NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Kelabu 3

Pendekar Pedang Kelabu 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Epik Petualangan
Popularitas:26k
Nilai: 4.9
Nama Author: YanYan.

Zhang Wei akhirnya memulai petualangannya di Benua Tengah, tanah asing yang penuh misteri dan kekuatan tak terduga. Tanpa sekutu dan tanpa petunjuk, ia harus bertahan di lingkungan yang lebih berbahaya dari sebelumnya.

Dengan tekad membara untuk membangkitkan kembali masternya, Lian Xuhuan, Zhang Wei harus menghadapi musuh-musuh yang jauh lebih kuat, mengungkap rahasia yang tersembunyi di benua ini, dan melewati berbagai ujian hidup dan mati.

Di tempat di mana hukum rimba adalah segalanya, hanya mereka yang benar-benar kuat yang bisa bertahan. Akankah Zhang Wei mampu menaklukkan Benua Tengah dan mencapai puncak dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YanYan., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba di Benua Tengah

Ketika kapal mereka semakin mendekati garis pantai, matahari pagi mulai menyinari lautan dengan sinarnya yang keemasan. Para awak kapal berdiri di geladak, mengamati daratan luas yang selama ini hanya mereka dengar dari rumor dan cerita para pedagang. Namun, yang mereka lihat hanyalah garis pantai berbatu dan hutan lebat yang membentang sejauh mata memandang. Tak ada tanda-tanda pemukiman manusia atau pelabuhan yang bisa mereka tuju.

"Sepertinya kita kurang beruntung. Tidak ada kota atau desa di sekitar sini," Shen Tianhao bergumam sambil mengamati daratan dengan saksama.

Zhang Wei tetap tenang, matanya tajam menelusuri cakrawala. "Kita tidak bisa mendarat di sembarang tempat. Wilayah ini mungkin dihuni oleh binatang roh atau suku asing yang tidak ramah. Kita harus mencari jalur yang lebih aman."

Keputusan pun diambil. Mereka tidak akan meninggalkan kapal. Sebagai gantinya, mereka akan menyusuri garis pantai untuk menemukan pelabuhan atau pusat aktivitas manusia. Dengan perbekalan yang masih cukup dan kapal yang telah diperbaiki, perjalanan kembali berlanjut.

Hari berlalu, dan angin membawa mereka menyusuri pesisir yang tak berujung. Terkadang, mereka melihat tanda-tanda kehidupan, seperti jejak asap di kejauhan atau perahu kecil yang bergerak di antara pulau-pulau lepas pantai, tetapi tidak ada yang cukup jelas untuk dijadikan tujuan. Para awak mulai merasa cemas, tetapi Zhang Wei tetap tenang, percaya bahwa mereka akan segera menemukan jalur yang benar.

Akhirnya, setelah dua hari penuh pencarian, mereka melihat sesuatu yang berbeda. Di kejauhan, berdiri sebuah pelabuhan besar dengan kapal-kapal berbagai ukuran berlabuh di dermaganya. Bangunan-bangunan kayu dan batu tampak berjajar di sepanjang pantai, dan bendera dari berbagai kekuatan perdagangan berkibar tertiup angin.

"Akhirnya... kita menemukannya," Shen Tianhao menghela napas lega.

"Siapkan semua orang. Kita akan segera bersandar," perintah Zhang Wei.

Para awak dengan sigap bergerak, mempersiapkan kapal untuk memasuki pelabuhan pertama mereka di Benua Tengah.

Kapal perlahan mendekati pelabuhan, ombak lembut menghempas lambungnya saat para awak bersiap untuk menambatkan tali. Suasana pelabuhan terlihat sibuk, dengan para pedagang yang sibuk memindahkan barang dari kapal ke daratan, sementara buruh pelabuhan berteriak memberikan arahan. Bendera dari berbagai organisasi dagang berkibar, menandakan bahwa tempat ini adalah pusat perdagangan yang cukup besar.

Shen Tianhao berdiri di haluan, mengamati keadaan sekitar dengan mata tajam. "Kita harus berhati-hati. Tidak ada yang boleh tahu bahwa kita berasal dari Benua Timur. Begitu kita bersandar, kita akan bertindak seperti pelaut yang biasa bepergian antar pulau."

Zhang Wei mengangguk. "Kita tidak tahu hukum dan aturan di tempat ini. Jika mereka tahu kita berhasil menyeberangi Samudera Petaka dengan selamat, kita bisa menarik perhatian yang tidak diinginkan."

Para awak mengerti dan mulai menyusun cerita yang akan mereka gunakan jika ada yang bertanya tentang asal-usul mereka. Mereka akan mengaku sebagai kelompok pedagang dari kepulauan selatan yang tersesat akibat badai, sebuah alasan yang cukup masuk akal di wilayah maritim seperti ini.

Saat kapal akhirnya bersandar, beberapa penjaga pelabuhan menghampiri mereka. Shen Tianhao yang paling berpengalaman dalam urusan laut segera turun tangan. Dengan sikap percaya diri, ia berbicara dengan salah satu penjaga yang tampaknya bertanggung jawab.

"Selamat datang di Pelabuhan Luoyang. Dari mana kalian berasal?" tanya penjaga itu dengan nada formal.

"Kami dari kepulauan selatan. Kapal kami tersesat akibat badai dan akhirnya terdampar di perairan ini," jawab Shen Tianhao tanpa ragu, nada suaranya menunjukkan bahwa ia telah melalui situasi serupa berkali-kali sebelumnya.

