dia mencuri uang kita."

Aku berjalan mendekati Lily, mencengkeram bahunya sedikit terlalu keras. Aku perlu dia sadar. Aku perlu dia berhenti bermimpi, karena harapan palsu itu lebih menyakitkan daripada lapar.

"Lihat sekelilingmu," desisku, menunjuk ke arah jendela pecah dan plafon yang hampir rubuh. "Tempat ini sudah mati, Lily. Kita tinggal di dalam mayat. Tidak ada pangeran berkuda putih atau orang kaya baik hati yang akan datang menyelamatkan kita. Cuma ada kita. Kau dan aku. Dan kalau kau terus-terusan menunggu keajaiban, kau akan mati kelaparan sambil memeluk rumput liarmu itu."

Mata Lily berkaca-kaca. Bibirnya bergetar.

Aku melepaskan cengkeramanku, merasa lelah yang luar biasa. Melindungi fisiknya itu sulit, tapi menghancurkan harapan naifnya demi kewarasan mentalnya jauh lebih menguras tenaga.

"Habiskan airmu," kataku akhirnya, berbalik pergi. "Aku mau berangkat kerja. Kunci pintu. Jangan buka untuk siapa pun kecuali aku."

"Ya, Kak," cicit Lily pelan.

Aku melangkah pergi, meninggalkan adikku yang kembali berjongkok di depan pot pecah itu, mungkin berdoa agar gulma itu bisa berubah menjadi makanan.

Aku berjalan menyusuri lorong menuju satu-satunya kamar mandi yang masih berfungsi di lantai ini. Bau karat dan lumut basah langsung menampar hidungku begitu aku mendorong pintu kayu yang engselnya sudah karatan parah.

Di atas wastafel yang kerannya meneteskan air keruh berwarna kecokelatan, tergantung sebuah cermin. Cermin itu tidak utuh. Retakan panjang membelahnya secara diagonal, memisahkan bayanganku menjadi dua bagian yang tidak simetris, seolah mempertegas betapa rusaknya hidupku.

Aku berdiri di depannya. Aku menatap wanita yang balas menatapku.

Dia kurus. Tulang selangkanya menonjol terlalu tajam di balik kerah kaos oblong yang sudah melar. Kulitnya kusam, warna abu-abu kelelahan yang tidak bisa disembunyikan oleh sinar matahari pagi. Lingkaran hitam di bawah matanya begitu pekat, seperti memar permanen akibat kurang tidur dan kurang gizi bertahun-tahun.

Dan rambutnya...

Aku menyentuh ujung rambutku yang kering dan bercabang. Kasar seperti ijuk sapu lantai. Warnanya kusam, kehilangan kilaunya sejak lama karena shampo murah sachet-an yang kupakai hanya seminggu sekali.

Aku memutar keran air. Cairan dingin menyembur keluar. Aku menampung sedikit di telapak tangan, lalu mencoba merapikan rambut-rambut liar yang mencuat di sekitar dahiku.

Sia-sia.

Begitu air itu kering, rambutku kembali mencuat berantakan.

Aku mencengkeram pinggiran wastafel yang berlendir. Rasa benci yang panas merambat naik dari perut ke dada. Aku membenci pantulan ini. Aku membenci betapa menyedihkannya aku terlihat.

Di sudut kamar mandi, ada tumpukan majalah fashion bekas tahun 90-an yang ditinggalkan penghuni lama. Sampulnya sudah sobek, tapi wanita di dalamnya masih tersenyum sempurna. Kulit mereka bercahaya seperti porselen. Rambut mereka berkilau seperti sutra mahal. Mereka memakai gaun-gaun yang harganya mungkin cukup untuk memberiku makan selama lima tahun.

Aku ingin seperti mereka.

Bukan... aku membutuhkan untuk menjadi seperti mereka.

