NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARURAT NASIONAL PERUT NURDIN

BAB 25

Makan Malam yang Terlalu Hangat

Malam turun perlahan di rumah tua keluarga Eden. Lampu pijar di dapur menyala temaram, memantulkan bayangan di dinding kayu yang mulai kusam. Aroma tumisan kangkung menyebar, bercampur wangi ikan pindang yang baru diangkat dari panci.

Di atas tikar pandan, hidangan sederhana tersaji: sayur kangkung hijau gelap dengan irisan bawang merah, tempe goreng keemasan, sambal merah menyala di cobek batu, ikan pindang yang masih mengepul, dan teko kecil berisi teh hangat manis.

“Silakan, Nak… makan dulu,” kata ibu Eden sambil tersenyum lelah tapi tulus.

Nurdin duduk paling cepat. Matanya berbinar. “Masya Allah… ini baru namanya makan setelah hari berat,” katanya sambil langsung menyendok nasi. “Di rumah sakit, paling mentok biskuit sama kopi pahit.”

Sandi meliriknya. “Pelan-pelan, Din. Itu sambalnya kelihatan nggak ramah.”

Nurdin tertawa. “Justru itu yang bikin hidup terasa hidup.”

Amelia duduk di seberang, masih tampak lelah. Tapi saat ia menyeruput teh hangat, bahunya sedikit mengendur. “Tehnya pas,” gumamnya. “Manisnya nggak berlebihan.”

Ibu Eden mengangguk. “Biar hati juga ikut hangat.”

Pak Dosen Eden duduk agak menyamping, menatap hidangan di depannya cukup lama sebelum akhirnya menyentuh nasi. “Sudah lama saya nggak makan seperti ini,” katanya pelan. “Tanpa terburu-buru. Tanpa mikir presentasi, jurnal, atau rapat.”

Mang Dedi mengunyah tempe sambil bersandar ke dinding. “Makan di rumah sendiri itu beda, Pak. Walaupun lauknya sederhana.”

Eden tersenyum kecil. “Iya. Dan justru itu yang bikin berat… sadar kalau rumah ini lama saya tinggalkan.”

Untuk beberapa menit, hanya terdengar suara sendok, kunyahan, dan desis halus dari dapur. Seolah dunia di luar—ular, racun, jaringan gelap—sedang diberi jarak.

Nurdin menyendok ikan pindang besar, wajahnya sumringah. “Ini ikan pindangnya juara, Bu. Bumbunya nempel sampai ke tulang.”

Ibu Eden tertawa kecil. “Makan yang banyak. Biar kuat. Kalian kerja berat.”

Sandi mengangguk pelan, lalu berkata tanpa nada bercanda, “Kami mungkin akan sering ke sini, Bu. Beberapa hari ke depan.”

Ibu Eden berhenti sejenak, lalu mengangguk mantap. “Rumah ini terbuka. Kalau desa ini sedang sakit… masa rumahnya ditutup?”

Amelia menunduk, merasakan sesuatu menghangat di dadanya—bukan dari teh, tapi dari kalimat itu.

Setelah makan, Nurdin bersandar sambil menghela napas panjang. “Ya ampun… kenyang begini rasanya kayak diingatkan, kita masih manusia,” katanya sambil tersenyum puas.

Pak Eden menatap wajah-wajah di sekelilingnya. “Kalian tahu,” ujarnya pelan, “orang yang bermain dengan racun sering lupa satu hal.” “Apa?” tanya Sandi.

“Bahwa manusia bukan cuma tubuh,” jawab Eden. “Ada rumah, ada meja makan, ada orang-orang yang menunggu.”

Di luar, suara jangkrik mulai mendominasi malam. Angin menggerakkan daun pisang di belakang rumah.

Dan di rumah sederhana itu, di antara kangkung, tempe, sambal, ikan pindang, dan teh hangat manis, mereka mengisi tenaga— bukan hanya untuk tubuh, tapi untuk menghadapi sesuatu yang jauh lebih beracun dari bisa ular.

