Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Musik jazz mengalun lembut, suasana bar tampak santai namun penuh percakapan bisnis yang samar. Di meja bundar berlapis kayu mahoni itu, Alexander dan Richard tampak berdiskusi serius, sementara Elena duduk di sisi, mencatat poin-poin penting dengan rapi.
“Jadi, kau ingin ekspansi ke sektor energi terbarukan?” tanya Richard sambil memutar gelas wiski di tangannya.
Alexander mengangguk mantap. “Ya. Aku ingin memastikan perusahaan kita tetap memimpin, bukan hanya di London, tapi juga Eropa. Namun aku butuh jaminan dukungan penuh dari para investor utamaku.”
Richard tersenyum samar, tatapannya penuh intrik. “Dan dukungan itu tidak datang begitu saja, Alex. Kau tahu aku orang yang… selektif.”
Alexander mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya tajam. “Selama angka yang kau minta masuk akal, aku akan pastikan semuanya berjalan lancar. Aku tidak pernah gagal memenuhi janji pada partnerku.”
Richard tertawa kecil, lalu menyesap minumannya. Namun beberapa kali, tatapannya melirik ke arah Elena, seolah ada sesuatu yang lebih menarik perhatian selain angka dan kontrak.
Elena menyadarinya, dan hatinya berdebar tak nyaman. Ia menunduk, pura-pura fokus pada catatannya, meski ia bisa merasakan tatapan itu menusuk kulitnya.
Tak lama kemudian, Alexander berdiri. “Aku harus ke toilet sebentar. Lanjutkan saja minummu, Richard. Elena, awasi catatan itu.”
“Baik, Tuan Thorne,” jawab Elena cepat, menahan kegelisahannya.
Begitu Alexander pergi, Richard bergeser mendekat. Senyum licik muncul di wajahnya. “Elena, bukan? Nama yang indah… sangat cocok dengan wajahmu.”
Elena mengangkat kepalanya, berusaha tersenyum sopan. “Terima kasih, Tuan Coleman. Tapi sebaiknya kita fokus pada bisnis.”
Richard tertawa rendah. “Oh, tentu… bisnis selalu penting. Tapi kau tahu, Alexander beruntung memiliki sekretaris sepertimu. Tidak hanya pintar, tapi juga mempesona.”
Elena menggenggam pulpen erat, menahan ketidaknyamanan. “Saya hanya melakukan pekerjaan saya.”
Richard menepuk-nepuk meja, lalu melirik pelayan yang lewat. “Bolehkan aku memesankan sesuatu untukmu? Malam ini panjang, dan kau butuh minuman.”
Sebelum Elena sempat menolak, Richard sudah memberi isyarat pada pelayan. “Satu koktail untuk wanita cantik ini.” Ia menyelipkan sesuatu kecil dari sakunya, menjatuhkannya ke dalam gelas saat pelayan berpaling sejenak. Cairan bening itu larut tanpa meninggalkan jejak.
“Silakan,” ucap Richard sambil mendorong gelas ke arah Elena.
Elena sempat ragu, namun merasa tidak sopan menolak. Ia meneguk sedikit. Rasanya manis bercampur pahit, tidak ada yang aneh… pada awalnya.
Namun beberapa menit kemudian, kepalanya mulai terasa berat. Dadanya panas, napasnya memburu. Tangannya gemetar memegang pulpen, hingga akhirnya ia meletakkannya.
“Kenapa… tubuhku… panas sekali…” gumam Elena lirih, suaranya bergetar.
Richard tersenyum miring, matanya berkilat penuh niat. “Kau mungkin hanya lelah. Bar ini kadang memang pengap. Bagaimana kalau kau beristirahat sebentar? Aku punya kamar VIP di lantai atas. Sangat nyaman.”
Elena menatapnya dengan pandangan kabur. “Tidak… aku harus tunggu Alexander…”
Richard mendekat, tangannya meraih lengan Elena. “Oh, jangan keras kepala. Kau butuh istirahat. Aku akan menjagamu. Alex tidak perlu tahu.”
Elena berusaha menarik lengannya, namun tubuhnya semakin lemah. “Lepaskan… aku… tidak mau…”
Namun Richard sudah berdiri, menariknya pelan namun pasti dari kursi. Beberapa tamu lain terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, tak ada yang memperhatikan.
Langkah Elena terseret, tubuhnya limbung. Kesadarannya memudar, meski ia masih sempat berpikir putus asa. 'Alexander… cepatlah kembali…'
Sementara itu, Richard menuntunnya ke tangga menuju lantai atas, menuju kamar VIP yang sudah sering ia gunakan untuk urusan kotornya.
Di koridor sepi lantai atas, lampu redup menciptakan bayangan panjang. Richard memegang lengan Elena yang lemah, senyum puas terukir di wajahnya. “Sedikit lagi, Sayang. Kau akan beristirahat dengan nyaman… di sisiku.”
