Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Wibu.......
Puluhan menit berlalu, bis yang kunaiki telah melaju cepat di jalan tol. Sinar sore berwarna jingga menyengat wajahku, tapi aku mengabaikannya. Tidak ada suatu apapun yang dapat menggaguku ketika sudah tenggelam di depan layar ponsel, yang miring. Meski rasa pusing telah lama muncul, aku berusaha menahannya lebih lama lagi.
Aku duduk bersandar, sejuk pendingin dalam kabin membuat rambutku terasa beku. Sebenarnya aku sedang menunggu gadis di sampingku lekas tidur. Itu sepertinya membuat susana menjadi lebih baik. Tapi tidak, gadis ini juga sibuk di depan handphonnya, posisi miring. Namun sebalnya, dia tidak bersandar. Anak itu justru duduk tegak dengan handphone di depan mata, seakan menolak potensi mengantuk.
Setengah jam kembali terlewati tanpa adanya perubahan. Langit mulai terasa gelap, walau aku teidak melihat ke luar kaca jendela bis yang besar. Aku mulai mual, tapi lebih tepat kusebut muak karena sebal pemicunya. Mungkin gadis ini leih kuat dariku yang sering mabuk perjalanan.
“Bang” Tiba-tiba dia memanggil.
Aku tersentak, jariku yang tadi menari-nari diatas layar terhenti. Aku mencoba menoleh, dan malah kembali terkejut begitu melihat wajah gadis di sampingku memucat pias.
“Ada kresek, atau apapun yang bisa di jadikan wadah?” Ucapnya dengan bergetar.
Gawat, ini lebih buruk dari sekedar rasa canggung setegah mati. Aku tahu apa yang akan terjadi. Kubukalah tas kecilku, kemudian mengeluarkan selembar kantong plastik berwarna hitam yang sebenarnya di siapkan untuk di riku priadi. Baiklah, aku sudah melihat pipinya berglembung
“ini dia” aku menyerahkan kantong plastik tersebut
Ila membuka maskernya. Benda itu ke luar, beruntung tanganku lebih dulu cekatan membuka kantong kresek di bawahnya. Masalah barupun timbul karena aku justru terpengaruh melihatnya –entah kenapa malah aku yang menopang kantung kresek untuknya. Sehingga tidak ada yang lebih buruk daripada mualku juga semakin melunjak, sementara urusan gadis sendiri belum selesai.
Suara menjijikan itu kembali terdengar. Yang kali ini ke sannya berbeda, orang-orang di dalam kabin mulai merasa terganggu. Apalagi tiga orang di sebrang tempat dudukku. Mereka sudah daritadi memalingkan wajah. Tidak tertarik memperhatikan.
Aku menyimpan kantong plastik isi muntahan tadi diawah tempat duduk, aku akan membuangnya nanti ketika sudah transit. Aku kembali merebah setelah itu. Baru kali ini lega rasanya meskipun masih ada rasa canggung menyelinap.
Ada yang menepuk pundakku. Aku sedikit tersentak, lantas menoleh. Gadis itu menawarkan tisu.
“Terima kasih” Aku menerimanya.
“Maaf ya” gadis itu berkata sayu, mungkin merasa tidak enak, lalu kembali ke posisi awal menghadap ke depan.
Aku berhembus, mencoba merubah situasi lebih rileks.
“Bukan masalah. Aku juga muntah. Tapi tadi itu kresek satu-satunya. Kau harus menahan mualmu lagi sampai bis berhenti untuk transit”
Gadis itu hanya kembali menatapku. Berkedip. Lalu berpindah menatap tas di pangkuannya.
Tidak masalah. Aku sebisa mungkin berbicara agar terbiasa. Tapi itu tidak akan mudah. Satu jam yang lalu gadis ini bahkan membuatku terdiam membatin. Tapi aku yakin, anak ini pasti tidak sulit di ajak akrab. Dia sepertinya bukan perempuan biasa. Paras cantik. Temannya pasti banyak.
