NovelToon NovelToon
Rain Bukan Petaka

Rain Bukan Petaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Lari Saat Hamil / Preman
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Asrar Atma

Rain menjadi ketua, dari geng yang dibuat sendiri, Rksabi. Yang berkecimpung pada tugas jasa, geng yang terdiri enam orang itu mencari klien dengan berbagai masalah demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sampai satu tugas yang menawarkan bayaran mahal, membawanya pada gadis muda, dan Rain merasa terjebak disana, di dalam rumah mewah keluarga Vick sebagai Pengawal pribadi Yasmin Celia. Dia datang untuk menyelesaikan misi sebagai Pengawal pribadi yang melindungi, tapi selesai tugas justru jadi Bapak yang mencari keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrar Atma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Baru saja Rain menyadarkan punggung di sandaran Mobil setelah mengerjakan tugas dari klien, sambungan panggilan kembali datang dari anggota Rksabi.

"Apa lagi?" Dia menyugar rambut, sembari memeriksa nama kontak, yang ternyata dari Bintang.

"Taka, kau saja yang ambil tugas jadi pengawal. Aku tidak cocok, Taka. Cepat kemari, aku kirim lokasinya!"

Rain menghela napas setelah panggilan terputus, lalu melajukan kendaraannya ke lokasi yang dimaksud. Waktu tempuh diperlukan 20 menit sebelum kendaraannya parkir di gedung karaoke, Melihat kedatangannya, Bintang menghampiri dengan setengah berlari.

"Taka, anak-anak SMA itu bandel, aku dikerjain sampai mau berkelahi dengan security" adu nya pada pria yang baru saja keluar dari Mobil, keduanya berjalan beriringan menuju ruangan bocah-bocah itu berkumpul.

"Siapa namanya?" Tanya Rain, sebab dia tidak melihat data perempuan yang diminta klain untuk menjaga nya.

"Yasmin Celia" Bintang menunjukkan foto perempuan itu yang memakai seragam sekolah, wajahnya masih terlihat lugu namun tertutup oleh gaya Meke-up khas wanita dewasa.

Di sepanjang jalan menuju letak Yasmin, Bintang cerita apa yang telah dialami dalam kurun waktu dua jam setelah mengganti Sandi. Ketika mereka tiba dihadapan ruangan yang dimaksud Bintang, Rain membuka pintu, kemudian semua mata yang ada didalam ruangan langsung terarah padanya.

Padahal kondisi didalam sangat berisik, suara pintu mungkin tidak terdengar. Namun mereka nampaknya mendengar intunisi, tatapan mereka terpaku pada pria blasteran beriris mata abu-abu. Tubuhnya yang tinggi nampak begitu gagah dalam balutan penampilan yang mirip Gengster, menambah nilai ketampanan yang dimilikinya. Tiap langkah memberi tanda tanya pada ke tiga gadis remaja yang menatapnya kagum, sampai mereka kesulitan mengalihkan perhatian. Jadi tidak tahu keberadaan Bintang diambang pintu, apalagi aroma maskulin itu memenuhi indra penciuman mereka.

"Yasmin Celia, saya Petaka. Pengawal baru anda" ucapnya, dengan suara yang dinyaringkan agar tidak kalah dengan kebisingan dalam ruangan.

Sementara Yasmin termangu untuk beberapa detik yang terasa lama bagi Rain yang tidak sabaran, "Setengah jam lagi, tepat pukul 5 sore, anda harus segera pulang. Sebelum itu silahkan bersenang-senang, saya menunggu didepan pintu"ujarnya lagi, lalu berbalik untuk meninggalkan ruangan.

Barulah Bintang yang mengekor terlihat oleh mereka, Bintang pun memberikan senyuman terbaik nya untuk anak-anak SMA yang membuat nya kalang kabut menerima godaan- sebelum menghilang dibalik pintu.

"Bagaimana aku tidak tegang, Taka? Kau lihat sendiri bukan? mereka cantik-cantik" Bintang menghembuskan napas kasar, mengingat kejadian diruangan saat mereka mengerjai nya dengan godaan bahasa tubuh. Ingin dia sambar umpan itu, takut lagi dihabisi Bapak-Bapak mereka. Belum lagi mereka memfitnah nya pada security, membuatnya terpaksa harus keluar.