Elena berusaha melawan, tapi setiap gerakan terasa berat, seperti tubuhnya bukan miliknya lagi. “Tidak… tolong… lepaskan aku…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Richard membuka pintu kamar VIP dengan kartu khusus, mendorong Elena masuk ke dalam ruangan mewah dengan sofa kulit dan ranjang besar. Ia menutup pintu dengan bunyi klik, memastikan mereka terisolasi.
“Tenang saja,” bisiknya, meletakkan Elena di sofa. “Kau hanya perlu rileks. Biarkan aku yang mengurus sisanya.”
Elena menatapnya kabur, air mata tipis membasahi sudut matanya. Jantungnya berdetak cepat, bukan hanya karena efek obat, tapi juga ketakutan. Alexander… tolong aku…
—
Di lantai bawah, Alexander baru saja kembali ke meja. Alisnya berkerut saat melihat kursi Elena kosong, catatan tertinggal begitu saja di atas meja.
“Mana Elena?” suaranya berat, menatap Richard yang juga tidak terlihat.
Pelayan ragu-ragu menjawab, “Tadi… saya melihat Tuan Coleman bersama sekretaris Anda, Tuan Thorne. Mereka naik ke atas.”
Mata Alexander langsung menyipit, rahangnya mengeras. “Ke atas?”
Tanpa menunggu, ia berdiri dan melangkah cepat ke arah tangga. Setiap langkahnya menggetarkan lantai, aura marahnya begitu kuat hingga beberapa tamu menoleh dengan ngeri.
—
Di kamar VIP, Richard sudah duduk di samping Elena, jarinya menyusuri lengannya dengan penuh nafsu. “Lihatlah dirimu… begitu rapuh. Aku akan memperlakukanmu lebih baik daripada Alex. Kau akan berterima kasih padaku nanti.”
Elena berusaha menepis, namun tangannya nyaris tak bertenaga. “Jangan… jangan sentuh aku…”
Richard terkekeh rendah. “Tidak ada yang bisa menolongmu sekarang.”
Namun sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, pintu kamar terbuka keras hingga membentur dinding.
BRAK!
Alexander berdiri di ambang pintu, wajahnya gelap, matanya menyala penuh amarah.
“Richard.” Suaranya dalam dan menggelegar. “Lepaskan dia. Sekarang.”
Richard terkejut, namun segera bangkit, mencoba menutupi keadaan. “Alex… kau salah paham. Elena hanya merasa tidak enak badan, aku membawanya ke sini untuk beristirahat.”
Alexander melangkah masuk, tubuhnya bagai singa siap menerkam. “Jangan coba-coba berbohong padaku.”
Tatapannya beralih pada Elena yang terkulai di sofa, wajahnya pucat, napasnya berat. Seketika amarahnya memuncak.
“Apa yang kau berikan padanya?!” Alexander meraung, mencengkeram kerah Richard dan mendorongnya ke dinding.
Richard terbatuk, namun tetap berusaha tersenyum sinis. “Hanya sedikit… bantuan kecil supaya ia rileks. Kau terlalu protektif, Alex. Dia wanita cantik, bukan boneka kaca.”
Suara keras terdengar saat tinju Alexander mendarat di rahang Richard. BUGH! Richard terhuyung, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
“Kau berani menyentuhnya?” Alexander menunduk, suaranya menggeram. “Aku akan hancurkanmu.”
Richard menyeka darah dari bibirnya, tertawa getir meski wajahnya memar. “Kalau kau bertindak gegabah, Alex… investor lain akan mendengarnya. Perusahaanmu bisa jatuh hanya karena seorang wanita.”
Alexander mendorongnya sekali lagi, kali ini hingga tubuh Richard terbanting ke lantai. “Aku lebih rela kehilangan seluruh kekayaanku… daripada membiarkan bajingan sepertimu menyentuhnya!”
Richard meringis, mencoba bangkit, tapi tatapan Alexander membuatnya membeku.
Alexander segera berbalik, mendekati Elena. Ia meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, menepuk pipinya lembut. “Elena… buka matamu. Aku di sini.”
Elena membuka mata perlahan, pandangannya kabur namun ia bisa mengenali sosok itu. “A… Alexander…?” suaranya nyaris berbisik.
Alexander menunduk. “Ya, aku di sini. Kau aman bersamaku.”
Sementara itu, Richard bangkit perlahan, menatap mereka dengan dendam membara di matanya. “Kau akan menyesal, Alex… tidak ada yang bisa menghina Richard Coleman tanpa konsekuensi.”
Namun Alexander tidak lagi memperhatikannya. Ia menggendong Elena dalam lengannya.
“Elena milikku,” ucap Alex dingin, menatap Richard sekilas. “Dan aku akan pastikan kau membayar mahal untuk ini.”
Alexander segera membawa Elena ke mobilnya. Elena terus saja menggodanya. Beberapa kali tak terkendali. Dia terus berupaya untuk membuka kemeja Alex, bahkan menciumi lehernya.
"Hentikan, Elena!" bentak Alexander. Dia tahu itu pengaruh obat. Tapi bukannya berhenti, Elena semakin menggodanya.
Elena menatap Alexander dengan tatapan yang sulit diartikan. "Alexander... aku menginginkanmu."
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya