Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.
Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.
Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.
Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan Terakhir
Suara nafas tersengal diantara kepulan debu yang berterbangan ke segala arah dengan pemandangan sekitar yang telah luluh lantah setelah kedua orang melakukan latih tanding.
"Perkembanganmu cukup lambat dibandingan diriku ketika seusiamu, tapi bagi seorang manusia fana yang tinggal di domain bawah dengan energi tipis, kau mungkin lumayan jenius bagi anak seusiamu di dunia ini. Apalagi kau cepat tanggap disetiap penjelasan yang kusampaikan," ucap ratu Lily yang tengah mengambang di udara dengan langit malam berhias bintang dan bulan.
"Terimakasih. Semua ini berkat bimbingan ratu selama dua tahun terakhir, andai saja hari itu saya tidak bertemu dengan anda. Mungkin perkembangan kultivasi saya tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun," ucap Vincent membungkuk penuh hormat.
Memang dibawah bimbingan ratu Lily selama dua tahun terakhir perkembangan Vincent dalam ilmu beladiri dan metode kultivasi telah banyak perubahan secara signifikan. Meski ia harus menjalani pelatihan yang sangat berat, tapi ia merasa senang dengan tingkat kultivasi serta pemahaman dalam ilmu beladiri terus meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan kali ini ia merasa bangga memiliki soul tumbuhan yang ternyata sangat kuat dan bermanfaat bagi dirinya.
Ratu Lily tersanjung mendengar perkataan murid pertama dalam hidupnya dan merasa bangga pada dirinya dengan perkembangan Vincent selama dibawah bimbingannya.
"Hmm... Itu sudah pasti. Karena tidak ada orang-orang di benua ini yang tau tentang cara meningkatkan soul tumbuhan dengan benar, makanya mereka meremehkan jiwamu yang dianggap tidak lebih baik dari sampah. Padahal jika mereka tau betapa istimewanya soulmu, pasti banyak sekte besar di benua ini yang berusaha memperebutkanmu untuk masuk ke sekte mereka."
"Dan aku ingatkan sekali lagi. Teruslah asah kemampuanmu melalui pelatihan ataupun pertarungan secara langsung, karena kemungkinan besar mulai sekarang aku tidak bisa lagi menemanimu berlatih-" lanjut ratu Lily.
"Eh, kenapa? Memangnya ratu Lily hendak pergi?" sela Vincent yang kaget mendengar penuturan gurunya tersebut.
"Dengarkan penjelasanku sampai selesai dulu, dasar murid bodoh!" seru ratu Lily sambil menggeplak kepala Vincent.
"Aku melatihmu dengan kondisi terluka parah dan aura dalam diriku nyaris tidak sampai 10%, apalagi selama dua tahun ini aku menjadi latih tandingmu dan tentu saja ada resiko besar. Jadi intinya aura dalam tubuhku sudah benar-benar habis dan itu membutuhkan masa penyembuhan yang cukup lama. Kau bisa lihat sendiri tubuhku perlahan memudar," jelasnya.
Vincent terkejut mendengar penuturannya dan merasa sangat bersalah, sebab ia menganggap semua yang menimpa ratu Lily kemungkinan besar akibat terlalu sering mengeluarkan energi lebih ketika memberi pelatihan padanya. Apalagi saat dirinya terluka, ratu Lily juga yang selalu menggunakan teknik heal untuk menyembuhkannya.
'Pantas saja dalam enam bulan terakhir ratu hanya menemani latihanku selama setengah jam dan langsung kembali ke array.'
Ratu Lily menyadari raut wajah sedih muridnya, ia pun berkata:"Tenang saja, aku tidak akan mati begitu mudah tanpa melakukan pembalasan pada empat orang tua badjingan itu. Mungkin tubuh fisikku akan memudar dan bagi jiwa emperor god biasa hanya akan bertahan satu bulan. Tapi bagiku orang yang telah mempelajari salah satu teknik milik kaisar kuno dan itu membuat jiwaku akan tetap bertahan lama serta kultivasiku pun tidak akan menurun jika suatu saat telah dibangkitkan kembali olehmu."
"Tetapi selama dalam masa penyembuhan dan selama kau masih belum menguasai teknik pembangkit milik kaisar kuno. Diriku akan berubah menjadi roh spirit seperti makhluk spiritual lain yang biasa kalian summon."
Kemudian ratu Lily mengeluarkan sesuatu dari cahaya biru yang ia ciptakan dan melemparkannya ke arah Vincent. "Ambil dan pakai di pergelangan tanganmu!"
"Tumbuhan jenis apa ini?" tanya Vincent setelah menerima gelang berwarna hitam dengan cahaya kemerahan.