"Kau yang sabar dalam tugas ini, Taka." Dari keseluruhan cerita nya, nasehat yang tadi adalah ujung dari ucapannya.

Tepat pukul 5 sore, Rain membuka pintu ruangan itu lagi. Untuk mengajak Yasmin pulang, sedangkan Bintang yang menemani nya sudah pulang. Yang ketika dibuka, Yasmin dan kedua temannya masih duduk anteng sambil bercanda, Rain menghampiri mereka yang secara bersamaan menoleh.

"Aku pulang duluan teman-teman, kasihan nih anak orang baru kerja malah dimarahin Papi" ujar Yasmin, sembari melirik Rain yang berdiri di belakangnya, teman-teman nya mengagguk sambil melambaikan tangan.

Lalu ketika tatapan Rain bertemu dengan teman-teman Yasmin, mereka berkedip genit. Rain melengos menanggapi godaan mereka, lalu melangkahi mendahului Yasmin untuk membuka pintu.

"Jadi...kamu yang mengganti posisi Sandi? Yang botak tadi ngga jadi?" Tanya Yasmin saat mereka melangkah menuju parkiran, kendaraan Rain sudah ditukar dengan kendaraan khusus keluarga Vick oleh Bintang.

"Apa perlu aku mengulang lagi? Dasar pikun!"

"Ya, Nona" jawab nya berusaha bersikap baik sebagai bawahan, meskipun hatinya mengumpati perempuan yang berjalan didepan nya.

"Kenapa tiba-tiba diganti terus? Aku kan jadi kesulitan beradaptasi. Setelah kamu, jangan bilang nanti ganti lagi?" Yasmin berhenti demi melihat pria yang menjaga jarak dua langkah darinya, mau tak mau Rain pun mengikuti.

"Sebelumnya, maaf membuat anda kesulitan, Nona. Tapi setelah ini saya pastikan, hanya saya yang jadi pengawal Nona" Yasmin mengulas senyum, lalu melangkah memutari Rain sambil berdecak, sebelum akhirnya berhenti dihadapan Rain dengan jarak yang begitu dekat.

"Baguslah kalau begitu, tapi ngomong-ngomong kenapa ekspresi kamu begitu? Seperti menyimpan kekesalan" Yasmin mengusap jaket Rain dengan jari nya yang lentik, menatap lekat mata pria yang memandang lurus kedepan.

"Dia pakar ekspresi? Atau ekspresi ku yang sulit bohong? Betapa menjijikan nya perempuan ini, bolehkah dilempar saja ke pembuangan sampah?"batin nya kesal dengan telunjuk Yasmin yang bermain-main di dada nya, membuat pola acak.

"Maaf Nona jika anda merasa tersinggung dengan ekspresi saya, tapi ekspresi seorang pengawal memang seharusnya sangar" Yasmin memiringkan kepalanya sedikit, mengamati bibir itu bergerak-gerak.

"Oh...begitu, aku akan memahaminya jika demikian. Apalagi rupa ini, begitu tampan" Rain langsung menahan napas saat Yasmin meletakan kedua tangannya dibahu Rain, dia ingin mendengus.

"Maaf Nona, tapi kita harus segera pulang" Rain melepaskan tangan Yasmin dari bahu nya dengan lembut, menahan diri agar tidak mematahkan tangan kurang ajar itu.

"Ayo, Pak Taka " ajak nya dengan nada manja, lalu menggigit bibir bawahnya sebelum berbalik dan melanjutkan langkah. Tanpa tahu dibelakangnya Rain memutar bola mata.

"Mereka menjebak ku dengan perempuan seperti ini" batin nya merasa kesal dengan anak buahnya ,yang melempar tanggung jawab padanya dengan kurun waktu yang lama.

Rain membuka pintu mobil, lalu menempatkan telapak tangan nya diatas kepala Yasmin, mencegah benturan. Tindakan kecil sebagai caranya memainkan peran sebagai Pengawal, karena tugas dan kepuasan klain adalah nomor tiga, yang pertama tentunya adalah biaya, yang kedua tentang kenyamanan mereka mau atau tidak menerima tugas.