Lingkaran yang Bicara

Setelah makan malam selesai, tikar digulung. Lampu minyak dinyalakan di sudut beranda. Malam Grenjeng terasa lebih berat, seolah sengaja mendekatkan telinga.

Abah Klowor duduk paling ujung, tongkat kayunya bersandar di lutut. Di sampingnya Pak Sobri—ayah Pak Eden—duduk tegak meski usianya sudah menua. Pak Dosen Eden, Sandi, Nurdin, Mang Dedi, dan Dokter Farhan membentuk setengah lingkaran.

Tak ada yang langsung bicara.

Akhirnya Abah Klowor membuka suara. “Ular di desa ini… sudah tidak bertingkah seperti ular.”

Farhan mengangguk pelan. “Secara medis, saya setuju.”

Pak Sobri menatap tanah di depannya. “Dulu,” katanya pelan, “waktu Den masih bocah, sawah barat itu hidup. Ular banyak, tapi… wajar. Menggigit kalau terinjak, pergi kalau tidak diganggu.”

Mang Dedi menyambung, “Sekarang beda. Mereka muncul di tempat orang lewat. Diam. Seperti nunggu.”

Sandi menautkan jari. “Dan racunnya… tidak bekerja seperti seharusnya.”

Pak Eden menarik napas panjang. “Yang paling mengganggu saya,” katanya, “adalah konsistensinya. Polanya rapi. Seolah ada kurikulum.”

Nurdin mengerutkan kening. “Ular kok pakai kurikulum.”

Farhan menoleh. “Karena ini bukan soal ular. Ini soal manusia yang mempelajari racun… lalu memakainya lewat makhluk hidup.”

Abah Klowor mengetukkan tongkatnya perlahan ke lantai. “Dulu,” katanya, “ada orang-orang datang malam-malam. Tidak lama. Tapi setelah itu… ular-ular berubah.”

Pak Sobri menoleh cepat. “Bah?”

“Mereka bukan ambil ular,” lanjut Abah Klowor. “Mereka mengajari.”

Sunyi jatuh.

“Bukan ngajari dengan kata,” tambahnya. “Dengan rasa sakit. Dengan lapar. Dengan bau-bau asing.”

Farhan menelan ludah. “Conditioning.”

Sandi mengangguk. “Pelatihan respon.”

Pak Eden memejamkan mata sejenak. “Dan sekarang… mereka kembali.”

Mang Dedi mengepalkan tangan. “Berarti desa ini bukan korban sampingan.”

“Bukan,” jawab Sandi pelan. “Desa ini target.”

Tak ada yang menyangkal.

Abah Klowor menatap satu per satu wajah di depannya. “Kalau hutan sudah dipaksa bicara… yang keluar bukan lagi peringatan. Tapi murka.”

Angin malam berdesir, seolah membenarkan.

Di Ruang Belakang

Di dapur belakang, suara air mengalir pelan. Amelia berdiri di depan bak cuci, menggulung lengan bajunya. Piring-piring bekas makan malam ditumpuk rapi. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya masih tertinggal di ruang depan.

Ia sedang membilas wajan terakhir ketika langkah kaki terdengar.

“Mel.”

Amelia menoleh. Sandi berdiri di ambang pintu. “Oh… Mas,” katanya pelan.

Sandi mendekat setengah langkah, suaranya lebih rendah. “Aku mau bilang terima kasih.”

“Untuk?”

“Untuk hari ini. Untuk pasien. Untuk… tetap kuat.”

Amelia tersenyum kecil. “Kita satu tim.”

Air berhenti mengalir. Hening mendadak terasa terlalu dekat.

“Aku…” Amelia menarik napas. “Hari ini tuh rasanya—”

Ia ragu. Matanya mencari lantai, lalu kembali ke wajah Sandi. “Aku takut,” lanjutnya jujur. “Bukan soal ular. Tapi… kalau ini benar, berarti manusia bisa sejauh itu.”

Sandi menatapnya lama. “Aku juga.”

Ada jeda. Cukup panjang untuk keberanian tumbuh.

Amelia membuka mulut lagi. “Dan soal kamu—”

“TOLONGIN GUEEE—”

Suara Nurdin memecah udara dari arah lorong. “GUE UDAH KAYAK MAU PECAH PERUT! KAMAR MANDINYA DI MANA?WC MANA WC GUE KEBELET PENGEN EE?!”

