Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 26_Menjadi Cahayaku
Pria itu menendang kasur yang kosong, lalu mengarahkan senternya ke seluruh penjuru ruangan.
Cahaya senter itu melewati tumpukan jaring nelayan tempat Marco berada, Marco berada di bawah tumpukan itu, menahan napasnya sekuat tenaga.
Rasa sakit di perutnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum, namun ia tahu satu desahan saja akan mengakhiri hidup mereka berdua.
Siro mendekati tumpukan jaring itu, ia mengangkat pistolnya, hendak menembakkan peluru ke arah karung-karung goni hanya untuk memastikan.
"Tuan! Tuan!" teriak Pak Yusuf tiba-tiba dari ruang depan.
"Ada cahaya lampu kapal di muara! Itu kapal yang besar, bukan kapal nelayan kami!"
Siro terhenti, ia menoleh ke arah jendela yang menghadap ke laut dan di kejauhan memang terlihat kilatan lampu navigasi yang bergerak cepat menuju desa.
"Sial," geram Siro.
Ia berpikir itu adalah tim patroli polisi atau kemungkinan besar, bantuan untuk Marco.
"Kita harus cepat! Bakar desa ini jika kalian tidak menemukan mereka dalam lima menit!" serunya dengan perintah.
Siro keluar dari kamar dengan terburu-buru, memberikan perintah pada anak buahnya untuk segera mundur menuju mobil.
Ia tidak ingin terjebak dalam pertempuran di area terbuka seperti desa nelayan ini.
Anya merosot ke lantai begitu Siro keluar dari rumah, ia merangkak masuk ke kamar dan segera membongkar tumpukan jaring itu, Marco tampak pucat pasi, peluh membanjiri wajahnya.
"kamu tidak apa-apa?" tanya Anya lirih.
"Hampir saja..." gumam Marco, suaranya sangat lemah.
"Kamu berani sekali Anya, sangat berani." seru Marco dengan takjub.
Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat, suara tembakan tiba-tiba pecah dari arah jalan masuk desa.
Bukan suara tembakan sembarangan, melainkan tembakan terarah dan ritmis.
"Itu bukan polisi," bisik Marco, matanya sedikit berbinar.
"Itu suara HK416. Itu Bram." ucap Marco dengan santai.
Tiba-tiba, suara ledakan keras terdengar dari arah mobil-mobil milik anak buah Antonio.
Api membubung tinggi, menerangi langit malam Muara Sunyi, pertempuran pecah di tengah desa.
Anak buah Antonio yang tadi sombong kini kocar-kacir menghadapi serangan mendadak yang sangat profesional.
Pintu rumah kembali terbuka, namun kali ini bukan dengan kekerasan, seorang pria tegap dengan rompi taktis dan senjata lengkap masuk ke dalam. Bram.
"Tuan Marco!" teriak Bram saat melihat sosok tuannya di pojok kamar.
"Bram... kamu terlambat sepuluh menit," sindir Marco dengan senyum lemah.
Bram segera membantu Marco berdiri. "Maaf, Tuan, navigasi ke muara ini cukup sulit karena kabut. Kami harus membersihkan area depan terlebih dahulu." serunya.
Bram kemudian menatap Anya, ada rasa hormat yang terpancar di matanya.
"Nona Anya, terima kasih telah menjaga Tuan tetap hidup. Kami akan segera membawa kalian ke tempat yang benar-benar aman."
"Bagaimana dengan warga desa? Pak Yusuf? Mak Salma?" tanya Anya cemas.
"Tim medis dan tim kompensasi kami sudah bergerak, Nona. Kami akan memastikan desa ini kembali tenang dan semua kerusakan diganti," jawab Bram singkat.
Mereka membawa Marco keluar menuju kapal cepat yang sudah menunggu di muara.
Saat Anya berjalan melewati Pak Yusuf dan Mak Salma, ia berhenti sejenak dan ia melepaskan kalung berlian yang sejak tadi ia sembunyikan di dalam bajunya dan memberikannya pada Mak Salma.
"Ini bukan untuk membayar nyawa kami, karena itu tak ternilai. Ini untuk masa depan desa ini. Tolong terima," ucap Anya.
