Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 SEEKOR TARSIUS AJAIB
Anita Tumbler telah tiba di suatu kota baru yang belum dia datangi sebelumnya, kota ini sangat sepi dan hampir tak terlihat penghuninya.
Lampu-lampu hias meredup temaram sepanjang jalan taman, menambah suasana disekitar Anita berjalan terasa sepi.
Desir suara dedaunan bertiup ringan diantara sunyi.
Anita Tumbler tiba dengan selamat namun dia tercabik-cabik oleh rasa kesepian yang teramat mendalam.
Angin disekitarnya berhembus pelan namun sangat dingin menusuk tulang.
Anita merapatkan dekapannya pada tubuhnya sembari terus berjalan mencari tempat untuk berteduh.
"Siapa yang berani keluar pada waktu seperti ini di jalanan sesepi ini ?"
Anita menundukkan pandangannya seraya melewati jalan sepi berupa taman, dengan wajah merona memerah, Anita terus berjalan tanpa henti.
"Aku harus mencari penginapan..."
Ucap Anita sembari mengedarkan pandangannya.
"Kau akan kemana malam-malam begini ?"
Tiba-tiba terdengar suara dari atas pilar pagar taman di dekat lampu hias.
Anita memalingkan mukanya ke arah suara yang menyapanya.
"Siapa ?"
Tak ada siapa-siapa di sana ketika Anita menolehkan pandangannya.
"Siapa yang bicara tadi ?"
Tak berapa lama kemudian muncul sinar terang benderang dari atas pilar pagar taman, sesosok makhluk mirip Tarsius berwarna putih.
"Plugh !"
Seekor Tarsius lucu memperlihatkan dirinya secara terang-terangan kepada Anita Tumbler.
Anita tercengang kaget saat melihatnya, hewan apakah itu, pikirnya keheranan.
Binatang itu lalu berbicara kepada Anita Tumbler sembari duduk di atas pilar pagar taman.
"Rupanya telah datang Anita Tumbler, manusia abadi yang terkutuk oleh dosa, selamat datang ke kehidupan baru !"
"Aku belum mati, kenapa kau berkata seolah-olah aku telah bangkit dari alam kematian dan menjalani kehidupan baru..."
Anita melanjutkan langkah kakinya sembari melewati pilar pagar taman, dan diatasnya duduk seekor Tarsius aneh yang bisa bicara.
Kejadian apalagi ini yang ditemui oleh Anita dan memusingkan dirinya.
"Aku Tarsius Wilson !"
Seketika Anita menghentikan laju langkah kakinya lalu membalikkan badannya.
Anita menatap serius ke arah seekor Tarsius berwarna putih kemudian dia berkata pada hewan langka itu.
"Kau tidak bermaksud memberitahukan padaku bahwa kau adalah jelmaan suamiku yang telah tewas seratus tahun yang lalu kan ?"
"Tidak, aku hanya seekor Tarsius malang yang tersesat tak punya arah dan tak sengaja bertemu manusia abadi sepertimu."
"Kedengarannya seperti pujian bagiku..."
Anita tersenyum kecil lalu menghela nafas panjang.
"Yah, ampun ! Haruskah hari begini aku menyebut Tuhan !"
Anita menggeleng pelan, tak mengerti bagaimana bisa dia bertemu dengan hal-hal yang diwarnai keanehan sedangkan takdir hidupnya telah aneh.
Tampak hewan Tarsius itu masih duduk di atas pilar pagar taman bahkan tak bergerak sedikitpun.
"Apa yang kau keluhkan, Anita ?"
"Tidak ada !"
Anita menjawab sembari menepuk gaunnya yang compang-camping lalu tertawa pelan.
"Bagaimana kau bisa tahu namaku padahal kita baru pertama kali bertemu ?"
"Seingatku hanya manusia abadi Anita Tumbler yang mampu mendengarkan ucapanku..."
"Oh, yah ?!"
Anita semakin tertegun tak mengerti, ekspresi wajahnya berubah dingin.
"Memangnya kau tahu darimana kalau aku manusia abadi ?"
"Disana !"
Hewan Tarsius itu menunjuk ke arah samping kanan Anita Tumbler sehingga membuat Anita memalingkan mukanya.
"Apa ?"
Tanya Anita tak mengerti saat seekor Tarsius aneh mengarahkan ujung jarinya ke arah samping Anita.
"Apa yang kau ingin perlihatkan padaku ?"
"Lihat disana ada benang merah terulur di samping gaun panjangmu !"
"Benang merah apa ? Aku tidak melihat apa-apa ?"
Anita memalingkan muka ke arah samping kanannya.
"Baiklah, aku akan membantumu melihat benang merah takdir itu !"
Hewan Tarsius berwarna putih itu memutar ujung jarinya ke arah samping kanan Anita Tumbler lalu muncul cahaya terang berkelap-kelip di dekat Anita.