Amelia terkejut. Wajahnya langsung merah.

Sandi refleks menoleh. “Di belakang mushola kecil, Din! CEPET!”

Nurdin berlari tergopoh, nyaris menabrak pintu. “MAKASIH! INI DARURAT NASIONAL!”

Suara pintu ditutup keras.

Hening kembali—tapi berbeda.

Amelia tertawa kecil, menutup wajah dengan telapak tangan. “Timing-nya… luar biasa.”

Sandi ikut tersenyum, agak kikuk. “Dia memang konsisten.”

Beberapa detik berlalu. Kalimat yang tadi hampir keluar… menguap.

Amelia kembali menyalakan air. “Nanti aja,” katanya pelan. Entah pada Sandi, entah pada dirinya sendiri.

Sandi mengangguk. “Nanti.”

Di luar, jangkrik terus bernyanyi. Dan di ruang belakang yang sempit itu, sebuah kejujuran hampir terucap— namun ditunda oleh hal paling manusiawi: perut yang tak bisa menunggu.

Darurat Nasional Nurdin

Belum sampai satu menit sejak Nurdin menghilang ke arah belakang mushola, terdengar suara keras menggema.

“YA AMPUN—INI KUNCI DARI ZAMAN BELANDA APA GIMANA SIH?!”

Amelia menahan tawa. Sandi mengangkat alis.

Tak lama kemudian— “MAS SANDI! INI AIRNYA NYALA TERUS ATAU EMANG LAGI NGEJEK?!” “DIPUTER KE KIRI, DIN!” teriak Sandi. “INI KIRI VERSI SIAPA?! KIRI SAYA ATAU KIRI JAMAN KOMPAS?!”

Amelia tak kuasa menutup mulutnya. Tawa kecilnya pecah, ringan, lepas—tawa yang sudah lama tidak keluar hari ini.

Dari dalam terdengar lagi, “ADUH! KENAPA ADA AYAM DI SINI?!”

Sandi spontan, “DIN, ITU TEMPAT WUDHU! BUKAN KANDANG!”

“YA MAAF! GUE KIRA TAMU!” balas Nurdin panik.

Amelia kini benar-benar tertawa, sampai bahunya bergetar. Ia bersandar ke meja dapur, menahan perut. “Dia selalu begini?” tanyanya sambil tertawa.

Sandi tersenyum, matanya tidak lepas dari wajah Amelia. “Kalau lagi gugup atau kebelet… dia bisa lebih jujur dari biasanya.”

Dari kejauhan terdengar suara lagi, lebih lirih tapi dramatis, “KALAU GUE KELUAR DARI SINI DALAM KEADAAN SELAMAT… GUE BERSUMPAH MAKAN SAYUR!”

Amelia tertawa lebih keras. “Dia baru bilang itu setelah makan kangkung satu piring penuh,” katanya.

Sandi ikut tertawa kecil. “Berarti situasinya serius.”

Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar tergesa. Nurdin muncul dengan wajah lega luar biasa, seperti baru kembali dari perang. “Alhamdulillah…” katanya sambil mengangkat tangan ke atas. “Hidup masih layak diperjuangkan.”

Ia melihat Amelia dan Sandi berdiri berdampingan. “Oh,” katanya menyipitkan mata. “Gue ganggu momen sakral ya?”

Amelia langsung berhenti tertawa, pipinya memerah. “Nggak! Kita cuma—”

“Cuma bahas filosofi air mengalir,” potong Sandi cepat.

Nurdin mengangguk sok bijak. “Bagus. Air mengalir itu tanda kehidupan.”

Lalu ia menoleh ke Amelia. “Mbak Dokter… maaf ya kalau teriakan saya tadi mengganggu ketenangan batin.”

Amelia tertawa lagi, kali ini lebih pelan. “Justru… makasih.”

Nurdin mengernyit. “Kok makasih?”

“Karena,” Amelia menoleh ke Sandi sebentar, lalu kembali ke Nurdin, “aku sudah lama nggak ketawa setulus ini.”

