NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:135.6k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 -

"Cit, ini Bu Rumi. Beliau asisten rumah tangga di sini."

"Oohh..."

Wanita yang membuka pintu itu tersenyum kecil. Aura wibawa yang menyelimuti wanita itu sempat membuat Citra berpikir bahwa dia adalah istri Rama.

Citra langsung merasa wajahnya panas. Ia buru-buru menunduk. "Maaf, tadi.... saya… saya kira…"

Bu Rumi hanya terkekeh ringan, sopan. "Dikira apa Mbak Citra?"

"Saya kira, Ibu istrinya Pak Rama."

"Hihihi, Mbak Citra bisa aja. Pak Rama mana mau sama saya. Hihihi, saya memang udah lama mengabdi di sini, jadi mungkin auranya menular," katanya sembari melirik Rama.

Rama tersenyum tipis. "Bu Rumi, ini Citra. Istriku. Tolong bantu ia beradaptasi di rumah ini. Perlihatkan kamarnya. Aku ada urusan pekerjaan sebentar."

"Siap Pak Rama. Silakan."

"Bapak mau kemana?"

Rama menoleh pada Citra. "Ada kerjaan di luar. Cuma bentar kok. Nanti balik lagi."

Citra mengangguk pelan lalu mencium tangan suaminya. Ada yang bergetar, tapi bukan gitar. Ia tersenyum memandangi tangannya bekas disalim dan dicium Citra tadi.

"Hati-hati, Pak," kata gadis itu.

Rama mengangguk, tanpa berkata apa-apa Rama sudah berlalu, langkahnya ringan dan cepat. Lelaki itu bahkan tak menoleh lagi saat pintu tertutup.

"Ayo Mbak Citra, saya tunjukkan kamarnya," kata Bu Rumi mempersilakan Citra naik ke lantai dua.

"Saya bisa sendiri kok, Bu Rum," tolak Citra halus saat Bu Rumi hendak membawakan tas Citra.

Mereka menaiki tangga melingkar dengan karpet merah marun yang tebal. Rumah itu sangat besar, terasa lebih seperti villa daripada rumah biasa. Di dinding tergantung lukisan-lukisan klasik, dan aroma bunga melati samar-samar menyelimuti udara.

Saat pintu kamar dibuka, Citra terdiam. Matanya membulat. Kamar itu begitu megah. Langit-langitnya tinggi, tempat tidurnya besar dengan seprai putih bersih dan bantal-bantal yang tertata rapi. Ada jendela kaca lebar yang menghadap taman belakang, dengan tirai renda yang tampak mahal. Sebuah meja rias, lemari besar, dan sofa berwarna krem menghiasi ruangan itu.

"Silakan beristirahat dulu, Mbak Citra," kata Bu Rumi sopan. "Kalau butuh apa-apa, tinggal panggil saja."

Citra mengangguk lagi, masih terpukau. Setelah Bu Rumi menutup pintu, ia berjalan pelan ke jendela dan membuka tirai. Taman di belakang rumah terlihat sangat hijau dan rapi. Ia menghela napas panjang, lalu duduk di tempat tidur. Lembut. Wangi.

"Waah, ini sih, definisi dibuang emas dapat permata."

"Aku enggak tau papanya Rava sekaya ini."

Citra masih terpukau.

"Dia enggak pernah cerita apa-apa tentang papanya."

Citra terdiam, jadi ingat Rava yang meninggalkan tanpa perasaan.

"Dimana dia? Kenapa dia tega sekali?" bisiknya lirih.

Citra tak ingin berlarut, ia menggeleng pelan.

"Enggak boleh begini, Cit. Ingat, kamu ingin membalas perbuatan Rava kan? Karena itu kamu nekad nikahi papanya."

Ia membuka koper, mengganti bajunya dengan terusan santai warna biru. Rambutnya diikat seadanya. Setelah merasa cukup segar, ia turun ke bawah dengan langkah pelan. Ia tak ingin tidur. Rasa penasaran masih menggelitik hatinya.

Saat menuruni tangga, Citra bertemu dengan Bu Rumi lagi di ruang makan.

"Mbak Citra mau melihat-lihat rumah?" tanya Bu Rumi ramah.

"Boleh, Bu. Kalau tidak merepotkan."

"Tidak sama sekali. Mari, saya antar."

Bu Rumi mengajak Citra ke ruang tamu, ruang keluarga, hingga taman belakang. Tapi saat memasuki dapur, Citra langsung menjerit kecil.

"Masya Allah… ini dapurnya?" matanya berbinar. Kompor modern lima tungku, oven besar, kulkas dua pintu, rak bumbu yang rapi, dan meja marmer putih membentang di tengah.

"Mbak Citra suka masak?" tanya Bu Rumi tersenyum.

"Iya, Bu Rum, suka banget," ujar Citra dengan mata berbinar.

"Bu. Boleh… saya masak sesuatu?"

"Tentu. Silakan. Nanti Mbak Novi bantu."

"Oh, baik, terima kasih," ucap Citra sambil menekuk lengan bajunya. Wajahnya tampak berseri. Ia membuka kulkas, melihat sayur dan bahan yang tersedia. Dengan cekatan, ia mulai menyiapkan bahan untuk membuat sayur sop dan bakwan jagung. Sementara Bu Rumi sudah pergi entah ke mana.

Mbak Novi, salah satu ART di rumah itu, menemaninya sebentar lalu pamit ke kamar mandi. "Sebentar ya, Mbak Citra. Saya ke belakang dulu."

"Iya, silakan," kata Citra, sambil tetap sibuk mengiris wortel.

Tak lama kemudian, suara pintu depan terdengar terbuka. Seorang wanita muda dengan tas belanjaan masuk ke dapur, wajahnya sedikit terkejut melihat Citra yang sedang sibuk memasak.

"Eh… Mbak, maaf, ini… siapa ya?" tanyanya sopan tapi curiga.

Citra tersenyum kikuk. "Saya Citra…"

"Citra?" alis wanita muda itu berkerut, "Apa dia art baru? Kok enggak ada yang bilang?" gumamnya pelan.

"Aku Retno, Mbak Citra."

Citra menyalami dengan sopan.

"Kamu masak apa?"

Tiba-tiba, suara ketukan tongkat terdengar dari arah lorong.

Retno menoleh cepat. "Astaga… itu Bu Lilis!"

"Siapa?" tanya Citra, pelan.

"Ibunya Pak Rama!"

Tak lama, muncullah sosok wanita tua. Rambutnya memutih, disanggul rapi. Bajunya bersih dan berkelas, meski sederhana. Wajahnya tenang, tapi pandangannya tajam dan penuh penilaian.

Bu Lilis berdiri di ambang pintu dapur, menatap Citra lama.

"Siapa gadis muda ini?"

1
Ma Em
Lani emang biang kerok pelakor Lani sdh punya suami msh saja nguber2 Rama untuk Fahri nya baik sama Rama karena sdh tau Lani yg selalu goda Rama , semoga Citra baik2 saja dilancarkan persalinan nya ibu dan baby twins sehat dan selamat .
Susi Akbarini
untung fahri masih cinta..
kalo dah ditinggal pegi..

gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
EkaYulianti
sebelum resepsi
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!