Akupun memandangi ke luar jendela Besar. Di samping gadis itu. Sudah ada bagian langit yang gelap menggantikan warna jingga yang kian menyusut di barat. Mulai dari lampu bangunan gedung, lampu jalanan, hingga kendaraan di sekitar menyala menyambut malam cerah berawan.
Lengang beberapa menit dapat membuat tekanan suasana karena canggung perlahan lenyap. Dari tadi Gadis di sampingku juga memandangi ke luar jendela.
Aku tidak tahu ingin apa. Mau bermain ponsel, tapi takut mabuk lagi. Senggang lagi, aku asyik memandangi ke luar kaca mobil. Ke lebatan bangunan terus terlewati.
“Kau mau cemilan”
Lamunanku terbuyarkan. Gadis di sampingku menawarkan snack.
Aku dengan kaku mencomot satu. Entah apa yang ada di pikiranku. Tapi gadis ini menawarkan coklat. Aku suka coklat.
Makan snack pun balik menatap ke luar kaca mobil. Tertinggal beberapa saat, aku…
“Namamu siapa?” Aku coba bertanya. Dua kata tidak sulit di sebut.
Sigadis menoleh, wajahnya tidak sekusut sebelumnya. Tapi terus terang, dia terlihat tegang apalagi setelah aku menanyakan namanya.
“ILA”
“Tiga huruf saja?”
Ila menggeleng. “Namaku faila Sofa”
Aku menyeringai pasi. Kukira namanya sama terdiri dari tiga huruf saja, seperti namaku. Akupun balas memperkenalkan di ri, Ila juga melontarkan pertanyaan yang serupa. Aku mengangguk.
Ila meng-oh sebagai alasan.
“Kau akan pergi ke mana?” Aku mengambil inisiatif percakapan lagi. Pertanyaan yang umum di tanyakan dalam perjalanan.
Ila terdiam sejenak melihatku, mungkin masih sulit baginya membiasakan suasana. “Aku ingin pergi ke daerah Jakarta”
Aku juga meng-oh kali ini
Lengang lagi. Sekarang sudah melewati waktu awal maghrib. Mega di langit terlihat merah. Bis saat ini melesat di jalan tengah perkotaan. Mungkin kudus. Aku banyak melihat spanduk-spanduk jenang terkenalnya di berbagai ruko pinggir jalan.
Jalanan semakin padat dengan kendaraan dan penduduk sekitar yang mencari buah tangan. Semuanya berjalan di bawah gedung-gedung besar yang tak kalah megah, memukau.
“Transitnya di kota ini?” Ila membuyarkan lamunanku. Dia juga melihat pemandangan ke luar jendela.
“Aku tidak tahu, memang karena rute transit sering tidak menentu” Jawabku seadanya. “Emang kenapa? Kau mengetahui sesuatu?”
“Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran jenangnya” Ila kali ini menoleh ke arahku.
Aku terdiam sejenak, berpikir. Kabar baik, sekarang Ila juga mulai terbiasa. Aku merasakannya. Dia tidak segugup sebelumnya.
“Cuman dodol biasa menurutku. Bahasanya saja yang beda” Aku memang pernah mencoba jenang di sini. Tapi rasanya tidak beda jauh dengan dodol betawi.
Ponselku bergetar. Ada sebuah notif yang muncul di layar. Itu sebuah notif dari server bis. Ila juga mengangkat ponselnya.
Server:
Perjalanan bersama kami sebentar lagi akan usai. Semoga para penumpang terhormat nyaman Berpergian dengan kami. Salam hormat. Perhatikan lagi barang-barang dan benda penting masing-masing. Bebarapa menit lagi bis akan sampai di terminal Menkus untuk transit. Selalu berhati-hati. Dan semoga hari penumpang terhormat selalu menyenangkan.
“benar dugaanku, bang” Ila berkata di sampingku.
“yeah begitulah” Balasku.
“kau suka jenang?” Ila bertanya. Mata bundarnya membelalak ke wajahku.
Aku mengangguk.
“Kalau begitu. Kau bisa mengantarku ke salah satu toko setelah ini?” Ila tersenyum tipis di depanku.
Aku hampir salah tingkah kali ini.