Mak Salma memeluk Anya dengan erat. "Pergilah nak, jaga pria itu, dia mungkin monster bagi orang lain, tapi bagimu dia adalah pria yang sangat membutuhkanmu."
Anya naik ke atas kapal cepat, di sana Marco sudah dibaringkan di atas tandu darurat dan tim medis mulai memasang infus serta oksigen.
Kapal itu melesat membelah air, menjauh dari Muara Sunyi, meninggalkan api dan asap yang perlahan padam.
Di atas kapal Anya duduk di samping tandu Marco, ia memegang tangan pria itu, Marco menatapnya, meskipun kelopak matanya terasa sangat berat.
"Anya," panggil Marco.
"Ya?"
"Terima kasih karena kamu benar-benar menjadi cahayaku malam ini." serunya.
Anya tidak tersenyum, ia menatap laut yang gelap di belakang mereka.
"Aku tidak melakukan ini karena aku memaafkanmu Marco, aku melakukan ini karena aku tidak ingin duniaku menjadi semakin gelap dengan kehilangan satu-satunya orang yang, entah bagaimana, tetap melindungiku."
Anya mendekatkan wajahnya ke telinga Marco. "Tapi ingat satu hal yaitu jangan pernah mengurungku lagi dengan ketakutan, jika kita keluar dari sini, aku ingin kita membangun sesuatu yang berbeda, bukan sangkar, bukan darah."
Marco memejamkan matanya merasakan remasan tangan Anya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang penguasa kegelapan merasa bahwa ia tidak lagi perlu memaksakan obsesinya.
Karena malam ini, Anya telah datang kepadanya dengan sukarela bukan karena cinta yang manis, melainkan karena ikatan yang jauh lebih kuat yaitu ikatan yang ditempa dalam api dan penderitaan.
Saat kapal itu mendekati pelabuhan pribadi di Jakarta, Anya menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dia bukan lagi pelayan kedai kopi yang naif, dia telah menjadi bagian dari badai dan di samping Marco Valerius, dia akan menghadapi sisa dunia yang haus darah itu sebagai seorang wanita yang baru.
Perang melawan Antonio belum berakhir, namun malam ini, mereka telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu sebuah kepercayaan yang lahir dari lubuk neraka yang paling dalam.
Helikopter medis itu mendarat di atas sebuah gedung pencakar langit yang tampak anonim di kawasan segitiga emas Jakarta.
Gedung ini tidak memiliki papan nama perusahaan besar, namun penjagaannya jauh lebih ketat daripada istana kepresidenan.
Ini adalah The Citadel, unit komando pusat milik Marco Valerius yang hanya diketahui oleh segelintir orang kepercayaannya.
Di bawah gedung yang tampak perkantoran biasa ini, terdapat bunker medis dan pusat intelejen yang mampu memantau seluruh pergerakan di kota.
Anya turun dari helikopter dengan bantuan Bram, rambutnya masih tercium aroma laut dan asap, namun ia menolak untuk langsung mandi.
Ia mengikuti tandu Marco yang didorong cepat menuju ruang operasi darurat di lantai bawah.
"Nona Anya silakan istirahat di ruang tunggu, tim medis terbaik kami sedang menanganinya." ujar Bram dengan nada yang sangat hormat.
Anya menggeleng, ia duduk di kursi plastik dingin di depan ruang operasi, menatap tangannya yang masih ternoda bercak darah kering milik Marco.
Ia merasa seperti berada di dalam dimensi yang berbeda, hanya dalam beberapa hari, ia telah menyeberangi lautan, bersembunyi di gubuk nelayan, dan kini kembali ke jantung kemewahan yang fungsional sekaligus mematikan.
Ia bukan lagi Anya yang bekerja di kedai kopi, Anya yang itu sudah mati terkubur bersama Maya di reruntuhan masa lalunya.
Tiga jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka, Marco keluar dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya, namun ia sudah sadar.
Tim medis memindahkannya ke sebuah ruang pemulihan yang lebih mirip kamar hotel mewah namun dengan peralatan medis lengkap di dindingnya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