Aku ingin kulit yang wangi sabun mahal, bukan bau apek panti asuhan. Aku ingin rambut yang jatuh lembut di punggung, bukan jerami kering ini. Aku ingin bersih. Aku ingin indah. Aku ingin, barang sekali saja dalam hidupku, seseorang menatapku bukan dengan rasa jijik atau kasihan, tapi dengan rasa kagum.

Aku ingin Ciarán Vane menatapku lagi, dan kali ini, dia tidak akan melihat sampah.

Air mataku menetes, jatuh ke wastafel yang kotor. Cepat-cepat aku menghapusnya dengan kasar. Menangis membuat mata bengkak dan wajah merah. Itu membuatku semakin jelek.

"Kau akan keluar dari sini, Elara," desisku pada retakan cermin itu. "Suatu hari nanti, kau akan membeli wajah baru. Kau akan membeli kulit baru. Dan kau tidak akan pernah melihat cermin retak ini lagi."

Aku membasuh wajahku sekali lagi dengan air dingin, menarik napas dalam-dalam untuk menekan rasa mual karena lapar, lalu berbalik keluar.

Aku mendorong pintu utama panti yang terbuat dari kayu jati tua. Engselnya menjerit panjang, sebuah protes keras yang memecah keheningan pagi.

Aku melangkah keluar. Menuju dunia luar yang siap menginjak-injakku lagi.

Udara di luar sedikit lebih segar daripada di dalam, tapi masih membawa aroma debu dan keputusasaan. Halaman depan panti ini luas, tapi gersang. Rumput-rumputnya mati menguning, tanahnya retak-retak karena kemarau dan kurang perawatan.

Aku berbalik sebentar, mendongak menatap bangunan tempatku bernaung.

Dari luar, Panti Asuhan St. Jude tampak seperti raksasa yang sedang membusuk. Cat putihnya yang dulu mungkin megah kini telah berubah menjadi abu-abu kotor, dikuliti oleh cuaca, memperlihatkan batu bata merah di bawahnya seperti daging yang terkelupas dari tulang. Lumut hijau merambat di dinding-dinding samping seperti memar yang tidak kunjung sembuh. Jendela-jendela gelap di lantai atas tampak seperti mata kosong tengkorak yang menatap hampa ke arah jalanan.

Ini adalah kuburan massal bagi mimpi anak-anak yang dibuang.

Lingkungan sekitar sunyi senyap. Jalanan di depan panti sepi, hanya ada debu yang beterbangan ditiup angin. Di kejauhan, terdengar gonggongan anjing liar, sahut-menyahut dengan kesedihan yang sama. Tidak ada suara tawa anak-anak, tidak ada suara pedagang keliling. Seolah-olah dunia pun enggan mendekati tempat terkutuk ini.

Angin pagi berhembus kencang, menembus kaos tipisku. Aku menggigil. Tanganku menarik ritsleting jaket denim lusuh yang kupakai—jaket kebesaran yang kutemukan di bak sumbangan tahun lalu. Ritsletingnya macet di tengah dada, menolak untuk naik lebih tinggi, membiarkan leherku terekspos pada dingin.

Aku memeluk tubuhku sendiri, mencoba menghalau dingin yang bukan hanya berasal dari angin.

Aku tidak tahu bahwa beberapa jam lagi, di halaman gersang tempatku berdiri ini, sebuah mobil hitam mengkilap akan berhenti. Aku tidak tahu bahwa roda nasibku sedang berputar mendekat, membawa monster dari masa laluku kembali. Aku tidak tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir aku menjadi Elara yang bebas, sebelum aku menjadi tawanan dalam sangkar emas.

Yang kutahu hanyalah aku lapar, aku lelah, dan aku harus berjalan lima kilometer ke minimarket demi upah yang tidak seberapa.

Aku menundukkan kepala, mulai menyeret langkahku menuruni undakan tangga yang pecah-pecah.

Di dunia ini, kemiskinan bukan hanya kekurangan uang. Itu adalah penyakit yang menggerogoti tulang, dan aku sudah sekarat karenanya sejak lama.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!