Sudah hal yang biasa bagi santri sepertiku jika kembali merasa gugup ketika Ila tersenyum, apalagi tiba-tiba dia juga memintaku untuk mengantar –tepatnya menemani. Aku tidak pernah berinteraksi dengan perempuan di pondok. Selain itu untuk apa dia bertanya aku suka jenang atau tidak. Dia ingin membelikannya untukku?.
“kau ingin aku mengantarmu nanti?” Aku memastikan.
Ila mengangguk.
“baiklah, selagi kau tidak sembarangan tersenyum. Aku akan dengan senang hati menemanimu” Inisiatifku sendiri. Aku tidak ingin ke depannya malah seperti tokoh yang terlihat payah. Selain itu ada madharat yang timbul jika senyuman gadis itu sampai membuatku luluh.
Ila nyengir sebagai balasan.
“setuju tidak?” Aku bertanya.
“yaudah ini senyumku yang terakhir” Ila berkata. Dia mengulaskan senyumnya. Lantas menutupnya dengan masker yang menyatu dengan penutup ke pala dari jaket.
Aku terenyak melihatnya. Setidaknya dia tidak akan membuatku salah tingkah lagi.
“salam kenal ya bang” ujarnya dari balik masker.
“kenapa baru sekarang bilangnya” aku menyelidik.
“hehe. Watashi hanya bilang..” Ila terlihat memejamkan matanya. “senang bertemu denganmu”
Aku kembali terenyak. Bukan karena balasannya. Jika bayangan di pikiranku tidak salah. Wajah Ila tampak seperti ras orang-orang yang berasal dari negara matahari terbit, sekarang Ila memang terlihat pantas mengatakan ‘watashi’. Parasnya yang cantik, putih tidak membuatku pias ketika mendengar kata tersebut. Tapi justru dari itu aku meragukan agamanya. Karena tercatat penduduk asli di Indonesia rata-rata beragama Islam, memang mayoritasnya.
“kenapa malah melihatku seperti itu” Ila membuyarkan lamunanku.
“jadi kamu memang berasal dari jepang. Dari kota mana? Tokyo? Kyoto? Hanya itu yang kutahu. Atau kau datang dari negara lainnya. Ras wajahmu tidak mengatakan kau penduduk asli indonesia” Aku menjawab sesuai isi kepala.
Ila justru menepuk dahi. Apakah aku keliru?. Dia tertawa kecil dan memejamkan matanya.
“Abang sama saja dengan orang-orang. Kau salah sangka” Ujarnya. ”Aku indonesia asli bang, orang tuaku juga sama. Ibu dari jakarta ayah dari jawa. Hasilnya saja yang membuatku terlihat seperti orang jepang”
Lengang sejenak. Aku bingung ingin membalas apa.
“Jangan-jangan Abang juga meragukan agamaku. Abang santri, kan? Orang seperti abang biasa sensi tentang itu”
Ila berkata lagi. Dia sekali lagi benar.
“hehe” aku tersenyum malu.
Ini mencengangkan. Aku salah prediksi. Tapi bukan tentang ras asal negaranya.
Dari awal aku kira Ila adalah pribadi yang pendiam. Sekarang gadis ini malah dapat menguasai keadaan. Cara dia berkomunikasi juga baik. Wajar saja hal itu terjadi. Anak cantik sepertinya bisa jadi memiliki banyak teman, atau bahkan fans jika dia menjadi bunga sekolah dengan ke cantikannya.
“Abang sekarang tahu alasan aku bisa bilang ‘watashi’ barusan. Nah aku ingin memberitahumu soal itu. Semoga abang tidak ke beratan”
Aku mengangguk “kau, Wibu. Tapi tidak jadi masalah, karena temanku di pondok Banyak yang sepesies denganmu. Aku telah biasa menghadapi sikap abnormalnya”
Ila melebarkan senyumnya kembali –kurasa itulah yang terjadi.
Sepertinya perjalanan pulangku kali ini akan menyenangkan. Menemukan pengalaman baru dari seorang gadis wibu. Tapi ada suatu masalah.