Sehelai benang merah terulur panjang di samping Anita dan dia dapat melihatnya sekarang.
"Benang takdir milikmu terlihat bahwa kau adalah pemilik simbol keabadian karena warnanya lebih gelap dari benang-benang lainnya."
Tarsius itu memperlihatkan kepada Anita sebuah keajaiban sembari menunjuk ke arah atas mereka.
Ribuan benang merah membentuk jaring-jaring yang saling bertumpukan tumpang tindih serta bersinar terang.
Anita hanya terdiam ketika dia menyaksikan ribuan benang merah di atas mereka.
"Apa kau mengerti, Anita ? Kenapa aku bisa menandaimu bahwa kau adalah manusia abadi ?"
"Tapi tidak menyimpulkan bahwa aku adalah manusia abadi hanya dengan memperlihatkan benang merah itu padaku."
"Baiklah, bukan masalah jika kau tak mengerti, kita tidak usah memperdulikannya tentang benang merah itu lagi."
"Ya, baiklah, bisa dimengerti..., dan sekarang aku mau pergi untuk mencari tempat teduh buatku..."
"Kemana kau akan mencarinya, Anita ?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu harus kemana langkah kakiku akan melangkah sekarang ini..."
"Ini kota mati, Anita !"
"Apa ? Kota mati ?"
Anita memutar badannya menghadap ke arah Tarsius langka di atas pilar pagar taman.
"Kota mati ?"
"Ya, tempat ini hanyalah sebuah kota mati tanpa penghuni jika kau hendak mencari tempat berteduh mungkin bisa kau lakukan, tapi untuk berbicara dengan manusia normal, kau tidak bisa melakukannya, Anita."
"Kalau begitu aku tidak butuh siapa-siapa untukku berbicara karena yang aku cari hanyalah tempat berteduh saja."
"Kau serius mengatakannya, Anita ?"
"Jangan pedulikan aku karena aku hanya ingin berbaring saja buat sebentar, jika tempat itu berhantu sekalipun, aku tetap tak perduli !"
"Kau serius, Anita !"
"Yah, aku serius sekali, buat apa aku berkata tidak serius."
Anita mempercepat laju langkahnya dengan disertai benang merah yang menjulur panjang di arah samping kanannya.
Keberadaan ribuan benang merah yang menggantung di sampingnya telah merepotkan laju langkah kakinya ke depan.
"Tidakkah bisa benang-benang merah ini menyingkir dariku ?"
Kata Anita Tumbler dengan ekspresi kesal sembari menoleh ke arah benang-benang merah yang terulur itu.
"Yah, kau bisa memotongnya jika kau merasa kerepotan !"
"Kalau begitu berikan padaku sebuah gunting atau sejenisnya agar aku bisa memangkas habis jalinan benang-benang merah ini dariku !"
"Ambillah benda tajam ini !"
Tarsius aneh itu mengeluarkan sebuah gunting besar dari dalam kantung depannya lalu menyerahkan benda itu kepada Anita Tumbler.
"Rupanya kau berguna juga, Tarsius Wilson !"
"Yah, begitulah kira-kira gunanya aku, Anita."
"Terima kasih atas kebaikanmu, Tarsius !"
"Sama-sama..."
Tanpa banyak bicara lagi, Anita memangkas benang-benang merah yang berjumlah ribuan itu dengan menggunakan gunting besar pemberian Tarsius Wilson.
"Kresh... ! Kresh... ! Kresh... !"
Ribuan helaian benang merah terputus dari arah samping kanan Anita Tumbler lalu lenyap menghilang.
Anita tersenyum lega seraya mengembalikan gunting besar itu kepada Tarsius Wilson.
"Terima kasih, sekarang aku bisa melangkah mudah, dan kuucapkan padamu rasa terima kasihku atas pemberitahuannya."
"Kau jadi mencari tempat teduh disini, Anita ?"
"Yah, aku harus mencari tempat buatku berteduh karena aku harus berbaring untuk merilekskan badanku dari penatnya lelah setelah seharian berjalan kaki sangat lama..."
"Memangnya kau darimana tadi ?"
"Kau bahkan tidak akan mengira bahwa aku baru saja melewati badai besar Tornado yang meluluh lantakkan tempat tinggalku !"
Anita Tumbler melanjutkan perjalanannya kembali, untuk mencari tempat buatnya berteduh di kota asing ini sedangkan seekor Tarsius langka yang bisa berbicara sedang mengikutinya.
Terlihat Anita Tumbler mulai memasuki area kota yang sangat asing teruntuk dirinya.
Suasana disekitar kota asing ini benar-benar terasa sunyi bahkan sangat sepi ketika Anita berjalan menelusuri jalanan kota.
Aroma menyengat tercium pekat di hidung Anita serta meninggalkan jejak aneh tertinggal di sekitarnya saat Anita mulai mendekati area deretan bangunan kokoh di sepanjang jalan kota sepi ini.