"Itu bukan tumbuhan biasa, ia tumbuhan dan hidup di laut terdalam di wilayah kaisar kuno dan semasa hidupnya ia mempunyai kesadarannya sendiri. Benda itu akan menjadi wadahku untuk sementara waktu selama dalam masa mode spirit dan kau bisa memanggil jiwa spiritku dengan cara menuangkan sedikit aura milikmu, tapi ingat. kau hanya boleh menggunakannya dalam keadaan darurat," ucap ratu Lily menjelaskan cara menggunakan gelang akar laut padanya. Kemudian setelah ia benar-benar berubah menjadi roh spirit, perlahan dirinya mulai memasuki gelang tersebut.
"Dan satu lagi. Teruslah pelajari teknik kultivasi dan teknik beladiri yang ada dicatatan yang aku berikan padamu, ketika sudah menguasai dan telah memadukannya dengan teknik yang aku ajarkan padamu. Jangan lupa untuk menyembuhkanku seutuhnya," lanjutnya sebelum benar-benar menghilang.
"Tentu. Saya tidak akan lupa hal itu dan akan menjadi prioritas utama saya," timpal Vincent. Memang ia sudah mendapat sedikit penjelasan berbagai macam teknik yang ada dalam catatan milik kaisar kuno dari ratu Lily. Jadi ia tinggal menyempurnakannya sendiri.
"Astaga.!!! Kenapa ratu tidak mengirimku kembali terlebih dulu ke jurang hutan sekte kabut sebelum beristirahat," serunya yang baru menyadari dirinya saat ini berada jauh dari wilayah sekte kabut.
"Hmm... Kalau begini terpaksa aku harus berlari, meski bisa berteleportasi tapi kemampuanku tidak seperti ratu yang bisa berpindah tempat dengan jarak yang ia suka. Tapi? Ngapain juga aku harus kembali ke sekte kabut, bukankah mereka tidak pernah menyukaiku? Jadi, lebih baik aku berpetualang saja mencari pengalaman hidup untuk mengembangkan kemampuanku ini."
"Dan sebelum berpetualang. Alangkah baiknya aku pulang ke kampung halamanku untuk menengok ibu serta teman sepermainanku dulu."
Vincent terus bermonolog untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya yang akan ia tempuh. iapun akhirnya meninggalkan lembah yang menjadi salah satu tempat latihannya selama dua tahun terakhir.
_ _ _ _
Sudah dua hari Vincent berjalan kaki dan belum ada satu pun pemukiman warga yang ia temui dan itu membuatnya terpaksa harus beristirahat di tengah hutan. Untung saja dirinya sudah bisa mengendalikan soul kayu dengan mahir, sehingga dengan mudah ia bisa membuat rumah kayu dalam waktu singkat dengan menggunakan tekniknya tersebut.
"Sungguh sangat beruntung aku mempunyai kemampuan jiwa ini, sehingga aku tak perlu repot-repot mendirikan tenda," ucap Vincent yang bangga akan soul miliknya, padahal dulu sempat merasa kecewa karena dianggap sampah dan sering dibully oleh orang lain.
Saat tengah asik menikmati daging buruan, ia mendengar suara jeritan dari kejauhan. "Huh? Sepertinya ada yang teriak minta tolong?"
Sementara dari sumber suara, terlihat seorang wanita yang tengah dikelilingi oleh kelompok penyamun dengan seringai menyeramkan layaknya binatang buas yang sedang mengerubuni seekor mangsa.
"Haha... Kau bodoh ya nona, teriaklah sepuasmu. Karena tidak ada yang bisa menolongmu di tengah hutan seperti ini, selain tumpukan mayat bekas pengawalmu yang tidak berguna itu," tawa pria besar dan diikuti penyamun lainnya.
"Bos,apakah kita akan langsung membunuh gadis ini?" tanya salah satu penyamun yang ternyata baru bergabung dengan kelompok tersebut.
Semua pasang mata untuk sejenak menatap padanya, kemudian si pria besar yang menjadi dedengkot diantara mereka menghampiri dan memegang pundaknya. "Haha... Tentu saja tidak, kita akan menikmatinya selama beberapa hari. Tapi sesuai peraturan kelompok kita, kau akan mendapat giliran terakhir setelah para seniormu."
Si penyamun junior tampak puas mendengar penjelasan bosnya, meskipun mendapatkan bagian terakhir. Ia tetap senang karena masih ada kemungkinan bisa merasakan keindahan wanita yang ada di depannya dan sang korban tambah ketakutan saat mendengar percakapan mereka.
Dengan tidak sabaran tangan sang bos mencoba membawa si gadis yang kembali berteriak pasrah dengan mata tertutup, karena ia tidak mau melihat wajah para badjingan yang akan menodai tubuhnya.
PLETAK
"Arggh... Badjingan! Siapa yang berani menyerang diam-diam? Keluarkan kau vedevah!!" Teriak penuh emosi si bos penyamun tersebut. Ia sangat terkejut sekaligus marah karena ada yang berani mengganggu kesenangannya.