Mereka berkendara ditemani kebisingan dari musik yang diputar Yasmin, membuat kepala Rain hendak pecah ditambah dengan suara Yasmin yang bagaikan keledai. Rain sampai memijit pelipis nya sambil mengemudi, baru kali ini dia merasa tugas yang berat dari klien. Jikalau bayaran nya belum diterima, sudah tentu dia berhenti dan memilih tugas lain. Namun sekarang sudah terlalu terlambat untuk berhenti ditengah jalan, karena dia sudah menerima tugas itu yang berarti mempertaruhkan nama baik Rksabi.

*****

"Sampai jumpa lagi pak Taka!" Ucap Yasmin, saat dia berdiri dihadapan Rain yang masih menahan pintu mobil.

Berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan, Yasmin malah bertahan diposisi nya berdiri sembari menatap Rain. Membuat pria itu lagi-lagi membatin, "Apa lagi sekarang dalam otak, sialan ini? Tidak bisakah dia lanjut jalan? Dan membiarkan aku menutup pintu mobil" yang tanpa sadar membuatnya mengakat pandangan, untuk sekedar menarik napas dalam.

"Aku lupa menanyakan ini, kenapa kamu punya nama yang jelek? Pe ta ka" eja nya pelan diujung kata, Rain menurunkan pandangan nya, lalu menatap tepat dikedua mata Yasmin.

Perempuan itu tiba-tiba salah tingkah, ditatap intens sampai menyelipkan anak rambutnya, sambil berdeham. "Karena Bunda ku" Jawab Rain singkat.

Yasmin tidak bertanya lagi karena merasa tidak nyaman dengan suara bas yang terdengar dingin. Dia pun masuk tanpa kata, meninggalkan Rain yang menutup pintu mobil, dengan tangan yang lain nya terkepal disisi badan.

Sebagai pengawal yang bekerja dirumah tuan Vick, Rain diminta tinggal dibagian belakang rumah itu. Dengan itu, segala tugas Rksabi selanjutnya akan ditangani lewat Haneul ataupun Sandi. Disebabkan dia harus fokos dengan tugasnya sendiri, yang mungkin akan membuatnya jarang berkumpul bersama Rksabi.

Namun dia perlu memberikan informasi akan perubahan yang terjadi kepada klien nya, tuan Vick tentang pergantian pekerja, "Jadi kau yang akan jadi pengawal putriku selama setengah tahun?" Tanya nya memastikan, sembari menelisik penampilan Rain, pria itu lebih cocok menjadi seorang model dibandingkan pengawal.

"Ya" jawab nya, dia mulai bosan dengan orang-orang yang seperti ini, suka mengulang.

"Tapi apa tidak diganti-ganti lagi? Dan jika pun diganti, kalian harus pastikan bekerja dengan baik. Aku tidak mau tahu, putriku harus dijaga dengan baik sekalipun taruhan nya nyawa kalian" Rain mengeryit, tidak setuju dengan kalimat terakhir Vick.

"Bertaruh nyawa? Seluruh harta anda pun tidak mampu membayar nya"nada nya berubah dingin, dia mulai menampakan sisi dirinya sebagai ketua geng Rksabi. Menepikan keharusan nya yang ramah sebagai pengawal yang mengerjakan tugas, tuan Vick pun berdeham mendadak gugup karena aura nya.

"Tentu saja Tuan Petaka, mana ada yang bisa membeli nyawa. Saya tadi hanya terlalu bersemangat, bagaimana pun saya merasa senang memilih jasa Rksabi. "Ujar Vick. Mencoba menghilangkan kecanggungan yang terjadi, karena dia merasa tegang dengan tatapan Rain yang seakan menikam nya.

"Tuan Petaka, apa saya perlu memberitahu bagaimana rutinitas putri saya"

"Berikan saja lewat laporan tertulis, saya akan membaca nya" setelah perbincangan singkat itu, Rain kembali ke kamar yang telah disediakan untuk nya.

Sementara Vick bergumam dibelakangnya, "Pantas saja namanya Petaka, aura nya memang seperti itu. Tapi apakah pesona nya tidak bahaya?" katanya, sembari memperhatikan punggung Rain yang perlahan mengecil.

Rain menggerakkan kepalanya ke kiri ke kanan untuk menghilangkan rasa pegal, tanpa sengaja matanya melirik ke lantai atas. Pemandangan di sana membuat nya menghentikan langkah, Yasmin melambaikan tangan kepada nya dengan pakaian tidur yang terbuka memperlihat bahu seputih susu. Seakan tidak cukup untuk menggoda, Yasmin juga menjilat bibir nya sendiri. Rain memperhatikan nya sebentar sebelum membuang muka, lalu melanjutkan langkah menuju ruangan nya berada.