Nurdin terdiam sesaat. Lalu menepuk dada sendiri. “Yaudah, kalau begitu… gue siap jadi pengorbanan selanjutnya.”

Sandi menggeleng, senyum masih tertinggal di wajahnya.

Dan di dapur belakang rumah tua itu, di antara suara air, tawa, dan tingkah konyol yang tak direncanakan, Amelia berdiri di samping Sandi— tertawa bahagia, tanpa sadar bahwa perasaannya, perlahan, sudah memilih tempat pulang.

Kalimat yang Tidak Selesai

Nurdin melangkah menjauh ke ruang depan, masih bersenandung kecil. Suaranya pelan-pelan menghilang, menyisakan dapur belakang yang tiba-tiba terasa terlalu sunyi.

Amelia berdiri di samping wastafel. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Sandi masih di sana.

Ia mengusap tangan dengan lap dapur, lalu menoleh. “Kayaknya… udah agak tenang.”

“Iya,” jawab Amelia singkat.

Beberapa detik berlalu. Terlalu lama untuk diam, terlalu singkat untuk mundur.

Amelia menarik napas dalam. “Sandi…”

Sandi menoleh penuh.

“Aku—” suaranya sedikit bergetar. Ia menelan ludah. “Aku suka kamu sejak dulu… sejak kamu jadi—”

Kalimat itu terhenti.

“HEH—HP GUE KETINGGALAN!”

Suara Nurdin tiba-tiba meledak dari arah lorong, disusul langkah kaki terburu-buru.

Amelia tersentak. Wajahnya memucat lalu memerah dalam satu tarikan napas.

Nurdin muncul, membuka pintu toilet dengan panik. “SUMPAH TADI GUE TARUH DI SINI—”

Ia berhenti saat melihat mereka. “Oh.”

Hening canggung.

“Maaf,” kata Nurdin cepat. “Lanjut, lanjut. Gue pura-pura nggak ada.”

Ia mengambil ponselnya dan langsung kabur lagi. Tapi kerusakan sudah terjadi.

Belum sempat Amelia bicara ulang— “Mas Sandi.”

Suara Dokter Farhan terdengar dari ruang depan. Tegas. Mendesak.

“Kita perlu kamu sekarang.”

Sandi menoleh ke arah suara itu, lalu kembali ke Amelia. Matanya menahan sesuatu. “Aku harus ke depan,” katanya pelan. “Ini penting.”

Amelia mengangguk, memaksa senyum kecil. “Iya… nggak apa-apa.”

Sandi melangkah pergi. Bahunya lurus kembali—mode serius, mode tugas.

Di beranda, suara diskusi sudah dimulai.

“Kalau ini benar Tuan Nakata,” suara Pak Eden terdengar, “maka penangkaran ular itu harus dihentikan. Sekarang.”

Abah Klowor menimpali, berat. “Ular boleh berbisa. Tapi manusia yang memerintah racun… lebih berbahaya.”

Farhan membuka data di ponselnya. “Kalau alur distribusinya kita potong di desa, eksperimen mereka runtuh.”

Mang Dedi mengepalkan tangan. “Berarti kita harus tutup jalur sawah barat.”

Sandi masuk ke lingkaran itu tanpa ragu. Wajahnya dingin. Fokus. “Kita bukan cuma menghentikan ular,” katanya. “Kita menghentikan sistemnya.”

Sementara itu—

Di dapur belakang, Amelia masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya gemetar saat ia meraih lap, mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih.

Kalimatnya belum selesai. Perasaannya belum tersampaikan.

Ia menatap pintu yang tadi dilewati Sandi, lalu menunduk. “Mungkin… memang belum waktunya,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Teh di gelasnya sudah dingin. Dan malam Grenjeng kembali sunyi— menyimpan satu pengakuan yang tertunda.

Rapat di Bawah Lampu Tua

Di ruang depan, lampu pijar menggantung rendah. Bayangannya jatuh memanjang di lantai kayu. Abah Klowor duduk bersila, tongkat kayunya kini diletakkan di samping—tanda pembicaraan tak lagi soal perasaan, tapi keputusan.