Penjaga itu memperhatikan mereka sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Baik, selama kalian tidak membawa masalah, kalian dipersilakan tinggal. Namun, kalian harus membayar biaya tambat kapal."

Shen Tianhao menyerahkan beberapa koin emas, cukup untuk menutupi biaya tersebut. Setelah urusan administrasi selesai, mereka diperbolehkan turun ke daratan.

Saat mereka berjalan di sepanjang dermaga, Zhang Wei memperhatikan lingkungan sekitarnya dengan saksama. Pelabuhan ini jauh lebih maju dibandingkan pelabuhan mana pun yang pernah ia lihat di Benua Timur. Bangunan-bangunan tinggi dari kayu dan batu berjejer rapi, dan ada menara pengawas yang dijaga ketat. Banyak orang berlalu-lalang, dari pedagang, petualang, hingga tentara yang berjaga di berbagai titik.

Mereka memutuskan untuk mencari tempat penginapan sebelum menyusun rencana berikutnya. Dengan berhati-hati agar tidak menarik perhatian, mereka memasuki salah satu penginapan yang tampak cukup ramai. Malam ini, mereka akan mengumpulkan informasi tentang wilayah ini dan mencari tahu langkah terbaik yang bisa mereka ambil.

Shen Tianhao menatap Zhang Wei—atau Bai Chen, sebagaimana ia dikenal di sini—dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Mereka telah sampai di Benua Tengah, tempat yang begitu asing, namun penuh dengan kemungkinan. Kini, dengan perjalanan laut yang telah usai, muncul pertanyaan yang belum sempat ia tanyakan sebelumnya.

"Lalu, apa rencanamu berikutnya?" tanya Shen Tianhao sambil menyandarkan tubuhnya di pagar dermaga. "Kau akhirnya tiba di Benua Tengah. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Zhang Wei tersenyum tipis. Matanya memandang jauh ke arah kota pelabuhan yang ramai. "Aku ingin melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh kultivator terkuat sekalipun."

Shen Tianhao mengerutkan alis. Jawaban itu membuatnya semakin penasaran. "Apa maksudmu?"

Namun Zhang Wei hanya tersenyum tanpa menjelaskan lebih lanjut. Shen Tianhao menghela napas, menyadari bahwa pemuda ini bukanlah tipe orang yang mudah memberikan jawabannya. Ia akhirnya memilih untuk tidak memaksakan pertanyaan itu.

"Bagaimanapun juga, aku telah memenuhi janjiku membawamu ke sini," kata Shen Tianhao. "Jadi, bagaimana dengan bayaran yang kau janjikan?"

Zhang Wei tidak mengatakan apa-apa, hanya mengeluarkan sebuah kantong dimensi dan melemparkannya kepada Shen Tianhao. Ketika Shen Tianhao membukanya, matanya membelalak terkejut. Kristal roh dalam jumlah yang luar biasa banyak bersinar terang di dalamnya. Itu adalah transaksi terbesar yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.

"Kau... sungguh orang yang kaya raya," gumamnya tak percaya. "Aku tak menyangka kau membawa harta sebesar ini."

Zhang Wei hanya tersenyum, lalu mengeluarkan satu benda lain—sebuah inti kristal bercahaya, yang sebelumnya menjadi pengusir binatang roh laut di perjalanan mereka. "Ambillah ini juga. Ini bisa berguna untukmu."

Shen Tianhao menerima benda itu dengan ragu, namun ia tahu ini adalah barang yang sangat berharga. Ia menatap Zhang Wei dengan rasa hormat yang semakin dalam. "Apa kau benar-benar tidak ingin memberitahuku siapa dirimu sebenarnya?"

Zhang Wei menggeleng pelan. "Mungkin suatu hari nanti. Jika kita bertemu lagi di masa depan, aku akan memberitahumu semuanya."

Shen Tianhao hanya bisa menghela napas. Ia tahu tak ada gunanya mendesak lebih jauh. Akhirnya, mereka berdua berjabat tangan, sebelum akhirnya berpisah, masing-masing melangkah menuju takdir mereka sendiri.

1
rinaris$
gassspolll
sie ucup
mantap.. walau cuma sedikit tak apalah
aqin
Luar biasa
Hari Susanto
Semangat bang up trusss
Ahmad Zaki Zulkarnain
mantaaap jiwa lanjut updatenya thor makin seru bikin penasaran sama kelanjutan cerita nya terimakasih
saniscara patriawuha.
gassss polllll mangg zhonggggg....
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees
Dianrp
bantai...
up
up
up
up
Joko Warseno
Luar biasa
rinaris$
mantap👍👍👍👍👍 cerita yang sangat bikin penasaran aja🧐🧐🧐
rinaris$
gassspolll Thor 👍👍👍👍👍
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah
Agus Rahmat
setelah sekian lama digodok dalam kawah candradimuka episode kali ini benar benar luar biasa.danlebih mantap lagi up up yang banyak
Penikmat buku
mulai jalan perlahan neh... masih padat merayap kayaknya
Dianrp
up up.up.up
up
saniscara patriawuha.
lanjutttkannn manggg otorrrrrr....
rinaris$
gasss lanjut updatenya👌
Khairuddin PBBA
terima kasih atas karyanya Thor YanYan.
ditunggu story line berikutnya.
Bravo!
Khairuddin PBBA
Luar biasa
Penikmat buku
macet total ya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!