Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Alexander melangkah setengah maju. Dia lalu menarik Elie untuk menjauh dari sana. Sementara orang-orang berbisik jika Elie adalah kekasih masa kecil Alexander. Setelah gadis itu pergi, Alex tak pernah dekat dengan wanita, bahkan menolak semua wanita dan memilih hidup sendiri.
Elena yang mendengarnya terdiam. "Jadi dia gadis yang membuatmu tidak ingin menikahi wanita manapun, Alexander? Dia adalah gadis yang kau cintai, dan dia sudah kembali."
Suasana ballroom masih riuh dengan musik dan percakapan, tapi bagi Elena, semuanya mendadak hening. Hanya ada detak jantungnya yang berdegup keras, dan bayangan Alexander yang berjalan menjauh bersama wanita itu.
Ia memandang punggung tegap pria itu yang kini menghilang di antara kerumunan, ditemani sosok Elie yang anggun dan percaya diri. Ada sesak yang menyesakkan dada, membuatnya sulit bernapas.
“Kenapa aku merasa seperti ini? Aku tahu aku bukan siapa-siapa untuknya… tapi kenapa hatiku terasa seperti diremas?”
Elena menunduk, mencoba menutupi wajahnya dari tatapan orang-orang. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan kecil di sekitarnya.
“Itu Elie, kan? Kekasih masa kecil Tuan Thorne.”
“Ya, katanya setelah dia pergi, Tuan Thorne menolak semua wanita.”
“Pantas saja… hanya Elie yang bisa membuatnya begitu.”
Bisikan itu semakin menekan Elena. Ia merasa kecil, begitu asing di antara dunia penuh cahaya ini.
Ponselnya tiba-tiba bergetar di dalam tas. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkannya.
Pesan dari Alexander
Elena, aku harus pergi. Sopir sudah kukirim untuk menjemputmu. Tunggu di depan ballroom.
Elena menatap layar ponselnya lama, bibirnya bergetar. Ada keinginan kuat untuk menanyakan sesuatu, tapi jarinya hanya kaku memegang ponsel itu.
Akhirnya, ia menelan kepahitan yang terasa di kerongkongannya, lalu memasukkan ponsel kembali ke tas. Dengan langkah pelan, ia keluar dari ballroom.
Di pintu, ia masih sempat menoleh sekali. Dari kejauhan, ia bisa melihat Alexander yang berdiri berhadapan dengan Elie, wajahnya tegang, sorot matanya rumit.
Elena memalingkan wajah cepat-cepat, takut jika air matanya benar-benar jatuh di tempat itu.
---
Di luar hotel, udara malam menusuk kulit. Mobil hitam mewah sudah menunggunya. Sopir menunduk hormat ketika ia mendekat.
“Silakan, Nyonya.”
Elena masuk ke dalam mobil tanpa suara. Begitu pintu tertutup, ia membiarkan tubuhnya jatuh ke sandaran kursi. Tangannya mengepal di pangkuan, berusaha menahan gejolak dalam dadanya.
“Kenapa… kenapa aku harus merasa sakit hati?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Mobil melaju menjauh dari hotel, meninggalkan cahaya gemerlap di belakang.
Namun, dalam hati Elena hanya ada satu pertanyaan yang terus berulang:
“Siapa sebenarnya Elie bagi Alexander? Dan… di mana tempatku, di hatinya?”
***
Malam itu, begitu mobil berhenti di depan mansion, Elena segera turun tanpa banyak bicara. Ia menunduk, mengucapkan terima kasih singkat pada sopir, lalu melangkah cepat masuk ke dalam rumah.
Suasana mansion begitu tenang, hanya suara langkah kakinya yang terdengar bergema. Elena melewati ruang tamu yang temaram tanpa menyalakan lampu, langsung menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup rapat, seluruh kekuatan yang ia tahan di depan orang-orang seakan runtuh. Ia melepaskan sepatu hak tinggi, tubuhnya jatuh ke tepi ranjang.
Air matanya akhirnya pecah.
Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya, tersedu lirih.
“Apa yang aku harapkan…?” suaranya bergetar di sela tangis. “Bodohnya aku… jatuh cinta pada Alexander Thorne… seakan-akan dia akan membalas perasaan ini.”
Tangisnya pecah semakin keras. Bahunya berguncang, dada terasa sesak. Semua keraguan, cemburu, dan rasa sakit bercampur jadi satu. Sampai akhirnya, tangis itu melemah, berganti dengan helaan napas tersengal. Tubuhnya lelah. Dengan mata sembab, Elena terlelap dalam keadaan masih berbalut gaun mewah itu.
---
Namun, entah berapa lama setelah itu, Elena terkejut. Tubuhnya terasa hangat… sekaligus terkekang. Ia berusaha menggerakkan tangan, tapi tak bisa. Ada sesuatu yang kuat memeluknya erat.
Matanya terbuka perlahan.
Jantungnya berdetak kencang.
Alexander.
Pria itu tertidur di sampingnya, satu lengannya melingkar kuat di pinggang Elena, seolah tak akan membiarkan wanita itu pergi. Nafasnya teratur, hangatnya menyapu leher Elena.
Elena membeku. Wajahnya memanas, sekaligus hatinya bergetar tak karuan.
Tapi kemudian, ia sadar sesuatu.
Piyama.
Tubuhnya kini sudah berganti piyama tidur yang nyaman.
Padahal terakhir kali ia ingat… ia tertidur masih dengan gaun biru tua itu.
Matanya membola. “Alex…” gumamnya dalam hati, berusaha mencerna kenyataan.
Pria ini, lagi-lagi, berbuat sesukanya. Menggantikan pakaiannya tanpa izin, seolah tubuhnya adalah milik yang sah untuk disentuh.
Tapi yang paling membuat Elena bingung… bukan amarah, melainkan rasa takut.