“Nama itu… Nakata,” ucap Pak Eden pelan. “Tidak pernah muncul resmi. Tapi jejaknya selalu ada di pinggir kasus.”

Dokter Farhan menggeser ponselnya ke tengah. “Ini data tidak langsung. Pengepul lokal, pengiriman kecil tapi rutin. Semua berakhir di satu gudang transit.”

Mang Dedi mengangguk. “Sawah barat. Dekat aliran air lama.”

Sandi menatap peta kasar yang digambar di kertas cokelat. “Kalau kita putus rantai di situ, ular-ular tidak lagi punya tujuan.”

“Masalahnya,” sela Pak Sobri dengan suara berat, “orang seperti Nakata tidak bekerja sendiri.”

Abah Klowor mengangguk. “Makanya desa tidak boleh panik. Kita tutup mulut, tapi buka mata.”

Sandi menegakkan punggung. “Besok pagi, tidak ada warga ke sawah barat. Malam ini, kita sebarkan alasan sederhana—perbaikan irigasi.”

Farhan menambahkan, “Saya akan minta RS menahan data kasus gigitan. Jangan bocor.”

Pak Eden menatap Sandi lama. “Kamu sadar risikonya?”

Sandi mengangguk. “Kalau kita diam, lebih banyak korban.”

Hening sejenak. Lalu Abah Klowor mengetuk lantai pelan. “Baik,” katanya. “Malam ini, kita mulai menjaga desa.”

Curhat di Kamar Belakang

Di kamar belakang rumah, tiga kasur digelar sejajar. Jendela sedikit terbuka, angin malam masuk membawa bau tanah basah.

Amelia duduk di tengah, memeluk bantal. Santi dan Sinta duduk bersila di depannya, wajah mereka… terlalu tahu.

“Jadi,” kata Santi pelan, “kamu hampir bilang apa?”

Amelia menghela napas panjang. “Aku mau bilang aku suka dia.”

Sinta menutup mulut, menahan senyum. “Hampir?”

“Terpotong,” jawab Amelia lirih. “Lagi-lagi.”

Santi mendengus. “Nurdin itu emang bukan manusia. Dia itu takdir bercelana.”

Amelia tertawa kecil, matanya berkaca-kaca. “Aku bodoh ya?”

Sinta menggeleng cepat. “Kamu manusia. Bedanya tipis.”

Santi meraih tangan Amelia. “Mel… kamu itu dokter, pinter, berani. Tapi urusan perasaan, kamu paling lemot.”

Amelia meringis. “Makasih ya.”

Sinta tersenyum lembut. “Dia kelihatan peduli sama kamu.”

“Kelihatan bukan berarti pasti,” Amelia menunduk.

Santi menyenggol bahunya. “Sabar. Cowok kayak Sandi itu bukan nggak mau, tapi terlalu sibuk mikirin semua orang.”

Sinta mengangguk. “Dan biasanya… orang kayak gitu baru sadar perasaan setelah hampir kehilangan.”

Amelia terdiam.

“Lagipula,” tambah Santi sambil nyengir, “kalau kamu bilang sekarang, dia malah bingung. Otaknya lagi perang, bukan romansa.”

Amelia tertawa kecil, air mata jatuh satu. “Kalian tuh ngeselin.”

“Tugas sahabat,” jawab Sinta santai.

Lampu kamar diredupkan.

Malam itu, mereka memutuskan menginap di rumah orang tua Pak Eden. Aman. Hangat. Penuh cerita kecil yang tak perlu didengar dunia.

Santi masih sempat berbisik sebelum tidur, “Besok, kalau dia selamatin desa… kamu boleh selamatin hatimu.”

Sinta menimpali sambil tersenyum, “Atau biar takdir yang kerja.”

Amelia memejamkan mata, senyum tipis muncul di wajahnya.

Di rumah tua itu, sementara para lelaki merancang cara menghentikan penangkaran ular milik Tuan Nakata, tiga perempuan berbagi tawa, omelan, dan harapan kecil— tentang kalimat yang suatu hari nanti harus selesai.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!