*****

"Pagi...pak Taka! Bagaimana tidur kamu semalam?" Rain menghela napasnya dan menghentikan kegiatannya, lalu berbalik pelan melihat majikan nya.

"Selamat pagi Nona! Jika anda sudah siap? mari kita berangkat sekarang" Yasmin melangkah mendekati Rain, sembari membalas tatapan pria bermanik mata abu-abu itu dengan senyum manis, berhenti dihadapan nya sampai ujung sepatu mereka nyaris bertemu.

"Kalau kamu sudah siap, aku ayo saja. Tapi aku pikir kamu perlu menjawab setiap pertanyaan ku loh Pak Taka, termasuk bagian tidur!" Ia menekan perut Rain yang terasa keras, diam-diam ia mengagumi nya saat merasakan tekstur badan dibalik kemeja putih itu.

"Tidur saya baik, Nona" Rain menahan pergerakan jari lentik itu yang mengelus sampai menyentuh pusar nya, Yasmin terkekeh tangan nya sedikit diremas.

"Silahkan masuk Nona" Rain membuka pintu, membantu Yasmin naik dengan aman.

Lalu mengelilingi mobil, berjalan ke arah kemudi berada, sedangkan Yasmin membuka satu lagi kancing seragam nya memamerkan belahan indah nya.

"Bisa tolong pasang Seatbelt nya? Aku mau pakai lipstik dulu" ia membuka tas sekolahnya sembari melirik Rain yang bergeming dikursinya, ketika lima detik berlalu pria itu keluar lagi menuju pintu belakang tempat Yasmin duduk.

Lalu membuka pintu dan mencondongkan badannya ke arah Yasmin yang tengah memakai lipstik. Karenanya wajah mereka begitu dekat, Yasmin bahkan dapat mengamati tiap detail wajah pria dihadapan nya meskipun sejenak. Dari bulu mata yang lentik sampai mengalahkan miliknya, rambut halus disekitar rahang dan bibirnya, surai hitam yang lebat, hidung tinggi dan bibir yang indah.

Selain tangannya yang gesit hingga waktu berdekatan itu cepat, matanya pun tidak melirik pada Yasmin atau belahan dada yang jadi malu dibalik seragam karena mendapati perlakuan se- sombong itu dari pria ini.

"Sudah? Cepat banget tangannya, apa tangan itu memang se-ahli itu?" Tanya Yasmin setelah berdeham, matanya melirik ke luar jendela sembari diam-diam memasang kancing seragam nya.

"Benar, Nona" jawab Rain yang baru memakai Seatbelt saat pertanyaan itu dilayangkan,lalu membawa mobil nya melaju. Terjadi keheningan diantara mereka didalam kendaraan itu karena Yasmin mendadak malu.

1
Anala.
lanjut, aku tak bisa berkata apa-apa 👍
Anala.
elahh🤣
Anala.
tenang, kamu malah dpt anak 🤭
Anala.
benar itu
Anala.
lanjut thor 🙏
Anala.
heh, dosa itu
Anala.
buat sendiri, Yas 😄
Anala.
lanjut thor
Anala.
dasarrr.... enggak baik!
Anala.
hahahaha, usil🤣
Anala.
malah deras aliran nya. karena bocor tembak🤭
mungkin: ya iya ya👍🤣
total 1 replies
Anala.
waduhh, Petaka... muncul!
Anala.
up. seperti fans benaran aku😄
mungkin: kok sempat sih
total 1 replies
Anala.
sering-seringlah, mengumpat Petaka. karena nanti kamu akan mencari kecebong mu🤣
mungkin: apa lagi kosakata nya?
total 1 replies
Anala.
ketemu Han enggak nih
mungkin: ngga La/NosePick/
total 1 replies
Anala.
bisa, bisa nya Lo yang bilang menarik
Anala.
kejam banget
Anala.
apa ini, Mr Petaka sudah memiliki anak, hmm....
mungkin: iya /Drowsy//Drowsy/
total 1 replies
Anala.
hahaha/Hammer/
Anala.
pelit banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!